NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu Baru di Ujung Lorong

Pagi itu, sinar matahari menerobos cerah di antara celah pepohonan di halaman bengkel Pak Joko. Angin sejuk bertiup pelan, membawa aroma oli yang khas bercampur dengan harum kopi hitam dari kedai kecil di sampingnya. Di dalam ruangan kantor bengkel yang kini tertata rapi, atmosfer terasa hangat dan dipenuhi semangat baru.

Dimas duduk di hadapan Pak Gunawan dan Pak Joko. Di atas meja kayu polished itu, terhampar sebuah map dokumen berwarna hijau tua berisi draft kontrak kerja untuk posisi Manajer Operasional Pusat Distribusi Suku Cadang PT Buana Teknik Mandiri—perusahaan milik Pak Gunawan.

"Dimas," ucap Pak Gunawan dengan suara mantap, menatap lurus ke dalam manik mata Dimas. "Saya bukan tipe pengusaha yang hanya melihat lembar ijazah atau gelar akademis di atas kertas. Yang saya cari untuk memimpin cabang baru saya adalah integritas, ketelitian, dan keberanian untuk bekerja keras dari bawah. Dan dalam diri kamu, saya melihat tiga hal itu bersinar sangat terang."

Dimas menundukkan kepala sejenak, meresapi setiap patah kata yang diucapkan pengusaha sukses di hadapannya. Hatinya bergetar oleh rasa syukur yang membuncah. Beberapa bulan lalu, ia adalah seorang suami yang dihina, dianggap kuli tak berguna, dan dibuang begitu saja demi sebuah ilusi kemewahan. Namun hari ini, kejujuran dan ketekunannya membuka pintu rezeki yang tak pernah ia sangka-sangka.

"Pak Gunawan," tutur Dimas dengan suara bariton yang tenang dan penuh wibawa. "Saya sangat berterima kasih atas kepercayaan yang begitu besar ini. Tapi sejujurnya, saya tidak ingin meninggalkan Pak Joko begitu saja. Tanpa kebaikan dan bimbingan Pak Joko saat saya berada di titik terendah, saya tidak akan berada di sini hari ini."

Pak Joko terkekeh renyah, menepuk bahu tegap Dimas dengan rasa bangga yang meluap-luap. "Dim, jangan berpikiran picik begitu! Bapak justru bangga luar biasa melihat kamu melangkah ke tempat yang lebih tinggi. Bengkel ini cuma wadah kecil untuk menempa kamu. Lagipula, Pak Gunawan sudah sepakat kalau pusat distribusi baru itu juga akan bermitra utama dengan bengkel kita. Jadi kamu tidak benar-benar pergi jauh, Dim!"

"Betul apa kata Pak Joko, Dimas," timpal Pak Gunawan seraya tersenyum lebar. "Sistem manajemen yang kamu bangun di sini akan kita terapkan secara penuh di cabang baru. Kamu tetap bisa memantau perkembangan bengkel Pak Joko sebagai bagian dari jaringan distribusi kita."

Dimas memandangi kedua pria paruh baya di hadapannya. Ia meremas jemari tangannya pelan, lalu beralih menatap ke arah pintu kantor yang terbuka sedikit.

Di luar sana, di balik meja kasir kedai kopi, Sari sedang berdiri merapikan pembukuan. Wanita itu tak sengaja menoleh dan menangkap pandangan Dimas. Sebuah senyuman anggun dan teduh terukir di bibir Sari, disertai anggukan kepala pelan yang seolah menyuarakan dorongan penuh keikhlasan agar Dimas menerima kesempatan emas tersebut.

Dimas menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Rasa ragu di dadanya seketika sirnah. Ia mengambil pulpen berujung hitam dari atas meja, membubuhkan tanda tangannya di atas meterai kontrak kerja tersebut dengan jemari yang mantap.

"Bismillah... Saya terima amanah ini, Pak Gunawan," tegas Dimas.

"Selamat bergabung, Dimas!" seru Pak Gunawan seraya menjabat tangan Dimas dengan erat dan penuh rasa hormat. "Mulai minggu depan, kamu resmi memimpin tim distribusi di cabang timur."

Sementara itu, beberapa puluh kilometer di sudut kota yang sepi, suasana di dalam rumah sederhana Bu Ratna terasa begitu hening dan penuh kedamaian yang bersahaja.

Suara derit pedal mesin jahit engkol tua terdengar teratur: krek-krek-krek... krek-krek-krek...

Arini duduk bersandar di kursi kayu tebal di depan mesin jahit tua milik almarhum ayahnya. Jemarinya yang kini bersih tanpa perhiasan bergerak dengan teliti dan hati-hati, memandu selembar kain katun berwarna krem melintasi jarum jahit yang naik-turun dengan cepat. Di samping meja jahit, beberapa helai pola kain yang digambar dengan kapur putih terhampar rapi.

Riasan tebal dan gaun bermerek yang dulu menjadi kebanggaannya kini telah berganti dengan pakaian rumah sederhana dan rambut yang diikat rapi ke belakang. Wajah Arini tampak lebih tirus, namun sorot matanya yang dulu liar oleh ambisi kini memancarkan kejujuran dan kepasrahan yang mendalam.

Setiap kali jarum jahit menembus serat kain, bayangan masa lalunya kembali melintas. Namun alih-alih meledak dalam amarah atau kemelaratan batin seperti dulu, Arini kini menerima setiap desiran rasa sakit itu sebagai bagian dari proses pembersihan jiwanya.

"Arini..." suara lembut Bu Ratna menegurnya dari arah pintu samping.

Arini menghentikan injakan pedal mesin jahitnya. Ia menengadah, mengusap pelisnya yang sedikit berkeringat dengan lengan bajunya. "Iya, Bu?"

Bu Ratna melangkah mendekat sambil membawa selembar surat amplop cokelat resmi yang baru saja diantarkan oleh petugas pos kelurahan. Wajah Bu Ratna tampak sedikit tegang dan prihatin.

"Ini ada surat kiriman dari pengadilan," tutur Bu Ratna pelan, menyerahkan amplop tersebut ke tangan Arini.

Jantung Arini berdesir tipis. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka amplop cokelat tersebut dan menarik keluar dua lembar kertas di dalamnya.

Itu adalah Surat Panggilan Sidang Kedua (Agenda Pembacaan Permohonan & Pembuktian) atas perkara permohonan cerai talak yang diajukan oleh Dimas Kurniawan. Sidang ditetapkan untuk hari Kamis mendatang.

Arini memandangi nama DIMAS KURNIAWAN yang tertera tegas di lembaran kertas putih itu. Tidak ada lagi rasa marah, tidak ada lagi jeritan gengsi yang menolak diceraikan. Yang tersisa di dalam dada Arini hanyalah penyesalan yang teramat dalam dan rasa malu yang luar biasa atas segala kejahatan batin yang pernah ia lakukan pada mantan suaminya itu.

"Kamu... mau hadir, Nak?" tanya Bu Ratna pelan, memegang pundak Arini.

Arini menarik napas panjang, menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca namun memancarkan keteguhan hati yang baru.

"Iya, Bu. Arini akan hadir," jawab Arini lirih namun mantap. "Tapi kali ini, Arini hadir bukan untuk mengamuk atau memamerkan keangkuhan seperti kemarin. Arini hadir untuk menerima takdir ini dengan ikhlas... dan meminta maaf dengan tulus atas semua kesalahan Arini pada Mas Dimas."

Bu Ratna tersenyum haru, merengkuh kepala putrinya ke dalam pelukannya. "Alhamdulillah, Nak... Itu adalah keputusan yang sangat bijaksana. Melangkah dengan ikhlas adalah satu-satunya cara agar jiwamu bisa benar-benar merdeka dari bayang-bayang masa lalu."

Arini memeluk ibunya erat-erat. Di balik suara derit mesin jahit tua yang membisu, Arini telah siap untuk melangkah menghadapai hari penentuan—bukan lagi sebagai wanita angkuh yang terbuai ilusi harta, melainkan sebagai seorang wanita yang siap membayar harga dari segala kesalahannya dengan kerendahan hati.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!