Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyukai Pemandangannya
Gerimis tipis menggantung di udara, menciptakan selubung lembab di atas deretan gedung-gedung megah Fakultas Kedokteran Universitas A. Kanaya mencengkeram erat buku teks tebalnya, langkah kakinya berderap cepat di atas paving block yang mengkilap, aroma khas daun basah dan parfum mahal dari mahasiswa yang berlalu lalang mengisi indra penciumannya.
Kanaya tidak seharusnya berada di area ini, jalurnya adalah lorong-lorong sederhana di seberang kampus, tempat Fakultas Ilmu Pendidikan berdiri dengan bangunannya yang lebih tua dan cat yang sedikit mengelupas.
Tapi siang ini, seperti hampir setiap Selasa dan Kamis di semester genap ini, Kanaya berada di sini. Tepat di balik pilar besar marmer yang dingin, di sebuah bangku kayu yang sedikit tersembunyi, di mana ia bisa melihat dengan jelas tujuannya yaitu Narendra Atmaja.
Narendra Atmaja, seorang dewa yang secara tidak sengaja terdampar di planet bumi begitulah Kanaya mendefinisikannya dalam hati. Narendra adalah Putra tunggal Atmaja Group, dinasti properti dan kesehatan yang menguasai ibu kota.
Narendra mengambil jurusan Kedokteran, bukan karena paksaan, melainkan karena ia memang cerdas. Wajahnya yang simetris sempurna, garis rahangnya yang tegas dan tatapannya yang selalu tenang bahkan dingin itu mampu membuatnya tampak seperti pahatan patung mahal yang tidak boleh disentuh.
Sedangkan, Kanaya hanyalah Mahasiswa tahun ketiga Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, penerima beasiswa penuh yang kehidupannya sehari-hari didukung oleh uang saku yang selalu pas-pasan dan pekerjaan paruh waktu di perpustakaan.
Baju sederhana, tas punggung usang dan buku-buku yang sampulnya sudah lusuh adalah identitasnya, Kanaya adalah perwujudan dari yang biasa saja di tengah lautan yang luar biasa ini.
Kesenjangan antara dirinya dan Narendra terasa lebih jauh dari jarak antara bumi dan bintang terjauh, Kanaya pun menyadari hal itu.
Siang ini, Narendra dan tiga teman kelompok belajarnya sedang duduk di taman tengah, membahas sesuatu yang Kanaya yakin berkaitan dengan anatomi atau bedah.
Mereka tampak serius, Narendra mengenakan kemeja biru muda yang rapi, lengan panjangnya dilipat hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang kuat. Setiap gerakannya efisien, tanpa basa-basi, ia berbicara sedikit, tapi setiap katanya selalu menjadi kesimpulan.
Kanaya menarik napas, diam-diam menikmati pemandangan itu, ini adalah kebiasaan yang tidak sehat dan Kanaya tahu, tapi ini juga satu-satunya kemewahan yang bisa ia nikmati tanpa biaya.
Kanaya telah menjadi pengagum rahasia seorang Narendra Atmaja sejak upacara penerimaan mahasiswa baru beberapa tahun lalu, di mana saat itu, Kanaya nyaris pingsan karena dehidrasi setelah berdiri terlalu lama di bawah terik matahari. Narendra yang berdiri beberapa baris di depannya berbalik dan tanpa ekspresi menyodorkan sebotol air mineral dingin.
Narendra tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya memberikan botol itu dengan gerakan biasa saja lalu kembali menghadap ke depan, itu adalah satu-satunya interaksi langsung mereka dan itu sudah cukup untuk membuat hati Kanaya tertarik dan mengagumi seorang Narendra.
"Lagi-lagi di sini," ucap Lista yang merupakan sahabat terbaik Kanaya, Lista adalah Mahasiswa Jurnalistik.
Suara Lista membuyarkan fokus Kanaya pada sosok Narendra, Kanaya menatap perempuan yang berdiri di samping bangkunya dengan dua bungkus mi instan cup di tangannya.
"Aku hanya... membaca," jawab Kanaya gugup.
Kanaya berpura-pura membuka halaman buku bahkan saat ini pipinya sedikit memanas.
"Kamu membaca buku Dasar-Dasar Kurikulum PAUD di depan Fakultas Kedokteran. Kanaya, di sini tidak ada yang mau mengubah kurikulum PAUD apalagi Tuan Narendra-mu itu. Dia hanya tertarik pada ginjal dan jantung," ucap Lista.
Kanaya tertawa pelan, "Aku hanya sedang mencari suasana baru," jawab Kanaya karena ketahuan oleh sahabatnya itu.
"Suasana baru yang dingin dan mahal? Kamu tahu, Narendra Atmaja akan menjadi Dokter lalu dia akan mengambil alih rumah sakit Ayahnya, menikahi anak Menteri dan melupakan bahwa pernah ada mahasiswi jurusan Pendidikan yang diam-diam menyukainya dari bangku taman," ucap Lista.
Meskipun Lista mengucapkannya dengan nada santai, tapi perkataannya terasa seperti sebuah palu dingin yang memukul kesadaran Kanaya dan semua yang dikatakan Lista adalah kebenaran.
Kanaya tidak pernah berkhayal lebih dari sekadar bisa melihat Narendra, Kanaya tahu batasnya dan ia tidak akan pernah mencoba mendekat karena kesenjangan itu bukan hanya soal harta, tetapi juga soal dunia.
Dunia Narendra penuh dengan janji-janji besar dan tanggung jawab korporat, sementara dunia Kanaya adalah tentang bagaimana cara mendidik anak-anak kurang mampu agar memiliki masa depan yang lebih baik, dua dunia yang tidak akan pernah bersentuhan, kecuali dalam imajinasinya.
"Aku tahu, Ta," ucap Kanaya.
Setelah mengatakan itu, tatapannya kembali tertuju pada Narendra. Narendra baru saja berdiri dan hendak pergi dari taman, "Aku hanya menyukai pemandangannya, itu saja. Hanya...pemandangan," ucap Kanaya.
Saat Narendra berbalik untuk berjalan menuju gedung, tanpa sengaja matanya menyapu area di mana Kanaya dan Lista duduk. Ini bukan tatapan yang terfokus hanya pandangan sekilas yang acuh tak acuh. Namun, untuk sepersekian detik itu Narendra melihat Kanaya.
Kanaya menahan napas, ini adalah pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama ia merasa tertangkap basah, jantungnya berdebar kencang, menuntut kebebasan dari tulang rusuknya, Kanaya segera menundukkan kepalanya dan pura-pura asyik mengaduk mi cup milik Lista.
Narendra tidak berhenti, ia bahkan tidak menunjukkan kerutan di dahinya, ia melanjutkan langkahnya yang tenang, tubuhnya yang tegap menghilang di balik pintu kaca tebal gedung fakultas.
Lista menoleh, tidak menyadari momen singkat itu, "Lihat, dia pergi. Sekarang, ayo kita ke perpustakaan. Aku butuh referensi untuk tugas liputan tentang dewan kota," ucap Lista.
"Oke, ayo," jawab Kanaya dengan suara sedikit serak.
Kanaya mengangkat kepalanya hanya untuk memastikan bahwa lorong di depan pilar itu sekarang kosong, dalam keheningan yang tersisa, Kanaya merasakan sisa-sisa tatapan acuh tak acuh seorang Narendra itu.
Itu bukan tatapan yang mengakui keberadaan, apalagi perasaan, itu hanya tatapan seorang pria yang sekilas melihat dua orang gadis makan mi instan di bangku kampus elitnya. Narendra tidak melihat Kanaya Wulandari, si gadis beasiswa yang diam-diam menaruh seluruh perasaan padanya, karena bagi Narendra, ia hanya melihat dua titik di kejauhan.
Kanaya tersenyum masam, menguatkan dirinya. Kanaya menutup buku PAUD-nya, menyimpan kembali perasaannya yang bergejolak dan mengikuti Lista menjauhi kemegahan Fakultas Kedokteran. Jantungnya kini kembali tersimpan dengan rapi di tempat yang paling aman, di mana Narendra tidak akan pernah bisa menemukannya.
Kanaya akan terus menjadi pengagum rahasia, pengamat yang tak terlihat hingga takdir atau kelulusan memisahkan mereka sepenuhnya.
.
.
.
Bersambung.....