NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Pagi itu, suasana kelas 12 IPA 3 terasa lebih tegang dari biasanya. Jenny duduk di pojok belakang bersama Emy, berusaha menulikan telinga dari tawa kecil Claudia yang duduk di bangku depannya. Di mata Jenny, setiap gerak-gerik Claudia sekarang terlihat seperti akting murahan yang menjijikkan. Claudia tampak asyik memoles kuku, sesekali melirik ke arah pintu seolah sedang menunggu pangerannya datang.

Dan benar saja, sosok jangkung dengan seragam yang sangat rapi itu muncul. Jonathan masuk ke kelas IPA 3 dengan aura otoritasnya yang kaku. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua yang sangat elegan.

Jonathan berjalan lurus ke arah Jenny, mengabaikan tatapan penasaran teman-sekelas lainnya. "Selamat anniversary yang ketiga, Jennifer," ucapnya dengan suara bariton yang berat dan datar. "Ini untukmu. Aku memilihnya sendiri akhir pekan lalu."

Ia membuka kotak itu di depan Jenny, memperlihatkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian kecil yang berkilau mewah. Claudia, dari bangkunya, menoleh dengan wajah yang dibuat-buat terkejut. "Wah, Jen! Itu bagus banget! Jonathan emang paling tau cara manjain kamu."

Jenny menatap kalung itu, lalu beralih menatap wajah Jonathan. Ia teringat bagaimana leher yang sekarang didepannya itu semalam dihisap oleh Claudia di parkiran apartemen. Rasa mual itu kembali menyerang.

"Gak usah bawa barang mahal kayak begini," ucap Jenny dingin, tanpa menyentuh kotak itu sedikit pun. "Simpen aja uang kamu. Aku nggak bakal pake juga."

Jonathan mengernyit, rahangnya mengeras. "Kenapa? Kamu biasanya suka perhiasan minimalis seperti ini. Aku sudah menyesuaikannya dengan seleramu."

"Selera aku udah berubah, Jo. Dan mungkin, kamu juga udah nggak bener-bener kenal siapa aku," balas Jenny dengan nada yang begitu tenang namun mematikan.

Di saat ketegangan itu memuncak, pintu kelas terbanting keras. Lisa masuk dengan langkah kaki yang menghentak, wajahnya merah padam dan napasnya memburu. Ia tidak menuju ke arah Romeo yang sedang duduk santai di belakang, melainkan langsung menyergap meja Claudia.

BRAKK!

Lisa menggebrak meja Claudia hingga botol kutek gadis itu terguling. "Heh, ular! Maksud lo apa naruh cokelat dan kartu ucapan sampah di laci Jonathan buat Romeo?!" teriak Lisa histeris.

Claudia tersentak, wajah "malaikat"-nya langsung berubah menjadi ekspresi ketakutan yang dibuat-buat. "Lisa? Kamu ngomong apa? Aku nggak ngerti..."

"Nggak usah akting polos, setan! Gue udah cek tulisan tangan lo! Lo mau godain Romeo biar perhatian gue pecah, sementara lo bebas selingkuh sama Jonathan, kan?!" Lisa menjambak kerah baju Claudia, memaksa gadis itu berdiri.

Jonathan mencoba menengahi dengan wajah kakunya. "Lisa, jaga sopan santunmu. Ini lingkungan sekolah..."

"Halah, diem lo robot bego!" Lisa membentak Jonathan. "Lo pikir lo hebat karena Ketua OSIS? Lo itu cuma korban manipulasi temen deket pacar lo sendiri! Atau jangan-jangan lo berdua emang udah satu komplotan?!"

Di tengah keributan yang luar biasa itu, Jenny tetap duduk tenang. Ia perlahan menoleh ke arah Romeo yang sejak tadi memperhatikannya dari kejauhan. Romeo menyeringai, memberikan tatapan "lo liat kan betapa hancurnya mereka?".

Jenny membalas tatapan itu dengan senyuman miring—senyuman yang belum pernah dilihat oleh siapa pun dari seorang Jenny yang ramah. Ia merasa puas melihat Claudia gemetar di bawah amukan Lisa, dan melihat Jonathan kehilangan kendali atas situasi yang biasanya ia kuasai dengan logika.

"Jangan berisik, Lisa," ucap Jenny tiba-tiba, suaranya tenang namun sanggup membungkam seisi kelas. "Simpen tenaga lo. Kejutan sebenernya bukan sekarang. Kejutan sebenernya ada di jam tujuh malem nanti."

Jenny berdiri, menepis kotak perhiasan di tangan Jonathan hingga jatuh ke lantai. "Jo, makasih kadonya. Tapi kayaknya, kalung itu lebih cocok buat orang yang hobi 'pamer' di parkiran apartemen semalem. Bukan buat gue."

Jenny berjalan keluar kelas, diikuti oleh Romeo yang bangkit dari duduknya dengan tawa kecil. Di koridor, Jenny berbisik pada Romeo, "Siap-siap, Rom. Malam ini internet sekolah bakal meledak."

Momen Puncak: Malam Kehancuran

Pukul 19.00 WIB.

Sesuai janjinya, Jenny duduk di kamarnya yang remang-remang. Ia sudah merangkai caption yang singkat namun sanggup mengakhiri reputasi dua orang paling berpengaruh di sekolah itu.

[POSTINGAN INSTAGRAM @Jenny_Cheer]

Slide 1: Foto Jonathan dan Claudia berciuman di parkiran apartemen.

Slide 2: Struk pembelian gantungan kunci perak milik Claudia.

Slide 3: Foto Jonathan yang kaku saat memberikan kalung tadi pagi.

Caption:

"Happy 3rd Anniversary, Jonathan. Terimakasih sudah menjaga kesucian hubungan kita selama 3 tahun, sementara kamu menjaga 'kesenangan' sahabatku @Claudia_A di parkiran apartemen semalam. Ternyata 'main cantik' itu emang butuh latihan ya? Kalungnya aku balikin lewat Lisa ya, Jo. Semoga kalian bahagia di atas bangkai persahabatan kita."

Dalam hitungan detik, tombol post ditekan.

Notifikasi di ponsel Jenny meledak. Ratusan komentar masuk dalam sekejap. Di rumah masing-masing, Jonathan dan Claudia mungkin sedang membeku melihat layar ponsel mereka. Sementara itu, Romeo mengirimkan pesan singkat ke WhatsApp Jenny.

Romeo: Goal. Lo beneran gila, Jen. Gue jemput sekarang? Kita rayain kemenangan lo di atas reruntuhan mereka.

Jenny tersenyum, kali ini senyumnya benar-benar tulus. Ia tidak lagi menangis. Rasa sakit itu sudah berubah menjadi kekuatan yang dingin. Ia meraih jaketnya, siap memulai babak baru hidupnya tanpa bayang-bayang pengkhianat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!