menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 6
Bel istirahat kedua berdentang nyaring, seolah menjadi musik pembebasan bagi Sasha. Tanpa menunggu sedetik pun setelah guru keluar,
ia melesat meninggalkan kelas menuju kantin. Perutnya sudah meronta-ronta karena insiden memungut sampah tadi pagi.
Di kantin, Sasha memesan porsi besar: **Nasi Ayam Panggang Madu dengan siraman saus barbekyu kental, ditambah telur mata sapi dan ekstra sambal**.
Aroma gurih dari kulit ayam yang kecokelatan itu sedikit meredakan kekesalannya. Ia duduk di meja paling pojok, tempat favoritnya, dan mulai makan dengan lahap, menikmati setiap gigitan seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
Namun, ketenangannya terusik saat sebuah bayangan menutupi mejanya. Aria Putri menarik kursi tepat di hadapan Sasha dan duduk dengan tenang.
Sasha berhenti mengunyah, matanya menyipit tajam. "Dari semua meja kosong di kantin ini, kenapa kau harus duduk di depanku? Kau hobi mengganggu pencernaan orang ya?"
Aria tidak membalas ketus. Ia meletakkan botol air mineralnya di meja. "Ada yang ingin kukatakan. Tadi aku sempat berbicara dengan wali kelas di ruang guru. Beliau memperlihatkan rekapitulasi nilaimu selama semester satu dan hasil *pre-test* kemarin. Nilaimu benar-benar hancur, Sasha. Merah di hampir semua mata pelajaran utama."
Sasha kembali menyuap nasinya, mengunyah pelan seolah sedang mendengarkan laporan cuaca yang membosankan. "Terus? Nilai hancur juga nilaiku sendiri, bukan nilaimu. Kenapa kau yang sibuk?"
Melihat sikap apatis itu, Aria mengepalkan tangannya di bawah meja. "Aku tidak bisa membiarkan ini. Sebagai ketua kelas sekaligus Ketua OSIS, aku punya tanggung jawab moral untuk memastikan tingkat kelulusan kelas kita seratus persen. Jadi, aku sudah memutuskan: aku akan mengajarimu. Aku akan menjadi guru privatmu mulai hari ini sampai nilai-nilaimu mencapai batas rata-rata."
Sasha tersedak kecil, ia meletakkan sendoknya dengan denting keras. "Apa? Kau bercanda? Memangnya siapa kau sampai berani mau mengajariku, hah?"
"Aku orang yang tidak ingin melihat satu kursi kosong di hari kelulusan nanti," jawab Aria tegas. "Pokoknya, setiap hari setelah pulang sekolah, aku akan datang ke rumahmu untuk sesi belajar tambahan. Sekarang, berikan alamatmu."
Sasha mendengus remeh, ia kembali bersandar dan menatap Aria dengan tatapan cuek. "Alamatku? Di Kutub Utara. Cari saja rumah yang paling banyak saljunya," jawabnya asal.
Aria menghela napas panjang, menahan diri agar tidak meledak di tengah kantin. Ia kemudian membuka bekal atau pesanan sederhananya yang baru saja tiba.
Sasha memperhatikan nampan milik Aria. Di sana hanya ada **semangkuk kecil sup miso bening, satu potong tahu putih rebus, dan satu porsi kecil nasi putih**. Sangat kontras dengan makanan mewah di rumah Sasha, atau bahkan dengan ayam panggang di piring Sasha saat ini.
Makanan itu terlalu sederhana, bahkan terlihat hambar untuk ukuran siswi paling berkuasa di sekolah.
"Kau hanya makan itu?" tanya Sasha tiba-tiba, matanya menatap tahu putih yang tampak pucat tersebut.
Aria tidak menjawab, ia mulai menyuap nasi dan sup misonya dengan gerakan anggun dan pelan. Ia tampak sangat menghargai makanan sederhana itu.
Sasha terdiam sejenak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya melihat kemiskinan dalam piring Aria.
Dengan gerakan kasar namun sengaja, Sasha menusuk satu potong besar ayam panggang yang belum ia sentuh, lalu meletakkannya begitu saja di atas nasi milik Aria.
Sasha bangkit berdiri, menyampirkan tasnya di satu bahu.
Aria mendongak, matanya membulat terkejut. "Apa maksudnya ini?"
"Aku sudah kenyang," ujar Sasha dingin tanpa menatap mata Aria. "Makanlah itu. Tenang saja, belum kugigit dan belum terkena air liurku,Jangan sampai kau pingsan saat mencoba mengajariku nanti karena kurang gizi."
Tanpa menunggu balasan, Sasha melangkah pergi meninggalkan kantin dengan tangan masuk ke saku *hoodie*-nya. Aria hanya terpaku diam di tempat duduknya, menatap potongan ayam panggang pemberian si berandalan sekolah itu dengan perasaan bingung yang bercampur aduk.
---
Matahari sore menyengat kulit, namun Sasha Arka hanya merasakan kantuk yang luar biasa berat. Langkah kakinya gontai menyusuri jalanan aspal menuju arah pulang.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: kasur *king size* di kamarnya yang dingin. Namun, saat ia melewati sebuah gang yang cukup lebar di dekat area pembangunan,
enam orang remaja laki-laki dengan seragam SMA berbeda—**SMA Bakti Yudha**, sekolah yang terkenal dengan kumpulan siswanya yang beringas—muncul dari balik tembok dan menutup jalan Sasha.
Mereka dipimpin oleh seorang cowok bertubuh bongsor dengan bekas luka di pelipisnya. Namanya **taka**.
Sasha berhenti, matanya yang sayu menatap mereka dengan malas. "Siapa kalian?" desisnya dingin.
taka maju satu langkah, wajahnya merah padam menahan amarah. "Kau Sasha, kan? Si berandalan dari Garuda Bangsa?"
"Kalau iya kenapa?"
"Kau menghajar adikku di kantin kemarin sampai wajahnya hancur, bukan?" suara taka meninggi, memicu teman-temannya untuk mengepung Sasha dalam lingkaran.
Sasha terdiam sejenak, memutar ingatannya yang buram. "Oh... bocah kelas satu yang ceroboh itu? Jadi dia adikmu? Kakak dan adik sama saja, sama-sama pengganggu."
"Bangsat! Masih berani bertanya lagi setelah mempermalukan keluargaku?" taka tidak menunggu lagi. Ia mengambil ancang-ancang dan mengayunkan tinjunya yang besar ke arah wajah Sasha.
*BUM!*
Sasha dengan refleks cepat mengangkat tas sekolahnya yang berat berisi buku-buku tebal untuk menangkis pukulan itu.
Dampaknya membuat Sasha terseret mundur dua langkah, debu beterbangan di bawah sepatunya. Ia mendengus, lalu dengan gerakan kasar melempar tasnya ke samping.
"Kalian benar-benar merusak suasana hatiku," kata Sasha. Matanya yang tadinya sayu kini berubah menjadi merah, memancarkan aura predator yang haus darah.
Tanpa peringatan, Sasha menerjang. Ia melompat dan mendaratkan tendangan brutal tepat di ulu hati salah satu kawan taka hingga pemuda itu terkapar, memuntahkan cairan empedu.
Sebelum yang lain sempat bereaksi, Sasha menyambar kepala siswa kedua dan menghantamkannya ke tembok beton di samping mereka.
*KRAK!*
Bunyi tulang hidung yang patah terdengar sangat jelas. Darah segar menyembur ke *hoodie* putih Sasha, namun ia tidak peduli. Ia berputar, memberikan sikutan maut ke rahang siswa ketiga, membuatnya jatuh tersungkur dengan gigi yang tanggal.
taka yang melihat teman-temannya tumbang dalam hitungan detik menjadi kalap. Ia mengeluarkan sebilah penggaris besi tajam dan mencoba menyayat lengan Sasha.
Sasha menghindar dengan gerakan setipis rambut, lalu menangkap pergelangan tangan taka. Dengan tenaga yang tidak masuk akal, ia memutar tangan itu hingga terdengar bunyi *pop* dari sendi bahunya.
"ARGHHHH!" teriak taka kesakitan.
Sasha tidak berhenti. Ia menghujani wajah taka dengan pukulan beruntun. *Satu, dua, tiga.* Darah mulai membasahi tangan Sasha. Ia kemudian menarik kerah baju taka dan menghantamkan lututnya berkali-kali ke perut pria itu sampai taka lemas dan jatuh berlutut di depannya.
Tiga orang lainnya mencoba maju bersamaan, namun Sasha memungut sepotong kayu kaso dari tumpukan material di dekat sana. Ia mengayunkannya seperti iblis,
menghantam tulang kering dan rusuk mereka tanpa ampun. Dalam waktu kurang dari lima menit, keenam pemuda dari SMA Bakti Yudha itu terkapar di tanah, mengerang kesakitan di tengah genangan darah mereka sendiri.
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan napas memburu dari Sasha. Ia berdiri di tengah-tengah tubuh yang tak berdaya itu, wajahnya terciprat noda merah yang kontras dengan warna putih pakaiannya.
Sasha mendekati taka yang masih setengah sadar. Ia menatapnya dengan pandangan paling rendah yang bisa diberikan seorang manusia. *Cuih!* Sasha meludahi wajah yaka yang sudah berlumuran darah.
"Sampaikan pada adikmu," bisik Sasha dingin. "Lain kali, kalau mau balas dendam, bawa tentara sekalian. Enam pecundang seperti kalian hanya membuang-buang waktuku."
Ia memungut kembali tasnya, menyampirkannya di bahu, dan berjalan pergi seolah baru saja melewati hari yang biasa saja. Di belakangnya, jeritan kesakitan dan bau amis darah memenuhi udara sore itu.
Bersambung...