Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Di koridor emas Alistair University, reputasi adalah segalanya. Dan bagi kelompok The Sirens geng mahasiswi elit yang dipimpin oleh Jonah, putri seorang konglomerat minyak, Natalie Alistair adalah sasaran empuk untuk dihina.
"Lihat dia," Jonah mencibir sambil menyesap latte-nya, matanya tertuju pada Natalie yang sedang duduk sendirian di taman kampus, tampak asyik membaca buku puisi dengan ekspresi sangat tulus. "Cantik, tapi membosankan. Dia seperti manekin pajangan. Aku bertaruh dia bahkan tidak tahu cara mencium pria."
Teman-temannya, Chloe dan Sasha, tertawa cekikikan. "Dia terlalu lugu, Jonah. Kudengar dia bahkan masih diantar jemput pengawal pribadinya yang kaku itu setiap hari. Natalie Alistair adalah definisi dari produk gagal dinasti Alexandra. Ibunya adalah serigala, tapi anaknya hanyalah seekor domba."
Natalie, yang sebenarnya memiliki pendengaran sangat tajam, hanya membalik halaman bukunya dengan tenang. Di balik buku itu, sebuah alat pendengar kecil menangkap setiap kata hinaan mereka. Sebuah senyum tipis yang sangat dingin tersungging di bibirnya. Domba? pikir Natalie. Domba ini akan memakan kalian hidup-hidup sebentar lagi.
Malam harinya, di dalam limusin lapis baja yang bergerak menuju kediaman Alistair, sekat antara kursi penumpang dan sopir tertutup rapat. Julian, sang pengawal pribadi, tetap fokus pada jalanan, namun rahangnya mengeras.
"Mereka membicarakanmu lagi tadi," suara Julian rendah, serak karena menahan emosi.
Natalie meletakkan tas desainer-nya, lalu merangkak ke kursi depan, melewati celah konsol tengah. Ia melingkarkan lengannya di leher Julian dari belakang, jarinya bermain dengan kerah seragam hitam pria itu.
"Biarkan saja, Julian. Bukankah lebih menyenangkan jika mereka terkejut saat aku menghancurkan mereka?" Natalie berbisik di telinga Julian, gigitannya kecil di cuping telinga pria itu membuat Julian hampir kehilangan kendali atas kemudi.
Julian menghentikan mobil di pinggir jalanan hutan yang sepi. Ia berbalik, mencengkeram pinggang Natalie dengan tangan yang kasar dan penuh bekas luka. "Kau bermain api, Nona. Jika Tuan Adrian tahu apa yang kita lakukan di belakangnya..."
"Ayahku tidak perlu tahu," tantang Natalie. Ia menarik dasi Julian, memaksa pria itu untuk menciumnya.
Ciuman itu tidak seperti ciuman seorang putri, itu adalah serangan yang lapar, liar, dan penuh tuntutan. Di dalam ruang sempit limusin itu, gairah mereka meledak. Natalie melepaskan topeng lugunya sepenuhnya, menunjukkan sisi bar-barnya yang hanya diketahui oleh Julian. Setiap sentuhan Julian yang posesif dibalas Natalie dengan cakaran kecil di punggungnya, sebuah tarian panas antara pelindung dan sang pencipta kekacauan.
Namun, tidak ada yang bisa benar-benar menyembunyikan rahasia dari Queen Elara Alexandra.
Sekembalinya di rumah, Natalie masuk dengan wajah "lugu" yang sudah terpasang kembali. Namun, ia menemukan Ibunya sedang berdiri di koridor gelap, memegang sebuah tablet.
"Natalie, sayang," suara Queen terdengar tenang, namun ada nada yang membuat bulu kuduk berdiri. "Ibu baru saja menerima laporan dari departemen keamanan siber perusahaan. Seseorang dari dalam jaringan rumah ini meretas satelit komunikasi Lotus Consortium di Tiongkok malam ini."
Natalie tetap tenang, matanya menatap ibunya dengan kejujuran palsu yang sempurna. "Mungkin ada gangguan teknis, Bu? Aku hanya belajar di kamar sejak pulang."
Queen mendekat, menatap mata putrinya dalam-dalam. Ia mencium aroma parfum maskulin Julian yang samar tertinggal di rambut Natalie. Queen tersenyum—senyuman yang pernah membuat bursa saham New York gemetar.
"Kau sangat mirip denganku, Natalie. Terlalu mirip. Tapi ingat, Ibu adalah orang yang menciptakan permainan ini. Jangan sampai Ibu menemukan bahwa putri kecilku yang Pendiam ternyata sedang merencanakan kudeta digital... atau bermain dengan api bersama pengawalnya sendiri."
Keesokan harinya, Natalie ditarik oleh Nathan ke ruang bawah tanah yang merupakan laboratorium teknologi pribadi mereka.
"Jonah dan gengnya baru saja merilis artikel anonim yang menjelek-jelekkan reputasi Ibu melalui firma hukum ayahnya," Nathan menunjukkan data di layar. "Mereka mencoba menjatuhkan saham kita dengan rumor lama tentang Mr. Joy."
Mata Natalie berkilat dengan api kemarahan. Topeng lugunya retak. "Oh, jadi mereka ingin bermain kotor? Jonah ingin tahu apakah aku bisa bicara? Aku akan membuatnya bungkam selamanya."
Natalie duduk di depan komputer server. Jarinya menari dengan kecepatan luar biasa. Hanya dalam lima menit, ia berhasil masuk ke dalam server pribadi keluarga Valerie.
"Nathan, siapkan tim eksekusi pasarmu. Aku baru saja menemukan bukti bahwa ayah Jonah melakukan penggelapan pajak sebesar tiga ratus juta dolar di luar negeri. Kirimkan ini ke otoritas pajak saat aku mengirimkan virus untuk melumpuhkan situs web mereka secara total."
"Kau benar-benar barbar jika sudah marah," Nathan tertawa kecil, bangga pada adiknya.
Malam itu, saat pesta ulang tahun Jonah yang megah sedang berlangsung, layar besar di aula pesta tiba-tiba berubah. Bukan menampilkan foto-foto Jonah, melainkan bukti-bukti kejahatan ayahnya dan rekaman suara Jonah yang sedang menghina anak-anak panti asuhan.
Di sudut ruangan, Natalie berdiri dengan gaun merah mudanya yang sopan, memegang gelas sirup, tampak "terkejut" seperti orang lain. Namun, saat matanya bertemu dengan Jonah yang sedang menangis karena dipermalukan, Natalie memberikan kedipan tipis dan senyum iblis yang sangat singkat.
Julian, yang berdiri di belakangnya sebagai bayangan, hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan senyumnya. Ia tahu, sang putri tidak butuh perlindungan, dunia-lah yang butuh perlindungan dari Natalie Alistair.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍