Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 202
Geladak Utama Bahtera Teratai Merah.
Angin bintang bertiup kencang, membawa debu kosmik yang berkilauan. Namun, di atas geladak bahtera yang luas, suasana terasa panas dan mencekam.
"Lagi!" teriak Shi Hao.
Di tengah geladak, Luo Tian (Si Mata Tiga) melayang di udara dengan wajah pucat pasi, keringat membasahi jubahnya. Perban di dahinya telah dibuka sepenuhnya. Mata ketiga nya bersinar ungu terang, memancarkan gelombang mental yang padat.
"S-Siap, Jenderal!"
Luo Tian mengatupkan kedua tangannya.
"Seni Mata Hantu: Bayangan Mimpi Buruk!"
WUSH! WUSH! WUSH!
Dari udara kosong, muncul puluhan bayangan hitam berbentuk monster. Ada Serigala Bintang berkepala dua, Kalajengking Void, dan Ular Piton Roh. Meskipun mereka hanya ilusi padat yang diciptakan dari Qi mental Luo Tian, serangan mereka memiliki dampak fisik nyata yang menyakitkan.
"Serang!" perintah Shi Hao.
Di bawah sana, Shu Ling (Si Tikus) bergerak seperti kilatan bayangan.
"Cicit!"
Shu Ling melesat di antara kaki-kaki monster hantu itu. Belatinya tidak lagi asal menusuk. Setiap kali dia bergerak, dia mengincar titik vital: mata, leher, persendian.
SRET. SRET.
Dua hantu serigala musnah menjadi asap setelah leher mereka digorok.
"Bagus, Tikus," komentar Shi Hao yang duduk santai di atas gentong arak. "Tapi langkahmu masih terlalu berisik. Kau harus lebih ringan dari debu."
Namun, perhatian Shi Hao tertuju pada Tie Shan (Raksasa Batu).
Di sudut lain, Tie Shan sedang dikeroyok oleh seekor Beruang Hantu Raksasa setinggi enam meter (ilusi terkuat Luo Tian saat ini, setara ranah Transformasi Dewa).
BAM!
Tie Shan menahan pukulan beruang itu dengan menyilangkan lengan batunya. Kakinya terseret mundur lima langkah, meninggalkan parit di lantai kayu bahtera.
Tie Shan hanya bertahan. Dia menjadi samsak tinju yang keras, tapi dia tidak membalas.
"Tie Shan!" bentak Shi Hao. "Apa yang kau lakukan? Menunggu dia mati karena kelelahan?!"
"T-Tuan!" Tie Shan tergagap sambil menahan cakar beruang. "Hamba... hamba lambat! Hamba tidak bisa memukulnya!"
Shi Hao melompat turun dari gentong arak. Dia berjalan mendekati Tie Shan, mengabaikan hantu-hantu yang mencoba menyerangnya (hantu-hantu itu hancur sendiri begitu menyentuh aura Shi Hao).
Shi Hao menendang kaki Tie Shan.
"Kau lambat karena kau berpikir seperti batu kali," kata Shi Hao tajam. "Kau diam di tempat, berharap musuh pergi."
"Lihat ke atas sana." Shi Hao menunjuk ke luar kapal, ke sebuah asteroid raksasa yang melayang di kejauhan.
"Apakah batu itu cepat?" tanya Shi Hao.
Tie Shan mendongak, bingung. "Tidak, Tuan. Dia lambat."
"Salah," koreksi Shi Hao. "Dia terlihat lambat karena dia besar. Tapi jika batu sebesar itu menabrak kapal ini... siapa yang hancur? Kapal ini atau batunya?"
"K-Kapalnya, Tuan."
"Tepat," mata Shi Hao berkilat. "Di Alam Semesta ini, berat adalah senjata. Massa adalah kekuatan."
Shi Hao menepuk dada Tie Shan.
"Kau bukan perisai, Tie Shan. Kau adalah Meteor. Jangan menunggu dipukul. Jadikan seluruh tubuhmu peluru meriam."
"Kumpulkan seluruh Qi Tanahmu. Jangan padatkan untuk bertahan, tapi ledakkan untuk momentum."
Shi Hao mundur. "Luo Tian! Buat hantu beruang itu lebih besar! Paksa Tie Shan sampai batas!"
Luo Tian menggertakkan gigi, darah menetes dari mata ketiganya. "Haaah!!"
Hantu beruang itu membesar dua kali lipat, auranya mendekati Penyatuan Kehampaan Awal. Dia meraung dan mengangkat kedua cakarnya untuk menghancurkan Tie Shan.
Tie Shan melihat bayangan kematian di depannya.
Aku bukan batu biasa... batin Tie Shan. Aku meteor... Aku meteor...
Tie Shan menarik kaki kanannya ke belakang. Dia tidak mengambil kuda-kuda bertahan.
Seluruh tubuh batunya mulai bersinar dengan cahaya kuning kecokelatan yang berat. Gravitasi di sekitarnya terdistorsi.
"Tubuh Gunung... Menabrak Bintang!"
DUAR!
Tie Shan tidak memukul dengan tangan. Dia menabrakkan seluruh sisi bahu dan tubuhnya ke depan.
Ledakan kecepatan yang tak terduga dari tubuh seberat itu menciptakan momentum yang mengerikan.
BRAAAK!
Tubuh Tie Shan menghantam hantu beruang raksasa itu.
Tidak ada pertarungan. Hantu beruang itu langsung meledak berkeping-keping seolah ditabrak meteor berkecepatan tinggi.
Tie Shan tidak berhenti. Momentumnya masih lanjut. Dia terus meluncur menabrak pagar pembatas arena latihan, menghancurkannya, dan baru berhenti setelah menabrak dinding kabin dengan suara dentuman keras.
Hening.
Shu Ling berhenti bergerak, mulutnya menganga. Luo Tian jatuh terduduk, kehabisan tenaga mental karena ilusinya dihancurkan paksa.
Tie Shan merangkak keluar dari reruntuhan dinding kabin. Kepalanya pusing, tapi dia melihat sisa-sisa hantu beruang yang sudah jadi asap.
"Aku... aku melakukannya?" Tie Shan melihat bahunya sendiri yang berasap panas.
Shi Hao tersenyum puas.
"Lumayan," kata Shi Hao. "Itu baru dasar. Kalau kau melatihnya sampai tahap puncak, kau bisa menghancurkan planet kecil hanya dengan bahumu."
Shi Hao kemudian menoleh ke Luo Tian yang terengah-engah.
"Dan kau, Mata Tiga. Ilusimu terlalu kaku. Hantu harusnya menakutkan, bukan cuma samsak tinju. Mulai besok, pelajari cara memproyeksikan rasa takut langsung ke otak musuh, bukan cuma bayangan."
"Siap... Jenderal..." desah Luo Tian sebelum jatuh pingsan karena kelelahan.
Shi Hao melihat ke langit berbintang.
Di dunia ini, tingkatan kultivasi umum adalah:
Pemurnian Qi
Pembentukan Pondasi
Inti Emas
Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul)
Transformasi Dewa (Soul Transformation)
Penyatuan Kehampaan (Void Amalgamation)
Kesengsaraan Besar (Great Vehicle)
Dewa Sejati (True God) -> Level Shi Hao saat ini
Raja Dewa (God King)
Kaisar Dewa (God Emperor)
"Tim ini..." batin Shi Hao. "Tie Shan baru saja menyentuh ambang Penyatuan Kehampaan secara fisik. Shu Ling masih Transformasi Dewa Puncak. Luo Tian Penyatuan Kehampaan Awal tapi mentalnya lemah."
"Di Turnamen nanti, lawan kita minimal adalah Kesengsaraan Besar atau Dewa Sejati muda dari klan besar."
Shi Hao mengepalkan tangannya.
"Masih jauh. Tapi setidaknya, fondasinya sudah ada."
"Istirahatlah!" perintah Shi Hao pada timnya. "Besok kita akan masuk ke wilayah Gugus Bintang Badai. Latihannya akan lebih gila."
Tie Shan dan Shu Ling saling pandang dengan ngeri, tapi ada rasa bangga yang baru tumbuh di dada mereka. Mereka bukan lagi sampah buangan. Mereka adalah murid dari monster bernama Feng.
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛