Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Pernikahan
Dingin.
Itulah yang pertama kali Naura rasakan saat tangannya menyentuh pegangan pintu ruang perawatan intensive care unit. Bukan dingin dari logam pintu itu. Tapi dingin yang merayap dari dalam dadanya, menjalar ke seluruh tubuh seperti ada yang meremas jantungnya pelan pelan sampai hampir tidak bisa bernapas.
"Ibu..."
Suaranya pecah. Hancur. Naura bahkan tidak yakin kata itu benar benar keluar dari mulutnya atau hanya bergema di kepalanya yang terasa mau meledak sejak tadi pagi. Sejak dokter itu bilang. Sejak dokter itu menatapnya dengan pandangan kasihan yang menyebalkan itu. Pandangan yang seolah berkata kamu tidak akan bisa menyelamatkan ibumu.
Ibu Sari terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat. Pucat sekali sampai bibir yang dulu selalu tersenyum itu sekarang biru. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Kabel kabel monitor jantung menempel di dada. Bunyi mesin itu. Pip. Pip. Pip. Terdengar seperti hitung mundur. Seperti waktu yang terus berjalan mengikis nyawa ibunya detik demi detik.
"Naura... sayang..."
Ibu Sari tersenyum. Senyum tipis yang bahkan untuk mengangkat sudut bibirnya saja sepertinya menguras seluruh tenaga yang tersisa.
Naura langsung berlutut di samping ranjang. Tangannya menggapai tangan ibu yang terasa dingin. Dingin dan kurus. Kapan ibunya menjadi sekurus ini? Kapan tulang tulang tangannya mulai terlihat menonjol seperti ini? Kenapa Naura baru menyadarinya sekarang?
"Ibu jangan bicara dulu... ibu istirahat aja..." Naura berusaha tersenyum tapi air matanya sudah mengalir duluan. Bodoh. Bodoh sekali. Bagaimana bisa tersenyum saat air mata terus mengalir seperti keran rusak yang tidak bisa ditutup?
"Naura dengar ibu..." Ibu Sari memaksakan suaranya keluar meski setiap kata terdengar seperti membutuhkan perjuangan besar. "Ibu tidak apa apa... ibu sudah tua... sudah waktunya ibu..."
"Jangan bilang begitu!" Naura memotong. Keras. Terlalu keras sampai beberapa pasien di ruangan lain menoleh. Tapi Naura tidak peduli. Tidak peduli sama sekali. "Ibu masih muda! Ibu baru lima puluh dua tahun! Masih banyak waktu! Masih banyak..."
Masih banyak apa?
Naura terdiam. Kalimatnya menggantung di udara karena dia sendiri tidak tahu harus melanjutkan apa. Masih banyak waktu? Tapi dokter bilang hanya dua minggu. Dua minggu atau jantung ibu akan berhenti bekerja sama sekali.
Lima ratus juta rupiah.
Angka itu terus berputar putar di kepala Naura seperti mantra terkutuk. Biaya operasi jantung. Lima ratus juta. Harus dibayar dalam dua minggu. Atau ibu akan...
Tidak. Naura menggeleng kuat. Rambutnya yang diikat asal berantakan menutupi wajah. Tidak tidak tidak. Ibu tidak akan mati. Naura tidak akan membiarkan ibu mati.
"Ibu akan baik baik saja... Naura janji... Naura akan cari uangnya... Naura janji bu..."
Naura terus mengulang kata kata itu sambil menangis. Menangis sejadi jadinya sampai bahunya bergetar. Sampai napasnya tersengal sengal. Sampai perawat yang lewat menatapnya dengan pandangan iba.
Tapi iba tidak bisa membayar biaya operasi.
Iba tidak akan menyelamatkan nyawa ibu.
***
Naura keluar dari rumah sakit dengan langkah sempoyongan. Matanya bengkak. Hidungnya meler. Wajahnya pasti terlihat sangat berantakan tapi dia tidak peduli. Tangannya gemetar saat merogoh tas mencari ponsel.
Lima ratus juta.
Bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu?
Gaji Naura sebagai desainer pemula di sebuah agensi kecil hanya enam juta per bulan. Enam juta. Bahkan kalau dia tidak makan tidak minum tidak bayar kos selama setahun pun tidak akan cukup.
Naura membuka aplikasi mobile banking. Saldo rekening: Rp 2.347.000.
Dua juta.
Naura tertawa. Tertawa getir yang terdengar sangat menyedihkan di tengah parkiran rumah sakit yang ramai. Orang orang menatapnya aneh tapi dia tidak peduli.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia hanya punya dua juta saat ibunya butuh lima ratus juta?
Jari Naura bergerak cepat membuka daftar kontak. Dia harus meminjam. Harus. Tidak ada pilihan lain.
Telepon pertama: ditolak.
"Maaf Naura aku lagi susah juga..."
Telepon kedua: ditolak.
"Wah aku nggak punya uang sebanyak itu..."
Telepon ketiga keempat kelima: semuanya ditolak.
Beberapa bahkan tidak mengangkat sama sekali. Naura tahu mereka melihat namanya di layar dan sengaja tidak mengangkat. Naura tahu karena dulu dia juga pernah melakukan hal yang sama saat ada teman yang minjam uang.
Karma.
Ini karma.
Naura jatuh terduduk di bangku taman rumah sakit. Ponselnya hampir jatuh dari tangan. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Bank.
Naura langsung berdiri. Bank! Kenapa tidak terpikirkan dari tadi? Dia bisa mengajukan pinjaman ke bank!
Tapi... dengan gaji enam juta dan tanpa agunan, apakah bank akan menyetujui pinjaman lima ratus juta?
Tetap harus dicoba.
Naura berlari ke halte bus. Tangannya terus mengusap air mata yang tidak berhenti mengalir. Di dalam bus yang penuh sesak, dia berdiri sambil googling syarat pengajuan pinjaman bank. Slip gaji tiga bulan terakhir. Fotokopi KTP. Kartu keluarga. Rekening koran.
Semuanya ada.
Naura punya semuanya.
Tapi saat dia sampai di bank dan bertemu customer service yang ramah itu, senyum di wajah petugas itu perlahan memudar setelah melihat slip gaji Naura.
"Maaf Bu Naura, dengan gaji segini dan tanpa agunan, pinjaman maksimal yang bisa disetujui hanya dua puluh juta rupiah..."
Dua puluh juta.
Bukan lima ratus juta.
Dua puluh juta.
Naura keluar dari bank dengan kaki lemas. Dua puluh juta. Bahkan itu masih harus menunggu persetujuan. Masih harus survei. Masih harus ini itu. Waktu dia cuma dua minggu!
Rentenir.
Kata itu tiba tiba muncul di kepala Naura. Dia pernah dengar cerita teman kantornya yang minjem ke rentenir. Bunganya memang gila gilaan tapi mereka kasih uang cepat. Tidak pakai ribet.
Naura menemukan kontak rentenir dari grup WhatsApp pinjaman online. Tangannya gemetar saat mengetik pesan.
"Pak saya butuh pinjam 500 juta mendesak"
Balasan datang cepat.
"Bisa. Bunga 20% per bulan. Agunan sertifikat rumah atau BPKB mobil"
Dua puluh persen per bulan.
Naura menghitung dengan kalkulator ponsel. Berarti setiap bulan dia harus bayar seratus juta rupiah?! Dan dia tidak punya rumah. Tidak punya mobil. Tidak punya apa apa.
Naura membalas dengan tangan gemetar.
"Saya tidak punya agunan Pak"
"Tidak ada agunan tidak bisa"
Dan percakapan berakhir.
Naura berjalan tanpa arah. Kakinya membawanya entah kemana. Matanya melihat tapi tidak melihat. Pikirannya kosong tapi penuh. Dadanya sesak tapi hampa.
Ponselnya berdering.
Nomor tidak dikenal.
Biasanya Naura tidak akan mengangkat. Tapi sekarang dia mengangkat. Siapa tahu itu pihak bank yang mau kasih pinjaman lebih besar. Siapa tahu itu keajaiban.
"Halo, dengan Naura Davina?"
Suara di seberang terdengar profesional. Formal. Seorang wanita.
"Ya ini saya..."
"Perkenalkan saya Clara dari Lawfirm Partners. Kami ingin bertemu dengan Anda untuk membicarakan sebuah tawaran bisnis. Apakah Anda bersedia?"
Tawaran bisnis?
Naura mengerutkan dahi. "Maaf tawaran bisnis apa? Saya rasa ada salah sambung..."
"Tidak ada salah sambung Bu Naura. Ini memang untuk Anda. Klien kami membutuhkan jasa Anda. Bayarannya satu miliar rupiah. Apakah Anda tertarik?"
Naura berhenti berjalan.
Satu miliar rupiah?
Itu... itu scam kan? Pasti scam. Pasti penipuan. Tidak mungkin ada orang mau bayar satu miliar untuk...
"Jasa apa?" Naura bertanya hati hati.
"Akan kami jelaskan saat bertemu. Hari ini jam tiga sore apakah Anda bisa? Di kantor kami di Plaza Senayan"
Plaza Senayan.
Itu kantor firma hukum ternama. Naura tahu karena pernah mengerjakan desain untuk salah satu klien mereka.
"Saya... saya akan kesana"
Setelah telepon ditutup Naura berdiri mematung di tengah trotoar. Orang orang berlalu lalang. Ada yang menyenggolnya. Ada yang bersungut sungut. Tapi Naura tidak bergerak.
Satu miliar rupiah.
Apapun itu, apapun jasa yang mereka minta, Naura akan lakukan.
Demi ibu.
***
Kantor Lawfirm Partners berada di lantai dua puluh delapan. Naura masuk dengan gugup. Resepsionisnya cantik dengan setelan formal yang pasti harganya lebih mahal dari gaji Naura sebulan.
"Saya Naura Davina... ada janji dengan Bu Clara..."
"Silakan Bu, sudah ditunggu di ruang meeting"
Naura dibawa ke sebuah ruangan dengan meja panjang dan kursi kursi empuk. Jendela kaca besar menampilkan pemandangan Jakarta dari atas. Naura tidak pernah ke tempat setinggi ini sebelumnya.
Seorang wanita masuk. Rambutnya disanggul rapi. Kacamatanya membingkai wajah tegas tapi cantik. Dia tersenyum dan mengulurkan tangan.
"Bu Naura, saya Clara. Terima kasih sudah datang"
Naura menjabat tangan itu dengan canggung. Tangannya pasti basah karena keringat.
"Langsung saja ya Bu Naura. Klien saya membutuhkan seseorang untuk menikah dengannya"
Naura mengira telinganya salah dengar.
"Me... nikah?"
"Ya. Pernikahan kontrak selama dua tahun. Anda akan tinggal serumah dengan klien saya tapi ini hanya formalitas. Setelah dua tahun, kontrak berakhir dan Anda berdua bercerai secara baik baik. Bayarannya satu miliar rupiah. Setengahnya dibayar di muka setelah pernikahan, setengahnya lagi setelah perceraian"
Naura tidak bisa berkata kata. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara keluar.
Menikah kontrak?
Ini seperti drama drama di televisi. Ini tidak nyata. Tidak mungkin nyata.
"Kenapa... kenapa harus saya?"
Clara tersenyum tipis. "Klien saya membutuhkan istri yang... tidak akan jatuh cinta padanya. Seseorang yang menikah hanya karena kebutuhan materi. Seseorang yang tidak akan menuntut cinta atau perhatian. Dari data yang kami kumpulkan, Anda sedang membutuhkan uang besar untuk biaya operasi ibu Anda. Kami pikir Anda kandidat yang tepat"
Data yang mereka kumpulkan?
Berarti mereka sudah menyelidiki Naura? Sudah tahu tentang ibu? Tentang hutang? Tentang semuanya?
Naura merasa seperti ada yang menampar pipinya.
"Ini... ini gila..."
"Satu miliar rupiah Bu Naura. Lima ratus juta akan ditransfer setelah akad nikah. Cukup untuk operasi ibu Anda dengan sisa untuk biaya hidup"
Lima ratus juta.
Operasi ibu.
Naura menutup mulut dengan tangan. Air matanya mulai mengalir lagi.
"Siapa... siapa orangnya?"
Clara membuka tablet dan menunjukkan foto seorang pria.
Nathan Erlangga.
Wajahnya... tampan. Sangat tampan dengan rahang tegas dan mata tajam. Tapi dingin. Matanya sangat dingin seperti tidak punya perasaan.
"Nathan Erlangga. CEO Erlangga Group. Salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Usia tiga puluh dua tahun. Belum menikah"
Naura menatap foto itu. Pria ini... kenapa pria sekaya dan setampan ini butuh pernikahan kontrak? Kenapa tidak cari istri beneran?
Tapi Naura tidak bertanya.
Dia tidak peduli.
Yang dia peduli hanya satu.
"Kapan... kapan pernikahannya?"
"Tiga hari lagi. Akad nikah sederhana hanya keluarga inti. Setelah itu Anda akan pindah ke kediaman Nathan"
Tiga hari.
Ibu butuh operasi dalam dua minggu.
Naura akan dapat uang dalam tiga hari.
Masih sempat.
Masih bisa menyelamatkan ibu.
Clara mendorong sebuah map tebal ke hadapan Naura.
"Ini kontrak pernikahannya. Silakan dibaca dulu. Kalau setuju, tanda tangan di halaman terakhir"
Naura membuka kontrak itu dengan tangan gemetar. Huruf huruf di sana terlihat kabur karena air matanya. Dia tidak benar benar membaca. Hanya melihat poin poin penting.
Pernikahan dua tahun.
Tinggal serumah.
Tidak ada hubungan fisik kecuali Naura setuju.
Tidak boleh selingkuh.
Harus menjaga image sebagai pasangan bahagia di depan publik.
Bayaran satu miliar rupiah.
Naura bahkan tidak peduli dengan klausul klausul lainnya.
Satu miliar.
Lima ratus juta di muka.
Operasi ibu.
"Boleh... boleh saya pinjam pulpen?"
Clara memberikan pulpen mewah dengan logo firma hukum terukir di sana.
Naura membuka halaman terakhir.
Tanda tangan Nathan Erlangga sudah ada di sana. Tinta hitam dengan goresan tegas dan angkuh.
Sekarang tinggal tanda tangan Naura.
Tangannya gemetar saat memegang pulpen.
Ini gila.
Ini sangat gila.
Menikah dengan orang yang tidak dikenal. Menikah karena uang. Menikah tanpa cinta.
Tapi air mata Naura jatuh ke atas kertas kontrak itu.
Air mata yang jatuh karena dia tidak punya pilihan.
Ibu akan mati kalau tidak dioperasi.
Lima ratus juta tidak akan datang dari langit.
Ini satu satunya jalan.
Naura mencoretkan tanda tangannya.
Naura Davina.
Goresan tinta yang mengubah hidupnya selamanya.
Saat pulpen itu diletakkan, Naura menangis. Menangis dalam diam. Bahunya bergetar. Air matanya membasahi meja.
Clara tidak berkata apa apa. Hanya mengambil kontrak itu dan memasukkan ke dalam map.
"Selamat Bu Naura. Tiga hari lagi Anda akan menjadi Nyonya Erlangga"
Nyonya Erlangga.
Istri Nathan Erlangga.
Istri pria yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya.
Istri yang dibeli dengan uang.
Naura pulang ke kos dengan langkah gontai. Ponselnya berdering. Notifikasi SMS dari bank.
"Transfer masuk Rp 100.000.000 dari Lawfirm Partners. Uang muka biaya administrasi pernikahan"
Seratus juta.
Uang muka.
Ini nyata.
Ini benar benar terjadi.
Naura memeluk ponselnya dan menangis.
Menangis untuk ibu yang akan diselamatkan.
Menangis untuk hidupnya yang baru saja dijual.
Menangis untuk cintanya yang belum sempat tumbuh tapi sudah mati.
Di luar jendela, hujan mulai turun.
Hujan lebat yang seolah ikut menangisi keputusan Naura malam itu.
Keputusan yang akan mengubah segalanya.
Keputusan yang akan membawanya pada luka yang bahkan belum bisa dia bayangkan.