Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pilihan di Aula Klan Yun
Wanita itu duduk di kursi kayu jati yang diukir rumit, namun tubuhnya tidak menunjukkan ketenangan seorang nyonya besar. Ibu Yun Xia, dengan wajah penuh garis-garis kelelahan yang nyata di sudut matanya, mengenakan jubah sutra ungu khas klan Yun. Meskipun pakaiannya mewah, stres yang membebani pikirannya membuat penampilannya terlihat suntuk. Ekspresinya dingin, bibirnya terkatup rapat, menyembunyikan kekhawatiran yang mendalam di balik topeng ketegasan seorang pemimpin.
Aula utama Klan Yun di Nancheng terasa begitu lapang sekaligus menyesakkan. Di sana, ayah Yun Xia berdiri di samping kursi utama, didampingi dua tetua klan yang wajahnya sekeras dinding benteng. Beberapa pengawal bersenjata tombak berjaga di setiap pilar, menciptakan suasana yang lebih mirip persidangan daripada pertemuan keluarga. Di hadapan mereka, Yun Xia berdiri dengan punggung lurus namun tangan yang saling meremas. Shi Shu berada tepat di belakangnya dengan wajah merah menahan amarah, sementara Huiqing berdiri di sisi lain, kepalanya terangkat meski jantungnya berdegup kencang.
Suasana aula jelas dipenuhi ketegangan yang pekat. Bagi ayah dan para tetua klan, ini adalah soal kelangsungan hidup. Klan Yun sedang berada di ambang kesulitan finansial yang serius, dan aliansi politik melalui pernikahan dengan kultivator tua dari Klan Zhongwei adalah satu-satunya pelampung penyelamat. Perjodohan paksa ini bukan sekadar tradisi, melainkan transaksi untuk menyelamatkan nama baik dan harta klan yang mulai terkikis. Yun Xia sendiri yang sebelumnya kabur untuk menghindari nasib itu, kini dipaksa kembali ke kenyataan pahit demi orang tua dan masa depan seluruh klan.
“Kau sudah cukup lama bermain-main di luar, Xia’er. Waktumu habis,” ujar ayahnya, suaranya berat dan tidak menerima bantahan.
“Aku tidak ingin menjadi barang dagangan, Ayah!” balas Yun Xia, suaranya bergetar namun tetap tegas. “Kultivator tua itu sudah memiliki empat istri, dan dia terkenal kejam terhadap mereka yang tidak bisa memberinya keturunan kultivator!”
Huiqing melangkah maju. “Tuan, bukankah kebahagiaan putri Anda lebih berharga daripada kepingan emas dari Klan Zhongwei?”
Salah satu tetua klan mendengus, matanya menatap Huiqing dengan penuh penghinaan. “Beraninya pelayan rendahan sepertimu bicara soal nilai? Kau pikir kami tidak tahu siapa ibumu? Wanita yang menghabiskan hidupnya gonta-ganti laki-laki demi status dan harta? Darah murahan mengalir di tubuhmu, jadi sebaiknya kau tutup mulutmu sebelum aku menyuruh pengawal untuk menyeretmu keluar.”
Huiqing tersinggung setengah mati, wajahnya pucat pasi mendengar ejekan tentang almarhum ibunya. Adapun Shi Shu hampir saja menerjang maju jika Yun Xia tidak menahannya dengan cepat.
Alhasil setelah berlarut-larut, perdebatan itu pun berakhir buntu. Penolakan Yun Xia tidak berarti apa-apa di hadapan kepentingan klan yang lebih besar. Setelah keheningan yang lama, Yun Xia akhirnya menundukkan kepalanya. Bahunya merosot, seolah seluruh tenaganya telah terhisap habis oleh ruangan itu.
“Sudahlah,” bisik Yun Xia, mendongak, menatap Shi Shu dan Huiqing. “Kalian lebih baik pulang. Shi Shu, Huiqing… kembalilah ke penginapan. Kalian tidak perlu mencemaskan aku lagi. Hal semacam ini sudah umum terjadi dalam keluarga besar. Jika pernikahanku bisa menyelamatkan wajah orang tuaku dan keamanan finansial klan, maka tidak masalah bagiku. Aku akan tetap tinggal di sini.”
“Tapi Yun Xia—” Shi Shu mencoba memprotes.
“Ini perintah,” tegas Yun Xia, meski matanya berkaca-kaca.
Sepanjang perjalanan kembali ke Penginapan Awan Merah, Shi Shu tidak berhenti mengomel. Suaranya memenuhi jalanan kota yang mulai sepi. “Benar-benar gila! Bagaimana bisa mereka menjual putri sendiri pada orang tua bangka itu? Dan tetua bangka tadi, beraninya dia menghina ibumu, Huiqing! Jika bukan karena Yun Xia menahanku, sudah aku cabut jenggotnya satu per satu!”
Huiqing tidak menanggapi lebih dari senyuman pahit. Ia berjalan dalam diam, kata-kata tetua klan tadi masih terngiang-ngingang di telinganya seperti dengungan lebah yang menyakitkan.
Saat mereka sampai di depan penginapan, mereka menemukan pintu depan tertutup rapat. Di teras, Ji Zhen duduk bersila di atas bangku, kepalanya terkulai dengan napas yang teratur. Pemuda itu tampak sangat kelelahan, lumpur hutan masih menempel di jubahnya yang sedikit robek di beberapa bagian.
Shi Shu yang masih kesal langsung mengguncang bahu Ji Zhen dengan kasar. “Bangun! Kau pikir ini tempat tidur umum?!”
Ji Zhen pun tersentak, matanya terbuka lebar dan ia langsung melompat berdiri dengan posisi siaga, meracau tidak jelas. “Apa?! Kenapa penginapan dikunci?! Serangannya dari mana?!”
Shi Shu memutar bola matanya. “Tenanglah, bodoh. Penginapan ini kosong, hanya kalian berdua yang menyewa semua kamar minggu ini makanya aku kunci. Lagipula, aku pikir kau sibuk berguru di hutan sampai lupa jalan pulang dan meninggalkan gadis malang ini sendirian!”
Ji Zhen mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan kesadaran. Matanya menyipit ke arah Huiqing yang hanya terdiam sambil menunduk, menghindari kontak mata. Ia menyadari ada atmosfer yang tidak beres di antara mereka berdua.
“Buka saja pintunya,” gumam Ji Zhen.
Setelah pintu dibuka, mereka bertiga masuk ke dalam aula penginapan yang dingin. Ji Zhen tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Ia langsung melangkah menuju tangga kayu, tujuannya hanya satu: kamarnya sendiri. Namun, saat kakinya baru menapak di anak tangga pertama, suara Huiqing menghentikannya.
“J-Ji Zhen… .”
Pemuda itu berhenti, namun ia tidak memutar tubuhnya, hanya berdiri diam di sana.
“Yun Xia… dia memutuskan untuk melanjutkan pernikahannya minggu depan,” ujar Huiqing dengan lirih. Jarinya bermain-main ragu pada ujung lengan bajunya. “Keluarganya memaksanya, dan dia merasa tidak punya pilihan lain.”
Mendengar itu, Ji Zhen terdiam selama beberapa detik. Suasana di aula itu menjadi sangat berat. “Hanya itu?” tanya Ji Zhen tanpa nada emosi sedikit pun.
Huiqing menelan ludah, sedikit kaget dengan reaksi dingin tuannya. “I-iya. Dia memohon agar kita tidak mencampuri urusannya lagi.”
Ji Zhen kembali menaiki tangga tanpa menoleh. “Jika dia memang memilih pernikahan itu, maka biarlah. Aku tidak punya waktu untuk mengurus drama keluarga orang lain. Aku juga punya urusan sendiri yang jauh lebih penting.”
Ia berhenti sejenak di tengah tangga, suaranya terdengar datar namun menuntut. “Huiqing, buatkan teh hangat dan siapkan sebotol air untukku. Bawa ke kamar sekarang.”
Ji Zhen melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan suara berderit. Ia tidak peduli pada air mata yang mungkin hampir jatuh dari mata Yun Xia ataupun kegelisahan Yang Huiqing.