NovelToon NovelToon
The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Anak Yang Berpenyakit / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Darah Sisilia

Pintu hidrolik jet pribadi itu terbuka perlahan, menyemburkan udara panas dan kering khas pesisir Sisilia. Arkanza melangkah keluar lebih dulu, mengenakan setelan jas hitam yang rapi meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Di belakangnya, Aira mengikuti dengan langkah yang sengaja dibuat angkuh, cincin singa Vancort berkilau tertimpa matahari sore.

Di hadapan mereka, Luciano Vancort berdiri dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Ia adalah gambaran sempurna dari seorang predator yang telah lama menunggu mangsanya.

"Luar biasa," Luciano bertepuk tangan pelan, suaranya berat dan berwibawa. "Keponakanku yang hilang telah kembali, membawa serta seekor anjing peliharaan dari timur. Selamat datang di Sisilia, Aira."

Arkanza merasakan bintik merah mulai merayap di bawah kerah kemejanya saat melihat Nyonya Santi di layar tablet yang dipegang salah satu anak buah Luciano. Ibunya tampak pucat, tangannya terikat, namun matanya tetap menunjukkan ketegaran seorang Malik.

"Lepaskan Ibuku, Luciano," desis Arkanza. Suaranya rendah, penuh ancaman yang tertahan. "Kau ingin Aira? Dia ada di sini. Sekarang biarkan Ibuku pergi."

Luciano tertawa, sebuah suara parau yang memuakkan. "Sabar, Tuan Malik. Di Sisilia, kami tidak melakukan bisnis di landasan pacu. Kita akan bicara sambil makan malam. Tapi sebelumnya..." Luciano menatap Arkanza dengan pandangan menghina. "...aku ingin tahu, apakah benar rumor bahwa penguasa Malik Group ini memiliki alergi yang... memalukan?"

"Jangan berani-berani kau—" Aira mencoba maju, namun Luciano mengangkat tangannya.

"Marco!" panggil Luciano.

Marco, yang sejak tadi berdiri di belakang Aira, tiba-tiba melangkah maju dan menyerahkan sebuah sarung tangan kain yang telah dibasahi cairan kimia tertentu kepada Luciano.

"Aku mendengar dari agenku di Jakarta, bahwa kau akan melepuh jika menyentuh sesuatu yang bukan 'obatmu'," Luciano mendekati Arkanza, memutar-mutar sarung tangan itu. "Bagaimana jika kita tes sedikit? Jika kau bisa menahan rasa sakitnya tanpa pingsan selama satu menit, aku akan membiarkan ibumu makan malam bersama kita. Jika tidak... ibumu akan tetap di kursi besi itu tanpa air."

"Arkan, jangan!" teriak Aira. Ia mencoba meraih tangan Arkanza, namun dua pengawal besar segera menahan lengan Aira. "Luciano, kau gila! Dia baru saja keluar dari rumah sakit!"

Arkanza menoleh ke arah Aira, memberikan tatapan yang sangat dalam—sebuah tatapan yang mengatakan bahwa ia akan melakukan apa pun demi ibunya dan harga dirinya di depan wanita yang ia cintai.

"Lakukan," ucap Arkanza pada Luciano.

Luciano menyeringai. Ia meraih tangan kanan Arkanza dan menempelkan kain lembap itu ke punggung tangannya.

Seketika, Arkanza merasakan sensasi terbakar yang luar biasa. Itu bukan sekadar gatal; itu adalah zat kimia yang dirancang untuk memicu reaksi histamin ekstrem. Bintik-bintik merah pekat meledak dengan cepat, menyebar ke lengan hingga ke lehernya. Arkanza mencengkeram rahangnya begitu kuat hingga otot-otot di wajahnya menegang. Keringat dingin mulai mengucur, namun ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Matanya tetap tertuju tajam pada Luciano.

"Sepuluh detik... dua puluh..." Luciano menghitung dengan santai.

"Arkan! Kumohon, lepaskan!" Aira menangis, meronta di cengkeraman pengawal. "Luciano, hentikan! Aku akan memberikan apa saja! Hentikan!"

Arkanza mulai gemetar. Paru-parunya terasa menyempit, namun ia menolak untuk jatuh. Dalam pikirannya, ia membayangkan aroma tubuh Aira, sentuhan lembut jemari Aira yang biasanya meredakan rasa sakit ini. Ia menggunakan ingatannya tentang Aira sebagai perisai mental.

"...lima puluh sembilan... enam puluh." Luciano melepaskan kain itu dengan wajah sedikit kecewa. "Kau punya daya tahan yang mengagumkan untuk seorang pria yang 'cacat', Malik."

Arkanza menarik napas tersengal, tubuhnya hampir limbung namun ia tetap berdiri tegak. Ia menatap Luciano dengan tatapan haus darah. "Sekarang... bawa Ibuku."

Mansion Vancort – Ruang Makan Malam

Suasana di meja makan panjang itu sangat kaku. Nyonya Santi akhirnya dibawa masuk, tampak lelah namun tidak terluka secara fisik. Arkanza langsung berdiri dan memeluk ibunya erat.

"Maafkan Arkan, Bu. Arkan terlambat," bisik Arkanza parau.

"Ibu tidak apa-apa, Nak. Fokuslah pada istrimu," balas Nyonya Santi pelan sambil melirik ke arah Aira yang duduk di ujung meja dengan wajah yang sangat dingin.

Luciano menuangkan anggur merah ke gelasnya. "Nah, sekarang kita semua sudah berkumpul seperti keluarga yang bahagia. Aira, kau tahu kenapa aku membawamu ke sini?"

Aira menatap pamannya tanpa ekspresi. "Kau ingin aku menandatangani penyerahan seluruh otoritas Vancort kepadamu, kan? Kau tidak ingin seorang wanita—apalagi yang dibesarkan di Indonesia—memegang kunci kekayaan ayahku."

"Tepat," Luciano bersandar di kursinya. "Tapi ada satu syarat tambahan. Para tetua Vancort tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah menyerahkan kunci itu. Mereka ingin darah Vancort tetap murni."

Arkanza mengepalkan tangannya di bawah meja. "Maksudmu apa?"

"Aira harus tetap di Sisilia. Dan dia harus menikah dengan seseorang dari klan kita untuk menyatukan faksi," Luciano menatap Arkanza dengan senyum kemenangan. "Sedangkan kau, Arkanza... kau boleh pulang ke Jakarta bersama ibumu. Tanpa Aira. Pernikahan kalian di Indonesia tidak diakui di sini."

BRAK!

Arkanza menggebrak meja, berdiri dengan mata berkilat marah. Bintik merah di wajahnya kembali membara. "KAU PIKIR AKU AKAN MEMBIARKAN ISTRIKU TINGGAL DI TEMPAT TERKUTUK INI?!"

"Tenang, Tuan Malik," Luciano memberi isyarat pada penembak jitu yang terlihat di balkon ruang makan. "Satu gerakan salah, dan ibumu akan menjadi hiasan meja ini."

Aira tiba-tiba berdiri. Ia berjalan mendekati Arkanza, memegang tangannya yang gemetar. Sentuhan Aira seketika meredam rasa panas di kulit Arkanza.

"Luciano," suara Aira terdengar tenang namun berwibawa. "Kau bilang ingin aku menikah dengan klan Vancort untuk menyatukan faksi, kan?"

"Benar."

Aira tersenyum dingin, sebuah senyum yang sangat mirip dengan mendiang Lorenzo Vancort. "Kalau begitu, aku punya solusi yang lebih baik. Arkanza tidak akan pergi. Aku akan mengangkatnya menjadi bagian dari Vancort. Aku akan memberinya nama Vancort."

"Apa?!" Luciano tertawa terbahak-bahak. "Dia bukan orang Italia! Dia tidak punya darah kami!"

"Tapi dia suamiku. Dan menurut hukum tua yang ditulis kakekku, seorang suami memiliki hak atas nama istrinya jika sang istri adalah pewaris tunggal," Aira menatap Luciano dengan tajam. "Jika kau menolak, maka aku tidak akan menandatangani apa pun. Dan tanpa tanda tanganku, seluruh rekening Swiss yang dicari-cari Syarif dan Edward itu akan meledak dan menyumbangkan isinya ke Palang Merah Internasional. Kau tidak akan dapat satu sen pun."

Luciano terdiam. Wajahnya memerah karena amarah. Ia tidak menyangka keponakannya yang tampak lugu ini bisa bermain sekejam itu.

Arkanza menatap Aira dengan rasa bangga sekaligus posesif yang luar biasa. Ia menarik pinggang Aira, mendekapnya di depan Luciano. "Kau dengar itu, Paman? Aku tidak akan pergi ke mana pun. Dan jika aku harus menjadi monster Vancort untuk tetap berada di samping istrinya, maka aku akan melakukannya."

Aira membisikkan sesuatu di telinga Arkanza. "Bertahanlah, Arkan. Reno sudah menyusup ke ruang bawah tanah. Begitu sinyalnya masuk, kita ratakan tempat ini."

...****************...

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah luar mansion. Lampu ruang makan padam seketika. Di tengah kegelapan, suara Luciano terdengar berteriak.

​"TANGKAP MEREKA! JANGAN BIARKAN MEREKA MENCAPAI DERMAGA!"

​Arkanza menarik Aira dan Nyonya Santi ke bawah meja. Dalam kegelapan, ia mengeluarkan sebuah pisau komando yang ia sembunyikan. "Ikuti suaraku, Aira. Malam ini, kita tunjukkan pada mereka kenapa nama Malik lebih menakutkan daripada Vancort!"

1
Ms. R
Ka ceritanya sangat menarik, saya suka. tapi nama2nya bikin gak mood baca, ini seperti cerita mafia Eropa tapi namanya indo banget, maaf ka gak enak dibaca nya
Ariska Kamisa: hehe maaf ya kak kalo kurang memuaskan🙏
latarnya emang di indo, tapi plot twist nya aira emang keturunan mafia, ibunya kabur ke indo.
total 1 replies
Suginah Ana
critanya bagus menegangkan q suka
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
emang agak tsunder sih arkan 🤣
🍒⃞⃟🦅 ☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
ini dnamakan keluar mulut buaya masuk mulut harimau🤣 dua² ngeri
umie chaby_ba
seru nih ... penasaran akhirnya gimana ? apa penyakitnya Arkan akan sembuh atau selamanya akan bergantung pada Aira . /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!