NovelToon NovelToon
Glitz And Glamour

Glitz And Glamour

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Fantasi Wanita / Berondong / Playboy / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."

Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gairah yang Meluap

Malam itu, mansion keluarga Abelano yang biasanya terasa kaku dan penuh wibawa, mendadak menjadi saksi bisu gairah yang sudah tak terbendung.

Leo membawa Claire ke kamarnya yang luas kamar pribadi yang jarang ia tinggali sejak pindah ke apartemen, namun tetap terjaga kemewahannya.

Begitu pintu jati setinggi tiga meter itu tertutup dan terkunci, Leo tidak membuang waktu sedetik pun.

Leo menyudutkan Claire ke daun pintu, langsung melahap habis bibir Claire dengan ciuman yang jauh lebih lapar daripada biasanya. Ini bukan lagi ciuman untuk naskah atau rating, ini adalah ciuman pria yang sudah menahan diri sepanjang hari setelah disuapi dengan penuh kasih sayang.

Leo mengeksplorasi setiap inci bibir Claire, lalu turun perlahan ke rahang hingga ke bawah lehernya. Mengingat mereka masih harus menjaga rahasia, Leo sangat berhati-hati, ia menghisap kulit Claire dengan lembut namun intens, tanpa meninggalkan jejak kemerahan sedikit pun, seolah ia adalah seniman yang sedang memuja mahakaryanya.

Saat tangan kekar Leo turun dan meremas pelan bokong Claire di balik gaun sutranya, pertahanan Claire runtuh. Sebuah desahan halus lolos dari bibir Claire, memecah kesunyian kamar.

Mendengar desahan itu, adrenalin Leo melonjak. Ia menarik wajahnya sedikit, menatap Claire dengan mata yang sudah benar-benar gelap oleh gairah.

"Bolehkah kita melakukannya sekarang, Odette?" bisik Leo, suaranya serak dan berat.

Claire yang masih terengah, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang tersisa. "Dirumahmu, Leo? Di mansion ayahmu?"

Leo tersentak kecil, ia benar-benar lupa bahwa di luar kamar ini ada ayahnya dan Liam yang mungkin sedang menyesap cerutu.

Namun, pelukannya justru semakin intens. Tubuh mereka menempel tanpa celah, membuat Claire bisa merasakan dengan jelas sesuatu yang terbangun dan mengeras di bawah sana, menekan panggulnya.

Claire tertawa kecil di tengah napasnya yang memburu. "Kenapa keras sekali, Leo? Kamu sepertinya benar-benar sudah sembuh total ya?"

Leo mendengus, wajahnya memerah karena menahan diri.

"Kamu yang menyembuhkan ku dengan ciuman pagi tadi. Sekarang, bolehkah, Claire? Aku bisa melakukannya dengan sangat tenang agar tidak ada yang dengar."

Claire lagi-lagi menggeleng pelan, meski matanya menyiratkan keinginan yang sama. "Belum boleh, Sayang. Tidak di sini, tidak malam ini."

Leo menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya.

Ia mengerti dan sangat menghormati batasan Claire. Namun, ia tidak bisa berhenti begitu saja. "Baiklah... kalau begitu, biarkan aku menggesek-gesek dari luar saja. Hanya untuk meredakan ini sedikit."

Leo bergerak dengan ritme yang lambat namun mematikan, membuat gesekan kain jasnya dan gaun Claire menciptakan sensasi panas yang menjalar. Tak berhenti di situ, Leo tiba-tiba berlutut sedikit, menyibak sedikit kerah gaun Claire dan mencium puncak dada Claire dengan penuh perasaan.

Claire tersentak, tangannya meremas rambut Leo. Ia merasa geli sekaligus terangsang dengan gerakan mulut Leo di sana. "Leo! Geli... hentikan, mulutmu itu benar-benar tidak bisa diam ya!"

Leo mendongak, menyeringai dengan wajah nakal yang membuat Claire jatuh cinta berkali-kali. "Mulutku hanya melakukan tugasnya untuk memuja ratunya, Claire."

Malam itu berakhir dengan mereka yang saling berpelukan erat di atas tempat tidur, mencoba menenangkan napas masing-masing sambil tertawa kecil karena situasi gila yang mereka alami di rumah keluarga Abelano.

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam kamar, suasana panas tadi perlahan mendingin menjadi tawa kecil yang intim.

Claire mencoba merapikan tatanan rambutnya yang sudah tidak karuan, sementara Leo dengan santainya hanya menyisir rambut dengan jari, merasa bangga dengan kekacauan yang baru saja mereka lalui.

Saat mereka membuka pintu kamar dan melangkah keluar menuju koridor mansion yang sunyi, mereka pikir semuanya aman. Namun, tepat di ujung tangga, Liam Abelano sedang berdiri sambil menyandarkan bahunya di pilar, memegang gelas wiski dan menatap jam tangannya dengan ekspresi mengejek.

"Satu jam dua puluh menit," ujar Liam tanpa menoleh. "Untuk ukuran orang yang baru sembuh dari demam, staminamu cukup mengesankan, Adik Kecil."

Claire membeku, wajahnya yang biasanya pucat kini memerah padam sekejap. Ia mencoba bersikap tenang dan memperbaiki kerah gaunnya yang sedikit miring.

"Kami hanya... melihat-lihat koleksi buku lama Leo," balas Claire dengan nada paling datar yang bisa ia usahakan.

Liam tertawa terbahak-bahak, lalu melangkah mendekat. Ia menatap Leo, lalu beralih ke Claire. "Buku? Claire, rambutmu sedikit berantakan di bagian belakang, dan Leo... kancing kemeja mu salah lubang satu di bagian bawah."

Leo menunduk, melihat kemejanya, lalu mendengus santai. Ia justru merangkul pinggang Claire dengan posesif di depan kakaknya.

"Setidaknya aku tidak kedinginan sendirian seperti kamu, Liam. Ayo, Claire, kita pulang sebelum Kakakku ini mulai memberikan ceramah tentang tata krama."

Liam hanya geleng-geleng kepala sambil berteriak saat mereka menuruni tangga, "Sampaikan salamku pada Ayah Aimo! Katakan padanya Leo sudah sembuh total berkat obat dari putrinya!"

Setelah malam yang penuh perjuangan menahan diri di mansion Abelano, pagi harinya mereka sudah kembali ke wilayah kekuasaan Claire, Penthouse Park Avenue.

Sinar matahari pagi yang cerah masuk melalui jendela besar, menyinari Leo yang sudah duduk di sofa besar dengan hanya mengenakan celana kain, menatap Claire yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe sutra putih.

"Jadi..." Leo berdiri, suaranya rendah dan penuh tuntutan. "Kita sudah di rumahmu sekarang. Tidak ada Ayah, tidak ada Liam, dan aku sudah benar-benar sehat. Mana hadiah yang kamu janjikan?"

Claire berjalan mendekat, menyampirkan handuk kecil di pundaknya. Ia menatap Leo dari atas ke bawah dengan senyum tipis yang mematikan. "Kamu benar-benar tidak bisa sabar ya?"

"Aku sudah menunggu sepuluh tahun ditambah semalam yang menyiksa," balas Leo, menarik Claire ke dalam pelukannya. "Kurasa kesabaranku sudah mencapai batasnya."

Claire meletakkan tangannya di dada bidang Leo, merasakan detak jantung pria itu yang kencang. Ia berjinjit, membisikkan sesuatu tepat di telinga Leo yang membuat pria itu menahan napas.

"Hadiahmu... dimulai sekarang, Leo."

Claire menarik tali bathrobe-nya perlahan, membiarkannya merosot sedikit di bagian bahu. Leo tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menggendong Claire dengan satu gerakan mulus, membawa wanita itu menuju tempat tidur mereka.

Kali ini, tidak ada lagi kata belum boleh. Di kamar yang kedap suara itu, di tengah kemewahan New York, Leo akhirnya mendapatkan hadiah yang paling ia inginkan, bukan sekadar ciuman untuk kamera atau pelukan di depan publik, melainkan Claire seutuhnya.

Satu jam kemudian, satu-satunya suara yang terdengar di penthouse itu hanyalah bisikan cinta dan gairah yang akhirnya terlepaskan, menutup perjalanan panjang mereka dari koridor sekolah di Inggris hingga ke puncak tertinggi Manhattan.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
happy ever after
Retno Isusiloningtyas
aku kok blm nerima undangannya yaaa🤭
ros 🍂: Ntar dikirimin ya kak undangannya 🤣
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
wow...
keren....
Retno Isusiloningtyas
seruuuuuu👍
Retno Isusiloningtyas
😍
Sweet Girl
Buktikan. Claire... dr pada mati penasaran.
Sweet Girl
Bwahahaha dibilang Duta Kokop.🤣
sasip
ngeri loh kalimat pernyataan leo: "satu²nya skenario yg ingin dipelajari sampe mati".. mantab jiwa.. 👍🏻🫣😉🤭😅
sasip
enggak nyangka ei.. novel sebagus ini masih sepi pembaca.. sy yg awalnya cuma iseng mampir gegara liat cover yg provokatif pun terhipnotis & kepengen baca terus, tapi sempetin mampir deh buat memberi semangat othor keren.. 👍🏻 TOP pake banged.. lanjut ya thor.. 🫶🏻💪🏻🫰🏻
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampirr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!