NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:703
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan yang Memberi, Mulut yang Mencaci

pagi itu, suasana di dapur mungil yang biasanya hanya dihiasi suara gemericik air wastafel terasa jauh lebih dingin. Hilman baru saja pulang dari shift malam tambahannya di pelabuhan. Tubuhnya tidak lagi sekadar lelah; ia merasa seperti kerangka yang hanya disatukan oleh sisa-menerangi tekad. Wajahnya yang kuyu tampak lebih tirus, dan matanya merah karena kurang tidur serta serangan batuk yang terus mengintai di balik tenggorokannya.

Di atas meja makan yang taplaknya sudah mulai sobek di bagian pinggir, Hilman meletakkan beberapa lembar uang kertas yang sudah lecek. Itu adalah hasil keringatnya memanggul peti kayu sepanjang malam. Total ada tujuh ratus ribu rupiah—uang yang ia dapatkan di luar gaji pokok pabriknya.

"Andini... ini ada uang belanja tambahan buat kamu," bisik Hilman. Ia mencoba duduk dengan perlahan, menahan nyeri di pinggangnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk.

Andini, yang sedang asyik memoleskan krim malam mahal ke wajahnya sambil berkaca di cermin kecil dekat meja makan, menoleh sekilas. Ia melihat tumpukan uang itu, lalu berjalan mendekat dengan langkah anggun yang dipaksakan. Ia mengambil uang itu dengan ujung jarinya, menghitungnya dengan cepat, lalu melemparkannya kembali ke atas meja seolah benda itu adalah sampah yang menjijikkan.

"Cuma segini?" suara Andini melengking, memecah kesunyian pagi. "Mas, kamu sadar nggak sih? Tujuh ratus ribu itu buat apa zaman sekarang? Itu cuma cukup buat sekali makan siang aku sama Reno di mall kemarin!"

Hilman tersentak. Ia menatap uang itu, lalu menatap istrinya. "Tapi Dek, itu uang tambahan. Mas sudah kerja lembur sampai subuh buat kumpulin itu. Mas pikir ini bisa bantu kamu beli kebutuhan dapur atau... atau mungkin sedikit tabungan buat Syifa."

"Tabungan? Kebutuhan dapur?" Andini tertawa sinis, tawa yang penuh kebencian. "Mas, kamu itu benar-benar nggak punya otak ya? Kamu lihat tas yang aku bawa kemarin? Itu cicilannya saja lebih dari ini! Belum lagi skincare-ku yang habis. Reno bilang, kulitku harus tetap terjaga kalau mau diajak ke pesta relasi bisnisnya. Kamu mau istrimu malu karena wajahnya kusam gara-gara makan tahu tempe terus?"

"Tapi Mas cuma buruh, Andini. Mas nggak bisa kasih jutaan rupiah dalam semalam," suara Hilman mulai bergetar, bukan karena marah, tapi karena rasa sakit yang luar biasa di dadanya kembali menyerang.

"Mangkanya kerja yang bener! Jangan cuma pingsan-pingsan nggak jelas!" bentak Andini. Ia melangkah mendekati Hilman, menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah suaminya yang pucat. "Kamu tahu nggak, Reno itu kalau kasih hadiah ke kliennya saja minimal sepuluh juta. Dia bilang, pria yang cuma kasih ratusan ribu ke istrinya itu bukan pria, tapi pecundang! Dan sekarang aku baru sadar, aku menikah sama pecundang terbesar di dunia!"

Hilman terbatuk. Kali ini batuknya begitu keras hingga ia harus memegangi dadanya. "Andini... tolong... jangan bicara begitu..."

"Oh, mulai lagi drama batuknya? Mau cari simpati supaya aku nggak minta uang lagi?" Andini justru semakin menjadi-jadi. Ia mengambil gelas berisi air putih di meja dan menyiramkannya ke lantai di depan kaki Hilman. "Nih! Sama kayak air ini, uangmu itu nggak ada harganya buat aku! Lebih baik kamu simpan saja buat biaya pemakamanmu nanti kalau kamu mati karena batuk itu, supaya nggak ngerepotin aku!"

Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong. Hilman terdiam seribu bahasa. Ia menatap air yang membasahi lantai, lalu menatap istrinya yang kini sedang sibuk merapikan rambutnya kembali, seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan. Hatinya hancur berkeping-keping. Bukan karena uangnya dihina, tapi karena ia menyadari bahwa di mata istrinya, kematiannya pun dianggap sebagai sebuah "kerepotan".

"Kenapa diam? Marah? Mau pukul aku?" tantang Andini sambil berkacak pinggang. "Sana, berangkat kerja lagi! Cari uang yang banyak, jangan cuma recehan begini. Reno sudah janji mau ajak aku ke Bali bulan depan, dan aku nggak mau kelihatan miskin di sana!"

Hilman perlahan berdiri. Ia tidak memungut kembali uang tujuh ratus ribu yang berserakan di atas meja. Ia membiarkannya di sana. Dengan langkah yang goyah, ia berjalan menuju pintu depan.

"Uang itu... Mas simpan di sana buat kamu," kata Hilman lirih tanpa menoleh. "Mas berangkat dulu."

Begitu Hilman keluar, Andini segera menyambar uang tersebut. Meskipun ia memaki, ia tetap butuh uang itu untuk ongkos taksi menemui Reno siang nanti. Ia memasukkan uang lecek itu ke dalam tas mahalnya dengan kasar.

"Dasar pria tua nggak berguna," gumamnya.

Di perjalanan menuju pabrik, Hilman harus berhenti beberapa kali di pinggir jalan. Dunianya terasa berputar. Setiap kali ia menarik napas, ada rasa amis yang memenuhi mulutnya. Ia mengeluarkan sapu tangan lusuhnya, dan benar saja, noda merah itu semakin banyak.

Ia teringat kata-kata Andini: "Simpan saja buat biaya pemakamanmu nanti".

Hilman tersenyum pahit di tengah rasa sakitnya. Ia merogoh saku jaketnya, memastikan buku tabungan rahasianya masih ada di sana. Di dalamnya, angka itu sudah mencapai Rp998.000.000.

"Dua juta lagi, Andini... Dua juta lagi," bisiknya pada diri sendiri.

Ia memutuskan untuk tidak pergi ke pabrik. Ia tahu tubuhnya sudah tidak sanggup memanggul beban di sana. Namun, ia ingat ada sebuah gudang di dekat pelabuhan yang butuh tenaga bongkar muat cepat hari ini dengan bayaran tunai yang besar bagi siapa pun yang sanggup bekerja ekstra keras dalam waktu singkat.

Hilman memacu motornya ke sana. Ia tahu ini adalah taruhan nyawa. Bekerja bongkar muat di bawah terik matahari dengan kondisi paru-paru yang hancur adalah bunuh diri secara perlahan. Tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin angka di buku tabungannya genap. Ia ingin membuktikan—bahkan jika ia harus mati—bahwa ia bukan pecundang seperti yang dikatakan istrinya.

Sementara itu, Andini sedang duduk di sebuah restoran ber-AC bersama Reno. Ia memesan steak mahal dan wine, menggunakan uang tujuh ratus ribu dari Hilman untuk membayar sisa tagihan salonnya tadi pagi sebelum bertemu Reno.

"Kok kamu kelihatannya kurang semangat, Din?" tanya Reno sambil mengelus tangan Andini.

"Suamiku itu, Ren. Dia makin hari makin menyebalkan. Masa pagi-pagi dia cuma kasih aku uang tujuh ratus ribu? Dia pikir aku ini apa? Pembantu?" adu Andini dengan nada manja.

Reno tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Tujuh ratus ribu? Itu mah cuma buat uang tip supirku, Din. Kasihan banget sih kamu. Tenang saja, kalau proyek apartemenku cair minggu depan, aku kasih kamu tujuh puluh juta buat belanja sepuasnya."

Andini tersenyum lebar. Ia merasa sangat bangga memiliki "calon suami" seperti Reno. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Reno sebenarnya sedang memutar otak untuk mencari pinjaman lima puluh juta guna melunasi sewa mobil mewah yang ia pakai hari itu.

"Kamu benar, Ren. Hilman itu nggak ada harganya dibanding kamu," ucap Andini, tanpa sedikit pun terlintas bayangan Hilman yang saat ini sedang berdiri di bawah terik matahari, memanggul peti kayu seberat enam puluh kilogram di atas punggungnya yang sudah bungkuk.

Di pelabuhan, Hilman ambruk.

Ia jatuh berlutut di atas pasir yang panas. Peti kayu di punggungnya menghantam tanah dengan suara keras. Darah menyembur dari mulutnya, membasahi baju kerjanya yang biru. Orang-orang di sekitar pelabuhan berlarian menghampirinya.

"Pak! Bapak nggak apa-apa?" teriak seorang buruh lain.

Hilman tidak bisa menjawab. Dunianya menjadi gelap. Namun, dalam keadaan setengah sadar, tangannya masih memegang erat tas pinggangnya yang berisi buku tabungan itu.

Seorang mandor pelabuhan menemukan dompet Hilman dan melihat ada uang upah bongkar muat hari itu yang baru saja dibayarkan di awal karena Hilman memohon sangat mendalam. Uang itu jumlahnya tepat dua juta rupiah—hasil kesepakatan untuk membongkar satu truk penuh sendirian.

Mandor itu memanggil ambulans, namun ia menggelengkan kepala melihat kondisi Hilman yang sudah sangat kritis.

Hilman dibawa ke rumah sakit dalam keadaan koma. Dalam tidurnya yang panjang, ia tidak lagi mendengar makian Andini. Ia tidak lagi merasakan sesak di dadanya. Ia hanya bermimpi melihat Syifa lulus sekolah dan Andini tersenyum di sebuah rumah besar yang memiliki taman bunga, rumah yang dibeli dari "uang pecundang" yang ia kumpulkan dengan nyawa.

Dan di restoran mewah itu, Andini baru saja memesan hidangan penutup, tanpa tahu bahwa uang belanja tambahan yang ia maki tadi pagi adalah tetes keringat terakhir yang sanggup diberikan suaminya sebelum jantungnya mulai menyerah pada dunia yang begitu kejam padanya.

1
SisAzalea
penasaran bagaimana mereka berjodoh
Mistikus Kata: panteng terus update tiap hari 19:00
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!