Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dia sudah terbiasa menghadapi gonggongan anjing liar di desa, jadi omongan Bima tidak ada artinya.
Astiana lalu memusatkan tenaga dalamnya ke telinga untuk mulai menyadap pikiran mereka berdua.
"Sialan, si tua bangka ini ternyata masih hidup padahal kudengar dia sudah sekarat dua hari yang lalu."
Suara hati Rosa berteriak kesal di dalam kepalanya.
Astiana sedikit terkejut, ternyata bibi Raka ini justru mengharapkan kematian kakeknya sendiri.
"Kalau kakek tidak segera mati, semua harta warisan pasti akan jatuh ke tangan si sombong Raka."
Pikiran Bima ikut menimpali kekesalan ibunya.
"Dan sekarang Raka malah membawa orang luar ke dalam rumah ini."
"Gadis miskin ini pasti sedang merayu kakek agar mendapatkan bagian dari warisan."
Suara hati Bima dipenuhi oleh prasangka buruk dan kecemburuan yang sangat gelap.
Astiana mengunyah rotinya dengan pelan sambil menahan keinginan untuk memutar bola matanya.
Keluarga kaya ini benar-benar dipenuhi oleh lintah yang saling menghisap darah keluarganya sendiri.
"Sudah cukup ributnya."
Pak Darma menengahi perdebatan cucu-cucunya dengan suara yang keras.
"Rosa, Bima, jika kalian datang kemari hanya untuk membuat keributan, lebih baik kalian pulang sekarang."
Rosa langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut dan memelas.
"Maafkan kami, Ayah, kami datang kemari karena khawatir mendengar ayah sakit."
Rosa mengambil sepotong buah dan meletakkannya di piring Pak Darma.
"Kami berencana menginap di sini selama beberapa hari untuk merawat ayah."
Raka langsung mendengus kesal mendengar alasan palsu dari bibinya itu.
"Kakek sudah sehat, kalian tidak perlu repot-repot menginap dan membuat sumpek rumah ini."
"Raka, jangan kasar pada bibimu, biarkan saja mereka menginap di kamar tamu lantai dua."
Pak Darma akhirnya mengizinkan karena dia tidak ingin memperpanjang masalah di meja makan.
Bima tersenyum penuh kemenangan menatap Raka.
Namun saat Bima menoleh ke arah Astiana, Astiana langsung mendengar rencana licik di kepala pemuda itu.
"Aku tidak bisa membiarkan gadis ini terus berada di dekat kakek dan Raka."
Suara hati Bima mulai menyusun sebuah strategi kotor.
"Aku akan menaruh jam tangan rolex warisan ayahku nanti malam."
"Lalu aku akan menyuruh pelayanku menyelundupkannya ke dalam kamar paviliun gadis miskin ini."
"Besok pagi aku akan pura-pura kehilangan jam itu dan menggeledah seluruh rumah."
"Saat jam itu ditemukan di kamarnya, kakek pasti akan langsung membuangnya ke penjara karena mencuri."
Astiana berhenti mengunyah rotinya saat mendengar skenario jebakan yang sangat murahan itu.
Jebakan klasik menuduh mencuri ini rasanya sangat sering dia dengar di sinetron televisi yang diputar di warung desanya dulu.
"Pemuda ini benar-benar tidak kreatif sama sekali."
Astiana membatin dengan nada yang sangat bosan.
Dia meneguk segelas air putih lalu mengelap mulutnya dengan serbet.
"Kakek Darma, sarapan saya sudah selesai."
Astiana menunduk pamit pada pria tua yang duduk di ujung meja.
"Cepat sekali, Nak, apakah makanannya tidak enak."
"Tidak, Kakek, makanannya sangat enak, tapi saya punya banyak dokumen yang harus disortir di ruang kerja Tuan Muda."
Astiana beralasan agar bisa segera menyingkir dari aura beracun kedua tamu tidak diundang itu.
"Ah begitu, baiklah kalau begitu, silakan bekerja."
Raka ikut berdiri dari kursinya menyusul Astiana.
"Aku juga sudah selesai, ayo kita ke ruang kerja sekarang."
Raka dan Astiana berjalan beriringan meninggalkan ruang makan utama tersebut.
Rosa dan Bima menatap kepergian mereka dengan pandangan yang sangat sinis dan penuh kebencian.
Sesampainya di dalam ruang kerja yang kedap suara, Raka langsung membanting tubuhnya ke sofa.
Bruk.
"Kau lihat sendiri kan betapa menyebalkannya keluargaku yang lain."
Raka memijat pelipisnya karena kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut.
"Mereka itu seperti lintah kelaparan yang selalu menunggu kakekku mati agar bisa merampas perusahaannya."
Astiana duduk di kursi kerja Raka dan mulai merapikan beberapa map di atas meja kaca.
"Tuan Muda Raka, apakah kau punya kamera CCTV yang tersembunyi di sekitar paviliunku."
Pertanyaan mendadak dari Astiana itu membuat Raka membuka matanya.
"CCTV di luar paviliun memang ada, tapi di dalam kamarmu tentu saja tidak ada karena itu melanggar privasi."
"Kenapa kau bertanya seperti itu."
"Hanya memastikan saja."
Astiana tidak berniat memberitahu rencana Bima pada Raka sekarang.
Dia lebih suka membiarkan pemuda norak itu menjalankan rencananya dan mempermalukan dirinya sendiri besok pagi.
"Mulai malam ini, suruh pelayanmu yang paling bisa dipercaya untuk mengunci rapat pintu utamaku dari luar."
Astiana memberikan instruksi yang terdengar aneh bagi Raka.
"Dan pastikan kunci cadangannya kau pegang sendiri."
"Untuk apa dikunci dari luar, kau seperti tahanan saja."
"Lakukan saja seperti yang aku minta, Tuan Muda, besok pagi kau akan tahu alasannya."
Astiana tersenyum penuh teka-teki sambil membuka sebuah dokumen laporan keuangan.
Raka yang awalnya ingin memprotes akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.
Dia sudah belajar dari pengalaman bahwa melawan firasat Astiana selalu berakhir dengan penyesalan.
"Baiklah, aku akan menyuruh Nadin mengunci pintu paviliunmu malam ini dan aku yang akan menyimpan kuncinya."
Pertarungan kecerdasan antara pewaris ilmu kuno dan anak manja ibu kota baru saja dimulai.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣