NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:110.1k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Mungkin Bisa Menyembuhkannya

Tetua Peng Bei menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara berat,

“Selama bertahun-tahun ini… aku dan Keluarga Nao sudah memanggil banyak tabib.”

Ia menatap wajah Nao Jiang yang semakin pucat, lalu melanjutkan perlahan,

“Bahkan tabib yang punya reputasi di Kota Yanjing. Semuanya sudah dicoba.”

Jari-jarinya sedikit mengencang di tepi ranjang.

“Namun pada akhirnya… mereka semua menyerah.”

Perempuan muda itu menunduk lebih dalam, bahunya bergetar ketika Tetua Peng Bei melanjutkan dengan nada pahit,

“Mereka mengatakan luka dalam di tubuh Nao Jiang sudah terlalu parah. Meridian hancur, organ dalam rusak oleh serangan lawannya. Penyakit ini… sudah sangat sulit disembuhkan.”

Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan.

“Harta Keluarga Nao…” suara Tetua Peng Bei semakin pelan, “…sudah habis digunakan untuk pengobatan. Semua yang bisa dijual, sudah dijual. Semua yang bisa ditukar, sudah ditukar.”

Ia menggeleng perlahan.

“Namun hasilnya… nihil.”

Gao Rui tidak berkata apa-apa. Pandangannya tertuju pada Nao Jiang. Napas pria tua itu begitu lemah, seolah bisa terputus kapan saja. Wajahnya yang dulu pasti tegas kini hanya menyisakan kerangka dan kulit.

“Bolehkah aku memeriksa keadaan Paman Jiang, Tetua? ucap Gao Rui tiba-tiba.

“Memangnya kau bisa mengecek penyakitnya Rui’er?” Tetua Bai agak sedikit kaget mendengar permintaan Gao Rui.

“Semoga saja Tetua. Dulu, Guru pernah mengajariku...” jawab Gao Rui mencoba meyakinkan.

Mendengar Gao Rui menyebut nama gurunya, Tetua Bei akhirnya memberi ijin. Perlahan, Gao Rui melangkah mendekat. Ia berdiri di sisi ranjang, lalu mengulurkan tangannya dan memegang pergelangan tangan Nao Jiang dengan mantap namun hati-hati.

Tetua Peng Bei dan perempuan muda itu langsung terdiam, tidak berani mengganggu.

Gao Rui menutup matanya. Dalam sekejap, inderanya seolah tenggelam ke dalam tubuh Nao Jiang. Aliran energi yang seharusnya mengalir lancar kini kacau balau. Meridian-meridian utama dipenuhi retakan halus, beberapa bahkan sudah terputus sepenuhnya.

Energi asing berwarna kelam berdiam di dalam tubuh itu, seperti racun yang tidak mau pergi.

“Luka serangan…di meridiannya....” batinnya menilai. “Dan bukan hanya itu.”

Ia melacak lebih dalam. Organ dalamnya juga tidak luput. Jantung, paru-paru, bahkan sumsum tulang telah tergerogoti oleh sisa serangan yang tertinggal bertahun-tahun.

Gao Rui mengernyit.

“Ini bukan luka biasa,” pikirnya dingin. “Ini hasil serangan teknik tingkat tinggi… dan dilakukan berulang kali.”

Ia menganalisa satu per satu. Kerusakan fisik. Kerusakan meridian dan yang paling parah… vitalitas hidup yang hampir habis.

Beberapa saat berlalu. Gao Rui akhirnya membuka matanya. Tatapan Tetua Peng Bei langsung tertuju padanya, penuh harap namun juga ketakutan untuk mendengar jawabannya.

“Bagaimana?” tanya Tetua Peng Bei pelan.

Gao Rui tidak langsung menjawab. Ia melepaskan pergelangan tangan Nao Jiang, lalu menatap wajah pria tua itu sekali lagi.

“Keadaannya…” Gao Rui berkata dengan nada datar, “…memang seburuk yang mereka katakan.”

Hati perempuan muda itu seketika jatuh.

“Namun,” lanjut Gao Rui, membuat Tetua Peng Bei sedikit menegakkan tubuhnya, “bukan berarti tidak ada jalan sama sekali.”

Mata Tetua Peng Bei melebar tipis.

Gao Rui menoleh padanya.

“Hanya saja,” katanya pelan namun tegas, “jika ingin menyelamatkannya… itu bukan lagi urusan tabib biasa.”

Tetua Peng Bei dan perempuan muda itu sama-sama terkejut mendengar penjelasan Gao Rui.

Apa yang dikatakannya… sama persis dengan vonis para tabib sebelumnya. Luka dalam parah. Meridian rusak. Vitalitas hidup hampir habis.

Perempuan muda itu mengepalkan jemarinya, matanya kembali memerah. Seolah kenyataan pahit yang sudah ia dengar berkali-kali kembali menamparnya tanpa ampun.

Namun berbeda dengan para tabib lain, Tetua Peng Bei tidak langsung putus asa. Ia menatap Gao Rui dalam-dalam. Beberapa kali… ia telah menyaksikan keajaiban yang dilakukan bocah itu.

“Kalau begitu…” suara Tetua Peng Bei terdengar berat namun penuh harap, “katakan padaku terus terang. Apa masih ada cara untuk menyembuhkannya?”

Gao Rui menatap Nao Jiang sesaat, lalu mengangguk pelan.

“Ada.”

Satu kata itu membuat napas perempuan muda itu tercekat.

“Namun caranya tidak sederhana,” lanjut Gao Rui. “Tubuh Paman Jiang sudah terlalu lemah. Jika langsung diberi obat penyembuh luka dalam tingkat tinggi, tubuhnya tidak akan sanggup menahannya.”

Ia menghela napas tipis.

“Yang dibutuhkan pertama-tama adalah pil penguat tubuh. Setidaknya… tingkat menengah.”

Tetua Peng Bei mengernyit.

“Pil penguat tubuh?” ulangnya perlahan. “Nama itu… aku tidak pernah mendengarnya.”

Gao Rui menggaruk bagian belakang kepalanya, sedikit canggung.

“Ah… wajar kalau Tetua tidak mengenalnya,” katanya. “Itu pil buatan guruku sendiri. Dia yang menamainya begitu.”

Tetua Peng Bei terdiam sejenak, lalu menatap Gao Rui dengan ekspresi aneh.

“Gurumu…” ia berkata perlahan, “Boqin Changing. Apakah dia juga seorang tabib?”

Gao Rui mengangguk tanpa ragu.

“Guru adalah tabib terhebat kedua di seluruh Kekaisaran Qin.”

Perempuan muda itu mendongak tajam. Harapan yang hampir padam tiba-tiba kembali menyala di matanya.

“Tabib terhebat kedua?” suaranya bergetar. “Kalau begitu… siapa tabib terhebat pertama?”

Gao Rui tersenyum kecil, baru saja hendak menjawab,

“Jika gurunya berkata dia yang kedua,” potong Tetua Peng Bei dengan nada yakin, “maka tidak ada seorang pun di dunia ini yang berani menyebut dirinya yang pertama.”

Gao Rui memandang Tetua Peng Bei, lalu tertawa kecil.

“Benar sekali, Tetua Bei.”

Tetua Peng Bei tidak ikut tersenyum. Ia justru menghela napas panjang, lalu bertanya dengan nada serius,

“Kalau begitu… bagaimana caranya agar gurumu mau datang ke sini? Dia baru beberapa minggu meninggalkan Kekaisaran Zhou. Apa kita harus menunggu sampai dia kembali?”

Gao Rui menggeleng pelan.

“Itu terlalu lama.”

Ia menatap Nao Jiang, suaranya menurun.

“Yang aku khawatirkan dari Paman Jiang bukan hanya luka dalamnya… tapi semangat hidupnya.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Bertahun-tahun digerogoti rasa sakit seperti ini… membuat semangat hidupnya hampir habis. Jika kita menunggu terlalu lama, bahkan pil terbaik pun mungkin tidak akan berguna.”

Tetua Peng Bei terdiam. Wajahnya menegang saat ia berpikir keras, menimbang satu kemungkinan demi kemungkinan. Ruangan kembali sunyi.

Namun tiba-tiba, kata-kata Gao Rui berikutnya membuatnya terperanjat.

“Jika diperbolehkan,” ujar Gao Rui dengan nada hati-hati namun mantap, “mungkin… aku sendiri bisa membuat pil itu.”

Gao Rui menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, seolah menimbang kata-katanya sendiri.

“Mungkin…” ucapnya pelan, “aku mungkin bisa membuat pil penguat tubuh itu.”

Ruangan kembali hening. Namun kali ini, bukan keheningan putus asa melainkan keheningan yang penuh harap.

“Hanya saja,” lanjut Gao Rui dengan jujur, “bahan-bahan untuk membuat pil tersebut… aku tidak memilikinya sekarang.”

Perempuan muda itu, anak perempuan Nao Jiang menoleh cepat ke arah Gao Rui. Tatapannya ragu, bercampur takut dan harapan. Ia meneliti wajah bocah itu lebih saksama. Wajah muda, belum genap dewasa. Dari sudut pandangnya, Gao Rui tak lebih dari seorang anak belasan tahun awal.

“Paman Bei…” katanya lirih, hampir berbisik, “apakah anak ini benar-benar bisa dipercaya?”

Nada suaranya tidak menuduh, hanya… terlalu banyak harapan yang sudah hancur sebelumnya. Tetua Peng Bei langsung menoleh tajam ke arahnya.

“Jangan meragukan Gao Rui,” katanya tegas tanpa sedikit pun ragu.

Ia memandang bocah itu dengan sorot mata dalam, penuh keyakinan yang tidak lahir dari omong kosong.

“Bocah ini,” lanjutnya perlahan, “adalah berkah yang diberikan langit kepada Kekaisaran Zhou.”

Perempuan muda itu terdiam. Kata-kata itu bukan pujian sembarangan. Dari seseorang seperti Tetua Peng Bei, kalimat tersebut memiliki bobot yang luar biasa.

Tetua Peng Bei kemudian bangkit berdiri.

“Kalau begitu, kita tidak bisa berlama-lama di sini,” katanya mantap. Ia menoleh pada Gao Rui.

“Rui’er, ikut denganku.”

Gao Rui mengangguk.

“Kita ke mana, Tetua?” tanyanya.

“Toko Harta Langit,” jawab Tetua Peng Bei tanpa ragu. “Di Kota Yanjing, hanya tempat itu yang mungkin memiliki bahan-bahan yang kau butuhkan.”

Mata Gao Rui sedikit berbinar.

“Baik.”

1
Zainal Arifin
joooooooosssss 💪💪💪
Kadek Erdiyasa
semangat thor💪💪 perbanyak lgi upnya mkin seru critanya ni
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!