Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 5 - TES GUILD
Pagi di Vairlion ternyata lebih berisik daripada hutan. Ash terbangun karena suara teriakan pedagang dari jalanan, derap kaki kuda, dan seseorang yang sepertinya sedang bertengkar soal harga ayam.
"Eveline, jam berapa ini?" gumam Ash sambil mengucek mata.
"Matahari sudah naik sejak satu jam lalu. Bangun. Kita ke guild sekarang."
Ash duduk, rambutnya berantakan seperti sarang burung. "Pagi-pagi sudah disuruh kerja. Ini seperti hidup korporat tapi versi medieval."
"Aku tidak tahu apa itu korporat. Tapi kalau kau ingin makan hari ini, kau butuh uang. Dan untuk dapat uang, kau butuh identitas guild."
"Logika yang sangat kapitalis. Aku suka."
Mereka turun ke ruang makan yang juga berfungsi sebagai tavern. Eveline memesan dua mangkuk bubur gandum dan dua potong roti. Ash menatap bubur di depannya dengan ekspresi ragu.
"Ini... aman dimakan?"
"Lebih aman dari monster yang hampir membunuhmu kemarin."
"Fair point."
Ash mencoba sesendok. Rasanya hambar, tapi setidaknya hangat dan mengenyangkan. Dia makan dengan lahap sementara Eveline memakan miliknya dengan tenang dan terukur.
"Jadi, guild itu seperti apa sih?" tanya Ash di sela-sela suapan.
"Tempat berkumpulnya adventurer. Mereka yang mencari nafkah dengan mengambil quest, berburu monster, atau escort perdagangan."
"Seperti freelancer ya."
"Aku tidak tahu apa itu freelancer."
"Orang yang kerja sendiri tanpa bos tetap."
"Maka ya, seperti itu."
Setelah sarapan, mereka keluar dari The Rusty Mug dan berjalan menuju pusat kota. Pagi ini jalanan lebih ramai lagi. Ash melihat anak-anak berlarian mengejar ayam, pedagang membuka lapak, dan bahkan seorang penyihir jalanan yang sedang melakukan pertunjukan api kecil untuk menarik perhatian.
"Eveline, boleh aku lihat sebentar?" Ash berhenti di depan pertunjukan itu.
"Jangan buang waktu untuk hal tidak penting."
"Lima menit saja. Kumohon!"
Eveline menghela napas, tapi tidak melarang.
Ash menonton seorang pria tua dengan jubah compang-camping menggerakkan tangannya, menciptakan bola api kecil yang menari-nari di atas telapaknya. Beberapa anak bertepuk tangan kagum.
"Wah, sihir sungguhan," gumam Ash. "Ini keren banget."
Tapi Eveline hanya melirik sekilas. "Itu hanya sihir tingkat dasar. Bahkan anak-anak di akademi bisa melakukannya."
"Tetap keren bagiku."
Setelah puas menonton, mereka melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya, mereka sampai di sebuah bangunan yang sangat menonjol di tengah kota.
Guild Adventurer Vairlion.
Bangunannya besar, terbuat dari batu dan kayu yang kokoh. Di atas pintu masuk tergantung sebuah papan kayu raksasa dengan simbol pedang dan tongkat menyilang. Orang-orang keluar masuk dengan gesit, sebagian besar berpakaian armor atau jubah, dengan wajah-wajah yang keras dan penuh percaya diri.
"Ini dia," kata Eveline. "Bersiaplah. Dan jangan lakukan hal bodoh."
"Aku selalu siap. Dan aku tidak pernah bodoh."
"Kemarin kau mencoba memanggil kodok dengan teriak jutsu aneh."
"Itu namanya eksperimen ilmiah!"
Eveline tidak menjawab. Dia hanya mendorong pintu besar itu dan masuk.
Bagian dalam guild lebih ramai dan lebih berisik daripada yang Ash bayangkan. Ruangannya luas seperti aula dengan langit-langit tinggi. Di sepanjang dinding ada papan-papan kayu besar penuh kertas-kertas yang ditempel. Quest, pikir Ash. Di tengah ruangan ada meja-meja panjang di mana orang-orang duduk sambil minum, berdiskusi, atau berdebat keras tentang pembagian hasil quest. Dan di ujung ruangan ada konter panjang dengan beberapa petugas yang sibuk melayani antrian.
Ash berdiri di pintu, sedikit kewalahan oleh semua energi di ruangan ini.
"Ayo. Jangan berdiri seperti patung," Eveline menarik lengannya.
Mereka mendekati konter. Di sana berdiri seorang wanita muda dengan kacamata kecil dan rambut dikuncir rapi. Dia tersenyum profesional saat Eveline mendekat.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pendaftaran baru," kata Eveline sambil menunjuk Ash. "Dia butuh kartu identitas guild."
Wanita itu melihat Ash dari ujung kepala sampai kaki. Matanya sedikit melebar melihat rambut perak Ash, tapi dia tidak berkomentar.
"Baik. Biaya pendaftaran lima silver. Sudah termasuk tes kelayakan dan kartu identitas."
Lima silver. Ash tidak tahu itu banyak atau sedikit, tapi dia melirik Eveline dengan tatapan memohon.
Eveline menghela napas, lalu mengeluarkan sekantong kecil koin dari pinggangnya. Dia menghitung lima keping perak dan menyerahkannya.
"Anggap saja hutang," gumam Eveline.
"Aku bakal bayar nanti! Janji! Pakai bunga!"
Petugas itu mengambil uang, lalu mengeluarkan selembar perkamen dan pena. "Isi formulir ini. Nama, usia perkiraan, ras, dan pengalaman jika ada."
Ash mengambil perkamen itu. Tulisannya dalam huruf asing, tapi anehnya dia bisa membacanya. Efek isekai, pikirnya. Dia mulai menulis:
**Nama:** Ash
**Usia:** 22 (kira-kira)
**Ras:** Manusia
**Pengalaman:** Nol. Baru datang. Tapi pernah lari dari babi raksasa, jadi ada skill survival.
Petugas itu membaca formulir, alisnya terangkat. "Pengalaman nol dan... lari dari babi?"
"Spike Back Boar," tambah Ash bangga. "Empat ekor sekaligus!"
"Tapi kau lari?"
"Strategi bertahan hidup!"
Eveline di sampingnya hanya menutup wajah dengan tangan.
Petugas itu tersenyum tipis. "Baiklah. Ikut saya untuk tes kelayakan."
Mereka dibawa ke sebuah ruangan di belakang guild. Ruangannya sederhana, seperti gimnasium kecil dengan lantai kayu. Ada beberapa boneka latihan dari jerami, target panah, dan sebuah meja dengan bola kristal besar di atasnya.
Di sana sudah ada seorang pria bertubuh besar dengan wajah penuh bekas luka. Dia memakai armor kulit sederhana dan di pinggangnya tergantung pedang pendek.
"Goran," sapa petugas itu. "Pemula baru untuk tes."
Goran melihat Ash dari atas sampai bawah. Ekspresinya... tidak terkesan.
"Rambut aneh," komentarnya. "Cacat genetik?"
"Bukan. Fitur khusus," jawab Eveline sebelum Ash sempat bicara.
Goran mendengus. "Baik. Tes untuk rank F sampai E sangat sederhana. Pertama, fisik." Dia menunjuk boneka jerami. "Pukul boneka itu sekuat tenagamu. Kami akan ukur daya rusaknya."
Ash mengangguk semangat. "Siap!"
Dia mendekati boneka itu, mengambil kuda-kuda yang dia pikir terlihat keren. Tangan ditarik ke belakang, tubuh agak membungkuk.
"Apa yang dia lakukan?" bisik salah satu adventurer yang kebetulan lewat dan ikut menonton.
"Mungkin stance bertarung kuno?" bisik yang lain.
Eveline sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia menutup matanya, bersiap untuk malu.
"TERIMALAH INI! PUKULAN SERIBU NAGA!" teriak Ash sambil maju dengan gerakan yang sangat dramatis.
Dia mencoba melakukan pukulan melompat seperti yang pernah dia lihat di film-film kungfu.
KLETAK!
Kakinya terpeleset di lantai kayu yang agak licin. Tubuhnya melayang ke depan dengan canggung, dan alih-alih memukul boneka, dia malah menabraknya dengan bahu.
GEDEBUK!
Boneka itu bergoyang sedikit. Tapi tidak roboh. Bahkan tidak bergeser.
Ash tergeletak di lantai, meringis. "Aduh... bahuku..."
Hening.
Lalu salah satu penonton tertawa. Diikuti yang lain. Dalam beberapa detik, seluruh ruangan dipenuhi tawa.
Goran hanya menggelengkan kepala sambil mencatat sesuatu di papannya. "Daya rusak: nol. Kreativitas: minus. Koordinasi: memprihatinkan."
"Itu pemanasan!" Ash cepat-cepat bangkit, wajahnya memerah. "Aku sengaja! Ini strategi mengecoh musuh agar mereka meremehkan aku!"
"Lanjut ke tes kedua," potong Goran, jelas tidak terkesan. "Tes kapasitas mana."
Dia menunjuk bola kristal besar di atas meja. "Letakkan tanganmu di atas kristal ini. Jika kristal bersinar, artinya kau punya bakat sihir. Semakin terang, semakin besar kapasitasmu."
Ash mendekati kristal itu dengan harap-harap cemas. Ini kesempatan terakhirnya untuk membuktikan dia punya sesuatu.
"Oke, kalau fisik gagal, berarti aku tipe penyihir," gumamnya pada diri sendiri. "Pasti aku punya kekuatan tersembunyi. Api hitam. Atau petir merah. Atau mungkin... spatial magic!"
Dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas kristal. Dingin. Halus. Dia memejamkan mata, berkonsentrasi sekuat tenaga.
Keluar. Keluar. Tunjukkan pada dunia siapa aku sebenarnya.
Satu menit berlalu.
Kristal tetap bening. Tidak ada cahaya. Tidak ada percikan. Bahkan tidak ada getaran kecil.
Benar-benar mati.
"Tidak mungkin," Ash membuka mata, menatap kristalnya dengan tidak percaya. "Ini pasti rusak. Atau batrenya habis. Di mana colokannya?"
"Mana-mu kosong, Nak," ucap Goran dengan nada yang hampir kasihan. "Kau tidak punya bakat sihir sama sekali. Kau hanya manusia biasa dengan rambut yang... unik."
Tawa pecah lagi dari penonton.
"Lihat! Dia lebih lemah dari petani desa!"
"Eveline, dari mana kau memungut badut ini?"
"Kasihan juga ya. Tidak punya fisik, tidak punya mana."
Ash merasakan wajahnya memanas. Dia menatap tangannya, lalu kembali ke kristal. Untuk sejenak, ada sesuatu di dadanya yang terasa... marah. Sangat marah.
Mereka tertawa padaku. Meremehkan. Menghina.
Lapar. Ingin makan. Ingin tutup mulut mereka.
Eh? Ash menggelengkan kepalanya. Dari mana pikiran itu? Dia menarik napas, mencoba menenangkan diri.
"Oke, kalau pakai tangan tidak bisa..." Ash tiba-tiba punya ide gila. Sebelum siapapun bisa menghentikan, dia membungkuk dan menjilat permukaan kristal.
SLRUUUP!
"HOI! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Goran.
"Aku tes sensor sentuhannya! Siapa tahu harus pakai air liur!" Ash membela diri, lidahnya masih menempel di kristal yang dingin.
Tawa semakin keras. Beberapa orang sampai memegangi perut mereka.
Tapi kemudian, sesuatu terjadi.
KREK.
Sebuah retakan kecil muncul di permukaan kristal. Dimulai dari titik di mana lidah Ash menempel.
"Apa...?" Goran melangkah maju.
KREK. KREK. KREK.
Retakan itu menyebar seperti jaring laba-laba, membelah seluruh permukaan kristal.
Dan kemudian—
PRANKKK!
Kristal itu meledak menjadi ribuan pecahan kecil yang bertebaran ke seluruh ruangan.
Hening total.
Ash melompat mundur, tangannya terangkat. "Bukan aku! Itu kristalnya yang sudah kadaluarsa! Serius, aku cuma jilat dikit! Masa sihir jilatan aku sekuat itu?!"
Goran melongo menatap puing-puing kristal mahal di depannya. Wajahnya pucat. "Kau... kau menghancurkan kristal tes?"
"Aku bakal ganti! Pakai cicilan! Tolong jangan lapor polisi!"
Eveline maju dengan cepat, menarik kerah baju Ash sebelum situasi makin kacau. "Dia lulus atau tidak?" tanyanya pada Goran dengan nada mengancam.
Goran menelan ludah. Dia tidak tahu apakah Ash menghancurkan kristal dengan kekuatan tersembunyi atau murni karena kecelakaan tingkat dewa. Tapi dia tidak mau berurusan dengan Eveline yang mulai memancarkan aura berbahaya.
"L-lulus," ucapnya gemetar. "Rank F. Rank paling bawah. Tolong bawa dia pergi sekarang sebelum dia menghancurkan gedung ini."
Tapi sebelum mereka sempat pergi, pintu ruangan terbuka. Seorang pria masuk. Usianya mungkin sekitar lima puluhan, dengan jubah biru gelap dan wajah yang penuh kerutan kebijaksanaan. Matanya abu-abu, tajam, dan penuh perhitungan.
"Goran," sapanya. "Biarkan aku lihat pemula ini."
Goran langsung membungkuk hormat. "Guild Master Theron."
Ash dan Eveline langsung waspada. Aura pria ini berbeda. Ini bukan orang biasa.
Theron berjalan mendekat, matanya tidak lepas dari Ash. "Jadi kau yang membuat kristal itu pecah."
"Itu kecelakaan! Sungguh! Aku tidak bermaksud—"
"Diam sebentar," potong Theron. Dia berdiri tepat di depan Ash, mengamati dari dekat. "Rambut perak yang tidak wajar. Mata coklat tapi ada kilat emas sesekali. Dan aura..." Dia memicingkan mata. "Aura yang sangat samar tapi... tua. Sangat tua."
Eveline melangkah sedikit ke depan, posisinya protektif. "Ada masalah, Guild Master?"
Theron tidak menjawab langsung. Dia mengulurkan tangan. "Boleh aku menyentuh tanganmu sebentar? Aku punya skill bernama Sense Mana. Mungkin bisa melihat lebih jelas apa yang ada dalam dirimu."
Ash melirik Eveline. Dia mengangguk pelan.
Dengan ragu, Ash mengulurkan tangannya.
Theron memegang pergelangan tangan Ash. Tangannya hangat. Dia memejamkan mata, berkonsentrasi.
Ruangan menjadi sunyi. Bahkan penonton yang tadi tertawa kini diam, merasakan ketegangan.
Lima detik berlalu.
Lalu tiba-tiba, Theron membuka mata lebar-lebar. Dia melepaskan tangan Ash seolah tersengat listrik, melangkah mundur dengan napas tersengal.
"Tidak mungkin," bisiknya.
"Apa yang terjadi?" tanya Goran.
Theron menatap Ash dengan campuran takjub dan... takut? "Mana-nya... memang kosong. Tapi di bawahnya... ada sesuatu yang lain. Bukan mana. Bukan aura. Ini... energi yang bahkan aku tidak bisa identifikasi. Purba. Seperti... seperti sisa dari era penciptaan."
Ash merasa jantungnya berdebar kencang. "Maksudnya?"
"Dan ada lapisan-lapisan di sekitarnya," lanjut Theron, suaranya pelan. "Seperti segel. Mengurung sesuatu yang sangat besar. Aku merasakan... sepuluh lapisan. Tapi satu sudah... hilang?"
"Segel?" Eveline maju. "Maksud Anda apa?"
Theron menggelengkan kepalanya, seperti mencoba jernih kembali. "Aku tidak tahu pasti. Tapi kekuatanmu, Ash, bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan sistem biasa. Ini di luar pengetahuanku."
Dia menarik napas dalam, lalu menatap Ash dengan serius. "Rank-mu tetap F. Tapi aku akan beri catatan khusus: Potensi tidak terukur. Membutuhkan pengawasan."
"Pengawasan? Seperti tahanan kota?"
"Bukan tahanan. Tapi... perhatian. Untuk kebaikanmu dan kebaikan kota ini." Theron berbalik pada Goran. "Proses lencana-nya. Dan jangan sebarkan informasi tentang tes ini pada siapapun."
Goran mengangguk patuh.
Theron kembali menatap Ash. "Kau boleh tinggal di Vairlion. Tapi aku sarankan kau cari mentor. Belajar kontrol. Karena jika kekuatan itu..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi maksudnya jelas.
Setelah Theron pergi, Goran dengan tangan gemetar menyerahkan sebuah lencana perunggu kepada Ash. Lencana dengan simbol pedang dan tongkat, dengan huruf 'F' terukir di tengahnya.
"Selamat. Kau resmi adventurer rank F. Jangan mati cepat."
Ash mengambil lencana itu, menatapnya dengan perasaan campur aduk. Rank terendah. Tapi dengan label "potensi tidak terukur".
Dia tidak tahu harus bangga atau khawatir.
Mereka keluar dari ruangan tes. Begitu pintu tertutup, Eveline menarik Ash ke pojok yang sepi.
"Apa yang tadi itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Ash jujur. "Aku benar-benar tidak tahu. Dia bilang ada segel di dalamku? Aku bahkan tidak merasakan apa-apa."
Eveline menatapnya lama. "Guild Master Theron bukan orang sembarangan. Dia salah satu penyihir terkuat di Vairlion. Jika dia bilang ada sesuatu dalam dirimu..."
"Maka ada sesuatu," Ash menyelesaikan kalimatnya. Dia menatap tangannya. Tangan yang tadi menghancurkan kristal tanpa dia sadari. "Eveline, aku takut."
Untuk pertama kalinya, Ash mengakui ketakutannya dengan tulus.
Eveline diam sejenak. Lalu dia meletakkan tangannya di bahu Ash. "Kita akan cari tahu. Bersama. Tapi untuk sekarang, kau butuh uang. Dan untuk dapat uang, kau butuh quest."
"Quest rank F?"
"Ya. Yang paling aman dan paling... memalukan."
Ash tertawa getir. "Dari nyaris membunuh kristal ajaib... ke mengusir tikus gudang. Hidup ini penuh kejutan."
"Selamat datang di dunia nyata, Ash."
Mereka berjalan menuju papan quest di aula utama. Dan di sana, Ash melihat berbagai kertas yang ditempel:
"Butuh bantuan membersihkan kandang slime. Bayaran: 8 copper."
"Antar paket ke distrik utara. Bayaran: 5 copper."
"Usir tikus-tikus dari gudang barley Pak Gron. Hati-hati, gigitannya sakit! Bayaran: 10 copper."
Eveline menunjuk yang terakhir. "Ini. Bayaran tertinggi untuk rank F."
"Tikus," gumam Ash. "Dari babi kristal... ke tikus. Degradasi karir yang luar biasa."
Tapi meskipun mengeluh, Ash mengambil kertas quest itu dan membawanya ke konter.
Petualangannya sebagai adventurer rank F paling ampas di Vairlion... resmi dimulai.
Dan di lantai atas guild, di balik jendela kantornya, Theron menatap Ash dari kejauhan.
Di mejanya terbuka sebuah buku kuno. Halaman yang dia baca menampilkan gambar ular yang memakan ekornya sendiri.
Uroboros.
Dan di bawah gambar itu, tulisan kuno:
"Mahluk Pertama. Yang Tertidur. Yang Akan Bangkit."
Theron menutup buku itu perlahan, wajahnya serius.
"Semoga aku salah," bisiknya. "Semoga ini hanya kebetulan."
Tapi di hatinya, dia tahu.
Kebetulan tidak ada dalam dunia ini.