Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Saudara dari Masa Lalu
Jam dinding di kelas menunjukkan pukul tiga sore. Anak-anak sudah dijemput oleh orang tua mereka,
menyisakan keheningan yang biasanya membuat Genevieve merasa lega. Namun, hari ini, setiap kali angin berhembus dan menggoyang dedaunan di luar, jantungnya berdegup kencang.
Ia sedang merapikan beberapa buku gambar di meja saat suara riuh rendah terdengar dari arah gerbang sekolah.
Beberapa guru wanita dan ibu murid yang masih tertinggal tampak berkumpul, berbisik-bisik dengan wajah tersipu.
"Siapa dia? Apakah dia aktor dari kota?"
"Suaranya... suaranya sangat dalam, seperti musik."
Genevieve mendongak tepat saat sosok itu melangkah masuk ke ambang pintu kelasnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Valerius Theodore Lucien berdiri di sana. Ia tidak lagi mengenakan jubah hitam dramatisnya, melainkan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan dan mahal. Rambut gelapnya tertata rapi, dan meski kulitnya tetap pucat, ia terlihat seperti seorang bangsawan muda yang sangat tampan di bawah cahaya sore.
"Selamat sore, Genevieve," ucap Valerius.
Suaranya yang berat dan halus seperti beludru seketika memenuhi ruangan, membius siapa saja yang mendengarnya. Semua mata kini tertuju pada mereka berdua.
"Oh, Miss Genevieve! Mengapa kau tidak pernah bercerita memiliki saudara yang setampan ini?" goda salah satu rekan gurunya dengan wajah memerah.
Genevieve terpaku, gagap. "Sau... saudara?"
Valerius melangkah mendekat dengan senyum tipis yang tampak sangat ramah—sebuah akting yang sempurna. Ia meletakkan tangannya di bahu Genevieve dengan gerakan posesif yang halus, seolah-olah mereka adalah keluarga yang sangat dekat.
"Maafkan saya karena datang tiba-tiba," ucap Valerius kepada orang-orang di sekitar mereka, namun matanya terkunci pada Genevieve. "Saya Valerius, saudara sepupu jauh Genevieve. Saya baru saja kembali dari perjalanan panjang dan ingin memastikan adik kecilku ini baik-baik saja."
Setiap kata yang diucapkan Valerius terdengar begitu meyakinkan, namun bagi Genevieve, sentuhan tangan dingin itu terasa seperti peringatan. Aura pria ini begitu dominan hingga membuat guru-guru lain seolah terhipnotis dan tak berhenti mengaguminya.
"Kau sangat beruntung, Genevieve! Dia sangat sopan," puji yang lain sebelum akhirnya mereka pamit pulang, meninggalkan Genevieve berdua saja dengan sang vampir di kelas yang mulai meredup.
Begitu orang terakhir menghilang dari pandangan, Genevieve langsung menyentak bahunya, melepaskan tangan Valerius.
"Apa yang kau lakukan?!" bisik Genevieve dengan nada panik dan marah. "Berhenti mengikutiku! Dan 'saudara'? Kau benar-benar gila!"
Valerius tidak marah. Ia justru berjalan menuju salah satu meja kecil anak-anak, menyentuh krayon warna-warni di sana dengan jari pucatnya yang panjang.
"Aku harus menciptakan peran agar dunia bisa menerimaku di dekatmu, Genevieve," ucapnya tanpa menoleh. "Lagipula, aku tidak berbohong sepenuhnya. Aku memang ingin memastikan 'adik kecilku' ini tidak perlu lagi menangis sendirian di atas meja perpustakaan."
Genevieve mundur hingga pinggulnya terbentur meja guru.
Ia mencengkeram pinggiran meja itu kuat-kuat, mencari pegangan pada realitas yang semakin lama semakin memudar sejak kehadiran pria ini. Matanya menatap Valerius dengan campuran rasa takut, benci, dan rasa ingin tahu yang sangat besar.
"Kau bukan manusia. Kau masuk ke ruangan terkunci. Kau tidak memiliki detak jantung. Dan sekarang kau muncul di hadapan teman-temanku sebagai orang lain," suara Genevieve bergetar, namun ada ketegasan di sana.
"Aku tidak akan melangkah satu senti pun dari sini sebelum kau menjawab dengan jujur. Sebenarnya... kamu siapa?"
Valerius terdiam sejenak.
Ia memiringkan kepalanya, memperhatikan keberanian yang mulai tumbuh di mata Genevieve. Ia melangkah perlahan, membuat bayangannya yang panjang menelan tubuh mungil Genevieve.
"Pertanyaan yang sangat sederhana untuk keberadaan yang sangat rumit," bisik Valerius.
Ia berhenti tepat di depan Genevieve.
Kali ini, ia tidak mencoba menyentuhnya. Ia membiarkan Genevieve melihat sosoknya dengan jelas di bawah cahaya senja yang merah.
"Bagi dunia ini, aku adalah Valerius Theodore Lucien, seorang bangsawan tanpa tanah yang tersisa.
Bagi kaumku, aku adalah monster yang sudah terlalu lama terjaga. Dan bagi takdir..." Valerius menjeda kalimatnya, matanya berkilat dengan warna merah yang kini tidak lagi ia sembunyikan.
"Aku adalah makhluk yang telah menunggumu selama tiga ratus tahun, Genevieve."
Genevieve terkesiap. "Tiga ratus tahun? Itu tidak mungkin..."
"Aku melihatmu di setiap kehidupanmu, di setiap reinkarnasimu yang menyedihkan," lanjut Valerius dengan nada obsesif yang dalam. "Setiap kali kau lahir, dunia selalu mencoba menghancurkanmu.
Dan setiap kali itu pula, aku terlambat untuk menyelamatkanmu. Tapi tidak kali ini."
Valerius mencondongkan tubuhnya, suaranya kini hanya setipis embusan angin di telinga Genevieve.
"Aku adalah kegelapan yang diciptakan hanya untuk menjadi rumah bagi cahayamu.
Aku adalah satu-satunya orang yang tidak akan pernah menuntut apa pun darimu, kecuali keberadaanmu di sisiku. Kau bertanya siapa aku? Aku adalah pemilik masa depanmu, karena masa lalumu sudah aku hancurkan."
Genevieve merasa lututnya melemas. "Apa... apa maksudmu dengan menghancurkan masa laluku?"
keren
cerita nya manis