Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Parkiran yang Panas dan Tatapan Curiga
Pagi itu, suasana di depan gedung Studio Arsitektur benar-benar pecah. Biasanya, mahasiswa arsitektur keluar gedung dengan tampang lusuh, tapi kali ini mereka semua kompak berhenti di depan gerbang. Penyebabnya cuma satu: Tesla Model S hitam mengkilap milik Dr. Antares Bagaskara terparkir manis tepat di depan pintu masuk, bukan di parkiran dosen seperti biasanya.
Zea keluar bareng Sarah dengan langkah yang diseret. Begitu melihat mobil itu, Zea rasanya ingin menghilang ditelan bumi.
"Zea... itu laki lu beneran jemput di sini? Gila, dia mau pamer atau gimana?" Sarah berbisik histeris sambil menyikut lengan Zea.
"Aduh, gue udah bilang jangan di sini, tapi dia batu banget!" Zea ngomel pelan, mukanya sudah merah padam.
Kaca mobil turun perlahan. Antares duduk di balik kemudi dengan kacamata hitam, kaos polo hitam yang melekat pas di badannya, dan aura otoritas yang bikin siapa pun segan.
"Zea Anora. Masuk," perintahnya singkat. Suaranya nggak keras, tapi terdengar jelas di tengah kerumunan mahasiswa yang mulai berbisik-bisik.
Zea melirik Sarah yang mukanya sudah kayak mau meledak. "Duluan ya, Sar..."
"I-iya, Ze... Semangat 'asistensinya'!" Sarah membalas dengan nada yang sengaja ditekan, matanya nggak lepas dari Antares. Sarah sekarang menatap Antares bukan lagi sebagai mahasiswa yang kagum, tapi dengan tatapan 'Oh, jadi ini cowok yang bikin leher temen gue penuh tanda'.
Sesampainya di apartemen, suasana yang tadinya santai mendadak berubah agak tegang. Antares melepas kacamatanya dan langsung menaruh kunci mobil di meja bar dapur dengan bunyi dentang yang cukup keras.
Zea lagi asyik mau buka kulkas buat cari jus jeruk saat Antares menarik kursi dan duduk sambil memperhatikannya intens.
"Zea, sini sebentar," panggil Antares. Nadanya bukan nada mesra, tapi nada dosen yang lagi mau ngasih kuis dadakan.
Zea mendekat dengan ragu. "Apa sih, Mas? Kok mukanya gitu banget?"
"Tadi teman kamu... siapa namanya? Sarah?" Antares menyipitkan mata. "Kenapa dia menatap saya seperti itu di parkiran? Dan tadi saat kelas Astronomi pagi, setiap kali saya menjelaskan materi, dia senyum-senyum tidak jelas ke arah saya lalu menyenggol lenganmu."
Zea nelan ludah. "Hah? Masa sih? Mungkin dia cuma... kagum kali sama Mas."
"Jangan bohong, Zea. Tatapannya beda. Itu tatapan orang yang tahu sesuatu," Antares berdiri, melangkah mendekati Zea sampai gadis itu terpojok ke meja dapur. "Kamu cerita sesuatu ke dia?"
Zea menggigit bibir bawahnya, nggak berani natap mata Antares. "Itu... Mas, maaf. Sarah tuh pinter banget. Dia liat aku masuk mobil kamu terus, dia juga liat kejadian pas Erlangga kemarin. Dia maksa aku cerita... kalau nggak dia bakal lapor ke dekanat karena mikir aku simpenan dosen."
Rahang Antares mengeras. "Jadi dia sudah tahu kalau kita suami-istri?"
"Iya... tapi dia janji nggak bakal bocor! Sumpah, Sar itu temen baik aku, Mas. Dia nggak mungkin jahat," Zea memegang lengan Antares, mencoba merayu agar suaminya itu nggak marah besar.
Antares menghela napas panjang, tangannya terulur mengusap wajahnya kasar. "Zea, kamu tahu kan risikonya? Kalau satu orang tahu, itu artinya rahasia ini bukan rahasia lagi. Gravitasi rahasia itu berat, Zea. Sekali bocor, semuanya hancur."
"Maaf, Mas Antar... Habisnya aku bingung harus alasan apa lagi."
Antares diam sejenak, lalu tiba-tiba dia menarik pinggang Zea, membawa tubuh gadis itu merapat ke tubuhnya. "Lalu, selain soal status kita, apa lagi yang kamu ceritakan ke dia?"
"Nggak ada! Cuma soal nikah siri itu aja!"
"Benarkah? Dia tadi menatap leher kamu terus-menerus seolah sedang mencari sesuatu," Antares berbisik rendah di telinga Zea, jemarinya mengusap lembut bekas tanda yang dia buat kemarin. "Apa kamu juga cerita kalau suamimu ini sangat... menuntut di tempat tidur?"
Wajah Zea langsung panas sampai ke telinga. "MAS ANTAR! Enggak lah! Emang aku cewek apaan!"
Antares terkekeh rendah, suara yang bikin kaki Zea mendadak lemas. "Bagus kalau begitu. Karena bagian itu... cuma saya yang boleh tahu."
Antares mengangkat dagu Zea, mencium bibirnya dengan posesif namun lebih lembut dari biasanya. "Bilang ke temanmu itu, kalau sampai rahasia ini keluar dari mulutnya, saya tidak akan segan-segan menggunakan pengaruh Bagaskara untuk memindahkan dia ke kampus di luar pulau. Paham?"
"I-iya, Mas... nanti aku bilangin. Tapi Mas jangan galak-galak ya sama dia besok di kelas."
"Tergantung kelakuannya," jawab Antares singkat sebelum kembali mencium Zea, kali ini lebih lama, seolah ingin memastikan bahwa meskipun rahasia mereka terancam, Zea tetap miliknya sepenuhnya.
Antares menyadari tatapan Sarah. Dia sempat menoleh sekilas ke arah Sarah—tatapan tajam yang seolah sedang memindai apa yang ada di otak cewek itu—sebelum akhirnya tancap gas begitu Zea masuk ke mobil.