NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Bantuan Lain

“Nih, Dam. Yang tadi malem lo minta. Gue cuma nemu segitu. Tapi gue rasa lumayan lengkap, sih. Alamat RT nya juga gue tulis di sini.” Mehesa menyodorkan sebuah map coklat pada Addam.

“Wah! Thank you banget, Sa. Gue gak repotin, kan?” Addam menerima amplop itu dengan binar mata yang cerah.

“Itung-itung amal lah, Dam, haha…” Mahesa terkekeh.

Pagi itu, Mahesa telah berada di tempat tinggal Addam. Waktu luang yang Mahesa miliki disela pekerjaannya ia gunakan untuk melanjutkan misi besarnya yang lain.

Dan pada hari itu, Naya akhirnya mendapatkan bagian WFH-nya kembali. Karenanya, pagi itu Naya bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan tenang tanpa terburu-buru setelah ia bersiap diri.

Belum selesai ia dengan aktifitasnya, Naya mendengar pintu kontrakannya diketuk disusul panggilan dari suara orang yang telah ia kenali.

“Naya…!”

“Kak Mahesa? Tumben pagi-pagi begini,” gumam Naya sambil berjalan mendekati sumber suara.

“Iya Kak?” kata Naya seraya membuka pintu.

Rupanya Mahesa tak sendirian. Di belakang pria itu ada Addam yang tengah berdiri di tepi balkon.

“Nay. Sorry kita langsung ke sini. HP kamu gak bisa dihubungin…” kata Mahesa.

Naya terdiam. Gadis itu baru ingat bahwa pagi itu ia memang mengaktifkan mode ‘Jangan Ganggu’ di ponselnya.

“Ooh… Iya, Kak. Tidak apa-apa.” Naya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ngomong-ngomong, kenapa, Kak? Ada apa?”

“Kita mau ngajak kamu nyari sarapan, yuk!”

Ekspresi ‘unik’ yang ditunjukkan Mahesa anehnya bisa Naya pahami dengan mudah.

“Ooh…!” Naya mengangguk. “Ya udah. Aku ambil handphone dulu.”

Gadis itu segera berbalik dan tak lama setelahnya ia kembali di hadapan Addam dan Mahesa.

#

SUV hitam itu berhenti dan terparkir di pelataran gedung apartemen yang bangunannya tinggi menjulang.

“Sampe juga…” kata Mahesa. “Ayo, masuk...”

Lalu tanpa banyak pertanyaan lagi, Addam dan Naya turun dari SUV hitam itu dan melangkah mengikuti Mahesa memasuki lobi apartemen.

Mahesa lalu mempersilakan kedua temannya itu memasuki unit tempat tinggalnya di lantai lima.

Tiba di sana, Addam dan Naya sangat tercengang ketika melihat sebuah papan berukuran cukup besar berdiri tegak di dekat jendela.

Papan dengan dua tiang beroda itu berisi potongan hasil penyelidikan yang Mahesa lakukan. Sangat berbeda dengan styrofoam kecil milik Naya yang sederhana, papan itu tampak jauh lebih lengkap dan rumit.

Mahesa menyeret papan itu ke depan Naya dan Addam yang saat itu telah duduk di sofa.

“Dam, Nay... Mulai sekarang, kita bisa bahas kasus ini di sini. Dan ini,” Mahesa menunjuk papan di sebelahnya, tepatnya pada kalimat ‘KENAPA LIONTIN LILY’ yang dilingkari spidol merah, “hasil pencarian gue sejauh ini. Lo lihat. Gue rasa di sini ada yang janggal. Ada sesuatu yang hilang...”

“Liontin lily…” Naya membaca tulisan yang menarik perhatiannya itu. “Kenapa sama liontin lily?” tanya Naya selanjutnya.

Addam dan Mahesa spontan menoleh ke arah Naya sebentar lalu keduanya saling berbalas tatap.

“Begini, Nay. Setelah banyak proses penyelidikan sejauh ini, kesamaan pertama yang aku notice dari ketiga korban tuh ini. Kalung dengan liontin berbentuk bunga lily,” Mahesa menunjuk sebuah foto yang tertempel di papan. Tepatnya, foto dari temuan barang bukti kasus terakhir.

“Sebenernya ada satu hal lagi yang belum aku kasih tahu ke kamu, Nay. Soal kalung itu,” ucap Addam tiba-tiba. Membuat Mahesa dan Naya menatapnya keheranan.

“Dulu, aku sempet punya kalung pasangan sama pacarku, Sofia. Desainnya kita yang bikin sendiri.” Addam melempar pandangannya pada potret kalung itu. “Sebenernya, hubungan kita sempat ditentang keluarga Sofia. Tapi dia terlalu optimis kalau suatu saat aku bisa ngambil hati keluarganya. Sayangnya, takdir gak ngizinin kemauan dia terwujud, Nay. Sofia meninggal karena kecelakaan. Gak lama setelah itu, adik sama mamanya meninggal karena jadi korban kebakaran.”

“Ya Tuhan…” Naya menutup mulutnya yang menganga.

Sementara itu, Mahesa tampak terus tertunduk.

“Aku turut berduka cita, Kak…” kata Naya, “terus kabar ayahnya gimana?”

“Dari yang aku denger, katanya dia sekarang dirawat di panti jompo. Dia demensia, Nay…” jawab Addam lesu.

Naya menatap Addam penuh arti. Isi kepalanya seperti mau meledak karena fakta baru yang didengarnya barusan terlalu mengejutkannya.

“Terus, selain kalung ini, gak ada kesamaan lain lagi dari korban? Misalnya latar belakangnya, atau mungkin lingkaran pertemanan?” Naya mengalihkan pembicaraan.

“Kayaknya ada…!” binar mata Mahesa tampak semakin cerah.

“Apaan, Sa?” Addam terlalu bersemangat sampai ia terperanjat dari duduknya. “Lo belum tulis di sini?”

“Belum, Dam. Gue baru inget sekarang.” Mahesa menggelengkan kepalanya.

Pria itu merogoh ponselnya dan mengoperasikannya dengan tergesa. Mahesa lalu menunjukkan ponselnya pada Addam dan Naya setelah beberapa lama membuat mereka berdua penasaran.

“Your Mate?” tatapan mata Addam dan Naya melebar kala menatap layar ponsel Mahesa.

“Mereka pada main dating app?” tanya Addam memastikan keraguannya.

“Bener. Dan akun yang bikin kita curiga itu ini,” Mahesa menunjuk layar ponselnya, “Number one miracle. Selain foto profilnya yang cuma gambar segelas kopi ini, akun ini gak pernah upload foto atau postingan lain. Detail identitasnya juga kosong. Gak ada yang bisa digali. Beneran seperti masuk ke bangunan terbengkalai.” tutur Mahesa.

Addam menautkan alisya, tampak ia tengah berpikir tentang suatu hal. “Kalau akunnya se-anonim itu, gimana caranya korban pada mau kenal sama orangnya? Maksud gue, kenapa mereka yakin lanjut komunikasi sama orang yang gak jelas?”

Ucapan Addam barusan membuat Naya dan Mahesa terdiam sejenak. Setelah hening yang singkat itu, giliran Naya yang mengutarakan isi kepalanya.

“Kak Mahesa tahu gak isi obrolan korban di aplikasinya?”

“Maksud kamu?” tanya Mahesa tak yakin.

“Mungkin ada pesan yang isinya ngajak ketemuan atau sejenisnya gitu, kak?”

“Ooh… Kalau hasil pemeriksaan kita, mereka cenderung komunikasi lewat panggilan suara. Pesan teksnya paling cuma say hello, nanya bisa call apa enggak, dan ya sejenisnya, sapaan yang singkat banget…” ungkap Mahesa.

“Kok aku ngeri, ya? Otak jahatku mikir kalau orang dibalik ini memang sengaja jarang chat karena dia menduga jadinya bakal gini…” Naya meringis.

Addam, Naya, dan Mahesa terlihat saling melempar tatapan. Untuk sesaat ketiga orang itu seperti sedang mentransfer isi kepala mereka satu sama lain.

“Ya masuk akal juga sih, Nay. Gak menutup kemungkinan kalau orang ini emang udah rencanain semuanya atau memang ini cuma kebetulan aja,” Mahesa menyilangkan tangan di dada.

“Akun dia gak bisa dilacak, Sa?”

Mahesa menggeleng pelan. “Masih diselidikin, Dam. Tapi kalau gue gak salah inget, akun ini terakhir aktif beberapa hari sebelum penemuan korban ketiga.”

“Mencurigakan banget…” ucap Naya.

Mahesa berdecak. “Makanya itu, Nay. Kalau menurut opini pribadiku, hal-hal ini sebenernya udah mulai bisa ngarahin kita ke pelakunya. Cuma emang pasti butuh waktu…”

Situasi di sana menjadi hening sesaat. Tidak ada lagi kalimat yang terucap dari mulut ketiga orang dewasa itu. Terlebih lagi ketika Mahesa dan Naya melihat Addam terus melotot menatap layar ponselnya.

Diujung obrolan mereka tadi, Addam sempat mengecek ponselnya yang bergetar sebentar. Dilihatnya itu adalah sebuah pesan dari akun ‘1111worst’ yang meresahkan itu.

“Sa, Nay…” Addam nyaris berbisik.

Pada layar ponselnya, terlihat bahwa Addam baru saja menerima sebuah foto yang terasa janggal.

Sebuah potret dari beberapa vial obat dan sebuah botol kaca kecil yang berisi beberapa butir pil.

Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah tegang.

“Sa! Ini obat apaan?!” kedua mata Addam menatap Mahesa.

Mahesa terkesiap. Pria itu sangat terkejut melihat apa yang Addam tunjukkan.

“Gue-“

Sebenarnya, Mahesa tahu betul fakta tentang obat-obatan itu. Tapi mengingat kondisi sulit yang tengah dihadapi Addam, rasanya berat untuk Mahesa memberi tahukan kebenaran dibalik foto itu.

Mahesa khawatir, jika Addam dan Naya tahu bahwa foto tersebut adalah sejenis obat-obatan terlarang yang biasa digunakan sebagai obat penenang, hal itu akan memperburuk isi kepala kedua temannya itu.

“Kak, coba search aja!” ceplos Naya tiba-tiba.

“Oh iya!” balas Addam.

Tapi sebelum Addam melancarkan aksinya, Mahesa keburu menghentikan langkah Addam. “Eum, Dam! Gimana kalo kita coba lacak lagi akun itu?”

Addam dan Naya kompak melirik Mahesa. “Gimana, Sa? Bukannya dulu lo sempet bilang akun ini dari server luar negeri?” tanya Addam segera.

“Kita coba ke kenalan gue yang lain…” Mahesa menatap Addam dan Naya penuh arti.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!