"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Atap dengan Sang Iblis
Malam semakin larut ketika mobil mewah yang membawa mereka berhenti di depan sebuah lobi apartemen eksklusif di kawasan Sudirman. Penthouse itu berada di lantai paling atas, sebuah hunian yang lebih mirip istana gantung daripada tempat tinggal biasa. Alana melangkah keluar dari lift dengan perasaan was-was, jemarinya meremas tali tas tangannya dengan kuat.
Begitu pintu utama terbuka, Alana terkesiap. Ruangan itu didominasi oleh kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang tak pernah tidur. Interiornya minimalis namun sangat mewah dengan sentuhan marmer hitam dan aksen emas.
"Ini rumahmu mulai sekarang," suara Arkan memecah keheningan. Pria itu melepaskan tuksedonya dan melemparkannya begitu saja ke sofa panjang. Ia melonggarkan dasinya, membiarkan dua kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan santai namun tetap mengintimidasi.
Alana masih berdiri mematung di dekat pintu. "Di mana kamar saya? Maksud saya... kamar yang akan saya tempati?"
Arkan menoleh, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Ia berjalan mendekati Alana, langkah kakinya yang pelan bergema di atas lantai marmer. "Ingat aturan mainnya, Alana. Di rumah ini ada pelayan dan pengawal yang merupakan orang kepercayaan kakekku. Jika kita tidur di kamar terpisah, rumor akan sampai ke telinganya sebelum fajar menyingsing."
Alana membelalak. "T-tunggu dulu. Kamu bilang... kita tidur di kamar yang sama?"
"Tentu saja. Tapi tenanglah, aku tidak tertarik pada wanita yang gemetar seperti kucing ketakutan," Arkan berjalan melewati Alana menuju sebuah pintu ganda besar di ujung lorong. "Kamar utamaku cukup luas. Ada sofa besar jika kamu keberatan berbagi ranjang denganku. Tapi pastikan saat pagi hari, kamu sudah berada di ranjang sebelum pelayan membawakan sarapan."
Alana mengikutinya masuk ke dalam kamar. Ruangan itu lebih luas dari seluruh apartemen lamanya. Sebuah ranjang berukuran king-size berada di tengah ruangan dengan pemandangan kota yang menakjubkan. Di sisi lain, terdapat pintu menuju walk-in closet yang luasnya tak masuk akal.
Di dalam lemari itu, Alana tertegun. Separuh bagian lemari sudah terisi dengan pakaian wanita. Gaun-gaun sutra, blus desainer, hingga pakaian dalam berbahan renda yang sangat halus. Semuanya tampak baru dan... semuanya adalah ukurannya.
"Arkan... kapan kamu menyiapkan semua ini?" tanya Alana dengan suara bergetar.
Arkan yang sedang menuang whisky di sudut kamar menoleh sekilas. "Sejak aku tahu kamu bukan Elena. Aku tidak suka bekerja secara tidak terencana. Semua yang ada di ruangan ini sudah disiapkan sejak dua hari yang lalu."
Alana merasa merinding. Berarti sejak awal, Arkan sudah merencanakan untuk mengikatnya di sini. Semua keberanian yang ia kumpulkan tadi sore seolah menguap. Ia merasa sangat kecil di hadapan pria yang selalu selangkah lebih maju darinya ini.
"Sekarang, bersihkan dirimu dan ganti pakaianmu. Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan di ruang kerja," ucap Arkan dingin sebelum melangkah keluar kamar.
Alana menghela napas lega saat pintu tertutup. Ia segera menuju kamar mandi. Bak mandi marmer yang luas dan aroma aromaterapi sedikit menenangkan sarafnya. Namun, saat ia keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi sutra yang disediakan, ia baru menyadari satu hal: ia tidak memiliki pakaian tidurnya sendiri. Semua yang ada di lemari itu terlalu... transparan atau terlalu mewah.
Akhirnya, ia memilih sebuah daster satin panjang berwarna champagne. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Arkan sudah kembali. Pria itu kini hanya mengenakan celana kain hitam dan kaus polos yang pas di tubuhnya, menonjolkan bentuk otot dadanya yang bidang.
Arkan sedang duduk di tepi ranjang, memegang sebuah tablet. Ia mendongak saat Alana masuk. Pandangannya terpaku pada Alana selama beberapa detik. Ada perubahan pada binar matanya—sesuatu yang lebih gelap dan lapar, namun ia segera mengalihkannya.
"Sofa di sana sudah disiapkan. Jika kamu butuh sesuatu, katakan saja," ucap Arkan, kembali fokus pada tabletnya.
Alana merebahkan dirinya di sofa. Meskipun empuk, matanya sulit terpejam. Ia menatap punggung Arkan yang membelakanginya. Keheningan di ruangan itu terasa menyesakkan.
"Arkan?" panggil Alana pelan.
"Hmm?"
"Kenapa kakekmu sangat keras padamu? Maksudku... kenapa dia sampai harus memaksakan perjodohan?"
Arkan meletakkan tabletnya di nakas. Ia menghela napas panjang, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Dalam keluarga Arkananta, cinta adalah kelemahan. Kakekku percaya bahwa pernikahan adalah aliansi bisnis. Dia tidak ingin aku memiliki celah. Baginya, memiliki istri dari keluarga yang dia pilih berarti dia memiliki kendali penuh atas hidupku."
"Lalu... kenapa kamu memilihku? Bukankah dengan menjadikanku tunanganmu, kamu justru menciptakan celah baru? Aku bukan siapa-siapa, aku hanya gadis biasa yang terjebak dalam masalah kakaknya."
Arkan berbalik, menatap Alana dari kejauhan. "Justru karena kamu bukan siapa-siapa. Kamu tidak punya kekuatan politik, tidak punya keluarga besar yang haus kekuasaan. Kamu mudah dikendalikan... atau setidaknya itu yang kupikirkan awalnya."
"Dan sekarang?"
Arkan berdiri dan berjalan perlahan menuju sofa tempat Alana berbaring. Ia berlutut di samping sofa, membuat wajah mereka berada di level yang sama. Alana bisa merasakan napas hangat Arkan di pipinya.
"Sekarang, aku menyadari bahwa kamu adalah variabel yang tidak bisa kuprediksi, Alana. Kamu terlihat lemah, tapi kamu bertahan di depan kakekku. Kamu membenciku, tapi kamu tetap berada di sini demi ibumu. Kamu menarik, dengan cara yang tidak pernah kutemukan pada wanita lain."
Tangan Arkan terangkat, menyentuh pipi Alana dengan ibu jarinya. Sentuhannya lembut, sangat bertolak belakang dengan sikap kasarnya selama ini. Alana merasa jantungnya berdebar kencang, sebuah perasaan asing mulai menyusup ke dalam hatinya.
"Jangan pernah jatuh cinta padaku, Alana," bisik Arkan tiba-tiba. Nadanya kembali dingin, seolah-olah ia baru saja memasang dinding pelindung di sekeliling dirinya. "Kontrak ini adalah tentang bisnis dan keselamatan ibumu. Jika kamu melibatkan perasaan, semuanya akan menjadi rumit."
Alana menelan ludah, mencoba menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul. "Aku tahu. Aku tidak akan melakukannya."
"Bagus. Sekarang tidurlah. Besok adalah hari yang panjang. Kamu harus mulai belajar protokol sebagai calon nyonya di keluarga ini."
Arkan kembali ke ranjangnya dan mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. Alana membalikkan badannya membelakangi Arkan, menggigit bibir bawahnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membiarkan pria itu masuk ke dalam hatinya.
Namun, di tengah malam, badai tiba-tiba datang. Guntur menggelegar keras, menyambar langit Jakarta. Alana, yang sejak kecil memiliki trauma terhadap suara petir karena kecelakaan masa lalunya, langsung terbangun dengan napas tersengal. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membanjiri keningnya.
Duar!
Satu dentuman keras lagi membuat Alana spontan menjerit pelan dan menutup telinganya. Tanpa sadar, ia bangkit dari sofa dan berlari menuju ranjang Arkan. Dalam ketakutannya yang luar biasa, ia tidak peduli lagi pada harga dirinya.
"Arkan... tolong..." isak Alana.
Arkan terbangun seketika. Ia terkejut merasakan tubuh mungil Alana yang bergetar hebat di sampingnya. Melihat gadis itu menangis ketakutan, sesuatu dalam diri Arkan seolah luluh. Ia tidak mengusir Alana. Sebaliknya, ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Hush... tidak apa-apa. Itu hanya petir," ucap Arkan pelan. Ia mendekap Alana erat, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya yang hangat.
Alana mencengkeram kaus Arkan seolah-olah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang ganas. Anehnya, pelukan Arkan terasa sangat aman. Suara detak jantung Arkan yang teratur perlahan-lahan membuat ketakutan Alana mereda.
"Jangan pergi... tolong tetap di sini," gumam Alana di tengah kantuknya yang mulai datang kembali karena merasa tenang.
Arkan mengusap rambut Alana dengan lembut. "Aku di sini. Aku tidak akan pergi ke mana pun."
Malam itu, di bawah amukan badai di luar jendela, dua orang yang seharusnya saling membenci itu tertidur dalam pelukan satu sama lain. Arkan menatap wajah damai Alana sebelum ia sendiri terlelap. Ia tahu ia telah melanggar aturannya sendiri. Ia membiarkan celah itu terbuka, dan ia membiarkan Alana masuk lebih dalam dari yang seharusnya.
Tanpa mereka sadari, di luar pintu kamar, salah satu pelayan kakek Arkan tersenyum licik sambil merekam suara dan percakapan mereka. Perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Alana adalah senjata yang paling berbahaya bagi Arkananta.