Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 15
Khadafy yang baru saja menutup ponselnya dan melangkah masuk kembali ke dalam ruangan, menghentikan langkah tepat di samping ayahnya. Rahangnya mengeras rapat, dan matanya memancarkan kilat dingin yang begitu mengintimidasi hingga membuat Bu Irma mendadak menelan ludah.
Namun, alih-alih melayani histeria Bu Irma, Khadafy memilih untuk sama sekali tidak menyapa wanita itu. Ia memalingkan wajahnya penuh penghinaan.
Abi Haris mengembuskan napas panjang, menatap Bu Irma dengan pandangan yang penuh rasa kasihan sekaligus tak percaya jika sifat besan perempuannya seperti itu.
"Bu Irma, tuduhan Anda sangat tidak berdasar dan justru memperlihatkan seperti apa kualitas diri Anda sebenarnya. Zheana tidak pernah meminta pernikahan ini. Kami yang memohon padanya. Bukankah keluarga anda juga menyaksikan sendiri kalau kami yang memintanya kepada Zhafea?"
Umi Rina merapikan tas tangannya dengan gerakan amat tenang, memotong perdebatan murahan itu sebelum makin memperkeruh suasana.
"Mas Bagas," panggil Umi Rina lembut pada Pak Bagus, mengabaikan keberadaan Bu Irma yang berdiri kaku di tengah ruangan.
"Waktu kita sudah sangat mendesak. Rombongan kami dan Mas Bagus lebih baik segera bersiap-siap kemudian berangkat ke gedung sekarang dan menunggu di ruang transit. Biarkan tim MUA menuntun Zheana masuk ke mobil pengantin."
"Iiya, Bu Rina... Baik," sahut Pak Bagus dengan suara serak, mengangguk cepat.
"Abi, Khadafy, ayo kita ke depan," ajak Umi Rina tegas. Beliau melangkah keluar tanpa memandang Bu Irma sedikit pun.
Khadafy memegang siku ayahnya, memandu Abi Haris berjalan menuju pintu utama. Saat melewati Bu Irma yang berdiri pias, Khadafy hanya melirik singkat dengan tatapan setajam sembilu, membuat wanita itu bungkam tak berkutik.
"Pak Bagus, mari," ucap Abi Haris menepuk pundak besannya itu, mengajak Pak Bagus ikut dalam rombongan utama.
Mereka semua melangkah keluar meninggalkan Bu Irma seorang diri di tengah ruang tamu yang berantakan. Bu Irma mengepalkan tangannya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya menahan malu dan amarah yang meluap, sementara deru mesin mobil-mobil mewah keluarga Khadafy mulai terdengar menyala di halaman depan, bersiap mengantar sang pengantin baru menuju pelaminan.
"Ayo kita juga semua segera bersiap! Mbak, kamu juga segera bersiap!" ujar Tante Linda yang tak lain adalah adik dari Pak Bagus.
"Iya benar! Ayo kalian juga segera bersiap! Kamu juga Mbak Irma, segera benerin riasan kamu! Kamu harus duduk di pelaminan untuk mendampingi Zhafea!" Ajak Tante Lilis.
"Tidak sudi! Dia bukan anakku! Dia yang sudah menghancurkan pernikahan Niken!" Emosi Bu Irma.
"Astagfirullah... Ya sudah biarkan saja! Lagian sudah jelas Niken sendiri yang kabur masih menyalahkan keponakan aku! Terserah kamu saja Irma!" Kesal Tante Linda meninggalkan Bu Irma dan bersiap-siap dengan keluarganya yang lain.
Begitupun dengan tante Lilis yang sudah tak sabar ingin segera pergi ke gedung. Ingin melihat mewahnya resepesi pernikahan Zheana dan Khadafy.
"Kalian benarbenar jahat! Dan malah ingin pergi meninggalkan aku sendirian! Kalian keterlaluan! Niken... Kenapa kamu malah pergi di saat seperti ini, Nak! Kamu sudah membuat kesalahan besar dan membiarkan anak itu menikah dengan Khadafy dan menjadi menantu kaya! Seharusnya kamu, Nak... Kamu yang menjadi mempelai yang berbahagia hari ini, bukan anak itu!"
"Irma... Tolong sadar dan berhentilah menyalahkan Zheana... Ini juga bukan kemauan Zheana. Ini sudah takdir dan ketetapan Tuhan. Doakan semoga Niken baik-baik saja dan segera menghubungi kita..." ujar Paman Kusno.
"Kamu jahat, Mas! Kamu tidak sayang kepada Niken! Kamu lebih sayang kepada keponakan kamu sendiri! Niken juga keponakan kamu, mas Kusno!"
"Mas, udah ayo! Jangan berdebat dengan Mbak Irma, sampai kapan juga nggak akan ada habisnya. Dia akan terus menyalahkan Zhafea. Bahkan dia juga nggak menginginkan banget pernikahan ini. Ini adalah cara Tuhan membuat keponakan kita merasakan kebahagiaan dengan keluarga yang tulus seperti kelaurga Pak Haris dan Bu Rina..."
Mereka semua meninggalkan Bu Irma yang masih menangis di lantai dan memaki-maki semua keluarga dan kerabat yang ada di sana. Bahkan beberapa tetangga yang sudah bersiap juga di buat kaget denfgan teriakan Bu Irma. Dia di papah oleh Bu Mila, kakaknya untuk masuk ke dalam kamar. Bu Mila memilih menemani adiknya dan meminta keluarganya yang lain untuk ikut ke gedung resepsi.
Roda-roda mobil pengantin akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk VIP Ballroom Hotel Grand Hyatt. Kesibukan di area lobby yang semula sempat mencekam kini berubah menjadi tertata rapi. Pergerakan cepat tim khusus bentukan Abi Haris benar-benar terbukti sangat efisien, hanya dalam kurun waktu satu jam pengunduran acara, seluruh dekorasi visual gedung telah bertransformasi total.
Papan bunga ucapan selamat yang berderet di sepanjang koridor tak lagi mencantumkan nama Niken, melainkan ukiran emas megah bertuliskan Zheana & Khadafy. Bahkan standing banner, videotron besar di area foyer, hingga frame foto pra nikah di sepanjang lorong masuk yang tadinya memajang foto Niken, telah diganti bersih dengan foto-foto Zheana. Foto-foto kasual berparas ayu dan bersahaja milik Zheana yang diambil secara diam-diam oleh tim Abi Haris dari galeri keluarga, lalu diolah secara digital dengan hasil yang sangat memukau.
Di dalam ruang transit pengantin, Zheana duduk mematung di depan cermin. Gaun kebaya putih gading berbalut payet mutiara dan ronce melati yang menjuntai di bahunya membuat penampilannya begitu anggun. Namun, dadanya bergemuruh hebat. Matanya menatap pintu ruang transit yang terbuka, berharap ada sesosok wanita yang melangkah masuk.
Pintu terbuka, namun bukan Bu Irma yang muncul. Melainkan Pak Bagus bersama seorang wanita berparas anggun dengan kebaya modern berwarna biru navy, Tante Linda, adik kandung Pak Bagas.
"Zheana, Sayang..." panggil Tante Linda lembut, mendekati keponakannya lalu merengkuh bahu Zheana yang bergetar.
"Tante Linda..." bisik Zheana. Matanya melirik ke belakang tubuh tantenya, mencari sosok sang ibu tiri.
"Mama... benar-benar nggak mau ikut ke gedung, Tan?"
Pak Bagus mengepalkan tangannya di samping tubuh, menghela napas berat penuh kekecewaan.
"Mamamu... Dia belum siap dengan semua hal yang mendadak ini. Tidak apa-apa kan, Nak? Maafkan Papa yang tak berhasil membujuk Mamamu..."
Garis bibir Zheana bergetar pelan. Ada rasa nyilu yang menghantam dadanya. Bagaimanapun juga, ia berharap di hari bahagianya ini, meski lahir dari situasi darurat, ada sosok ibu yang mendampingi dan menepuk bahunya dengan bangga.
"Nggak apa-apa, Pa... Tante..." bisik Zheana lembut, mengusap sudut matanya dengan ujung jari agar tak merusak riasan. Ia tersenyum tipis, mencoba mengalirkan keikhlasan.
"Zheana paham kok. Posisi Mama Irma pasti berat banget. Anak kandungnya pergi, dan justru Zheana yang ada di sini. Zheana nggak marah sama Mama..."
Tante Linda mengusap air mata yang menetes di pipinya, terharu luar biasa mendengar ketulusan hati keponakannya itu.
"Hati kamu terbuat dari apa, Nak? Masih saja memikirkan perasaan wanita yang selalu menindasmu... Sudah, jangan sedih. Tante Linda yang akan gantikan posisi Mamamu hari ini. Tante yang bakal dampingi kamu jalan ke pelaminan bareng Papa. Tante adalah Mama kamu juga, sayang..."
"Terima kasih banyak, Tante..." ucap Zheana tulus.
Tok! Tok!
Pintu ruang transit diketuk. Seorang Event Organizer (EO) melongokkan kepala dengan wajah lega sekaligus takjub.
"Mohon maaf, Pak Bagus, Ibu Linda, Mbak Zheana. Pihak penghulu dan keluarga besar Mas Khadafy sudah siap di arena akad. Tim Abi Haris luar biasa... seluruh foto, nama di layar LED, hingga buku tamu sudah sempurna diganti atas nama Mbak Zheana. Kita bisa keluar sekarang?"
Zheana tertegun mendengar laporan itu. Perhatian keluarga Khadafy yang begitu sigap menghargai keberadaannya membuat rasa cemas di dadanya perlahan meluruh.
Pak Bagus mengangguk tegas. Beliau mengulurkan sikunya pada Zheana.
"Ayo, Anak Papa yang paling cantik... Kita hadapi takdir ini."
Dengan helaan napas panjang dan basmalah yang terbisik lirih di bibirnya, Zheana menyambut uluran tangan sang ayah. Di sisi kirinya, Tante Linda mendampingi dengan menggenggam jemari Zheana penuh kehangatan.