NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 8

Tawa Mo Tu terhenti. Matanya yang merah menyipit, menangkap perubahan kecil pada otot dan postur pemuda di depannya. Tidak ada lagi gemetar ketakutan. Kuda-kuda Qin Mu kokoh membumi, dan udara di sekitarnya memancarkan aura biadab yang baru saja lahir.

"Menarik," dengus Mo Tu, melangkah maju melintasi reruntuhan akar purba. "Kau rupanya menggunakan tekanan seranganku untuk memaksakan terobosan Body Tempering. Tapi, seekor semut yang ototnya membesar tetaplah seekor semut!"

Mo Tu mengayunkan tangan kanannya dengan santai. Sebuah bilah angin berwarna merah darah melesat membelah udara, menebas lurus ke arah leher Qin Mu. Gerakannya terlalu cepat untuk diikuti mata manusia biasa.

Namun Qin Mu bukan lagi manusia biasa.

Instingnya merespons sebelum pikirannya memproses. Qin Mu menjatuhkan tubuhnya ke belakang, bertumpu pada satu tangan, dan membiarkan bilah angin darah itu mendesing hanya setebal kertas di atas hidungnya.

BAM!

Bilah darah itu menghantam dinding gua di belakang Qin Mu, membelah batu sekeras baja sedalam tiga jengkal. Serpihan batu berhamburan, menggores pipi Qin Mu. Rasa perih itu nyata, membuktikan betapa mengerikannya perbedaan kekuatan mereka. Jika tebasan itu mengenainya, tubuhnya yang baru ditempa akan tetap terbelah dua.

"Oh? Kau bisa menghindar?" Mo Tu mengangkat alisnya, lalu tersenyum kejam. "Mari kita lihat berapa lama kau bisa menghindar!"

Pria tua berjubah merah itu merentangkan kedua tangannya. Sepuluh paku berdarah terbentuk dari kondensasi Qi di udara, melayang di sekelilingnya. Dengan satu jentikan jari, paku-paku mematikan itu melesat serentak ke arah Qin Mu seperti hujan badai.

Qin Mu tidak mundur. Ia menendang lantai gua, melesat ke arah deretan pilar di sisi kanan. Kecepatannya mengejutkan dirinya sendiri otot-ototnya melontarkannya bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.

Trang! Trang! Trang!

Paku-paku darah itu menghancurkan pilar tempat Qin Mu bersembunyi. Debu tebal mengepul, menutupi pandangan.

Di dalam kepulan debu, otak Qin Mu bekerja dengan kecepatan mengerikan. Ia mengingat ajaran Gu Shanyin saat berburu beruang bercula: Jika mangsamu memiliki kulit baja dan tenaga gajah, jangan adu kekuatan. Cari tempat di mana ia pernah terluka, dan tusuk di sana sampai ia mati kehabisan darah.

Qin Mu mengintip dari balik sisa pilar batu. Ia memusatkan pandangannya pada satu titik di tubuh Mo Tu.

Dada kiri pria itu.

Jubah merahnya basah oleh darah hitam pekat. Luka sayatan yang ditinggalkan oleh Niat Pedang Gu Shanyin di ngarai sebelumnya terlalu dalam. Setiap kali Mo Tu menggunakan Qi, napasnya sedikit tertahan, dan kakinya bergeser tidak seimbang. Luka itu adalah gerbang kematiannya.

"Keluar, tikus pengecut!" raung Mo Tu. Pria itu kehilangan kesabaran. Ia menekan luka di dadanya yang mulai berdenyut nyeri, lalu memadatkan Qi darah dalam jumlah besar ke telapak tangannya, bersiap menghancurkan seluruh sisi kanan gua.

Ini adalah momennya.

Qin Mu memungut sekepal pecahan batu dari lantai, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah di atas kepala Mo Tu.

KRAK!

Batu tajam di langit-langit patah dan jatuh menimpa Mo Tu. Pria tua itu mendengus marah, menepis batu seberat puluhan kati itu menjadi debu hanya dengan satu kibasan tangan kirinya. Namun, debu yang berjatuhan itu mengaburkan pandangannya selama setengah detik.

Dari balik awan debu di lantai, Qin Mu meluncur maju bagaikan ular derik. Ia tidak berlari, melainkan menggunakan momentum untuk meluncur di atas perutnya melintasi lantai gua yang licin, melesat tepat ke bawah sudut buta pandangan Mo Tu.

Ketika Mo Tu menyadari bahaya, Qin Mu sudah berada kurang dari dua langkah di depannya.

"Kau mencari mati!" Mo Tu menggeram. Ia tidak sempat memanggil pedang senjatanya, jadi ia mengayunkan cakar darah kanannya langsung ke kepala Qin Mu, berniat meremukkan tengkorak pemuda itu.

Alih-alih menangkis, Qin Mu menekuk lutut kirinya dan memutar tubuhnya ke arah dalam dengan gerakan yang sangat tidak wajar, menghindari serangan cakar itu dengan jarak sekecil rambut. Kuku darah Mo Tu hanya merobek jubah bahu Qin Mu, meninggalkan tiga garis luka dangkal yang langsung berhenti berdarah karena ketangguhan otot Body Tempering-nya.

Di saat yang sama, tangan kanan Qin Mu melesat ke atas.

Pisau burunya yang terbuat dari besi hitam biasa memantulkan cahaya api unggun. Dengan presisi seorang pemburu, Qin Mu menancapkan bilah pisau itu tepat ke dalam celah luka sayatan yang menganga di dada Mo Tu.

Pisau itu menembus daging, menembus tulang rusuk yang sudah retak, dan terus masuk hingga gagangnya membentur dada Mo Tu.

Waktu seakan berhenti di dalam Gua Akar Naga.

Mata merah Mo Tu terbelalak lebar, menatap tak percaya pada pemuda setinggi dadanya yang baru saja menikamnya. Mulutnya terbuka, namun bukan suara yang keluar, melainkan semburan darah kental.

Namun, Mo Tu adalah seorang kultivator tangguh. Insting membunuhnya meledak. Ia mengangkat tangan kanannya yang masih berlumuran Qi darah, berniat menghancurkan kepala Qin Mu bersamaan dengan sisa nyawanya.

"Mati... bersamaku!" desis Mo Tu.

Qin Mu tidak membiarkan itu terjadi. Dengan ekspresi sedingin es, ia memutar gagang pisau di dalam dada Mo Tu sekuat tenaga, lalu menggunakan kaki kanannya untuk menendang keras lutut pria itu.

Terdengar suara tulang patah. Mo Tu kehilangan keseimbangan. Serangan cakar darahnya meleset, hanya menghantam lantai gua di samping kaki Qin Mu hingga meledak. Mo Tu ambruk berlutut, tangannya mencengkeram jubah Qin Mu, sebelum akhirnya tubuhnya tumbang ke depan, mencium lantai batu dengan suara gedebuk keras.

Mati.

Qin Mu mundur tiga langkah terhuyung-huyung, napasnya memburu keras seperti puputan pandai besi. Ia jatuh terduduk, menatap tangannya yang gemetar hebat, berlumuran darah kental yang bukan miliknya.

Bau darah memenuhi rongga hidungnya, membuat perutnya bergejolak hebat. Ia memiringkan tubuhnya dan muntah. Ini bukan Serigala Bayangan. Ini bukan babi hutan. Ini adalah manusia seorang ahli dunia kultivasi yang baru saja ia cabut nyawanya secara langsung dengan tangannya sendiri.

Rasa takut, mual, dan adrenalin bercampur aduk di kepalanya.

Namun, saat ia menoleh dan melihat tubuh Gu Shanyin yang pucat pasi di sudut gua, rasa mual itu perlahan memudar. Kedinginan di matanya kembali mengeras. Jika ia tidak membunuh, kakeknya yang akan mati, dan ia akan disiksa. Itulah hukum hutan, dan kini ia tahu, itu juga hukum dunia ini.

Qin Mu memaksakan dirinya berdiri. Kakinya masih terasa seperti jeli, namun ia berjalan mendekati mayat Mo Tu.

Ia mengingat pelajaran lain: Selalu periksa mangsamu. Qin Mu menggeledah jubah pria tua itu. Ia menemukan dua benda: sebuah pil berwarna merah gelap yang memancarkan aroma obat yang kuat, dan sebuah kantung kecil berbahan sutra emas yang terasa sangat berat meskipun ukurannya hanya sebesar kepalan tangan.

Kantung Penyimpan, batin Qin Mu. Gu Shanyin pernah menceritakannya, sebuah artefak ruang untuk menyimpan barang. Sayangnya, Qin Mu belum memiliki Qi untuk membukanya. Ia mengikat kantung itu di pinggangnya, lalu meraih pil merah tersebut.

Ia bergegas ke sisi Gu Shanyin. Napas lelaki tua itu nyaris tidak terasa lagi. Tanpa ragu, Qin Mu membuka mulut Gu Shanyin dan memasukkan pil merah tersebut, memaksanya menelannya dengan beberapa tetes air dari sisa hujan.

Qin Mu duduk di samping kakeknya, mencengkeram lututnya sendiri di tengah kegelapan gua yang sebagian telah hancur. Malam ini, seorang anak desa telah mati, digantikan oleh seseorang yang siap mengoyak dunia jika dunia mencoba menelan keluarganya.

Di luar gua, hujan badai mulai mereda, menyisakan suara gerimis yang perlahan mencuci darah dari Pegunungan Qingluo.

1
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!