Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Pagi yang Terlambat
Cahaya pagi menyelinap lewat celah tirai rumah sakit.
Yura terbangun di atas sofa sempit dengan tubuh yang pegal. Lehernya terasa kaku, matanya perih, dan kepalanya sedikit berdenyut. Ia sempat terdiam beberapa detik, mencoba mengingat di mana dirinya berada.
Lalu matanya jatuh pada ranjang di depannya.
Ayahnya masih tertidur.
Mesin monitor berdetak pelan, ritmenya menjadi satu-satunya suara yang membuat Yura sedikit tenang. Ia menghela napas, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping sofa.
Baru saat itu ia sadar.
Sejak menerima telepon kemarin, ia sama sekali belum membuka ponselnya.
Layar menyala.
Dan dadanya langsung terasa berat.
20 panggilan tak terjawab.
Semua dari kantor.
Yura menutup mata sejenak.
Ia lupa. Kemarin siang, sebelum semua ini terjadi, kantornya memang menelepon. Memintanya segera datang. Ada rapat penting. Ada hal mendesak.
Tapi semuanya tenggelam begitu saja setelah kata rumah sakit terucap.
Yura mengusap wajahnya perlahan.
Ia sudah bisa membayangkan ekspresi atasannya. Nada bicara dingin. Tatapan tajam. Pertanyaan yang tidak akan peduli pada alasan apa pun.
Menghilang tanpa kabar.
Tidak profesional.
Tanggung jawab.
Semua kata itu terasa begitu melelahkan sekarang.
Yura menoleh ke arah ayahnya.
Wajah Rahardian tampak lebih tenang pagi ini, meski tetap pucat. Yura berdiri pelan, mendekat ke ranjang, memastikan ayahnya masih terlelap.
Ia kembali menatap ponselnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa lelah bukan karena pekerjaan tapi karena harus memilih.
Antara menjadi karyawan yang selalu siap,
atau menjadi anak yang tetap tinggal.
Yura menarik napas dalam-dalam.
Apa pun yang menunggunya di luar ruangan ini,
ia tahu satu hal, hari ini tidak akan mudah.
Yura berdiri di dekat jendela lorong rumah sakit.
Ia menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan nomor kantor. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
“Yura.”
Suara itu dingin. Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi.
“Iya, Pak,” jawab Yura pelan. “Maaf, saya baru bisa menelepon sekarang.”
“Kamu tahu jam berapa sekarang?”
Yura melirik jam di layar. “Iya, Pak.”
“Sejak kemarin siang kamu dicari. Dua puluh kali. Tidak ada kabar sama sekali.” Nada itu meninggi. “Kamu pikir ini apa? Tempat main?”
Yura menelan ludah.
“Maaf, Pak. Ada kondisi darurat. Ayah saya..”
“Kondisi darurat?” potong atasannya cepat. “Kamu manajer, Yura. Bukan staf magang. Kalau semua orang pakai alasan pribadi, perusahaan ini bisa jalan?”
Yura memejamkan mata.
“Ayah saya dirawat di rumah sakit, Pak.”
Sejenak hening.
Namun yang datang bukan empati.
“Kamu tahu berapa banyak klien yang menunggu keputusan kamu kemarin?”
Nada suaranya tetap keras. Tegas. Tidak goyah.
“Kami tidak membayar kamu untuk menghilang.”
Yura mengepalkan tangannya.
“Saya minta maaf, Pak. Saya hanya butuh waktu”
“Waktu?” tertawa kecil terdengar di seberang. “Kamu kira dunia ini berhenti nunggu kamu?”
Yura membuka mata. Pandangannya jatuh pada lantai rumah sakit yang dingin.
“Kami kecewa,” lanjut suara itu. “Dan jujur saja, ini bukan pertama kalinya kamu terlalu terbawa urusan pribadi.”
Kalimat itu menusuk.
“Apa kamu masih bisa bersikap profesional, atau tidak?”
Yura terdiam lama.
Di seberang sana, suara mesin rumah sakit terdengar samar. Di depannya, ayahnya sedang berjuang mempertahankan napas.
Dan di telinganya, suara dunia kerja yang tidak peduli.
Yura menarik napas dalam-dalam.
“Saya profesional, Pak,” ucapnya pelan tapi jelas. “Tapi hari ini… saya juga seorang anak.”
Hening.
“Kita bicarakan ini nanti,” kata atasannya akhirnya. “Datang ke kantor kalau kamu sudah bisa fokus.”
Telepon terputus.
Yura menurunkan ponselnya perlahan.
Tangannya gemetar.
Bukan karena marah tapi karena akhirnya ia sadar… selama ini, ia selalu kuat untuk semua orang, kecuali untuk dirinya sendiri.
Kepala Yura terasa berdenyut.
Kata-kata atasannya masih terngiang, saling bertabrakan di kepalanya. Ia memijat pelipis, mencoba menenangkan napas yang terasa berat. Dalam hati, ia tahu ia tidak bisa terus seperti ini.
Ia butuh cuti.
Bukan untuk lari, tapi untuk tinggal. Untuk menjaga satu-satunya keluarga yang ia punya sekarang.
Dengan langkah lesu, Yura kembali ke kamar rawat ayahnya.
Wajahnya masam. Matanya lelah. Bahunya turun seolah memikul beban yang terlalu besar untuk satu tubuh.
Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah.
Ayahnya terbaring tenang di atas ranjang. Selimut rapi menutup tubuhnya, napasnya naik turun perlahan. Pemandangan itu membuat dada Yura menghangat sekaligus perih.
Ia mendekat.
Yura duduk di kursi kecil di samping ranjang. Tangannya meraih meja kecil di sisi tempat tidur, membereskan bekas makanan yang semalam ayahnya coba habiskan. Ia membuang tisu, merapikan piring, lalu menaruh semuanya dengan hati-hati.
Gerakannya pelan. Terbiasa. Seolah ia sudah melakukan ini berkali-kali.
Ayahnya tiba-tiba membuka mata.
“Yura…” panggilnya lirih.
Yura tersentak, lalu cepat menoleh.
“Iya, Yah. Ayah bangun?”
Rahardian menatap wajah putrinya lama. Terlalu lama. Seolah membaca sesuatu yang Yura coba sembunyikan.
“Kamu kelihatan capek,” katanya pelan.
Yura tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Biasa aja, Yah."
Ayahnya menghela napas pelan.
“Ada masalah?”
Pertanyaan itu sederhana. Lembut. Tapi Yura tahu ayahnya selalu tahu.
Yura menunduk. Tangannya meremas ujung bajunya.
“Kantor nelepon,” ucapnya akhirnya. “Mereka marah.”
Rahardian memejamkan mata sebentar.
“Karena Ayah?”
Yura menggeleng cepat.
“Bukan karena Ayah,” katanya tegas. “Karena aku gak bisa ninggalin Ayah.”
Ayahnya membuka mata kembali, menatap langit-langit ruangan.
“Kamu gak perlu merasa bersalah,” katanya pelan. “Ayah gak mau jadi alasan kamu berhenti.”
Yura mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca.
“Justru karena Ayah, aku baru sadar… aku capek,” ucapnya jujur. “Aku capek selalu kuat.”
Rahardian tersenyum lemah.
“Kamu boleh capek, Yura.”
Kalimat itu membuat dada Yura sesak.
Ia menggenggam tangan ayahnya perlahan.
Dan di kamar rumah sakit yang sunyi itu,
Yura akhirnya mengizinkan dirinya untuk lelah
tanpa merasa bersalah.
Yura menunduk, bahunya bergetar pelan.
Semua yang sejak tadi ia tahan rasa takut, lelah, dan sesak akhirnya runtuh.
Rahardian mengangkat tangan perlahan, meski gerakannya lemah. Ia menarik Yura mendekat, memeluk putrinya sekuat yang ia bisa.
Pelukan itu rapuh.
Tapi hangat.
Yura memeluk ayahnya erat. Sangat erat. Seolah takut jika ia melepaskan, waktu akan kembali merenggut segalanya.
Isak tangisnya tumpah.
“Aku kangen Ayah…” ucapnya terisak. “Aku kangen banget.”
Sudah lama sekali ia tidak memeluk ayahnya seperti ini.
Bukan karena tidak mau
tapi karena waktu selalu terasa terlalu singkat.
Rahardian mengusap punggung Yura perlahan.
“Ayah juga kangen,” bisiknya. “Setiap hari.”
Tangis Yura semakin pecah. Air matanya membasahi baju rumah sakit ayahnya. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin mengingat rasa ini bau tubuh ayahnya, detak jantungnya, kehangatan yang selama ini ia lewatkan.
“Maaf… aku jarang ada,” katanya lirih. “Aku terlalu sibuk.”
Rahardian menggeleng lemah.
“Kamu hidup,” katanya pelan. “Itu sudah cukup buat Ayah.”
Yura memejamkan mata, menempelkan wajahnya di dada ayahnya. Untuk sesaat, dunia di luar ruangan itu benar-benar menghilang.
Tidak ada kantor.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada waktu.
Hanya seorang ayah dan anak yang saling menggenggam, berusaha menyimpan sebanyak mungkin cinta di antara sisa waktu yang ada.
Di sisi lain, Arkan duduk di ujung meja panjang ruang rapat lantai atas.
Dinding kaca memantulkan pemandangan kota dari ketinggian. Lampu gantung modern menyala terang, meja kayu hitam mengilap dipenuhi laptop, tablet, dan berkas presentasi.
Sepuluh klien duduk menghadapnya.
Semua mata tertuju pada satu orang.
Arkan berbicara dengan suara datar dan terukur. Setiap kalimatnya ringkas, tajam, dan langsung pada inti. Ia tidak tersenyum. Tidak berbasa-basi. Angka dan target adalah satu-satunya bahasa yang ia gunakan.
“Proyeksi pertumbuhan kuartal depan naik dua puluh persen,” katanya. “Dengan catatan, kita lakukan ekspansi sekarang, bukan nanti.”
Seorang klien mengangguk. Yang lain mencatat cepat.
Tidak ada yang berani memotong.
Bagi Arkan, rapat ini bukan soal diskusi melainkan keputusan.
Di layar besar, grafik bergerak naik. Angka-angka berderet rapi. Semua berjalan sesuai rencananya.
Dan di tengah fokus itu, tidak ada ruang untuk hal lain.
Ia sudah melupakan kejadian beberapa hari lalu. Perempuan di restoran itu yang berdiri membela seorang nenek hanya lewat sekilas di hidupnya. Tidak penting. Tidak relevan.
Perhatian Arkan hanya satu.
Tujuan.
Menghasilkan uang.
Membangun kekuasaan.
Tanpa batas.
Ia menutup presentasi dengan satu kalimat.
“Kita lanjutkan sesuai strategi. Meeting selesai.”
Para klien berdiri, menjabat tangannya satu per satu. Arkan membalas singkat, profesional.
Saat ruangan kembali lengang, Arkan berdiri menghadap jendela.
Kota membentang di bawah sana penuh peluang, penuh angka.
Baginya, perasaan hanya gangguan.
Dan ia belum tahu… bahwa suatu hari, satu orang yang bahkan tidak ia ingat sekarang, akan mengguncang semua tujuan yang ia bangun dengan dingin.