NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN UNIT 9

Angin utara berembus semakin beringas saat malam bergeser menuju dini hari. Lapisan lumpur di bawah kaki Lin Yuan telah sepenuhnya membeku menjadi es yang keras dan licin. Ia berjalan perlahan melintasi lapangan kompleks Benteng Tembok Besi, menuju sebuah barak memanjang yang terpisah agak jauh di sudut paling timur.

Di belakangnya, terdengar suara langkah kaki yang terseret-seret dan napas yang terengah-engah.

"Sialan... gara-gara aku berdiri terlalu dekat denganmu saat Komandan bermata satu itu mengamuk, perwira piket mengira kita satu paket," Gerutu Shi Tou sambil merapatkan kedua lengannya yang kedinginan. "Kau tahu apa reputasi Unit Sembilan? Itu regu pancingan. Skuadron mati. Kita dikirim keluar tembok hanya untuk melihat di mana letak jebakan monster berada."

"Kalau kau tidak suka, kau bisa kembali ke perwira piket dan minta pindah ke barak lain," Sahut Lin Yuan datar tanpa menoleh.

Shi Tou mendengus kasar, uap putih tebal keluar dari mulutnya. "Dan dicambuk karena membantah perintah? Tidak, terima kasih. Lagipula, instingku sebagai pencuri jalanan tidak pernah salah. Berada di dekat orang gila yang bisa berdiri menahan tekanan aura Komandan Zhao mungkin adalah satu-satunya kesempatanku untuk tetap bernapas sampai besok malam."

Lin Yuan tidak membalas lagi. Ia tiba di depan pintu kayu barak yang tampak lebih usang dibandingkan barak-barak lainnya. Tidak ada penjaga di luar. Tidak ada suara obrolan prajurit dari dalam. Hening.

SREK.

Lin Yuan mendorong pintu kayu itu. Engselnya yang berkarat berderit panjang, memecah keheningan di dalam ruangan.

Hawa hangat yang berbau kayu pinus terbakar dan minyak pelumas senjata langsung menyapu wajah mereka. Berbeda dengan barak buangan sebelumnya yang kotor dan sesak, barak Unit 9 ini terasa sangat sepi. Dari puluhan dipan kayu yang berjejer, hanya empat yang tampak ditiduri. Sisanya kosong, dengan selimut-selimut usang yang terlipat rapi—sebuah pertanda bisu tentang berapa banyak nyawa yang tidak pernah kembali dari patroli.

Di tengah ruangan, sebuah tungku api kecil menyala tenang. Duduk di atas kursi kayu di dekat perapian, seorang pemuda bertubuh ramping sedang memutar-mutar sepotong ubi keras di atas bara api menggunakan ujung belatinya.

Pemuda itu mengenakan zirah kulit standar perbatasan, namun di balik zirah kasarnya, tampak kerah kemeja sutra putih yang sudah kusam dan bernoda tanah. Rambutnya diikat rapi ke belakang, dan gerak-geriknya memancarkan keanggunan yang terasa sangat salah tempat di tengah neraka perbatasan ini.

"Tutup pintunya," Ucap pemuda itu tanpa menoleh dari perapian. "Udara dingin merusak rasa ubi panggangku."

Lin Yuan melangkah masuk, diikuti Shi Tou yang segera merapatkan pintu kayu itu kembali.

Pemuda itu menarik belatinya dari atas api, membalik badannya, lalu menatap Lin Yuan dan Shi Tou dengan sepasang mata cokelat yang tajam namun diselimuti kelelahan yang amat dalam. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman sinis yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang sudah terbiasa melihat kematian.

"Daging segar," Kata pemuda itu dengan nada suara yang halus. "Berapa orang yang tersisa dari gelombang tahanan baru hari ini? Dua? Hanya kalian berdua yang dikirim ke unit kami?"

"Perwira piket bilang unit ini kekurangan orang," Jawab Lin Yuan seraya melangkah mendekati tungku api untuk menghangatkan tangannya yang kebas.

"Tentu saja kekurangan," Pemuda itu terkekeh pelan, menggigit ubi panggangnya dengan anggun seolah sedang menyantap hidangan istana. "Minggu lalu kami berdelapan. Tiga hari lalu kami berpatroli ke Hutan Bayangan Kematian. Sekarang, hanya tersisa dua. Namaku Lu Chen. Mantan bangsawan dari Ibukota Emas, sebelum keluargaku salah memilih pihak dalam pemberontakan politik dan aku dibuang ke tempat sampah ini."

Shi Tou menelan ludah mendengar rasio kematian itu. Wajahnya yang bopeng langsung pucat pasi. "Tujuh puluh lima persen tingkat kematian dalam satu patroli? Yang benar saja!"

"Itu karena mereka panik saat Laba-Laba Malam menjerat kaki mereka," Sebuah suara wanita yang dingin dan jernih tiba-tiba memotong dari sudut barak yang gelap.

Lin Yuan sedikit menyipitkan matanya. Sejak awal masuk, Kera Putih di dalam lautan jiwanya sudah merasakan hawa keberadaan seseorang di sudut itu, namun ia sengaja tidak menoleh agar tidak terlihat mencurigakan.

Dari balik bayangan tiang kayu, sesosok tubuh ramping melangkah maju ke dalam batas cahaya perapian.

Itu adalah seorang gadis muda yang usianya mungkin sepadan dengan Lin Yuan. Ia mengenakan pakaian tempur yang ringkas, dengan pelindung dada dari kulit keras dan pelindung lengan yang dirancang khusus untuk tidak menghalangi tarikan busur. Di tangannya, ia memegang sebuah busur melengkung berwarna hitam pekat yang terbuat dari tulang monster.

Namun, yang paling menarik perhatian bukanlah senjatanya, melainkan wajahnya. Sebelah kanan wajahnya masih menampakkan kecantikan alami yang tegas, tetapi dari tulang pipi kiri memanjang hingga ke bawah lehernya, terdapat bekas luka bakar mengerikan yang menyerupai cakaran tiga jari. Luka itu membuat separuh wajahnya tampak keras dan tak tersentuh.

"Orang-orang yang mati minggu lalu adalah orang-orang yang mencoba lari meninggalkan formasi," Lanjut gadis itu sambil mengusap tali busurnya dengan kain berminyak. Matanya yang gelap menatap langsung ke arah Lin Yuan. "Namaku Ah Xiu."

"Lin Yuan," Balas Lin Yuan singkat, balas menatap mata gadis itu tanpa menunjukkan sedikit pun rasa kasihan atau terkejut melihat bekas lukanya. Hal itu membuat Ah Xiu sedikit menurunkan kewaspadaannya. Biasanya, tahanan baru akan memalingkan wajah atau menatap lukanya dengan jijik.

Ah Xiu mengalihkan pandangannya ke arah Shi Tou. "Lalu yang bertato dan gemetar di belakangmu itu siapa? Tumbal pembuka kita untuk besok?"

Shi Tou langsung tersinggung, rasa takutnya tergantikan oleh harga diri jalanannya. "Jaga mulutmu, Nona! Namaku Shi Tou. Aku mungkin pencuri, tapi aku bukan pengecut yang lari dari formasi. Tadi siang di Ngarai Gagak, aku menghancurkan tengkorak Burung Bangkai dengan tanganku sendiri!"

Lu Chen tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat kontras dengan barak yang suram. "Ah, seorang pencuri jalanan yang heroik. Kombinasi yang menarik. Dan kau, Lin Yuan? Apa latar belakangmu sampai kau tidak diikat rantai dan membawa pedang pengawal?"

Lu Chen menunjuk ke arah pinggang Lin Yuan dengan ujung belatinya.

Lin Yuan menarik sebuah dipan kayu kosong yang berada di dekat tungku api, meletakkan pedang pendeknya di atas selimut, lalu duduk menghadap mereka.

"Aku mematahkan rantai itu karena burung-burung di ngarai mencoba mematuk mataku," Jawab Lin Yuan dengan nada membumi dan tenang. "Tidak ada latar belakang khusus. Aku hanya seorang mantan murid klan yang menolak mati saat gerbang kotaku dijebol monster, lalu dituduh menggunakan ajaran sesat karena berhasil membunuh mereka."

Gerakan tangan Ah Xiu yang sedang mengusap tali busurnya mendadak berhenti. Lu Chen juga menghentikan kunyahannya. Keduanya adalah veteran di perbatasan; insting mereka terhadap kebohongan sangat tajam. Namun dari nada bicara dan tarikan napas Lin Yuan, mereka tidak menemukan setitik pun kebohongan.

Ah Xiu menyipitkan matanya, mengamati Lin Yuan lebih teliti. "Pantas saja. Saat kau masuk tadi, langkah kakimu sangat teratur. Tidak ada suara gesekan tumit. Itu bukan cara berjalan orang biasa. Itu cara berjalan seseorang yang terbiasa mengatur pusat gravitasinya agar selalu siap menyerang dari sudut mana pun."

Lu Chen tersenyum lebih lebar, kali ini senyumannya terlihat lebih tulus. "Sepertinya kali ini Penguasa Kota tidak mengirimi kita setumpuk daging babi yang hanya tahu cara menangis. Ini kabar baik, Ah Xiu. Mungkin besok kita tidak perlu repot-repot memunguti sisa tubuh mereka di hutan."

Shi Tou mendengus, ikut menarik dipan di sebelah Lin Yuan dan merebahkan tubuh besarnya ke atas jerami. "Teruslah bercanda, Tuan Bangsawan. Besok kalau monster datang, jangan bersembunyi di belakang punggungku."

Lin Yuan tidak ikut dalam obrolan ringan itu. Ia melepas sisa-sisa kain kusam yang menempel di lengannya, lalu merogoh kantong minyak gosoknya. Udara barak yang hangat membuat otot-ototnya mulai merespons rasa pegal dari pertempuran beruntun yang ia alami sepanjang hari ini.

Ah Xiu yang melihat luka cakar mengerikan di dada Lin Yuan saat pemuda itu memperbaiki bebatnya, sedikit mengernyit. "Luka cakar Serigala Besi. Kalau kau tidak menawarnya dengan racun herbal dalam waktu empat jam, tulangmu akan membusuk. Kau beruntung masih hidup."

"Aku punya kenalan tua yang mengerti cara mengobatinya," Balas Lin Yuan seraya mengikat kembali linennya dengan kuat.

Lin Yuan menatap Lu Chen dan Ah Xiu. Di matanya, mereka berdua bukanlah prajurit sembarangan. Cara Lu Chen memegang belati untuk memotong ubi menunjukkan keluwesan pergelangan tangan seorang pengguna pedang cepat. Dan cara Ah Xiu menjaga jarak di sudut gelap menunjukkan insting seorang pemanah mematikan.

"Besok pagi kita berangkat ke mana?" Tanya Lin Yuan, memotong basa-basi.

Lu Chen melemparkan separuh ubi panggangnya ke arah Shi Tou, yang langsung ditangkap oleh pria bertato itu dengan rakus.

"Perintah dari Komandan Zhao sudah turun sebelum kalian datang," Jawab Lu Chen, raut wajahnya kembali serius. "Hutan Bayangan Kematian, zona perimeter luar kedua. Kita ditugaskan menyisir jalur selatan tempat jebakan Laba-Laba Malam dilaporkan muncul lagi."

Ah Xiu menyarungkan busurnya, menyilangkan lengannya di dada. "Laba-Laba Malam tidak pernah menyerang di siang hari, kecuali ada sesuatu yang mengusik sarang mereka. Misi besok bukan sekadar patroli. Ini misi memancing keluar apa pun yang bersembunyi di balik kabut hutan itu."

Lin Yuan mengangguk pelan. Tidak ada rasa takut di dadanya. Sebaliknya, Kera Putih di dalam lautan jiwanya berdengung pelan, merasakan antisipasi dari pertumpahan darah yang akan datang.

"Tidurlah," Ucap Lin Yuan datar seraya merebahkan tubuhnya di atas dipan, meletakkan sebelah tangannya di atas gagang pedang pendeknya. "Besok kita butuh banyak tenaga untuk membakar sarang laba-laba itu."

Lu Chen dan Ah Xiu saling pandang dalam diam. Ketenangan absolut pemuda itu menular ke dalam udara ruangan, menghapus sisa-sisa ketegangan malam. Di dalam barak usang yang biasa dipenuhi bau keputusasaan, Unit 9 akhirnya menemukan formasi sejatinya.

1
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!