Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Penelusuran Arsip
#
Mahira tidak tidur semalaman.
Setiap kali menutup mata, ia melihat wajah Zarvan. Mata madu itu. Senyum kecil di sudut bibirnya. Cara ia menyebut nama Aisyara dengan suara yang penuh kerinduan.
Jam 3 pagi, ia menyerah. Bangkit dari tempat tidur dan membuka laptop.
Jika Zarvan adalah reinkarnasi Pangeran Zarvan, pasti ada jejak sejarah. Pasti ada catatan tentang kerajaan di masa lalu. Tentang pernikahan yang gagal. Tentang tragedi yang terjadi 300 tahun lalu.
Mahira mulai mencari.
**"Kesultanan Nusantara abad ke-18"**
**"Pangeran Zarvan"**
**"Putri Aisyara Sultan Mahmud"**
Hasil pencarian minim. Beberapa artikel akademis tentang kesultanan kecil di wilayah Jawa Barat. Tapi tidak ada yang menyebutkan nama-nama spesifik yang ia cari.
Frustrasi mulai merayap.
"Mungkin namanya berbeda dalam catatan sejarah," gumamnya. "Atau... atau memang sengaja dihapus."
Ia beralih ke pencarian lain.
**"Al-Hakim Corporation history"**
**"Zarvan Mikhael Al-Hakim family background"**
Kali ini hasilnya lebih banyak. Al-Hakim Corporation adalah perusahaan multinasional dengan akar di Timur Tengah—Dubai tepatnya. Didirikan oleh kakek Zarvan, Sheik Abdul Hakim, pada tahun 1960-an. Fokus bisnis awal di bidang minyak dan gas, kemudian berkembang ke properti, teknologi, dan investasi.
Tapi yang menarik perhatian Mahira adalah paragraf kecil di salah satu artikel Forbes:
*"Meskipun perusahaan berbasis di Dubai, keluarga Al-Hakim memiliki koneksi historis dengan Indonesia. Nenek moyang mereka konon berasal dari kesultanan Nusantara sebelum migrasi ke Timur Tengah pada abad ke-18."*
Jantung Mahira berdegup kencang.
Abad ke-18. Persis waktu tragedi Aisyara terjadi.
"Mereka kabur," bisik Mahira. "Keluarga Zarvan kabur dari Nusantara setelah... setelah apa? Setelah dia mati?"
Ia mengklik lebih dalam—mencari artikel akademis, jurnal sejarah, apapun yang bisa memberikan petunjuk. Dan di halaman ke-7 hasil Google, ia menemukan sebuah thesis dari mahasiswa Universitas Indonesia tentang migrasi keluarga kerajaan Nusantara.
Mahira mendownload PDF-nya. 157 halaman. Ia mulai membaca dengan mata yang sudah lelah tapi penuh determinasi.
***
Jam 6 pagi, Mahira menemukan sesuatu.
Bab 4 thesis itu berjudul: "Keluarga Al-Hakim: Jejak Pangeran yang Hilang"
Mahira membaca dengan napas tertahan:
*"Dalam catatan kesultanan kecil di Jawa Barat sekitar tahun 1720-an, terdapat seorang pangeran dari kerajaan utara yang dijodohkan dengan putri sultan setempat. Pernikahan ini dimaksudkan untuk memperkuat aliansi politik. Namun, pernikahan tersebut tidak pernah terlaksana karena putri tersebut meninggal dalam keadaan misterius tiga hari sebelum upacara.*
*Pangeran yang patah hati—yang dalam beberapa catatan disebut sebagai 'Pangeran dari Utara' atau 'Sang Pembawa Cahaya'—konon mencoba menyelamatkan tunangannya tapi gagal. Ia kemudian terluka parah dan hampir meninggal. Setelah pulih, ia dan keluarganya meninggalkan Nusantara dan migrasi ke Arabia.*
*Nama asli pangeran ini tidak tercatat dengan jelas. Beberapa sumber menyebutkan 'Zarvan' atau 'Dzarwan'—nama yang dalam bahasa Persia berarti 'emas' atau 'cahaya'. Konon, keluarga ini kemudian mengubah nama mereka menjadi 'Al-Hakim' (Yang Bijaksana) dan membangun dinasti baru di Timur Tengah."*
Mahira menutup laptopnya. Tangannya gemetar.
Ini bukan kebetulan. Ini konfirmasi.
Zarvan Mikhael Al-Hakim adalah keturunan langsung dari Pangeran Zarvan. Dan entah bagaimana—mungkin karena darah, mungkin karena kutukan, mungkin karena takdir—jiwa pangeran itu bereinkarnasi di tubuhnya.
"Ya Allah," bisik Mahira. "Ini semua nyata. Ini benar-benar terjadi."
Ponselnya berdering—Raesha.
"Gue di depan rumah lu. Ayo. Kita ke Istana Terakhir sekarang."
Mahira tersentak. Ia hampir lupa—mereka berencana ke lokasi di peta hari ini. Mencari tempat di mana semuanya berakhir.
"Kasih gue sepuluh menit," jawab Mahira sambil bergegas ke kamar mandi.
***
Condet—daerah yang kini ramai dengan pemukiman dan pasar tradisional—dulunya adalah wilayah pinggiran Jakarta. Menurut peta yang mereka temukan, Istana Terakhir seharusnya ada di sekitar sini.
Tapi 300 tahun adalah waktu yang sangat lama. Apapun yang pernah ada mungkin sudah rata dengan tanah.
"Kita cari apa sih sebenarnya?" tanya Raesha sambil menyetir masuk ke jalan kecil dengan rumah-rumah tua.
"Entah. Mungkin reruntuhan. Mungkin tanda. Mungkin... perasaan." Mahira menatap peta di tangannya. "Peta ini ngasih tanda X di daerah yang sekarang jadi—" ia mengecek Google Maps, "—komplek pemakaman tua."
"Pemakaman?"
"Makam keluarga kerajaan. Kayaknya memang sengaja dijaga."
Mereka parkir di pinggir jalan dan berjalan masuk. Gerbang pemakaman tua itu bercat hijau lusuh dengan tulisan Arab di atasnya. Tidak ada penjaga—hanya keheningan dan aroma tanah basah meskipun tidak hujan.
"Creepy," gumam Raesha sambil menggenggam tas nya erat.
"Tenang. Ini siang." Mahira mencoba terdengar percaya diri meskipun bulu kuduknya juga berdiri.
Mereka berjalan melewati deretan makam tua. Beberapa nisan sudah miring. Beberapa tertutup lumut. Nama-nama yang terukir sudah tidak jelas—termakan waktu.
"Mahira, liat ini."
Raesha berhenti di depan sebuah makam yang lebih besar dari yang lain. Batu nisannya masih tegak—dan ada ukiran kaligrafi Arab yang masih terbaca.
Mahira berlutut, membaca tulisan itu perlahan:
*"Di sini berbaring Putri Zahara binti Sultan Mahmud. Cahaya yang padam terlalu cepat. Semoga Allah merahmatinya."*
"Zahara..." Mahira mengerutkan kening. "Bukan Aisyara. Tapi—" ia membaca tanggal kematian yang terukir, "—1724. Usianya... 19 tahun."
"Lu pikir ini dia?"
"Mungkin nama aslinya Zahara, tapi dipanggil Aisyara? Atau... atau nama ini untuk menyembunyikan identitas aslinya." Mahira berdiri, melihat sekeliling. "Kalau makam ini ada di sini, berarti istana juga dekat."
Mereka terus berjalan—lebih dalam ke area pemakaman yang makin sepi. Dan di pojok paling belakang, mereka menemukannya.
Reruntuhan.
Tidak besar. Hanya sisa-sisa dinding batu dengan pahatan yang sudah nyaris hilang. Beberapa pilar roboh tertutup semak. Dan sebuah struktur yang dulunya mungkin paviliun—kini tinggal pondasinya.
"Ini dia," bisik Mahira. "Ini tempatnya."
Ia melangkah lebih dekat—dan tiba-tiba dunia berputar.
***
*"JANGAN MENYENTUHNYA!"*
*Aisyara berlari—napasnya tercekat, gaun sutranya tersangkut semak tapi ia tidak peduli.*
*Di depannya, Khalil berdiri dengan pisau berdarah di tangan. Dan di bawahnya—*
*"Zarvan!" Aisyara jatuh berlutut di samping pria yang terluka parah. Darah mengalir dari luka di dadanya. Matanya terbuka—tapi redup. Sekarat.*
*"Aisyara..." suaranya lemah. "Lari... kumohon..."*
*"Aku nggak akan ninggalin kamu!" Air matanya jatuh membasahi wajah Zarvan. "Bertahanlah. Please..."*
*Khalil tertawa—tertawa yang mengerikan. "Sudah terlambat, Putri. Dia akan mati. Dan kamu... kamu akan menyusulnya."*
*"KENAPA?!" Aisyara berteriak. "Kenapa kamu lakuin ini?!"*
*"Karena kalau aku nggak bisa punya kamu, tidak ada yang boleh punya kamu."*
*Khalil mengangkat pisau lagi—*
*"MAHIRA!"*
***
Raesha mengguncang bahunya keras. "MAHIRA! Bangun!"
Mahira tersentak—kembali ke dunia nyata. Ia terduduk di tanah, napasnya tersengal. Air mata mengalir tanpa henti.
"Aku lihat," bisiknya. "Aku lihat gimana dia mati. Zarvan... dia mati nyoba ngelindungin Aisyara. Dan Khalil... Khalil bunuh dia."
Raesha memeluknya erat. "Sudah. Sudah. Kamu di sini sekarang. Kamu aman."
Tapi Mahira tidak merasa aman. Ia merasakan sakit yang sama dengan yang Aisyara rasakan. Kehilangan. Penyesalan. Cinta yang tidak sempat diucapkan.
"Kak," suaranya serak, "aku harus cegah ini terulang. Aku nggak akan biarkan Zarvan mati lagi."
"Kita akan cegah. Bareng-bareng." Raesha membantunya berdiri. "Ayo, kita pulang. Lu butuh istirahat."
Mahira mengangguk lemah. Tapi sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi ke reruntuhan itu.
Dan ia melihat sesuatu berkilat di antara semak—sesuatu yang tertimbun tanah.
"Tunggu."
Ia berjalan mendekat, berlutut, dan menggali dengan tangan. Jari-jarinya menyentuh sesuatu dingin—logam.
Dengan hati-hati ia mengeluarkannya.
Sebuah kotak kecil dari perak—sudah berkarat tapi masih utuh. Ada ukiran bunga melati di permukaannya. Dan ketika Mahira membukanya—
—ia hampir menjatuhkannya.
Di dalam kotak itu, ada sebuah kalung.
Liontin batu zamrud dengan rantai emas tipis.
Persis—PERSIS—seperti kalung warisan nenek yang ada di rumah.
"Kak..." Mahira mengangkat kalung itu dengan tangan gemetar. "Ini... ini sama kayak kalung Nenek."
Raesha menatap dengan mata terbelalak. "Identik?"
"Bukan identik. Ini kembarannya." Mahira membalikkan liontin itu—dan menemukan ukiran kecil di belakangnya. Ukiran yang sama dengan yang ada di kalung nenek: sebuah simbol seperti dua jiwa yang saling bertautan.
"Belahan jiwa," bisik Mahira. "Dua kalung untuk dua jiwa yang ditakdirkan bersama."
Raesha menelan ludah. "Berarti... berarti kalung yang lu punya sekarang—"
"Milik Aisyara. Dan ini..." Mahira menatap kalung di tangannya, "...milik Zarvan."
Mereka saling menatap—dan untuk pertama kalinya, Mahira benar-benar mengerti.
Ini bukan hanya tentang mengungkap masa lalu.
Ini tentang menyatukan kembali apa yang terpisah.
Ini tentang cinta yang tertunda 300 tahun.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 10**