NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Janji di Bawah Bayang Durian Berduri

Tiga puluh tahun yang lalu, di ujung tahun 1900 yang masih diselimuti kabut masa lalu, Desa Durian Berduri teronggok sendirian di lereng bukit Padeglang, Banten. Desa kecil itu seperti terlupakan waktu; dikelilingi hutan lebat yang daun-daunnya tak pernah diam, seolah berbisik satu sama lain di malam hari. Pohon durian liar tumbuh sembarangan di pinggir jalan setapak, buahnya runcing-runcing berduri tajam, seakan memperingatkan siapa pun yang berani mendekat.

Di pinggir hutan paling dalam, jauh dari suara ayam berkokok pagi atau tangis bayi tetangga, berdiri sebuah gubuk reyot terbuat dari anyaman daun rumbia yang sudah menggelap karena usia. Atapnya melengkung seperti punggung orang tua yang bungkuk. Di situlah tinggal Mbah Saroh—seorang perempuan tua yang tak pernah ada yang tahu umurnya berapa. Rambutnya panjang kusut, hitam legam bercampur uban, selalu terurai menutupi wajahnya yang penuh kerut. Matanya... ah, matanya seperti dua lubang hitam yang bisa menelan cahaya obor sekalipun.

Mbah Saroh bukan dukun biasa. Orang-orang menyebutnya dukun hitam, orang yang berani berbisik dengan yang tak kasat mata. Katanya, ia bisa memanggil jin Ifrit dari bara api, bisa membuat orang jatuh cinta dalam semalam, atau—yang paling ditakuti—membuat seseorang lenyap tanpa jejak. Namun, ia hidup menyendiri. Tak pernah terlihat di pasar, tak pernah ikut gotong royong. Hanya sesekali, ketika malam terlalu gelap dan angin membawa bau kemenyan, seseorang yang putus asa akan datang diam-diam ke gubuknya.

Malam itu, angin membawa aroma hujan yang belum turun. Dua orang tampak berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang licin oleh lumut. Suami-istri muda asal Semarang yang menetap di Desa Itu , Mas Karta dan Mbak Wulan. Wajah mereka pucat, mata merah karena tangis yang sudah berhari-hari. Sudah tujuh tahun pernikahan mereka, namun perut Mbak Wulan tetap rata seperti gadis remaja.

Mereka mengetuk pintu gubuk dengan tangan gemetar.

Pintu terbuka pelan. Mbah Saroh berdiri di ambang, kain jarik lusuh menutupi tubuh kurusnya. Bau kemenyan dan sesuatu yang amis menyengat hidung mereka.

“Apa maumu?” suara Mbah Saroh serak, seperti daun kering bergesekan.

Mbak Wulan menangis tersedu. “Kami... kami ingin anak, Mbah. Sudah bertahun-tahun kami berdoa. Sudah ke dokter, ke kyai, ke tempat ziarah. Tak ada hasilnya.”

Mbah Saroh diam lama. Matanya menatap pasangan itu bergantian, seolah menimbang jiwa mereka.

“Aku bisa mengabulkan,” katanya akhirnya. “Tapi ada harga.”

“Berapa pun, Mbah. Kami rela,” sahut Mas Karta cepat.

Bibir Mbah Saroh melengkung tipis—senyum yang lebih mirip grimis.

“Anak itu akan lahir sehat, cerdas, cantik atau tampan. Tapi ketika genap tujuh tahun... aku akan datang mengambilnya. Ia akan menjadi milikku sepenuhnya.”

Mbak Wulan tercekat. Mas Karta memucat.

“Tapi... mengambilnya untuk apa, Mbah?” tanya Mbak Wulan lirih.

“Itu bukan urusan kalian,” potong Mbah Saroh tajam. “Kalian hanya perlu setuju. Atau pulang, dan selamanya bertanya-tanya mengapa Tuhan tak pernah mengabulkan doa kalian.”

Mereka saling pandang. Air mata Mbak Wulan jatuh lagi. Akhirnya, dengan suara hampir tak terdengar, mereka mengangguk.

Mbah Saroh mengeluarkan pisau kecil berkarat, menggores telapak tangan masing-masing, lalu meneteskan darah mereka ke dalam mangkuk tanah liat yang sudah berisi air kemenyan. Ia berbisik dalam bahasa yang tak mereka pahami, suaranya naik turun seperti nyanyian dari dunia lain.

Sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang bayi perempuan. Cantik luar biasa, kulitnya putih bersih, matanya besar hitam pekat. Mereka menamainya Siti Aisyah. Desa bergembira. Tak ada yang tahu rahasia di balik kelahiran itu.

Tahun berganti. Siti Aisyah tumbuh menjadi anak yang lincah, ceria, dan pintar. Setiap kali melihatnya tertawa, hati Mas Karta dan Mbak Wulan terasa hangat—dan sekaligus dingin membeku. Janji itu seperti bayang-bayang yang mengintai di setiap sudut rumah.

Hari ulang tahun ketujuh tiba.

Malam itu, angin bertiup kencang. Pintu rumah mereka tiba-tiba terbuka lebar meski terkunci rapat. Mbah Saroh berdiri di ambang pintu, kain jariknya berkibar seperti sayap burung gagak. Wajahnya tak lagi tersembunyi rambut; keriputnya dalam, matanya menyala merah seperti bara.

“Waktunya,” katanya pelan.

Mbak Wulan menjerit, memeluk erat Siti Aisyah. Mas Karta menghunus golok, tapi tangannya gemetar hebat.

“Kalian ingkar janji,” suara Mbah Saroh dingin. “Maka aku ambil sendiri.”

Dalam sekejap, angin menderu masuk. Lampu minyak padam. Kegelapan menelan ruangan. Ketika cahaya kembali, Siti Aisyah sudah lenyap. Hanya bau kemenyan yang tersisa.

Keesokan harinya, desa gempar. Mas Karta dan Mbak Wulan menceritakan semuanya dengan tangis tersedu. Awalnya tak ada yang percaya—sampai mereka melihat bekas goresan di telapak tangan mereka yang tak pernah sembuh, berbentuk simbol aneh.

Malam berikutnya, ratusan warga berkumpul. Obor menyala di tangan mereka, wajah-wajah penuh amarah dan ketakutan. Mereka berbaris menuju hutan, menuju gubuk Mbah Saroh.

Pintu gubuk terbuka lebar. Di dalam, Siti Aisyah meringkuk ketakutan di sudut. Mbah Saroh berdiri di depannya, tangannya menggenggam rambut anak itu.

“Pergi!” teriak Mbah Saroh. “Ini milikku!”

Warga tak mendengar. Beberapa pemuda maju, merenggut Siti Aisyah dari tangan nenek itu. Anak kecil itu menangis memanggil ibunya.

Kemarahan membutakan mereka. Obor-obor dilemparkan ke atap daun rumbia yang kering. Api langsung menyambar. Gubuk itu terbakar dengan cepat, seperti kertas kering.

Di tengah kobaran, Mbah Saroh berdiri tak bergerak. Api menjilat kain jariknya, namun ia tak berteriak kesakitan. Hanya menatap warga dengan mata penuh dendam.

“Tunggu saja...” suaranya menggema di antara deru api, dalam, mengerikan, seolah datang dari perut bumi. “Pembalasanku akan kalian rasakan. Generasi kalian... akan membayar.”

Api semakin besar. Asap hitam mengepul ke langit. Warga mundur, batuk-batuk. Ketika api reda, gubuk sudah menjadi abu. Tak ada jasad Mbah Saroh. Hanya bau hangus dan kesunyian yang mencekam.

Sejak malam itu, Desa Durian Berduri tak pernah sama lagi. Anak-anak dilarang keluar malam. Orang tua berbisik tentang “Nenek Gerandong”—nenek yang rambutnya panjang menjuntai hingga tanah, yang datang mencari anak-anak berusia tujuh tahun untuk dibawa ke alamnya.

Dan kadang, di malam yang sangat gelap, jika angin bertiup dari arah hutan... orang-orang bersumpah mendengar suara serak itu lagi.

“Tunggu saja... pembalasanku...”

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!