Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #28: Everlasting Demonic Physique
Pagi itu, Balai Penjaga Jalur Tengah dibangunkan bukan oleh kokok ayam atau lonceng meditasi, melainkan oleh teriakan seseorang yang terdengar seperti babi disembelih.
"PANAAAAAS! TOLONG! BADANKU KEBAKAR!"
Baek Mu-jin, yang sedang latihan pagi di halaman utama, langsung mengenali suara cempreng itu.
"Saudara Geun?"
Dia dan beberapa tabib jaga langsung berlari menuju area tamu di belakang.
Begitu pintu kamar sempit itu didobrak, hawa panas langsung menyembur keluar seperti uap dari panci presto.
Di atas dipan kayu yang berantakan, Geun sedang menggeliat-geliat.
Kulitnya merah padam seperti udang rebus. Keringat mengucur deras hingga membasahi kasur jerami. Urat-urat di leher dan dahinya menonjol, berdenyut liar dengan irama yang menakutkan.
"Apa yang terjadi?!" teriak Mu-jin.
Seorang tabib muda memeriksa nadi Geun, lalu langsung menarik tangannya kaget karena panas.
"Nadinya... berpacu tiga kali lipat dari normal! Dan ada lonjakan energi Yang yang luar biasa masif di dalam perutnya!"
Tabib itu mengendus napas Geun.
"Bau herbal... Ginseng Merah... Tanduk Rusa... dan..." Tabib itu memucat. "Ini bau Ramuan Sembilan Matahari milik Ketua Cabang!"
Semua orang terdiam horor.
Ramuan itu adalah suplemen energi tingkat tinggi yang diracik khusus untuk ahli bela diri Mid Master guna menerobos kemacetan kultivasi.
Bagi orang biasa atau orang cacat seperti Geun, meminumnya sama saja dengan menelan bara api.
"Dia minum berapa banyak?" tanya Mu-jin pada Geun yang megap-megap.
"Satu... tegukan... satu toples..." rintih Geun, matanya melotot. "Kukira... itu madu..."
"Satu toples?!" Tabib muda itu hampir pingsan. "Itu dosis untuk lima belas tahun latihan! Dia akan meledak!"
"Bawa ke Ruang Medis Utama! Segera!" perintah Mu-jin.
......................
Di Ruang Medis Utama yang luas dan dipenuhi aroma obat, Geun dibaringkan di atas meja batu giok dingin.
Tiga tabib senior, dipimpin oleh Tetua Tabib Mu-ak yang kebetulan sedang berkunjung dari Jeokha untuk mengantar laporan, mengelilingi Geun.
"Pegang dia!" perintah Mu-ak.
Empat murid kekar memegangi tangan dan kaki Geun yang meronta-ronta.
"Kita harus mengeluarkan kelebihan energi itu, atau organ dalamnya akan matang," kata Mu-ak serius. "Salurkan Qi Murni Wudang untuk menekan gejolak Yang, lalu kita tusuk titik Baihui untuk membuang uapnya."
Dua tabib senior meletakkan tangan di dada dan perut Geun. Mereka mulai menyalurkan energi biru yang lembut.
"Tenang, Nak... terima energi ini..."
Tapi tubuh Geun punya rencana lain.
Begitu Qi murni Wudang masuk, Qi Alam liar yang sudah ada di tubuh Geun bereaksi. Ditambah dengan ledakan energi Ramuan Sembilan Matahari yang sedang mengamuk, tubuh Geun menjadi medan perang.
Alih-alih ditenangkan, energi Wudang itu malah dihisap.
Seperti menuangkan air ke dalam wajan berisi minyak mendidih.
BLARR!
Terjadi ledakan kecil tak kasat mata.
"Ugh!"
Kedua tabib senior itu terpental mundur.
"Uhuk!" Salah satu dari mereka memuntahkan darah segar.
"Energinya... memakan energi internal kami!" teriak tabib itu ngeri. "Tidak bisa ditekan! Di dalamnya seperti badai pasir! Kalau kita paksa masuk, meridian kita yang akan hancur!"
Geun menjerit lagi. Rasa sakitnya bukan main.
Rasanya seperti tulang-tulangnya direbus dari dalam.
Dimata Geun, dia melihat segalanya dengan jelas di tengah rasa sakit. Dia melihat seluruh aliran energi yang tidak dilihat oleh semua orang di ruangan itu.
Dia melihat energi emas dari ramuan itu, energi "Yang murni" yang sedang menabrak-nabrak dinding tulang dan ototnya yang masih retak dan salah posisi akibat pertarungan sebelumnya.
Energi itu ingin mengalir. Tapi jalur meridian Geun sudah rusak dan meleleh karena pertarungan di gudang Silvercrane sebelumnya.
Energi itu ingin keluar. Tapi pori-porinya tertutup kotoran.
Energi itu terjebak di persendian yang bergeser.
"Bukan ditekan..." batin Geun di tengah kesadarannya yang hampir putus. "Jangan ditekan... Salurannya mampet... Kalau mampet, jangan disiram air... tapi dipukul biar lancar!"
Geun mengumpulkan sisa tenaganya.
"BERHENTI!" teriaknya serak.
Semua orang terdiam menatapnya.
"Kalian... mau bunuh aku ya?!" Geun terengah-engah, duduk bangun dengan susah payah. "Minggir! Kalian nggak ngerti badan orang miskin!"
"Nak, kau sekarat!" bentak Mu-ak. "Berbaringlah!"
"Nggak!" Geun mendorong tangan tabib itu. "Ambilkan aku... palu."
"Apa?"
"Palu!" teriak Geun. "Palu kayu! Dan kain goni! Cepat! Atau kalau aku mati di sini dan menjadi hantu, aku bakal nyuri duit kalian tiap malam!"
Ancaman itu konyol, tapi mata Geun yang merah menyala membuat mereka tidak berani membantah.
Baek Mu-jin mengangguk pada murid junior. "Ambilkan."
Tak lama kemudian, sebuah palu kayu yang biasa dipakai untuk menumbuk obat dan kain goni diserahkan ke tangan Geun.
Geun menggigit kain goni itu di mulutnya.
Dia menatap kakinya sendiri.
Di mata Geun, dia melihat tulang kering kanannya retak halus dan sedikit bengkok, membuat aliran energi emas itu macet di sana, menumpuk menjadi panas yang membakar.
"Luruskan," perintah otak Geun.
Geun mengangkat palu kayu itu tinggi-tinggi.
Semua orang menahan napas.
DUAGH!
Geun memukul tulang keringnya sendiri sekuat tenaga.
DUAGH!
DUAGH!
DUAGH!!!
"HMMMPH!!" Geun menjerit tertahan di balik kain goni. Air mata langsung muncrat.
"Gila!" teriak tabib muda. "Dia mematahkan kakinya sendiri!"
Tapi Tetua Mu-ak menahan murid itu. Matanya menyipit tajam.
"Tunggu... lihat."
Setelah pukulan itu, suara krek terdengar. Tulang yang bengkok itu bergeser paksa kembali ke posisi lurus.
Dan seketika itu juga, gumpalan energi emas yang macet di betis Geun mengalir lancar.
Panas di kaki kanannya hilang, berganti menjadi sensasi hangat yang meresap ke dalam sumsum tulang, dan memperkuatnya.
Geun terengah-engah, keringat dingin bercucuran. Tapi dia merasakan kelegaan di kakinya.
"Benar..." batin Geun. "Strukturnya salah. Kalau strukturnya dibenerin, energinya bakal nyatu sama daging."
Dia melihat bahu kirinya. Sendinya agak turun. Terlihat energi internal juga macet di sana.
DUAGH!
Geun memukul bahunya sendiri.
Tulang bahunya berderak kembali ke soketnya dengan kasar.
DUAGH!
Paha kiri.
DUAGH!
Tulang rusuk.
Ruangan medis itu sunyi senyap. Hanya terdengar suara hantaman palu ke daging dan tulang, diselingi rintihan tertahan Geun.
Para murid Wudang yang menonton merasa mual. Wajah mereka pucat.
Ini bukan pengobatan. Ini penyiksaan diri.
Geun memukul dirinya sendiri seperti pandai besi menempa pedang yang bengkok.
Setiap pukulan sakitnya luar biasa. Tapi setiap pukulan juga memaksa energi liar "Ramuan Sembilan Matahari" itu masuk ke dalam pori-pori tulang, memadatkan struktur tubuhnya yang rapuh.
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun...
Geun menjatuhkan palunya.
Gludak.
Dia memuntahkan kain goni dari mulutnya. Kain itu basah oleh liur dan sedikit darah karena dia menggigit lidahnya sendiri.
Tubuhnya masih merah, tapi tidak lagi melepuh. Uap panas yang keluar dari tubuhnya kini tipis dan teratur.
Geun berbaring telentang, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
"Selesai..." desis Geun.
Tetua Mu-ak mendekat dengan langkah ragu, seperti mendekati binatang buas yang terluka.
Dia memeriksa nadi Geun lagi.
Mata tua Mu-ak membelalak maksimal.
"Mustahil..."
"Kenapa, Tetua?" tanya Mu-jin cemas.
"Energi 'Yang' itu... hilang," gumam Mu-ak. "Bukan dibuang keluar. Tapi... diserap. Tulang-tulang anak ini menyerap ramuan itu seperti spons kering menyerap air. Struktur tulangnya sekarang lebih padat daripada seseorang yang berlatih Iron Body selama puluhan tahun."
Mu-ak menatap Geun dengan ngeri.
"Ini bukan teknik medis. Ini teknik penempaan senjata. Dia memperlakukan tubuhnya bukan sebagai daging, tapi sebagai besi."
Geun menoleh perlahan ke arah Mu-jin.
"Saudara Baek..."
"Ya, Saudara Geun?"
"Aku lapar lagi," bisik Geun lemah. "Ada ayam sisa nggak?"
Baek Mu-jin dan Seo Yun-gyeom saling pandang.
Di mata mereka, Geun bukan lagi sekadar "orang beruntung" atau "pahlawan misterius".
Dia adalah Monster.
Seseorang yang meminum energi "Yang" panas, lalu memukul dirinya sendiri dengan palu untuk mencernanya.
"Kami... akan siapkan satu ekor ayam utuh," kata Mu-jin, suaranya penuh hormat dan sedikit takut.
Geun tersenyum tipis, lalu pingsan karena kelelahan.
Di dalam tidurnya, tulang-tulangnya yang baru saja "ditempa" sedang menyusun ulang diri mereka, menjadi fondasi bagi fisik yang kelak akan membuat pendekar aliran hitam sekalipun gemetar ketakutan dan memujanya.
Tubuh yang kelak akan dikenal sejarah sebagai Everlasting Demonic Physique.