Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa keasinan
Saat rasa gurih, hangat, sedikit asam, dan bumbu rempah sederhana itu meledak di dalam lidah Raka, mata elang sang CEO mendadak membelalak pelan. Rasa ini ... sangat berbeda dari makanan restoran bintang lima yang biasa ia makan.
Makanan ini terasa begitu hangat, jujur, dan memiliki cita rasa 'rumahan' yang sudah belasan tahun tidak pernah dirasakannya sejak ibunya meninggal dunia.
Raka menelan mi itu perlahan. Ekspresi kaku di wajahnya mengendur tanpa ia sadari.
"Bagaimana?" tanya Naya dengan senyum tipis. "Enak, kan? Jangan bohong!"
Raka berdehem pelan, menguasai kembali raut wajah netralnya secepat mungkin. "Biasa saja. Terlalu banyak penyedap rasa. Dan ... sedikit keasinan."
Naya melotot. "Keasinan?! Mana ada keasinan! Kuahnya pas begitu!"
"Bagi standar lidahku, ini terlalu asin," balas Raka dengan nada sok tahu, namun tangannya justru tidak berhenti menyumpit mi tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut untuk gigitan kedua, ketiga, dan seterusnya.
Naya terkekeh geli melihat ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan pria di hadapannya itu. Katanya biasa saja dan keasinan, tapi makannya lahap sekali sampai kuahnya mau habis! Dasar pria gengsi batu!
Selama sepuluh menit berikutnya, dapur yang biasanya dingin dan kaku itu dipenuhi oleh keheningan yang anehnya amat hangat. Hanya ada suara denting sumpit menyentuh mangkuk keramik dan hembusan napas lega setelah melahap makanan panas. Raka bahkan menghabiskan seluruh kuah mi di mangkuknya hingga tak tersisa sebotol pun.
Setelah selesai makan, Naya membawa dua mangkuk kosong itu menuju tempat cuci piring. Namun saat ia hendak menyalakan keran air, sebuah tangan kekar bergerak mendahuluinya dari arah belakang.
Naya terkejut saat merasakan dada bidang Raka hampir menempel di punggungnya. Raka mencondongkan tubuhnya untuk meraih busa pembersih piring dan sabun cair.
"Biar aku yang cuci," kata Raka pelan dari atas kepala Naya. Suaranya tidak lagi bernada membentak atau dingin, melainkan berat dan sedikit serak.
Aroma sandalwood dan citrus yang hangat mendadak mengurung Naya dari belakang. Jarak mereka yang teramat dekat, hanya terpisah beberapa milimeter,membuat Naya membeku seketika. Jantung Naya berdegup kencang secara abnormal, menciptakan sensasi desir aneh yang menjalar dari perut hingga ke dadanya.
Naya memutar tubuhnya pelan untuk berhadapan dengan Raka, membuat mereka kini berdiri berhadapan langsung di area tempat cuci piring yang sempit. Kepala Naya harus mendongak untuk menatap mata Raka yang berada tepat di atasnya.
"P-Pak Raka bisa cuci piring?" tanya Naya terbata-bata, merutuki dirinya sendiri karena mendadak gugup.
Raka menatap lurus ke dalam mata bulat Naya. Di bawah pendar lampu dapur yang redup, wajah wanita di hadapannya terlihat begitu polos, tanpa benteng pertahanan atau rasa benci yang biasa ia tunjukkan.
Ada kehangatan aneh yang merayap masuk ke dalam hati Raka yang telah lama membeku.
"Memangnya kamu pikir aku selemah itu sampai tidak bisa mencuci piring sendiri?" bisik Raka rendah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tidak biasa,bukan senyum sinis atau mengejek, melainkan sebuah sunggingan senyum tulus yang teramat tampan.
Naya tertegun. Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal pria ini, Naya melihat senyuman tulus Raka. Ketampanan pria itu mendadak melumpuhkan seluruh logika di kepala Naya.
"Terima kasih ..." bisik Raka pelan, hampir tak terdengar.
"T-terima kasih untuk apa?" tanya Naya bingung.
"Untuk mi keasinan ini," jawab Raka seraya memutar keran air dan mulai membasuh mangkuk bekas makan mereka dengan cermat. "Sudah lama sekali aku tidak makan makanan yang dimasak langsung di dapur rumah seperti ini."
Naya terdiam sejenak. Ia tidak menyangka pria sedingin Raka ternyata menyimpan kerinduan sederhana terhadap masakan rumahan. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari suaminya yang selama ini selalu bersikap arogan.
"Kalau begitu, besok saya masakkan lagi, Pak," ujar Naya spontan.
Raka menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh, menatap perempuan yang berdiri di sampingnya dengan alis sedikit terangkat.
"Siapa bilang aku mau makan masakanmu lagi?"
Naya langsung mendengus. "Ya sudah! Besok Bapak makan saja di restoran bintang lima. Tidak perlu repot-repot makan mi buatan saya!"
Raka menahan senyum melihat wajah kesal Naya. "Aku hanya bilang belum tentu mau."
"Terserah!"
Naya berbalik hendak meninggalkan dapur, tetapi Raka tiba-tiba memanggilnya.
"Naya."
Langkah perempuan itu terhenti. "Apa lagi, Pak?"
"Besok buatkan mi yang sama. Tapi garamnya dikurangi sedikit."
Naya menoleh dengan mata membulat. "Katanya keasinan dan tidak enak!"
Raka kembali mencuci mangkuk, menyembunyikan senyum tipis di bibirnya. "Aku ingin memastikan apakah rasanya memang selalu seperti itu."
"Dasar pria gengsi!" gerutu Naya pelan.
"Aku dengar."
Naya langsung menutup mulutnya, lalu bergegas meninggalkan dapur sebelum pria itu menemukan alasan untuk mengomelinya.
Namun, ketika sampai di ambang pintu, ia sempat menoleh. Raka masih berdiri di depan wastafel, menggulung lengan kemejanya sambil mencuci mangkuk dengan telaten.
Pemandangan sederhana itu membuat sudut bibir Naya terangkat tanpa sadar.
Mungkin, di balik sikap dingin dan keras kepala pria itu, masih ada hati yang bisa disentuh.
Sementara itu, Raka masih meneruskan mencuci piring. Tatapannya beralih ke pintu tempat Naya menghilang.
Aroma kuah mi yang tertinggal di udara membangkitkan kenangan tentang ibunya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa rumah besarnya tidak terlalu sepi.
Raka menghela napas pelan.
"Perempuan merepotkan," gumamnya.
Anehnya, kali ini ia mengucapkannya sambil tersenyum.
"Kenapa kembali ?"
"Suka -suka, aku lupa mau ambil minum ."
Naya menatap profil samping wajah Raka dari dekat. Garis rahangnya yang tegas, bulu matanya yang tebal, dan ekspresi fokusnya saat mencuci piring memperlihatkan sisi manusiawi yang selama ini tersembunyi rapat di balik topeng CEO arogan dan kejam.
Naya menyandarkan pinggulnya ke konter dapur, memperhatikannya diam-diam. Dinding pembatas kebencian yang selama ini berdiri kokoh di antara mereka perlahan-lahan retak oleh semangkuk mi rebus sederhana di tengah malam.
Namun tepat di saat ketegangan di antara mereka mulai mencair dan romansa tipis mulai teruji, ponsel Raka yang tergeletak di atas meja makan bergetar keras. Lampu layarnya menyala, menampilkan nama kontak yang membuat raut hangat di wajah Raka seketika sirna:
"Kania Putri"
Mata Naya yang tak sengaja melirik layar ponsel itu langsung membeku. Nama kakak kandungnya,wanita yang seharusnya berdiri di posisi ini, wanita yang kabur dan melemparkan seluruh penderitaan ini ke pundaknya, terpampang nyata di layar.
Raka mematikan keran air, mengeringkan tangannya dengan lap bersih, lalu berjalan menuju meja untuk mengangkat telepon tersebut. Tatapan matanya yang tadi sempat hangat mendadak kembali berubah menjadi dingin dan tertutup rapat.
Naya mengepalkan tangannya di balik piyama tidur. Momen manis dan hangat yang baru saja tercipta beberapa detik lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh kenyataan pahit bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan palsu di atas kertas.