"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 23
BAB 23 — Insiden Dompet
Pukul 06.30 WIB.
Kabut pagi di Villa Grand Hills belum terangkat sepenuhnya. Embun menempel di kaca-kaca jendela ruang makan yang besar, mengaburkan pemandangan hutan pinus di luar.
Ruang makan itu luas, berlantai kayu parket yang dipoles mengkilap. Meja-meja panjang tersusun rapi, penuh dengan sajian sarapan prasmanan: Nasi goreng, sosis bakar, omelette, roti bakar, dan susu segar.
Aroma kopi dan mentega memenuhi udara, seharusnya membangkitkan selera makan. Tapi bagi Mayang, pagi ini terasa hambar.
Mayang berdiri di dekat meja buffet, memegang papan jalan. Matanya bengkak, sisa kurang tidur dan menahan tangis semalam. Dia mengenakan jaket hoodie panitia berwarna abu-abu (jaket yang semalam disusupi uang oleh Vivie tanpa dia sadari).
“Stok susu cokelat tinggal dua karton,” gumam Mayang pada staf dapur villa. “Tolong diisi ulang sebelum anak laki-laki turun. Mereka minumnya banyak.”
“Siap, Neng,” jawab staf dapur.
Mayang berbalik, memindai ruangan.
Siswa-siswa mulai bermunculan. Wajah-wajah bantal, rambut berantakan, dan piyama mahal. Mereka duduk berkelompok, denting sendok garpu mulai terdengar riuh.
Di meja ujung, dekat jendela dengan pemandangan terbaik, Vino duduk sendirian.
Dia sudah mandi, rapi dengan kaos polo hitam dan celana chino krem. Di hadapannya ada secangkir kopi hitam dan iPad. Dia sedang membaca berita ekonomi, seolah dia sedang di kantor bursa efek, bukan di acara sekolah.
Mayang menatap punggung Vino. Ada dorongan kuat untuk menyapa, untuk sekadar bilang "Pagi". Tapi dinginnya sikap Vino semalam membekukan lidah Mayang.
“Gue nggak butuh barang bekas.”
Kata-kata itu masih menusuk.
Mayang mengalihkan pandangan. Dia mengambil sepotong roti tawar, mengolesnya dengan selai kacang tipis-tipis. Sarapan cepat sebelum briefing panitia.
Naufal masuk ke ruang makan. Dia memakai jaket tebal. Matanya mencari-cari, dan langsung menemukan Mayang.
Namun, Naufal tidak menghampiri. Dia ingat penolakan halus Mayang semalam di api unggun. Naufal hanya mengangguk kaku dari kejauhan, lalu bergabung dengan Jerry dan teman-teman basketnya di meja lain.
Mayang tersenyum kecut. Dia berhasil mengasingkan diri dari semua orang. Guardian pergi, Partner menjauh. Dia benar-benar sendirian.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari tangga utama yang menghubungkan area kamar tidur dengan ruang makan.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Vivie turun setengah berlari. Wajahnya panik. Rambutnya yang biasanya ditata rapi, kini dibiarkan tergerai sedikit berantakan (sengaja, untuk efek dramatis). Dia masih memakai piyama sutra Victoria's Secret dan sandal rumah berbulu.
“Guys! Stop! Semuanya berhenti makan!” teriak Vivie. Suaranya melengking, memecahkan dengungan percakapan pagi.
Hening seketika. Ratusan pasang mata menoleh. Sendok-sendok berhenti di udara.
Vivie berdiri di tengah ruangan, napasnya memburu. Sarah dan Oline berdiri di belakangnya dengan wajah prihatin yang dilatih.
“Ada apa, Vie? Kebakaran?” tanya Jerry dengan mulut penuh nasi goreng.
“Dompet gue,” kata Vivie, suaranya bergetar. “Dompet Prada gue... hilang.”
Gumam-gumam mulai terdengar.
“Hilang gimana? Ketinggalan di bus kali?” celetuk seseorang.
“Nggak mungkin!” bantah Vivie. “Semalam masih ada di tas gue. Gue inget banget gue keluarin buat bayar iuran tambahan ke Oline. Terus gue taruh di meja rias kamar.”
Vivie mulai terisak. Air mata buaya menetes satu per satu.
“Di dalemnya ada uang kas acara tiga juta rupiah. Uang kalian semua! Plus kartu kredit Papa gue dan uang jajan gue dua juta. Total lima juta tunai!”
Angka lima juta membuat suasana menjadi serius. Itu bukan uang kecil. Itu kasus kriminal.
Vino, di meja ujung, perlahan menurunkan cangkir kopinya. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan. Dia hanya meletakkan iPad-nya, lalu memutar kursi menghadap ke tengah ruangan.
Dia belum bicara. Dia mengamati.
“Coba cari dulu di kamar, Vie. Nyelip kali,” saran Naufal.
“Udah gue bongkar! Sarah sama Oline saksinya. Kamar udah dibalik, nggak ada! Dompet itu punya kaki!”
Vivie menatap berkeliling, matanya tajam mencari target.
“Pasti ada yang masuk ke kamar gue pas gue tidur atau mandi. Pasti ada maling di antara kita!”
Tuduhan "maling" membuat suasana tidak nyaman. Siswa-siswa saling pandang, curiga satu sama lain.
“Siapa yang masuk kamar lo semalem?” tanya Naufal.
“Nggak ada tamu. Cuma gue, Sarah, Oline... dan panitia yang ngecek kelengkapan kamar.”
Vivie menjeda kalimatnya. Matanya perlahan bergerak, melewati kerumunan siswa, dan berhenti tepat, terkunci pada sosok yang berdiri di dekat meja prasmanan.
Mayang.
Mayang sedang memegang roti tawarnya. Dia merasakan perubahan atmosfer ruangan. Seolah oksigen disedot habis.
“Mayang,” panggil Vivie. Nadanya bukan bertanya, tapi memvonis.
Mayang menelan ludah. Roti di tangannya terasa seperti batu.
“Ya, Vivie?”
Vivie berjalan mendekat. Langkahnya pelan, mengintimidasi.
“Semalam, jam sepuluh, lo masuk kamar gue kan? Kamar 304.”
Mayang mengingat-ingat. “Iya. Saya masuk buat ngecek water heater karena kamu komplain airnya kurang panas.”
“Nah!” seru Vivie, berbalik menghadap massa. “Denger kan? Dia masuk kamar gue! Dan saat itu, gue sama anak-anak lagi di balkon kamar, main kartu. Dompet gue ada di meja rias.”
“Saya cuma ngecek kamar mandi, Vivie. Saya nggak sentuh meja rias,” bela Mayang tenang.
“Yakin?” Vivie maju selangkah lagi. Jarak mereka kini hanya satu meter.
“Mayang... kita semua tahu latar belakang lo. Kita tahu kondisi ekonomi lo.”
Vivie memasang wajah simpati yang menjijikkan.
“Gue ngerti kok. Liat temen-temen belanja, liat kita jajan enak, pasti lo pengen kan? Manusiawi. Apalagi lo butuh duit buat... ya, lo tahu lah, kebutuhan hidup lo yang pas-pasan.”
Kata-kata itu halus tapi tajamnya minta ampun. Vivie sedang membingkai narasi: Motif Ekonomi.
“Vivie,” suara Mayang merendah, dingin. “Jaga bicara kamu. Miskin bukan berarti maling.”
“Oh ya? Terus kenapa dompet gue ilang tepat abis lo masuk? Kebetulan?”
“Korelasi bukan berarti kausalitas,” jawab Mayang, menggunakan istilah yang dia pelajari dari Vino. “Banyak orang lewat depan kamar kamu. Staf hotel, cleaning service...”
“Staf hotel punya SOP!” potong Vivie. “Mereka nggak mungkin ambil risiko dipecat. Tapi lo? Lo butuh duit. Gue denger Budhe lo lagi sakit kan? Butuh obat mahal?”
Mayang tersentak. Dari mana Vivie tahu soal Budhe?
“Jangan bawa-bawa keluarga saya,” kata Mayang, tangannya mengepal di samping tubuh.
“Gue cuma analisis fakta. Lo punya akses. Lo punya motif. Dan lo punya kesempatan.”
Vivie menatap Mayang dengan tatapan kemenangan.
“Balikin, May. Gue nggak bakal lapor polisi kalau lo ngaku sekarang. Gue anggep sedekah. Tapi balikin kartu kredit Papa gue.”
Seluruh ruangan menatap Mayang. Tatapan mereka berubah. Dari teman sekelas, menjadi hakim. Prasangka kelas sosial bekerja sangat cepat. Orang miskin pasti butuh uang. Masuk akal.
“Saya tidak mengambil,” kata Mayang. Tegas.
“Buktikan,” tantang Vivie.
“Gimana caranya membuktikan sesuatu yang nggak saya lakukan?”
“Gampang. Geledah.”
Kata itu menggantung di udara. Geledah.
“Gue mau periksa tas dan jaket lo. Sekarang.”
Mayang mundur selangkah. “Itu pelanggaran privasi. Kamu nggak punya hak.”
“Kalau lo bersih, kenapa takut?”
“Karena ini soal harga diri, Vivie! Bukan soal takut!”
“Harga diri lo nggak sebanding sama duit gue yang ilang!” teriak Vivie, topeng sabarnya lepas.
Suasana memanas. Vivie hendak maju menarik jaket Mayang.
“Cukup.”
Satu kata. Datar. Tidak berteriak. Tapi membelah keributan seperti pisau panas membelah mentega.
Vino berdiri.
Dia berjalan santai dari meja ujung menuju pusat keributan. Tangan kirinya dimasukkan ke saku celana, tangan kanannya memegang iPad.
Dia tidak melihat Mayang. Dia menatap Vivie.
“Vivie,” kata Vino. “Lo nuduh Sekretaris gue maling tanpa bukti fisik. Itu pencemaran nama baik. Pasal 310 KUHP.”
Vivie menatap Vino, sedikit takut tapi juga nekat.
“Buktinya ada, Vin! Dompet gue ilang! Dia yang masuk kamar gue! Logika lo di mana? Lo mau belain dia cuma karena dia partner kerja lo?”
Vino menatap Vivie dingin.
“Gue nggak belain siapa-siapa. Gue belain prosedur.”
Vino berbalik menghadap seluruh siswa.
“Kunci semua pintu keluar,” perintah Vino pada Naufal dan Jerry yang berdiri dekat pintu.
“Hah?” Naufal bingung.
“Kunci. Nggak ada yang boleh keluar ruangan ini sampai masalah selesai. Kalau ada yang keluar, gue anggap dia pelakunya.”
Naufal segera menutup pintu ganda ruang makan dan menjaganya.
Vino kembali menatap Vivie.
“Lo mau geledah Mayang?” tanya Vino.
“Iya!”
“Oke. Tapi biar adil, kita geledah semua orang.”
“Hah? Gila lo, Vin!” protes Sarah. “Masa kita juga?”
“Kalau Mayang digeledah, semua digeledah. Asas kesetaraan di mata hukum,” kata Vino tak terbantahkan. “Kita mulai dari tas Mayang. Kalau nggak ketemu, kita geledah tas lo, tas gue, tas Naufal, semuanya. Setuju?”
Tantangan gila. Tapi adil. Tidak ada yang berani membantah Vino.
Vivie tersenyum miring. Dia tahu dompetnya tidak ada di tas Mayang. Tapi dia tahu uangnya ada di mana.
“Oke. Setuju. Geledah tas Mayang dulu. Terus jaketnya,” kata Vivie spesifik.
Mayang menatap Vino. Dia mencari perlindungan di mata itu. Tapi mata Vino kosong. Dia bertindak sebagai hakim yang imparsial, bukan sebagai pelindung.
“Mayang,” kata Vino datar. “Buka tas lo.”
Mayang merasa dikhianati. Vino membiarkan ini terjadi?
“Vino... saya nggak ambil,” bisik Mayang.
“Gue tahu,” jawab Vino pelan, nyaris tak terdengar. “Tapi prosedur harus dijalankan buat bersihin nama lo. Buka.”
Dengan tangan gemetar, Mayang mengambil tas selempang kecil yang dia bawa. Dia menumpahkan isinya ke meja makan.
Dompet kain lusuh. Handphone retak. Pulpen. Buku catatan kecil. Tisu.
Tidak ada dompet Prada merah muda.
“Kosong,” kata Mayang. “Puas?”
Vino mengangguk. Dia menatap Vivie. “Nggak ada. Tuduhan lo gugur.”
“Tunggu!” sela Vivie cepat. “Cek jaketnya. Hoodie abu-abu itu. Dia pake itu semaleman.”
Vino menatap jaket Mayang.
“Lepas jaket lo,” perintah Vino.
Mayang merasa ditelanjangi. Dia membuka resleting jaketnya perlahan. Dia melepasnya.
Vino mengambil jaket itu. Dia meraba saku kanan. Kosong.
Dia meraba saku kiri.
Ada sesuatu.
Kening Vino berkerut. Dia merasakan tekstur kertas. Tebal.
Jantung Mayang berhenti berdetak melihat ekspresi Vino berubah. Apa itu? Aku nggak bawa apa-apa di saku kiri.
Vino menarik tangan keluar dari saku jaket itu.
Di tangannya, tergenggam segepok uang kertas pecahan seratus ribu. Diikat karet gelang.
Warna merah uang itu menyala di bawah lampu ruang makan.
Hening.
Total.
Mayang menatap uang itu dengan mata terbelalak. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
Itu bukan uangku. Aku nggak punya uang sebanyak itu.
“Nah!” teriak Vivie histeris, menunjuk uang itu. “Itu duit gue! Pecahan seratus ribu baru! Karet gelangnya warna kuning, gue yang iket sendiri!”
Vivie menyambar uang itu dari tangan Vino. Dia menghitungnya cepat.
“Tiga juta pas! Sisanya pasti dia umpetin di tempat lain!”
Vivie menatap Mayang dengan tatapan jijik yang murni.
“Dasar maling! Masih mau ngelak? Duitnya ada di jaket lo sendiri!”
Mayang menggelengkan kepala. Air mata mulai menggenang, mengaburkan pandangannya. Dunia terasa berputar.
“Itu... itu bukan punya saya. Saya nggak tahu kenapa bisa ada di situ,” suara Mayang pecah. “Demi Allah, saya nggak tahu...”
“Halah! Maling ketangkep basah masih bawa-bawa Tuhan!” cibir Oline.
Siswa-siswa lain mulai berbisik kasar.
“Gila, nggak nyangka.” “Tampang polos ternyata panjang tangan.” “Usir aja lah. Bahaya satu villa sama maling.”
Vino berdiri mematung memegang jaket kosong Mayang.
Dia menatap uang di tangan Vivie. Lalu menatap wajah Mayang yang pucat pasi dan hancur.
Logika Vino berputar cepat. Mayang miskin. Tapi Mayang punya integritas. Dia mencatat pengeluaran 2000 perak di buku kas. Dia mengeringkan payung 5 juta tanpa cacat. Orang yang menjaga payung 5 juta dengan nyawanya, tidak akan mencuri 3 juta dengan cara bodoh menyimpannya di saku jaket.
Ini jebakan.
Vino tahu ini jebakan.
Tapi buktinya ada. Fisik. Tak terbantahkan di mata hukum awam. Corpus delicti ada di tangan tersangka.
“Vino!” seru Naufal dari pintu. Dia berlari mendekat. “Itu nggak mungkin! Mayang nggak mungkin nyuri!”
“Buktinya di depan mata, Fal!” bentak Vivie. “Lo mau belain apa lagi? Dia butuh duit! Dia ambil duit kas kita!”
Naufal menatap Mayang. Ada keraguan sekilas di mata Naufal. Keraguan yang menyakitkan. Naufal ingin percaya, tapi bukti itu terlalu nyata.
“May... beneran lo nggak ambil?” tanya Naufal pelan.
Pertanyaan itu menghancurkan hati Mayang. Bahkan Naufal—Sang Penjaga—ragu.
Mayang menatap Naufal. Lalu menatap Vino.
Vino tidak bertanya. Vino hanya menatap jaket di tangannya dengan kening berkerut dalam. Dia sedang berpikir keras mencari celah.
“Saya tidak mengambil,” kata Mayang. Dia tidak berteriak. Dia bicara dengan sisa harga dirinya yang terakhir. “Uang itu ditaruh di sana. Saya dijebak.”
“Alasan klise!” Vivie tertawa sinis. “Siapa yang naruh? Setan?”
Mayang menatap Vivie lurus.
“Kamu.”
“Gue? Ngapain gue naruh duit gue sendiri ke jaket lo? Gue orang kaya, May. Tiga juta itu receh buat gue. Gue nggak kurang kerjaan main drama kayak gini.”
Logika Vivie masuk akal bagi orang banyak. Kenapa orang kaya repot-repot menjebak orang miskin?
“Cukup,” potong Vino.
Vino melempar jaket Mayang ke kursi.
“Bukti ditemukan di properti Mayang. Secara teknis, Mayang bersalah,” kata Vino dingin.
Mayang menatap Vino tidak percaya. Kamu juga?
“Tapi,” lanjut Vino, suaranya meninggi. “Motifnya lemah. Dan kronologinya cacat.”
Vino berjalan mendekati Vivie.
“Lo bilang dompet lo ilang. Di mana dompetnya? Ini cuma uang tunai. Kartu kredit lo mana? Dompet Prada lo mana?”
Vivie tergagap. “Ya... ya mungkin dia buang dompetnya karena takut ketahuan! Dia cuma ambil cash-nya!”
“Kalau dia ambil cash-nya, kenapa dia simpen di saku jaket yang gampang ditemuin? Kenapa nggak diselipin di kaos kaki? Atau di dalem sepatu?”
Vino menatap Mayang.
“Mayang pinter. Nilai matematikanya 98. Kalau dia mau nyuri, dia bakal bikin skenario yang lebih rapi dari ini. Naruh duit di saku jaket itu tindakan amatir. Itu tindakan orang bodoh. Atau...”
Vino menatap Vivie tajam.
“...tindakan orang yang buru-buru pengen nuduh orang lain.”
Analisis Vino membuat kerumunan terdiam. Logika mulai masuk. Benar juga. Terlalu mudah.
“Lo... lo belain dia lagi?!” jerit Vivie. “Jelas-jelas duitnya di situ!”
“Gue nggak belain. Gue meragukan kualitas kejahatannya,” kata Vino.
Tiba-tiba, pintu ruang makan terbuka.
Guru Pembimbing, Pak Burhan (guru fisika yang ikut mengawasi), masuk dengan wajah mengantuk tapi marah melihat keributan.
“Ada apa ini ribut-ribut? Suara kalian kedengeran sampai parkiran!”
Vivie langsung lari menghampiri Pak Burhan. Mengadu dengan air mata palsu yang kembali mengalir deras.
“Pak! Mayang nyuri uang kas acara! Tiga juta! Udah ketemu buktinya di jaket dia!”
Pak Burhan melotot. Dia menatap Mayang.
“Mayang? Benar itu?”
Mayang menggeleng lemah. “Tidak, Pak.”
“Buktinya ada, Pak! Ini!” Vivie menunjukkan uang itu.
Pak Burhan wajahnya merah padam. Dia benci pencuri.
“Mayang Sari. Ikut saya ke ruang guru sekarang. Sidang disiplin. Kalau terbukti, kamu saya pulangkan detik ini juga dan beasiswa kamu saya rekomendasikan dicabut!”
Mayang merasa kakinya lemas. Pulang? Dicabut beasiswa? Itu akhir dari segalanya. Budhe akan hancur.
Vino melangkah maju. “Pak, tunggu. Ini belum konklusif. Kita perlu investigasi...”
“Diam, Vino!” bentak Pak Burhan. “Kamu Ketua Panitia, kamu gagal mengawasi anggotamu. Jangan ikut campur atau kamu juga kena sanksi!”
Vino terdiam. Otoritas guru di atas segalanya.
Mayang menatap Vino untuk terakhir kalinya. Tatapan putus asa. Tolong aku.
Tapi Vino tidak bisa berbuat apa-apa di depan guru yang sedang marah.
Mayang digiring keluar oleh Pak Burhan seperti tawanan perang. Vivie tersenyum puas di belakang punggung guru.
Naufal menendang kursi sampai jatuh. “Sialan!”
Ruang makan hening. Mencekam.
Vino berdiri mematung. Tangannya mengepal di samping tubuh sampai urat-uratnya menonjol.
Dia melihat jaket abu-abu Mayang yang tertinggal di kursi. Jaket yang menjadi saksi bisu jebakan ini.
Vino mengambil jaket itu. Dia meremasnya.
“Main kasar ya, Vie,” bisik Vino. Matanya gelap, segelap badai yang akan datang. “Oke. Lo mau perang kotor? Gue layanin.”
Vino mengeluarkan ponselnya. Dia tidak menelepon polisi. Dia menelepon Rio.
“Rio. Sekarang. Gue butuh lo masuk ke area villa. Bawa anak buah lo. Kita butuh... tekanan fisik.”
Di luar, kabut semakin tebal. Mayang sedang berjalan menuju penghakiman, sementara Vino sedang mempersiapkan pemberontakan.
Bersambung......