NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Perebutan Mata Air

Kemenangan soal semen tradisional ternyata hanya memberikan napas lega selama beberapa hari. Ketika struktur utama Balai Kreatif mulai berdiri dengan gagah—memamerkan tekstur kapur putih gading yang eksotis—sebuah masalah baru muncul, dan kali ini jauh lebih vital daripada sekadar bahan bangunan.

Pagi itu, Gia sedang sibuk menyiapkan mesin espresso ketika ia melihat kerumunan warga berkumpul di depan kedai dengan raut wajah cemas. Beberapa ibu-ibu membawa jeriken kosong, sementara para pria memegang ember dengan tangan gemetar.

"Gia! Rian! Air di sumur kami surut! Padahal semalam hujan deras!" teriak salah satu warga, Pak RT.

Gia segera keluar, diikuti Rian yang masih memegang sketsa atap. Mereka menuju sumur utama di belakang kedai yang biasanya meluap. Benar saja, permukaan air turun drastis hampir tiga meter hanya dalam satu malam.

Rian berlutut di pinggir sumur, ia mengambil sebuah batu kecil dan menjatuhkannya ke bawah. Suara plung terdengar sangat jauh dan hampa. Ia kemudian menatap ke arah lereng utara, tempat proyek vila Mahendra sedang dibangun dengan kecepatan yang tidak wajar.

"Mereka pakai pompa industri," desis Rian, matanya menyipit tajam. "Gia, mereka nggak cuma bangun vila. Mereka ngebor sumur artesis sedalam seratus meter lebih tepat di jalur mata air desa kita."

Gia merasa darahnya mendidih. "Itu ilegal, kan? Mereka harusnya punya izin lingkungan!"

"Izin bisa dibeli, Gia. Tapi air nggak bisa dipalsukan," Rian bangkit, wajahnya yang tadi tenang kini berubah jadi sangat keras. "Kalau mereka terus nyedot air dengan debit sebesar itu, dalam seminggu Sukamaju akan jadi padang pasir. Balai Kreatif nggak bisa ngecor, kedai kamu nggak bisa nyeduh kopi, dan warga nggak bisa mandi."

Tanpa membuang waktu, Rian mengajak Jon dan beberapa pemuda desa untuk mendaki lereng utara. Gia bersikeras ikut, membawa botol air mineral terakhir yang tersisa di kedai. Mereka harus menembus hutan pinus yang biasanya sejuk, namun kini terasa gersang karena aliran parit-parit kecil di sepanjang jalan sudah mengering.

Begitu sampai di perbatasan lahan vila Mahendra, mereka dihadang oleh pagar kawat berduri yang baru saja dipasang. Di baliknya, terlihat sebuah menara bor raksasa yang sedang meraung keras, mengeluarkan suara berisik yang memekakkan telinga.

Erlangga ada di sana, berdiri di bawah payung besar bersama seorang pria berseragam safari yang tampak seperti pejabat dinas. Mereka sedang menunjuk-nunjuk sebuah peta besar yang terbentang di atas kap mobil sedan merah milik Erlangga.

"Mas Erlangga! Berhenti!" teriak Gia dari balik pagar.

Erlangga menoleh, memberikan senyum kemenangan yang paling memuakkan. Ia melangkah perlahan menuju pagar, seolah sengaja menikmati pemandangan wajah-wajah haus warga Sukamaju.

"Ah, Nona Gia. Maaf, suaranya agak bising ya? Maklum, kami butuh banyak air untuk kolam renang infinity dan sistem irigasi kebun kopi eksklusif kami nanti," ujar Erlangga dengan nada meremehkan.

"Kalian mencuri air warga!" sahut Rian, tangannya mencengkeram kawat berduri tanpa peduli rasa sakit. "Anda tahu betul kalau pengeboran artesis di titik ini akan memutus aliran ke sumur-sumur di bawah."

Erlangga tertawa kecil, melirik pria berseragam safari di sampingnya. "Pak Dinas, apa ada masalah dengan prosedur kami?"

Pria berseragam itu berdeham, tidak berani menatap mata Rian. "Semuanya sudah sesuai izin, Mas. Wilayah ini masuk zona pengembangan wisata. Prioritas air diberikan kepada pelaku usaha yang memiliki kontribusi pajak besar."

Rian tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Pajak besar? Bagaimana dengan hak hidup seribu jiwa di bawah sana? Bapak tahu kalau ini melanggar Undang-Undang Sumber Daya Air?"

"Hukum itu soal siapa yang bisa membuktikannya di pengadilan, Rian," potong Erlangga, suaranya merendah. "Dan kamu tahu sendiri, proses pengadilan itu butuh waktu tahunan. Pada saat putusan keluar, desa ini mungkin sudah kosong karena warganya pindah karena kekeringan. Itulah bisnis."

Mereka kembali ke desa dengan perasaan hancur. Warga mulai panik. Beberapa mulai bicara soal demo, sementara yang lain mulai putus asa dan bicara soal menjual tanah mereka pada Mahendra sebelum harganya jatuh karena kekeringan.

Malam itu, Kedai Harapan menjadi sangat gelap. Untuk menghemat sisa air di toren, Gia terpaksa tidak mencuci gelas-gelas kotor. Rian duduk di meja pojok, tidak memegang laptop, melainkan hanya sebuah lampu senter dan peta topografi lama yang sudah lecek.

"Rian... apa kita beneran kalah kali ini?" tanya Gia lirih, meletakkan secangkir kopi sisa seduhan terakhir untuk Rian. "Kita bisa cari semen pengganti, tapi kita nggak bisa bikin air."

Rian menatap peta itu dalam diam. Tiba-tiba, ia mengarahkan lampu senternya ke sebuah titik di balik tebing curam di sisi barat desa—wilayah yang dikenal warga sebagai 'Lembah Keramat' karena medannya yang sangat berbahaya dan jarang dijamah.

"Gia, kakekmu dulu pernah cerita nggak soal 'Mata Air Buta'?" tanya Rian.

Gia mencoba mengingat-ingat dongeng masa kecil dari Pak Jaya. "Maksudmu aliran sungai bawah tanah yang suaranya terdengar dari bawah tebing tapi nggak pernah ketemu ujungnya?"

"Tepat," Rian berdiri, matanya berbinar kembali. "Data geologi lama menyebutkan ada gua kapur di bawah Lembah Keramat. Aliran airnya berbeda jalur dengan sumur artesis yang dibor Erlangga. Kalau kita bisa menemukan akses masuk ke gua itu dan memasang pipa paralel, kita bisa mengalirkan air ke desa lewat gravitasi. Gratis, dan nggak akan bisa diputus oleh Mahendra karena lahannya masuk ke hutan lindung negara."

"Tapi itu curam banget, Rian! Bahaya!"

"Lebih bahaya kalau desa ini mati, Gia," Rian menggenggam tangan Gia. "Aku butuh kamu buat koordinasi warga. Bilang ke mereka jangan menyerah dulu. Aku dan Jon akan berangkat subuh nanti buat cari pintu gua itu."

Keesokan harinya, Rian dan tim kecilnya berangkat membawa peralatan panjat tebing yang pernah Rian gunakan saat kuliah arsitektur dulu. Gia menunggu di kedai dengan perasaan was-was yang luar biasa. Setiap jam terasa seperti setahun.

Di lereng tebing Lembah Keramat, Rian harus bergelut dengan lumut licin dan bebatuan tajam. Bahunya yang belum sembuh total mulai berdenyut nyeri saat ia harus menahan beban tali. Namun, ia teringat wajah warga yang kehausan dan wajah Erlangga yang sombong.

"Mas Rian! Lihat itu!" teriak Jon sambil menunjuk ke celah sempit di balik akar pohon beringin raksasa yang menggantung di bibir tebing.

Ada embusan udara dingin dan lembap keluar dari sana. Rian mendekat, menyalakan senter kepalanya. Di dalam sana, terdengar suara gemericik air yang sangat deras—sebuah simfoni kehidupan yang tersembunyi.

"Kita ketemu, Jon! Mata Air Buta!"

Sore harinya, kabar itu tersebar ke seluruh desa. Warga yang tadinya lesu mendadak bangkit. Dengan kepemimpinan Rian, mereka mulai menyambung ribuan meter pipa HDPE yang dibeli dari sisa royalti Rian. Mereka tidak lewat jalan utama, melainkan lewat jalur hutan, menghindari mata-mata Erlangga.

Saat air pertama kali mengucur dari pipa utama di depan Kedai Harapan, warga bersorak sejadi-jadinya. Mereka mandi di bawah kucuran air itu, tertawa, dan menangis. Gia melihat pemandangan itu dari teras, sementara Rian berdiri di sampingnya dengan baju yang penuh lumpur dan tangan yang lecet-lecet.

"Kamu beneran penyihir, Rian," bisik Gia, matanya berkaca-kaca.

"Bukan penyihir, Neng. Cuma arsitek yang tahu kalau alam selalu punya cara buat ngelawan keserakahan manusia," sahut Rian sambil nyengir.

Di atas lereng, Erlangga yang sedang memantau tekanan pompanya mendadak bingung. Tekanan airnya stabil, tapi kenapa warga di bawah tetap terlihat ceria dan tidak ada yang datang menyerah padanya?

Ia mengambil teropong dan melihat kucuran air dari pipa-pipa hitam yang menjalar dari arah hutan lindung. Wajahnya memerah padam. Ia baru saja menyadari bahwa Rian telah menemukan sumber air yang bahkan tidak terdeteksi oleh radar geologi perusahaannya.

"Rencana B gagal lagi, Tuan," lapor Erlangga lewat telepon dengan suara gemetar.

"Hancurkan pipa-pipa itu," suara dingin Tuan Mahendra terdengar dari seberang. "Jangan biarkan setetes air pun sampai ke tangan mereka. Lakukan dengan cara apa pun."

Gia dan Rian mungkin berhasil menemukan air, tapi malam ini, ancaman sabotase fisik baru saja dimulai. Perang memperebutkan urat nadi desa ini telah memasuki babak yang paling keras dan berdarah.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!