Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Belum Tercantum
Alya menatap pesan itu berulang kali sepanjang malam, tidak bisa memutuskan apakah harus membalasnya atau mengabaikannya saja. Di satu sisi, ia baru saja memutuskan untuk memberi dirinya waktu, untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan soal Raka. Tapi di sisi lain, kalimat Sarah terus menghantui pikirannya—*sesuatu yang menurutku dia sendiri belum sepenuhnya jujur ke kamu.*
Apa lagi yang belum diceritakan Raka? Bukankah kebenaran soal perjanjian keluarga, soal alasan kepergiannya delapan tahun lalu, sudah cukup untuk satu minggu penuh kejutan?
Menjelang tengah malam, Alya akhirnya membalas pesan itu: *Oke. Besok siang, di kafe deket kantor?*
Balasan Sarah datang cepat: *Oke. Jam 12 ya. Makasih udah mau ketemu.*
---
Kafe yang dipilih Sarah cukup sepi untuk hari kerja, hanya beberapa meja yang terisi oleh orang-orang yang sedang makan siang sendirian sambil menatap laptop. Alya tiba lebih dulu, memesan segelas es kopi yang tidak benar-benar ingin ia minum, hanya sebagai alasan untuk duduk sambil menunggu.
Sarah datang beberapa menit kemudian, mengenakan pakaian kasual yang jauh berbeda dari penampilan formalnya di kantor. Ada sesuatu yang berbeda dari caranya berjalan—lebih tenang, seolah semalam ia sudah berdamai dengan kekecewaannya sendiri.
"Makasih udah mau dateng," kata Sarah, duduk di seberang Alya. "Aku tau ini pasti aneh banget buat kamu."
"Jujur aja, iya," jawab Alya, mencoba tersenyum kecil. "Tapi aku penasaran sama yang kamu bilang semalam."
Sarah menghela napas, memesan minuman pada pelayan yang lewat sebelum akhirnya kembali menatap Alya dengan serius. "Aku nggak bermaksud bikin masalah baru di antara kalian. Tapi aku pikir kamu berhak tau ini, sebelum kamu ambil keputusan apa pun soal Raka."
"Tau apa?"
Sarah menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian. "Kamu tau soal perjanjian keluarga itu, kan? Soal kondisi keuangan keluarga Pradana delapan tahun lalu?"
Alya mengangguk. "Raka udah cerita. Ayahku juga."
"Oke," kata Sarah, "tapi ada satu bagian yang mungkin belum mereka ceritain—atau mungkin Raka sendiri sengaja nggak cerita, karena ini bakal bikin dia keliatan kayak orang jahat." Sarah berhenti sejenak, matanya menatap Alya lurus-lurus. "Investor yang masuk buat nyelametin perusahaan Pradana waktu itu—itu bukan investor sembarangan, Alya. Itu keluarga aku."
Alya membeku. "Maksud kamu?"
"Ayahku pemilik salah satu grup investasi yang masuk ke perusahaan Pradana delapan tahun lalu," lanjut Sarah, suaranya mulai bergetar. "Dan salah satu syarat dari investasi itu—selain Raka harus fokus total ke perusahaan—ada juga... rencana perjodohan. Antara aku dan Raka."
Dunia Alya seakan berhenti berputar untuk kedua kalinya dalam seminggu terakhir.
"Jadi," kata Alya pelan, mencoba mencerna, "ada dua perjanjian perjodohan? Sama aku, dan sama kamu?"
Sarah mengangguk pahit. "Aku baru tau soal ini beberapa bulan lalu, waktu ayahku mulai nanya-nanya kenapa aku belum juga 'deket' sama Raka meskipun kita udah kerja bareng cukup lama. Awalnya aku pikir ayahku cuma bercanda, tapi ternyata dia serius. Katanya, itu memang bagian dari kesepakatan lama antara keluarga kami dan keluarga Pradana."
"Terus kenapa kamu masih ngejar Raka kalau kamu tau ini semua cuma perjanjian bisnis?" tanya Alya, tidak bisa menyembunyikan kebingungannya.
"Karena aku emang beneran suka sama dia, Alya," jawab Sarah jujur, matanya berkaca-kaca. "Perjanjian itu cuma alasan awal kenapa ayahku dorong aku buat deketin Raka. Tapi lama-lama, perasaan aku ke dia jadi nyata, bukan cuma karena disuruh orang tua. Makanya waktu tau soal kamu, soal sejarah kalian berdua, aku ngerasa... kalah sebelum sempet bertanding."
Alya terdiam, mencoba memproses semua informasi baru ini. "Tapi kalau ada dua perjanjian yang tumpang tindih kayak gini... kenapa Raka nggak pernah cerita soal perjanjian kamu?"
"Karena aku nggak yakin dia tau," jawab Sarah. "Setahu aku, ayahku dan Pak Hendra ngerundingin ini semua secara terpisah dari sepengetahuan Raka. Mungkin karena mereka pikir, kalau salah satu perjodohan gagal—misalnya kalau kamu balik lagi ke hidup Raka—mereka masih punya 'cadangan' lewat aku."
Kalimat itu terasa dingin dan menghitung-hitung, membuat Alya merasa mual memikirkan betapa hidupnya, dan hidup Sarah, telah dijadikan bidak catur dalam permainan bisnis orang tua mereka tanpa sepengetahuan mereka sendiri.
"Aku cerita ini semua," lanjut Sarah, "bukan buat bikin kamu ragu sama Raka. Justru sebaliknya. Aku pikir kamu berhak tau seberapa dalam dan rumit permainan orang tua kalian ini, biar kalian berdua—kamu dan Raka—bisa benar-benar milih jalan kalian sendiri, bukan cuma jalan yang udah disiapin orang lain."
Alya menatap Sarah, merasakan rasa hormat baru muncul untuk perempuan yang beberapa hari lalu sempat ia anggap sebagai ancaman. "Makasih udah jujur, Sarah. Ini pasti berat buat kamu juga."
Sarah tersenyum tipis, mengangkat gelas minumannya. "Aku cuma nggak mau ada orang lain yang harus ngalamin apa yang aku alamin—berharap sama sesuatu yang ternyata cuma rencana orang lain. Kamu dan Raka, kalian punya sejarah asli. Itu beda sama apa yang aku sama Raka punya."
---
Sepulang dari pertemuan itu, Alya duduk sendirian di kamarnya, pikirannya dipenuhi oleh lapisan-lapisan kebenaran baru yang terus terkuak satu per satu sejak ia pertama kali melangkah masuk ke ruang rapat itu dua minggu lalu. Setiap kali ia pikir sudah memahami seluruh gambar, selalu ada potongan baru yang muncul, mengubah segalanya.
Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan untuk Raka, lalu menghapusnya lagi. Ia mengulangi hal itu beberapa kali, tidak yakin bagaimana cara menyampaikan apa yang baru saja ia ketahui tanpa membuat semuanya semakin rumit.
Akhirnya, ia memutuskan untuk meneleponnya langsung.
Raka mengangkat di dering kedua. "Alya? Ada apa?"
"Aku ketemu Sarah tadi siang," kata Alya tanpa basa-basi.
Ada jeda di seberang telepon. "Soal apa?"
"Soal perjanjian lain," jawab Alya pelan. "Perjanjian antara keluarga kamu sama keluarga Sarah. Kamu tau soal itu?"
Keheningan yang lebih lama kali ini membuat perut Alya semakin tegang. "Raka?"
"Aku tau," jawab Raka akhirnya, suaranya berat. "Tapi aku baru tau minggu lalu. Setelah pertemuan kita sama keluarga kamu."
"Kenapa kamu nggak cerita?"
"Karena aku masih coba cari cara buat nyelesain ini tanpa bikin semuanya makin runyam," jawab Raka, frustrasinya mulai terdengar jelas. "Ayahku sama ayah Sarah udah ngobrol lagi minggu ini, Alya. Mereka... mereka pengen aku pilih salah satu, secepatnya. Katanya, biar nggak ada lagi kesalahpahaman kayak yang terjadi kemarin di hotel."
Jantung Alya berdegup kencang. "Pilih secepatnya? Maksudnya kapan?"
Raka menghela napas panjang di seberang telepon, dan kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya membuat dunia Alya kembali terguncang.
"Minggu depan. Mereka mau jawaban minggu depan, Alya. Dan aku... aku masih belum tau harus bilang apa ke mereka."