NovelToon NovelToon
Perjalanan Menuju Pendekar Dewa

Perjalanan Menuju Pendekar Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:123.8k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.

Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.

Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.

Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harta Karun

Di dalam sebuah gua yang gelap, beberapa orang berjalan dengan langkah hati-hati. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang tengkorak di bagian dada. Tatapan mereka terus menyapu setiap sudut gua, sementara tangan masing-masing tidak pernah jauh dari senjata.

Mereka adalah para pendekar dari Bukit Tengkorak, salah satu kelompok aliran hitam yang cukup dikenal di wilayah tersebut. Awalnya, ada puluhan orang yang memasuki gua itu. Namun, setelah melewati berbagai lorong dan jebakan mematikan, jumlah mereka terus berkurang.

Sebagian orang tewas karena terkena anak panah beracun, sementara yang lain kehilangan nyawa akibat lantai yang runtuh dan berbagai perangkap tersembunyi. Kini, hanya beberapa orang yang tersisa.

"Berhenti!"

Seorang pria bertubuh kekar yang berjalan paling depan tiba-tiba mengangkat tangannya. Orang-orang di belakangnya langsung menghentikan langkah.

Pria itu berjongkok, kemudian memperhatikan lantai di hadapannya. Beberapa garis tipis hampir tidak terlihat di antara bebatuan.

"Jangan bergerak sembarangan. Ada sesuatu di sini."

Seorang pria berwajah kurus segera mendekat. Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil dari balik pakaiannya, lalu melemparkannya ke lantai di hadapan mereka.

Dalam sekejap, puluhan anak panah melesat dari kedua sisi lorong. Beberapa di antaranya menancap di lantai, sementara sisanya saling beradu di udara sebelum jatuh ke tanah.

Salah seorang pendekar mengusap keringat di dahinya.

"Sialan! Sudah berapa banyak jebakan yang kita temui sejak memasuki tempat ini?"

Pria bertubuh kekar itu menjawab dengan dingin

"Kalau kau takut, kau boleh kembali sendirian."

Pria berwajah kurus itu langsung membalas.

"Siapa yang takut?"

"Aku hanya tidak ingin mati sebelum melihat harta karun itu!"

Mendengar perkataan tersebut, beberapa orang lainnya tertawa kecil. Namun, tawa mereka segera menghilang ketika teringat pada rekan-rekan yang telah tewas sepanjang perjalanan.

Mereka semua datang ke tempat ini karena sebuah petunjuk yang ditemukan oleh pemimpin mereka beberapa bulan sebelumnya. Petunjuk itu menyebutkan bahwa seseorang di masa lalu telah meninggalkan harta dalam jumlah luar biasa di sebuah gua terpencil.

Tidak ada penjelasan mengenai identitas pemiliknya ataupun alasan harta tersebut disimpan di sana. Hanya ada satu petunjuk tambahan yang membuat mereka berani mengambil risiko. Harta itu belum pernah ditemukan siapa pun.

Seorang pria berpenampilan sekitar empat puluh tahun akhirnya melerai keduanya.

"Sudahlah, jangan membuang waktu!"

"Kita sudah kehilangan terlalu banyak orang. Jika kabar mengenai tempat ini sampai tersebar, kelompok lain pasti akan berdatangan."

Pria bertubuh kekar itu mengangguk.

"Benar. Kita lanjutkan perjalanan. Tetap jaga jarak dan perhatikan setiap langkah kalian. Jangan ada yang bertindak gegabah."

Mereka kembali bergerak memasuki lorong. Semakin jauh mereka berjalan, semakin aneh pula keadaan gua tersebut.

Beberapa dinding dihiasi ukiran kuno yang sulit dipahami. Di sejumlah tempat, mereka bahkan menemukan tulang belulang yang telah menghitam, seolah-olah orang-orang itu telah terjebak di sana selama ratusan tahun. Mereka tentu tidak berani berhenti terlalu lama.

Tak lama kemudian, rombongan itu kembali menghadapi sebuah jebakan. Kali ini, beberapa lempengan batu di lantai ternyata terhubung dengan sesuatu yang tersembunyi. Begitu salah seorang dari mereka menginjaknya, bagian langit-langit langsung bergeser dan menjatuhkan bongkahan batu besar.

Dua orang tidak sempat menghindar. Tubuh mereka hancur tertimpa bebatuan, membuat lorong dipenuhi teriakan dan suara benturan.

Pria bertubuh kekar itu mengepalkan tangan. Wajahnya tampak muram ketika menatap dua mayat yang tertimbun batu.

"Brengsek!"

Mereka kembali kehilangan rekan.

Akan tetapi, setelah melewati beberapa lorong berikutnya, mereka akhirnya menemukan sesuatu yang membuat langkah seluruh rombongan terhenti.

Di ujung lorong berdiri sebuah pintu besi raksasa. Permukaannya dipenuhi ukiran rumit yang telah menghitam dimakan usia. Kedua sisinya tertanam kuat di dalam dinding batu, sementara bagian tengahnya dihiasi lambang berbentuk lingkaran dengan pola aneh.

Pria berwajah kurus segera mendekat, tetapi ia tidak berani menyentuhnya.

"Jangan-jangan harta yang kita cari ada di balik pintu ini?"

Pria bertubuh kekar mengangguk.

"Sepertinya begitu.”

Ia mengamati pintu itu dari atas hingga bawah. Tidak terlihat lubang panah ataupun mekanisme jebakan yang jelas. Namun, setelah semua yang mereka alami, tidak seorang pun berani menganggap pintu tersebut aman.

Perbincangan terjadi pada orang-orang Bukit Tengkorak yang masih hidup.

"Bagaimana kalau di baliknya terdapat jebakan yang jauh lebih berbahaya?"

"Kalau begitu, kita harus memeriksanya terlebih dahulu," jawab pria bertubuh kekar.

"Memeriksa bagaimana? Apa kau ingin menyuruhku membuka pintu itu?"

Pada akhirnya tidak ada yang menjawab. Mereka saling pandang. Semua orang menginginkan harta karun, tetapi tidak ada yang ingin menjadi orang pertama yang mempertaruhkan nyawanya.

Jumlah mereka yang awalnya puluhan kini hanya tersisa lima orang. Jika mereka kembali kehilangan anggota kelompok, perjalanan ini mungkin berakhir dengan kematian seluruh rombongan.

Namun, setelah terdiam cukup lama, pria berusia sekitar empat puluh tahun tadi akhirnya melangkah maju.

"Kalau kita terus berdiri di sini, kita tidak akan mendapatkan apa pun."

Ia meletakkan kedua tangannya pada permukaan pintu besi.

"Menjauhlah. Aku akan membukanya."

Empat orang lainnya segera mundur beberapa langkah.

Pria itu menarik napas panjang, kemudian mengerahkan tenaga dalam ke kedua lengannya. Otot-ototnya menegang ketika ia mulai mendorong pintu besi tersebut.

Kreeeek!

Suara gesekan logam terdengar memekakkan telinga.

Pintu itu bergerak perlahan, menampakkan celah gelap di baliknya. Tidak ada cahaya yang terlihat dari dalam. Bahkan, udara dingin yang keluar dari ruangan tersebut membuat mereka merasakan hawa aneh yang sulit dijelaskan.

Pria itu berhenti sejenak.

"Ada yang melihat sesuatu?"

Keempat rekannya menggeleng.

"Kalau begitu, mari kita lihat apa yang disembunyikan tempat ini."

Ia kembali mendorong pintu hingga terbuka cukup lebar untuk dilewati seseorang.

Awalnya, mereka hanya melihat kegelapan. Namun, sesaat kemudian, terdengar suara gemuruh pelan dari dalam ruangan. Beberapa titik cahaya menyala di sepanjang dinding, disusul nyala obor yang muncul satu demi satu.

Dalam beberapa tarikan napas, seluruh ruangan menjadi terang. Kelima pria itu membelalakkan mata. Mereka terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah tidak lagi mampu mempercayai apa yang sedang mereka saksikan.

Di hadapan mereka terbentang sebuah lautan koin emas. Tumpukan koin itu memenuhi sebagian besar lantai, menjulang seperti bukit-bukit kecil yang memantulkan cahaya obor.

Namun, semua itu hanyalah sebagian kecil dari kekayaan yang tersimpan di ruangan tersebut. Ruangan itu benar-benar menyimpan harta yang luar biasa.

Di sisi kanan, terdapat deretan patung yang terbuat dari emas murni dan batu giok. Beberapa patung berbentuk naga, sementara yang lain menggambarkan sosok manusia dengan pakaian perang kuno.

Di sisi kiri, puluhan rak dipenuhi senjata. Pedang, tombak, golok, dan berbagai senjata lainnya tersusun rapi. Sebagian memiliki bilah yang memancarkan cahaya dingin, seolah-olah masih menyimpan kekuatan meskipun telah lama ditinggalkan.

Tidak jauh dari sana, terdapat meja-meja batu yang dipenuhi kotak giok, botol obat, gulungan teknik kultivasi, serta berbagai benda yang bahkan tidak mereka kenali.

Ruangan itu bukan sekadar tempat penyimpanan harta karun. Tempat tersebut menyerupai gudang kekayaan milik seorang penguasa yang telah mengumpulkan berbagai benda berharga sepanjang hidupnya.

Suara seorang pria terdengar bergetar.

"Ini ... ini sungguh nyata?"

1
y@y@
⭐👍🏾👍🏿👍🏾⭐
ibarumbung
💛💛💛💛💛
Mahayabank: lanjuuut keenn
total 1 replies
Mahayabank
Mantap Lanjuuuut lagi.. 🔁👍💪💪
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁👀👀
Akhmad Baihaki
👍👍👍👍👍
Ipung Umam
lanjutkan
Sarip Hidayat
waaah knapa ini
mbono keling
💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪💪💪💪👍💪
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Andi Heryadi
dengan sumber daya yg berlimpah dr boqin chanqing,mestinya wan tian sdh diranah pendekar suci puncak thor😄
Rinaldi Sigar
lanjut
y@y@
👍🏼🌟👍🏻🌟👍🏼
Nanik S
Apakah Wang Tian juga akan membantu
Nanik S
Pendekar Lbah Angin dan kenapa sampai uang saja cuman keping Tembaga... Chang"er sangat jeli sekali
Mahayabank: 👍👍👍👍👀
total 1 replies
Eko🍤
traktiran🤣👍👍 bantaaaaaaaiiiiii
meiii
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!