NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Rapat dan Mulai Menyadari Perasaan?

Malam hari di Desa Sukmawarna menyajikan suasana yang begitu tenang. Angin malam berhembus pelan menembus dedaunan pohon, sementara sinar bulan purnama terpancar menerangi teras rumah Dimas yang cukup luas. Suara riuh pemuda Karang Taruna dan warga sekitar sudah terdengar hangat. Di salah satu sudut teras, tiga sahabat dekat Nayla—Siti, Wulan, dan Tika—sedang duduk melingkar sambil berbisik-bisik heboh.

Mata Siti yang jeli mendadak membelalak lebar saat menangkap dua sosok yang baru saja melangkah masuk ke halaman rumah Dimas. "Eh, Wulan, Tika! Lihat deh... itu Nayla datang sama siapa?"

Wulan dan Tika kompak menoleh. Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, tampak Nayla berjalan anggun mengenakan gamis katun kasual berwarna pastel, dan tepat di sampingnya, berjalan sosok Arkananta Dewangga. Pria kota itu tampil begitu memikat hanya dengan kaus hitam polos yang melekat pas di tubuh tegapnya serta celana jins gelap. Langkah kakinya yang tenang dan rahangnya yang tegas menebarkan aura pria matang yang begitu dominan, membuat beberapa pemudi desa mendadak salah tingkah.

"Astaga demi apa, Nayla berangkat bareng Tuan Muda Jakarta?" bisik Siti dengan mata berbinar-binar saat Nayla dan Arkan mendekat.

Nayla yang menyadari tatapan jahil ketiga sahabatnya mendadak merasa pipinya memanas. "Jangan mulai deh, Ti," gumam Nayla pelan sambil mendaratkan duduk di samping Wulan, sementara Arkan dengan santai mengambil posisi duduk bersila di bagian tepi teras, tak jauh dari posisi Nayla.

Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Dari arah pintu pagar, langkah kaki dan aroma parfum menyengat terdengar mendekat. Ratih Kartika—gadis juragan tanah yang merasa paling cantik se-desa—muncul dengan blus merah menyala dan riasan wajah yang cukup tebal untuk ukuran rapat desa. Begitu manik matanya menemukan keberadaan Arkan, senyum Ratih langsung mengembang lebar.

"Oalah... Mas Arkan! Ternyata Mas Arkan beneran datang ke rapat Karang Taruna?" seru Ratih dengan nada suara yang dibuat-buat genit. Tanpa rasa canggung, Ratih langsung menerobos duduk di dekat Arkan, lalu menyodorkan sebuah cangkir keramik berukir indah yang sengaja ia bawa sendiri dari rumahnya.

"Mas Arkan pasti haus kan jalan kaki ke sini? Ini Ratih bawakan teh melati manis khusus buat Mas Arkan. Di rumah Ratih cuma pakai gula batu kualitas super, beda sama teh biasa," ucap Ratih sambil melirik sinis ke arah Nayla dan teman-temannya.

Siti langsung merotasikan bola matanya malas, sementara Tika menyikut lengan Nayla dengan gemas. Namun, respon Arkan justru di luar dugaan Ratih.

Pria kota itu bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah cangkir mewah Ratih. Pandangan mata Arkan tetap datar menatap lurus ke depan. "Terima kasih, tapi saya tidak suka minuman yang terlalu manis," tolak Arkan dingin, singkat, dan tanpa ekspresi.

Tak berhenti di situ, Arkan justru meraih gelas belimbing berisi teh tawar hangat yang disajikan sederhana oleh tuan rumah dan meminumnya santai. "Teh sederhana begini jauh lebih menyegarkan," tambah Arkan dengan nada baritonnya yang tenang.

Seketika itu juga, wajah Ratih berubah merah padam karena malu. Momen skakmat secara terang-terangan di depan puluhan pemuda desa itu membuat Siti harus menutup mulutnya rapat-rapat, sementara Nayla menyembunyikan senyuman tipisnya di balik cangkir minuman.

Rapat pun resmi dibuka oleh Dimas sebagai Ketua Karang Taruna. Pria itu berdiri dengan penuh percaya diri di depan forum, memaparkan susunan acara standar peringatan 17 Agustus yang biasa diadakan setiap tahun: lomba balap karung, panjat pinang, dan tarik tambang.

"Jadi, untuk anggaran tahun ini kita fokuskan pada hadiah lomba-lomba tradisional tersebut. Ada tanggapan dari kawan-kawan?" tanya Dimas sopan, menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

Ketika mayoritas pemuda mengangguk setuju, Arkan yang sedari tadi menyimak sambil bersedekap dada tiba-tiba menegakkan posisi duduknya. "Saya ada usulan," suara berat Arkan memecah forum, membuat seluruh pasang mata—termasuk Dimas—tertuju padanya.

"Silakan, Mas Arkan," sahut Dimas tenang, meski sorot matanya memperlihatkan kewaspadaan.

"Lomba tradisional itu bagus untuk hiburan, tapi dampaknya cuma bertahan satu hari," Arkan memulai analisanya dengan lugas, memperlihatkan kapasitasnya sebagai calon pemimpin bisnis besar. "Kenapa tidak memanfaatkan momentum kemerdekaan untuk membangkitkan ekonomi warga desa? Sukmawarna punya hasil olahan tani dan kerajinan tangan kelompok wanita yang sangat potensial. Kalau Karang Taruna membuat Bazar UMKM dan Pameran Hasil Tani Lokal di lapangan desa, kita bisa mengundang pembeli dan tengkulak jujur dari kota kabupaten."

Ruangan rapat mendadak hening. Para pemuda desa saling berbisik, terkesima dengan ide segar yang belum pernah terpikirkan oleh mereka.

Dimas berdeham pelan, mencoba mempertahankan argumennya. "Konsep itu sangat bagus, Mas Arkan. Tapi masalahnya ada di anggaran dan jaringan akses sponsor. Kita ini Karang Taruna desa kecil, tidak punya dana besar untuk menyewa booth pameran atau promosi."

Soal proposal promosi dan pemetaan produk, saya yang akan susun," sambung Nayla tiba-tiba, mengangkat tangannya penuh semangat. Matanya berbinar menatap Dimas dan Arkan bergantian. "Ide Arkan sangat luar biasa, Mas Dimas! Saya bisa bantu buatkan rancangan proposalnya malam ini juga. Kita bisa memanfaatkan jaringan alumni kampus saya untuk publisitas gratis."

Arkan menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis saat melihat Nayla berada di pihak idenya. "Soal sponsor awal untuk tenda dan fasilitas bazar, saya yang akan tanggung sepenuhnya," tambah Arkan tegas, menutup celah keraguan Dimas.

Dimas terpaku sejenak. Ia harus mengakui bahwa ide Arkan sangat bernilai tinggi dan membawa kemajuan bagi desa. Meski hatinya tertekan melihat kecerdasan dan dominasi Arkan yang berhasil mencuri perhatian Nayla, Dimas tetap bersikap ksatria. "Baik, kalau begitu usulan Mas Arkan dan Nayla kita terima dan jadikan program utama."

Acara rapat berakhir sekitar pukul sembilan malam. Setelah berpamitan dengan warga dan ketiga sahabatnya, Nayla berjalan menuju pintu gerbang. Di sana, Dimas sudah bersiap berdiri di samping sepeda motornya.

"Nay, ayo saya antar pulang. Sudah malam, jalanan desa cukup gelap," tawar Dimas hangat sambil menyodorkan helmnya.

Belum sempat Nayla merespons, sebuah langkah kaki lebar memotong jarak di antara mereka. Arkan berdiri tegap menghalangi pandangan Dimas ke arah Nayla.

"Tidak usah, Dimas," potong Arkan dengan nada suara yang penuh penekanan protektif. "Saya berangkat bersama Nayla dari jalan yang sama, dan Mbah Harjo mempercayakan keselamatan Nayla pada saya malam ini. Kami akan jalan kaki bersama."

Dimas menatap Arkan dalam-dalam, melihat keseriusan di balik mata cokelat gelap milik pria kota itu. Setelah jeda beberapa detik yang menegangkan, Dimas akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Hati-hati di jalan, Nay."

Jalan setapak menuju rumah Pak Suryo terasa sunyi dan menenangkan di bawah terangnya sinar bulan purnama. Angin malam sesekali berembus agak dingin, membuat Nayla mengusap kedua tangannya yang terbuka.

Secara refleks, Arkan melepas jaket kasual tipis yang ia kenakan, lalu tanpa sepatah kata pun menyampirkannya ke bahu mungil Nayla. Langkah kaki Nayla terhenti seketika. Aroma maskulin yang khas, hangat, dan menenangkan dari jaket milik Arkan seketika menyelubungi tubuhnya.

"Arkan... ini—"

"Pakai saja. Kamu bisa sakit kalau kena angin malam," selak Arkan datar, terus berjalan pelan di samping Nayla agar tubuh tingginya bisa memblokir terpaan angin dari sisi samping.

Nayla menundukkan kepalanya yang terasa kian memanas, meremas ujung jaket besar itu dengan perasaan baper yang luar biasa di dadanya. Pria di sampingnya ini memang masih irit berbicara dan terkesan gengsi, namun setiap tindakan kecilnya malam ini terasa begitu nyata memanjakan hatinya.

"Terima kasih ya, Arkan... untuk idemu di rapat tadi, dan untuk... jaketnya," bisik Nayla jujur dengan nada lembut.

Arkan melirik ke samping, menatap wajah anggun Nayla yang diterangi cahaya bulan. Di dalam dadanya, Arkan merasakan getaran hangat yang semakin kencang—sebuah perasaan yang kini tak bisa lagi ia pungkiri, bahwa gadis desa di sampingnya ini telah berhasil mencuri seluruh perhatian dan hatinya.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!