NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sinar matahari sudah masuk cukup terik melalui sela-sela jendela kontrakan saat Luna tersentak bangun.

Ia melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.

"Mas! Mas Pratama, bangun! Kita kesiangan!" seru Luna sambil mengguncang bahu suaminya dengan panik.

Pratama membuka matanya dengan terkejut, langsung terduduk tegak.

"Astaghfirullah, jam sembilan? Mas benar-benar tidak dengar alarm, mungkin karena kita terlalu lelah semalam."

Luna menghela napas, mencoba menenangkan diri.

"Ya sudah, Mas. Karena sudah telat ke ruko, kita jualan di depan rumah saja hari ini. Stok sotonya kan sudah aku siapkan semua semalam."

Pratama mengangguk setuju sambil mengucek matanya.

"Iya, Dik. Lagipula Mas masih ingin menjagamu lebih dekat hari ini."

"Oh iya, Mas," lanjut Luna sambil beranjak dari tempat tidur.

"Kemarin aku sempat pesan teknisi lewat ponsel. Aku pasang WiFi sama CCTV di rumah ini. Mungkin sebentar lagi teknisinya datang, supaya rumah kita lebih aman dan aku bisa pantau kalau aku sedang di kantor nanti."

Pratama tersenyum tipis. Ia mulai terbiasa dengan kepraktisan istrinya yang gesit sebagai CEO.

"Cepat sekali gerakmu, Dik. Ya sudah, ayo kita bersiap."

"Ayo, Mas. Kita mandi bareng saja ya biar cepat!" ajak Luna sambil menarik tangan suaminya menuju kamar mandi, mencoba mengejar waktu yang terbuang dengan tawa kecil yang ceria.

Selesai mandi Pratama lekas menghidupkan kompor.

Uap panas yang membawa aroma rempah gurih mulai membumbung dari dapur saat Pratama dengan telaten memanaskan panci besar soto buatan Luna.

Sementara itu, Luna yang sudah rapi dengan daster rumahan dan hijab instannya, tampak sibuk menyapu teras rumah.

Gerakannya gesit, memastikan tidak ada debu yang tersisa sebelum teknisi datang.

"Mas, jangan lupa dicek rasa kuahnya ya! Takutnya kurang garam sedikit," seru Luna dari depan.

"Sudah pas, Dik! Aromanya saja sudah bikin laper," sahut Pratama sambil tertawa.

Namun, ketenangan pagi itu sedikit terusik saat Luna melihat sosok pria paruh baya dengan sarung yang disampirkan di bahu sedang berdiri di depan pagar tanaman mereka.

Pak Wandi, tetangga depan rumah yang terkenal paling kepo dan sejak dulu tidak suka dengan Pratama karena merasa Pratama hanyalah

"pendatang miskin" yang beruntung bisa tinggal di lingkungan itu.

Pak Wandi menyipitkan mata, menatap Luna yang sedang menyapu dengan tatapan meremehkan.

"Walah, Mbak Luna, tumben jualan di rumah? Bangkrut ya suaminya sotonya nggak laku di ruko?" tanya Pak Wandi dengan nada bicara yang sengaja dikeras-keraskan.

"Makanya, kalau jadi orang itu jangan gaya-gayaan sewa ruko mahal kalau modalnya pas-pasan. Ujung-ujungnya balik lagi ke gang sempit."

Luna menghentikan aktivitas menyapunya. Ia hanya tersenyum tipis, sangat tenang—senyum khas seorang CEO yang sedang menghadapi klien menyebalkan.

"Eh, Pak Wandi. Selamat pagi. Bukan bangkrut Pak, cuma pengen lebih dekat sama tetangga saja hari ini," jawab Luna sopan namun singkat.

Pak Wandi mendengus, matanya melirik ke arah jalanan saat sebuah mobil van putih bertuliskan logo perusahaan penyedia internet dan keamanan kelas atas berhenti tepat di depan kontrakan.

Dua teknisi berseragam rapi turun membawa gulungan kabel dan peralatan canggih.

"Lho, lho, mau apa ini? Tukang servis?" tanya Pak Wandi makin penasaran.

"Itu kan penyedia WiFi mahal, Mbak. Yakin kuat bayar bulanannya? Jangan-jangan cuma gaya-gayaan biar nggak kelihatan miskin amat."

Pratama yang mendengar keributan di depan, segera keluar dari dapur.

Ia berdiri di samping Luna, merangkul pundak istrinya dengan protektif.

"Maaf Pak Wandi, kami permisi dulu ya. Teknisi kami sudah datang, banyak yang harus dikerjakan di dalam."

Pak Wandi hanya melongo melihat kedua teknisi itu membungkuk hormat kepada Luna seolah-olah Luna adalah atasan mereka.

Ia semakin panas melihat kabel-kabel mahal itu mulai ditarik masuk ke dalam rumah "kumuh" Pratama.

Luna segera mengambil ponselnya dan mengunggah foto soto buatan suaminya ke media sosial dan grup percakapan pelanggan.

Kekuatan jaringan Luna memang luar biasa; dalam hitungan detik, notifikasi pesanan mulai membanjiri ponselnya, dan satu per satu motor serta mobil mulai memadati gang sempit di depan kontrakan.

"Waduh, saya tadi sampai satu jam nunggu di ruko, Mas. Pas lihat postingan Mbak Luna jualan di sini, saya langsung meluncur," ucap seorang dokter yang merupakan pelanggan setia Pratama sambil turun dari mobilnya.

Melihat antrean yang semakin panjang dan gang yang mulai sesak, Luna menyadari bahwa kontrakan ini sudah tidak bisa lagi menampung aktivitas mereka.

Kondisi atap yang banyak bocor dan ruang yang sempit membuatnya mengambil keputusan cepat.

Ia menghampiri para teknisi yang baru saja akan mulai bekerja.

"Mas, tolong pasang WiFi dan CCTV tambahannya di alamat perumahan ini saja," ucap Luna sambil menyerahkan secarik kertas berisi alamat rumah pribadinya yang mewah.

"Nanti kita fokus jualan di ruko sama di rumah sana saja. Di sini tidak memungkinkan."

Para teknisi itu mengangguk patuh dan segera merapikan kembali peralatan mereka untuk menuju ke alamat baru tersebut.

Sembari membantu Pratama melayani pembeli yang tak henti-hentinya datang, Luna diam-diam menghubungi asisten setianya.

"Arini, tolong bawa mobil pickup dan beberapa orang tim keamanan ke kontrakan sekarang. Begitu soto habis, kita langsung pindah. Bawa barang-barang Mas Pratama yang penting saja, sisanya kita tinggalkan. Rumah ini sudah tidak layak."

Pratama yang sibuk menyendok kuah soto hanya bisa tertegun melihat kegesitan istrinya.

Ia tahu, hari ini adalah hari terakhirnya menjadi penghuni gang sempit itu.

Di balik lelahnya, ada rasa syukur karena Luna membawanya menuju kehidupan yang lebih baik, tanpa lagi harus khawatir atap bocor saat hujan turun.

"Habiskan sotonya ya, Mas. Setelah ini kita buka lembaran baru," bisik Luna lembut di telinga suaminya saat mereka bersisihan di dapur.

Hanya dalam waktu dua jam, panci besar berisi soto itu sudah ludes tak tersisa.

Pelanggan terakhir pulang dengan wajah puas, meninggalkan Pratama dan Luna di tengah tumpukan mangkuk kosong.

Tanpa membuang waktu, tim yang dikirim Arini datang dengan sigap.

Pratama mulai memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper tua.

Meski hatinya sedikit berat meninggalkan tempat yang penuh kenangan pahit dan manis itu, ia tahu Luna benar.

Atap yang bocor dan dinding yang lembap bukan lagi tempat yang pantas untuk masa depan mereka.

"Peralatan masaknya dibawa semua ya, Mas. Itu saksi perjuanganmu," ucap Luna lembut sambil membantu melipat beberapa potong baju.

Saat mereka sedang sibuk mengangkut barang-barang ke atas mobil pickup, tiba-tiba Pak Wandi muncul di depan pagar.

Wajahnya merah padam, terlihat tidak terima melihat keramaian dan kemewahan mobil yang parkir di depan rumah Pratama.

"Lho, lho! Ini ada apa ini? Mau pindah?!" teriak Pak Wandi sambil berkacak pinggang.

"Nggak bisa begitu dong! Kamu kan belum bayar iuran sampah lingkungan bulan ini, Pratama! Terus itu, mobil-mobil besar ini bikin jalanan becek, siapa yang mau tanggung jawab?"

Pak Wandi sebenarnya hanya mencari-cari alasan.

Ia tidak rela melihat Pratama yang selama ini ia rendahkan tiba-tiba pindah ke tempat yang jelas-jelas jauh lebih mewah dengan pengawalan seperti itu.

"Sabar, Pak Wandi," sahut Luna tenang.

Ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu menyerahkannya pada Pak Wandi.

"Ini untuk iuran sampah, iuran keamanan, dan sekalian untuk kas lingkungan selama setahun ke depan. Anggap saja tanda terima kasih kami selama bertetangga."

Pak Wandi tertegun menatap uang di tangannya. Matanya melotot, namun mulutnya masih ingin protes.

"Tapi, prosedurnya nggak begini! Kamu jangan pamer kekayaan ya, Mbak Luna!"

Pratama mendekat, mengambil panci besar yang sudah bersih dan menaruhnya di mobil.

Ia menatap Pak Wandi dengan senyum tipis yang tulus.

"Kami pamit dulu ya, Pak. Maaf kalau selama ini ada salah kata. Semoga Bapak sehat selalu."

Pak Wandi hanya bisa melongo saat Arini membukakan pintu mobil mewah untuk Luna dan Pratama.

Ia berdiri mematung di pinggir jalan, memegang uang pemberian Luna, sementara mobil-mobil itu perlahan meninggalkan gang sempit, menjauh dari kontrakan yang kini kosong melompong.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!