Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 13
“mir kamu tahu sendirikan aku menyuruh kamu berhenti alasannya jelas” ucap rizki dengan nada berat pipinya masih memar biacaranya masih belum jelas
“ya aku tahu alasannya untuk program kehamilan” ucap miranda
“ya kamu jangan banyak pikiran miranda, kami menghentikan kamu karena sudah dua tahun menikah kamu tak kunjung punya anak dan kalian sama-sama subur artinya kalian yang harus mengalah, bagaimanapun urusan kantor itu menyita banyak pikiran” ucap anton dengan bijaksana
“ya aku mengerti aku berhenti bekerja untuk program kehamilan hanya saja semenjak aku berhenti aku dan rizki belum pernah ke dokter spesialis kandungan untuk merencanakan program kehamilan” ucap miranda dengan nada sinis
“kamu belum ke dokter kandungan?” Tanya anton melihat kearah rizki
Rizki tampak muram, memang itu hanya dalih saja karena sebenarnya miranda terlalu lurus dalam berbisnis tidak bisa di ajak untuk curang mendapatkan keuntungan lebih besar.
“aku belum sempat yah” ucap rizki
“secepatnya kamu harus memeriksa ke dokter kandungan, kamu harus segera menghamili miranda” ujar anton terkekeh
Saras tampak kesal diam-diam dia menggeratkan kepalan tangannya “apa hebatnya dia, aku harus cari kesempatan untuk mendekati pak karman, kalau dia bisa mendekati pak karman dengan tubuhnya aku juga bisa” pikir saras dengan penuh tekad
“miranda kita tahu lah dalam urusan bisnis hubungan emosional itu penting, sebaiknya kamu coba dulu menghubungi pak karman, kalau memang nantinya kamu harus menjadi pekerja, ya silihakan masuk lagi untuk bekerja” ucap anton
Miranda tahu ini sudah siang masuk kembali bekerja hanya satu jalan untuk mencari bukti perselingkuhan rizki, ini pasti alot maka miranda hanya bisa mengatakan “baiklah akan miranda coba”
Anton tampak tersenyum “bagus kamu memang anak baik” ucapnya
Semua orang telah selesai sarapan. Rizki, Saras, dan Raka berpamitan lalu berangkat ke kantor bersama. Miranda memandangi punggung mereka hingga lenyap di balik pintu. Dalam hati ia bergumam lirih, “Tumben Mas Raka mau satu mobil dengan Rizki.”
Miranda melangkah menuju kamarnya. Semalam ia memilih tidur di kamar tamu karena masih marah dan kecewa pada suaminya. Begitu pintu kamar dibuka, ia terdiam. Ranjang sudah rapi, sprei tertata halus, bahkan gorden sudah dirapikan. Miranda menghirup udara pelan, menajamkan penciumannya. Tidak ada aroma parfum Saras, tidak ada bau asing. Hanya wangi pembersih kamar yang tipis.
“Mereka rupanya sudah bermain rapi,” gumam Miranda getir.
Ia keluar kamar dan melangkah ke dapur. Ruang laundry tampak kosong. Biasanya Bi Mirna berada di sana pagi-pagi, mencuci atau menyetrika. Sepertinya hari ini Bi Mirna sedang pergi belanja, memang itu rutinitasnya setiap dua hari sekali. Kesempatan itu tidak ingin disia-siakan.
Miranda masuk ke ruang laundry. Ia membuka keranjang pakaian kotor, mengaduk-aduk baju Rizki dengan tangan sedikit gemetar. Ia mencari sesuatu, apa saja, yang bisa menjadi bukti perselingkuhan. Biasanya lelaki yang berselingkuh ceroboh, lupa menyimpan struk hotel, nota perhiasan, atau mungkin secarik kertas dengan tulisan nama perempuan lain.
Namun tidak ada apa-apa.
Semua tampak biasa. Kemeja kerja, celana bahan, kaus rumah. Tidak ada benda mencurigakan. Tidak ada wangi parfum perempuan lain. Miranda menghela napas panjang. Dadanya terasa perih. Entah lega atau justru semakin tersiksa.
Dari arah depan terdengar suara pintu utama terbuka. Miranda segera keluar dari ruang laundry. Benar saja, Bi Mirna sudah pulang dengan menjinjing kantong belanjaan.
Miranda menoleh ke jam dinding. Sudah pukul delapan pagi. Toko elektronik pasti belum buka. Biasanya baru buka sekitar pukul sebelas. Terpaksa ia harus menunggu beberapa jam lagi.
Langkah Miranda berbelok menuju kamar Amora. Dari kejauhan terdengar suara lirih, seperti orang sedang berbincang pelan. Miranda mendekat, lalu berhenti di depan pintu yang sedikit terbuka. Di dalam, tampak Anton dan Nadia sedang mengobrol. Miranda tidak langsung masuk. Ia berdiri diam, menguping tanpa suara.
“Saya tidak setuju poligami, Pak. Apalagi perselingkuhan,” terdengar suara Nadia tegas.
“Oh, kirain saya kamu setuju,” jawab Anton ringan.
Miranda tertegun.
Ia memberanikan diri masuk. Anton melirik sekilas, lalu tersenyum ramah. Senyum yang terasa ganjil di mata Miranda. “Apa dia tidak marah karena semalam anaknya kupukul,” batin Miranda.
“Miranda, Ayah mau keluar dulu. Ayah mau main golf,” ujar Anton santai.
Miranda mengangguk. Dalam hati ia bersorak kecil. Hari ini hari Kamis. Setiap Kamis Anton selalu bermain golf sampai sore. Biasanya pulang sekitar pukul empat. Waktu yang cukup lama. Kesempatan yang sangat baik untuk memasang kamera pengawas.
Tinggal satu masalah. Bagaimana caranya membuat Bi Mirna keluar rumah cukup lama.
“Mbak Miranda, kok melamun terus. Ada apa?” suara Nadia membuyarkan pikirannya.
“Maaf, saya sedang banyak pikiran,” jawab Miranda pelan.
Pandangan Miranda tertuju pada wajah Nadia. Cantik, anggun, tutur katanya lembut. Entah kenapa, ia merasa ayah mertuanya menaruh perhatian lebih pada gadis itu. Entah kelak akan menjadi istri baru Anton, atau justru menjadi calon istri Raka. Bagaimanapun Raka kini seorang duda.
“Mbak Nadia,” ujar Miranda ragu, “kalau boleh tanya, kamu setuju dengan poligami?”
Nadia mengernyit, menatap Miranda sejenak. “Walau poligami dibolehkan, saya tidak setuju, Mbak. Saya bukan wanita salehah seperti istri-istri Nabi yang rela berbagi suami.”
Miranda mengangguk pelan. Dadanya terasa lebih ringan.
“Kalau, misalnya, suami Mbak Nadia selingkuh, apa yang akan Mbak lakukan?” tanya Miranda hati-hati.
Nadia menatap Miranda lebih lama. Ada heran di matanya.
“Saya belum menikah, Mbak. Tapi saya pernah punya pacar yang menghianati saya. Rasanya sangat menyakitkan. Jadi kalau suatu hari suami saya selingkuh, saya akan memilih berpisah. Saya tidak bisa hidup dengan pengkhianatan.”
Jawaban itu membuat Miranda terdiam. Tegas. Jujur.
Miranda menimbang-nimbang kemungkinan menjadikan Nadia sebagai sekutu. Menyuruh Bi Mirna keluar rumah adalah hal mudah, tetapi meminta bantuan Nadia terasa berisiko. Jika salah langkah, semuanya bisa terbongkar. Lagi pula, ia harus fokus memasang kamera pengawas tanpa menarik perhatian siapa pun.
Miranda menghela napas panjang, lalu menatap Nadia dengan ragu.
“Mbak Nadia, apa bisa bantu saya?” tanya Miranda pelan.
“Bantu apa, Mbak?” Nadia balik bertanya, wajahnya tampak heran.
“Tapi Mbak harus janji sama saya. Mbak tidak akan menceritakan hal ini kepada siapa pun.”
Nadia mengangguk mantap.
Miranda mengajaknya duduk di sofa kecil di kamar Amora. Di sana, dengan suara bergetar, Miranda menceritakan semuanya. Tentang perubahan Rizki, tentang kecurigaannya pada Saras, tentang luka hatinya yang tak lagi tertahan. Beberapa kali Nadia menyeka sudut matanya, ekspresinya penuh iba. Dari raut wajah itu, Miranda yakin, Nadia bukan orang yang salah.
“Jadi, bagaimana saya bisa bantu, Mbak?” tanya Nadia lirih.
“Saya ingin memasang CCTV di beberapa titik rumah,” jawab Miranda jujur.
Nadia terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Saya mendukung kamu, Mbak. Kamu berhak tahu kebenarannya.”
Hati Miranda terasa lebih ringan. Ia menjelaskan rencananya, bagaimana ia butuh rumah dalam keadaan sepi, bagaimana ia harus bergerak cepat sebelum Anton pulang. Nadia mendengarkan dengan sungguh-sungguh, bahkan terlihat bersemangat memberi beberapa saran.
“Kalau begitu, saya akan keluar dulu membeli CCTV,” ujar Miranda akhirnya.
“Baik, Mbak. Semangat, ya,” kata Nadia tulus.
Miranda tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak berjuang sendirian.