Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Mata Ilham menyala, marah kepada diri sendiri karena telah membuat Arka dan Sekar pergi. Tangan kanannya mencengkeram stir, kaki kiri menginjak pedal gas mobil hingga melaju dengan kecepatan tinggi untuk mengejar taksi yang sudah jauh nyaris tak terlihat lagi. Namun, ketika taksi dapat ia kejar, lampu hijau berubah merah.
"Sial!" Ilham memukul setir setelah menginjak rem. Ia menundukkan kepala ke atas stir menjadikan tangan sebagai bantal. Ingatannya tertuju kepada Rayyan, emosinya pun meledak. "Aku yakin Sekar dibantu dia," Ilham mencengkeram stir seolah-olah mencengkeram Rayyan.
"Mereka telah pergi, aku kehilangan mereka!" Gumamnya dengan suara serak karena air matanya menetes. Dokter itu ternyata tidak sekuat yang dibayangkan. Mental yang nyaris tak bermasalah ketika sedang menjalankan operasi caesar para ibu-ibu yang sulit melahirkan normal, tapi ketika Arka dan Sekar pergi separuh jiwa dan jantungnya serasa hilang.
Ilham mengangkat kepala ketika lampu berubah hijau, tapi bukan melanjutkan perjalanan untuk mengejar taksi yang sudah tidak mungkin ia temukan, melainkan putar balik pulang ke rumah.
"Sarapan pagi sudah siap Tuan..." ucap bibi ketika Ilham melewati meja makan dengan wajah kacau.
"Apa yang terjadi Bi? Kenapa Sekar tiba-tiba pergi?" Ilham bukan menjawab pertanyaan bibi justru balik bertanya.
Bibi pun menceritakan drama pagi yang membuat seisi rumah kebingungan karena ulah Luna. "Non Luna hendak membawa Arka pergi ke luar negeri Tuan, tapi Arka tidak mau. Karena Non Luna memaksa, Suster Sekar akhirnya membawa Arka pergi." Bibi menceritakan apa yang terjadi. Jika Sekar tidak bergerak lebih dulu, ia takut akan kehilangan Arka.
Ilham tidak menjawab justru pergi meninggalkan bibi. Dalam perjalanan ke kamar ia merasa dadanya sesak. Kenapa akhir-akhir ini Luna selalu membuat ulah? Ilham tidak tahu lagi bagaimana menghadapi tingkah istrinya yang sulit untuk berubah.
Tiba di kamar, Ilham aktifkan handphone menekan tombol telepon.
"Hallo, Dok..." Suara pria menjawab.
"Sekar membawa Arka pergi, mereka bersama kamu?"
"Tidak, Dok!"
Ilham terdiam lalu matikan handphone sepihak, dengan perasaan kesal, hatinya seolah menuduh Rayyan telah berbohong.
Di kamar yang sunyi itu bukan lantas membuat hati Ilham tenang. Ia keluar kamar menuju ruang kerja, membuka laci mencari benda untuk menyimpan foto keluarganya.
Foto saat Arka menjalankan ritual cukur rambut ketika usia satu bulan lebih, ketika bayi montok itu digendong nenek dan kakeknya dengan senyum mengembang karena bangga mempunyai cucu laki-laki. Foto saat usia Arka satu, dua, dan tiga tahun ketika perayaan ulang tahun dengan hadiah mewah tidak pernah terlewatkan.
"Kopinya Tuan..." ucap bibi yang mengantar kopi tanpa Ilham suruh tidak lantas membuat tatapan mata pria itu berpaling dari album. Tangannya membuka lembar demi lembar dengan wajah sedih.
Pagi berganti siang, hingga merangkak malam, Ilham hanya merenung di ruang kerja. Kopi panas yang bibi buatkan pagi tadi ia biarkan utuh. Hidangan sarapan pagi, siang, hingga malam itupun Ilham lewatkan dan utuh di meja makan.
Dia betah duduk di ruang kerja memandangi album Arka sejak bayi hingga baru-baru ini. Tangannya secara tidak sengaja menyentuh kursi di sebelahnya. Bayangan Arka yang biasanya naik-turun dari kursi tersebut, pegang pulpen, pegang buku, dan bertanya. "Ini namanya apa, Pa?" Arka menanyakan semua benda di tempat itu. Tetapi mungkinkah momen seperti itu bisa Ilham lewati lagi? Dia menarik napas dalam-dalam, mengingat semua itu dadanya terasa sesak.
"Mas, kata bibi kamu tidak mau makan? Kenapa?" Tanya Luna yang baru saja tiba. Aroma minyak wangi yang Luna pakai sejak pagi masih juga masuk ke lubang hidung Ilham. Namun, wanita yang berdiri di sebelahnya dan memegang bahunya itu tidak membuatnya menoleh. Ilham sama sekali tidak menjawab, apalagi menatapnya.
"Sekarang kita makan, Mas," Luna menggoyang pundak Ilham, tapi suaminya itu hanya menatap kosong ke arah tumpukan dokumen di ruang kerja.
"Maasss...!!!" Luna pun akhirnya berteriak karena kata-katanya tidak direspon. Tetapi teriakan Luna tidak lagi menjadi senjata yang ampuh seperti hari-hari sebelumnya. Alih-alih Ilham mengambil hatinya, yang ada, pria itu pergi meninggalkan dirinya.
Luna mengejar Ilham tapi pria itu lagi-lagi tancap gas, mobil mewah itupun meninggalkan garasi entah mau kemana.
"Kenapa Dia?" Gumam Luna lalu ke dapur menemui bibi. "Memang Tuan tadi ada masalah apa Bi?' Tanya Luna sembari mengambil gelas dari lemari kemudian mengisi dengan air putih.
"Sekar pergi membawa Arka berlibur sebentar, Non," jelas bibi berbohong agar Luna tidak marah. Tetapi tetap saja wajah Luna merah padam.
"Kalau hanya pergi sebentar, kenapa Mas Ilham sedih begitu, Bi?" Luna tidak bisa di bohongi.
"Saya tidak tahu Non," bibi ketakutan, secepatnya menjauh membereskan piring hingga terdengar denting yang sedikit ramai.
Luna kesal rupanya Sekar tidak mendengarkan peringatan darinya agar jangan membawa Arka pergi tanpa seizinnya. Dia meletakkan gelas di atas meja tapi tidak pas hingga jatuh ke lantai. Suara benturan kaca yang pecah seperti mencerminkan keadaan hatinya yang kini hancur berkeping-keping. Marah besar menyambar hatinya, panas dan menusuk di dada. Bagaimana bisa, Sekar dengan seenaknya keluar masuk rumah ini begitu mudahnya mengajak Arka pergi?
Luna meninggalkan tempat itu masuk ke kamar Arka, ia merasa curiga jika yang dikatakan bibi bahwa Sekar pergi hanya sebentar tidaklah benar. Tiba di kamar yang sepi itu, Luna membuka lemari pakaian Arka yang sudah kosong. "Benar dugaanku, Sekar membawa Arka kabur!" Luna kalap.
Namun di balik amarah itu, rasa takut yang mendalam menyelimuti hatinya. Kaniago sang mertua yang dulu paling menginginkan cucu laki-laki darinya. Lalu bagaimana jika beliau tiba-tiba datang dan menanyakan Arka? Tentu saja ia akan disalahkan karena tidak bisa menjaga anak.
Tetapi kegelisahan Luna berubah menjadi keceriaan setelah beberapa saat berpikir. "Kenapa aku harus pusing? Toh tinggal mengatakan yang sebenarnya pada beliau, jika Arka diculik wanita yang mengaku perawat. Ah, bodohnya aku! Ini justru kesempatan bagi aku untuk menyingkirkan Sekar ke dalam penjara. Tidak akan sulit bagi keluarga Ilham hanya untuk memenjarakan tikus kecil macam Sekar. Hahaha."
...~Bersambung~...
dan sial nya BP ank nakal itu bawahan nya Kake nya Arka....🤣🤣🤣🤣pcat lngsung aj....kek....biar GK sombong lagi