Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35: Hujan Pedang di Hutan Mati
Hutan Mati terletak sepuluh li di luar gerbang timur Kota Batu Hitam. Pepohonan di sini kering, ranting-rantingnya mencakar langit malam seperti jari-jari mayat.
Li Wei berhenti melangkah.
Di depannya, jalan setapak terhalang oleh lima sosok yang muncul dari balik kegelapan. Aura mereka tajam, setajam pedang yang tergantung di pinggang mereka.
"Kau berlari cukup cepat untuk seseorang yang membawa peti mati sendiri," suara angkuh memecah keheningan.
Lin Feng, Tuan Muda Sekte Pedang Misterius, melangkah maju sambil mengipas-ngipasi dirinya dengan kipas lipat. Wajah tampannya terdistorsi oleh seringai kejam.
Li Wei menyapu pandangannya, menganalisis kekuatan musuh dengan Visi Giok nya.
Empat pengawal yang berdiri di belakang Lin Feng berada di Qi Condensation Lapis 8 Puncak. Mereka bukan murid biasa, melainkan elit yang dilatih dalam formasi pedang.
Lin Feng sendiri memancarkan aura yang tidak stabil namun kuat. Qi di tubuhnya sudah setengah mencair. Dia berada di Setengah Langkah Foundation Establishment.
Namun, ancaman sebenarnya bukan mereka.
Di atas dahan pohon mati di sebelah kanan, berdiri seorang pria tua berjubah abu-abu dengan tangan bersedekap. Matanya tertutup, seolah sedang tidur, namun tekanan roh yang dipancarkannya menekan udara di sekitarnya hingga bergetar.
Tetua Mo – Foundation Establishment Tahap Menengah.
Satu ranah kecil di atas Li Wei (yang baru Tahap Awal).
"Serahkan Cincin Penyimpananmu, bersujud tiga kali sampai kepalamu berdarah, dan potong tangan kananmu," kata Lin Feng santai. "Maka aku akan mempertimbangkan untuk membiarkan wanitamu tetap hidup... sebagai pelayanku."
Xiao Lan di belakang Li Wei menegang, tangannya meraba kantong racunnya. "Li Wei... Tetua di atas pohon itu..."
"Aku tahu," jawab Li Wei tenang.
Ia menatap Lin Feng. "Tuan Muda Lin, apakah ayahmu tidak pernah mengajarimu? Bahwa terkadang, anjing yang menggonggong pada batu akan kehilangan giginya."
Wajah Lin Feng berubah merah padam. "Cari mati! Tetua Mo, awasi saja. Biar aku yang menguliti sampah ini!"
Lin Feng mencabut pedangnya. Pedang itu bersinar biru terang, artefak Tingkat Menengah.
[Teknik Pedang Misterius: Tusukan Bintang Jatuh!]
Lin Feng menerjang. Kecepatannya luar biasa bagi ranah Qi Condensation. Pedangnya membelah udara, menciptakan tiga bayangan pedang yang mengincar titik vital Li Wei.
Li Wei tidak bergerak. Ia tidak mencabut tongkatnya. Ia tidak mengeluarkan senjatanya.
Saat ujung pedang Lin Feng berjarak satu inci dari matanya, Li Wei mengangkat tangan kanannya yang dilapisi cahaya keemasan redup.
TANG!
Suara logam beradu bergema.
Mata Lin Feng melotot. Pedangnya... ditangkap?
Li Wei menangkap bilah pedang tajam itu dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Kulit giok transparan di jarinya tidak tergores sedikitpun.
"Terlalu lambat," kata Li Wei. "Dan terlalu lemah."
Li Wei menjentikkan jarinya ke bilah pedang itu.
TING!
Getaran mengerikan merambat dari pedang ke lengan Lin Feng.
"Ugh!" Lin Feng menjerit saat tulang pergelangan tangannya retak akibat getaran itu. Pedangnya terlepas dari genggaman.
"Berani kau menyakiti Tuan Muda!"
Empat pengawal Qi Condensation Lapis 8 bergerak serentak. Mereka membentuk Formasi Pedang Empat Arah, mengurung Li Wei.
Li Wei menghentakkan kakinya.
[Tekanan Roh: Foundation Establishment!]
BOOM!
Gelombang aura meledak dari tubuh Li Wei. Keempat pengawal itu merasa seolah gunung jatuh menimpa pundak mereka. Formasi mereka hancur seketika. Mereka muntah darah dan jatuh berlutut, organ dalam mereka terguncang hebat.
"Foundation Establishment?!" teriak Lin Feng, mundur ketakutan sambil memegangi tangannya yang patah. "Kau... kau menyembunyikan kultivasimu?!"
Di atas pohon, Tetua Mo akhirnya membuka matanya. Kilatan kaget melintas, namun segera digantikan oleh tatapan dingin.
"Pantas saja kau sombong. Ternyata kau baru saja menembus ranah Foundation Establishment," suara Tetua Mo serak. Ia melompat turun, mendarat tanpa suara di depan Lin Feng.
"Tapi bocah, kau baru di Tahap Awal. Pondasimu belum stabil. Sedangkan aku sudah sepuluh tahun berada di Tahap Menengah. Perbedaan satu tahap di ranah ini bagaikan langit dan bumi."
Tetua Mo mengangkat tangannya. Sebuah pedang terbang kecil berwarna perak melayang keluar dari lengan bajunya, membesar menjadi pedang sepanjang tiga kaki yang bersinar tajam.
Ini adalah Senjata Roh (Spirit Weapon) sesungguhnya, yang dikendalikan oleh pikiran.
"Mati!"
Tetua Mo menunjuk. Pedang terbang itu melesat lebih cepat dari suara, berubah menjadi kilatan perak yang mematikan.
Li Wei merasakan bahaya. Pedang terbang itu dilapisi Qi yang sangat padat. Tubuh fisiknya mungkin bisa menahannya, tapi akan tetap terluka.
Li Wei merogoh Cincin Penyimpanannya. Namun, alih-alih mengambil Tongkat Penembus Langit, instingnya menyuruhnya mengambil benda lain.
Benda yang baru saja ia beli.
Lempengan Batu Hitam (Fragmen Langit).
"Mari kita lihat apa gunanya kau," batin Li Wei.
Ia menggenggam batu hitam itu. Saat pedang terbang Tetua Mo mendekat, Li Wei tidak menghindar. Ia mengayunkan batu itu.
"Hancur!"
KLAANG!
Batu hitam itu menghantam sisi pedang terbang.
Apa yang terjadi selanjutnya melanggar akal sehat kultivasi.
Biasanya, saat dua artefak beradu, terjadi ledakan Qi. Tapi kali ini, saat batu hitam itu menyentuh pedang terbang, cahaya perak pada pedang itu... padam.
Seolah-olah batu hitam itu memiliki sifat "Anti-Hukum" yang menghapus aliran Qi pada benda apa pun yang disentuhnya.
Pedang terbang Tetua Mo, yang kehilangan koneksi spiritualnya, terlempar ke tanah menjadi besi rongsokan yang bengkok.
"P-Pedang Rohku?!" Tetua Mo membelalak, wajahnya pucat pasi. Koneksi jiwanya dengan pedang itu putus paksa, membuatnya memuntahkan darah segar. "Benda iblis apa itu?!"
Li Wei menatap batu di tangannya. Batu itu tidak lecet sedikitpun.
"Menarik," Li Wei menyeringai. "Benda ini bisa membatalkan teknik."
Li Wei tidak membuang waktu. Ia melesat maju menggunakan Langkah Api Hantu.
Tetua Mo panik. Senjata andalannya rusak. Ia mencoba merapal mantra perisai angin.
"Perisai Angin!"
Dinding angin berputar melindungi Tetua Mo.
Li Wei melompat, mengangkat batu hitam itu tinggi-tinggi.
"Hukum rimba tidak butuh perisai!"
BUKK!
Li Wei menghantamkan batu itu ke perisai angin.
Perisai itu pecah seperti kaca tipis. Batu itu ditambah kekuatan fisik Li Wei menghantam wajah Tetua Mo tanpa hambatan.
KRAK!
Wajah Tetua Mo hancur. Hidungnya rata dengan pipi. Gigi-giginya rontok semua.
Kultivator Foundation Establishment Tahap Menengah itu terlempar ke belakang, kepalanya membentur pohon hingga pohon itu tumbang. Dia jatuh ke tanah, kejang-kejang sebentar, lalu mati.
Hening.
Lin Feng, Tuan Muda yang sombong itu, kini duduk di tanah, celananya basah oleh air seni. Wajahnya pucat pasi melihat pelindung terkuatnya dibunuh dengan... batu hitam?
"T-Tuan... Senior... Ampun..." Lin Feng merangkak mundur. "Ayahku adalah Ketua Sekte! Dia Kultivator Core Formation! Jika kau membunuhku, dia akan memburumu sampai ke ujung dunia!"
Li Wei berjalan mendekat, memutar-mutar batu hitam di tangannya.
"Jika aku melepaskanmu, kau akan kembali dengan pasukan ayahmu dan membunuhku," kata Li Wei dingin. "Dalam dunia kultivasi, memotong rumput harus sampai ke akarnya."
"TIDAK! JANGAN!"
Li Wei melempar batu itu dengan jentikan ringan.
Plok.
Batu itu menembus dahi Lin Feng. Tuan Muda itu jatuh terlentang, mati dengan mata terbuka penuh penyesalan.
Li Wei mengambil kembali batunya, membersihkan darahnya, lalu menoleh ke Xiao Lan yang masih terpaku.
"Ambil semua Cincin Penyimpanan. Kita pergi sebelum ada yang datang memeriksa mayat-mayat ini."
Li Wei menatap batu hitam di tangannya lagi. Giok Dao Abadi di dadanya bergetar puas.
Batu ini bukan senjata, tapi Penghancur Hukum. Selama lawan menggunakan Qi, batu ini bisa menghancurkannya.
"Fragmen Langit..." gumam Li Wei. "Jika satu kepingan saja sekuat ini, apa yang terjadi jika aku mengumpulkan semuanya?"