Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Langkah Bayu terhenti tepat di hadapan pintu ganda berukir jati dengan sepuhan emas yang memantulkan kilau mewah.
Di sebelah kanannya, Kirana mendekap erat map dokumen tebal berisi rekam jejak audit keuangan hotel.
Dua orang petugas keamanan hotel berjaga ketat, berdiri kaku di kedua sisi daun pintu.
Tok... tok...
Kirana mengetuk daun pintu ruang rapat utama tiga kali dengan ritme tegas.
"Silakan masuk," seru suara berat seorang pria dari balik pintu.
Kirana lantas memutar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar demi sang atasan.
Bayu melangkah masuk tanpa menyisakan secercah keraguan di sorot matanya.
Ruangan luas itu memancarkan aura megah, didominasi meja rapat panjang berbahan marmer hitam di bagian tengah.
Di sekelilingnya, beberapa pria paruh baya berjas kelimis duduk santai sambil saling melempar senyum meremehkan.
Mereka adalah jajaran direksi dan manajer senior yang telah bertahun-tahun mencengkeram kendali operasional Hotel Grand Horizon.
Tepat di ujung meja, duduk Pak Herman dengan pongah—General Manager yang selama ini memegang kendali penuh jaringan hotel ini.
Pak Herman melirik malas ke arah pintu dengan sebelah alis terangkat tinggi.
"Siapa kalian? Kenapa berani nyelonong masuk ke ruang rapat direksi tanpa izin?" cerca Pak Herman dengan nada sinis.
Ia sama sekali buta bahwa pemuda berpakaian santai di hadapannya kini adalah pemilik mutlak yang baru saja mencaplok seluruh aset korporasi tersebut.
Tanpa memedulikan tatapan menghina itu, Bayu berjalan santai menuju kursi utama yang terletak tepat di seberang Pak Herman.
Tanpa meminta izin, ia langsung mendudukkan diri di kursi kulit empuk itu dengan gestur tenang penuh wibawa.
Kirana mengambil posisi siaga di sisi kanan Bayu, lantas meletakkan map tebal itu di atas meja marmer dengan bunyi gedebuk pelan.
Pak Herman mendengus keras, muak melihat kelakuan pemuda yang dianggapnya tidak tahu sopan santun itu.
"Hei bocah, itu kursi milik pimpinan tertinggi!" bentak Pak Herman, spontan bangkit dari tempat duduknya dengan wajah memerah menahan murka.
Sontak, tawa ejekan bernada merendahkan menggema dari para manajer di sekeliling meja.
Mereka kompak mengira Bayu hanyalah anak magang bodoh atau tamu salah alamat yang nyasar ke zona terlarang.
"Cepat enyah dari sini sebelum kami panggilkan satpam untuk menyeretmu keluar!" ancam manajer keuangan dengan nada angkuh.
Alih-alih takut, Bayu justru menyapu pandangan ke arah mereka satu per satu dengan senyum tipis yang dingin.
"Satpam?" ucap Bayu santai. "Silakan panggil mereka ke sini kalau kalian memang punya keberanian."
Kening Pak Herman berkerut dalam, instingnya mendadak mendeteksi kejanggalan dari gestur tenang luar biasa di wajah sang pemuda.
"Sebenarnya... siapa kalian ini?" desis Pak Herman, nada suaranya mulai meninggi terselimut rasa gusar.
Tanpa membuang waktu, Kirana melangkah maju satu langkah dan membuka lebar ikatan map dokumen di hadapan mereka.
"Kenalkan, ini Tuan Bayu, pemilik sah sekaligus pemegang saham pengendali mutlak Jaringan Hotel Grand Horizon yang baru," ucap Kirana dengan suara lantang dan penuh penekanan.
Seketika itu juga, ruang rapat mewah tersebut berubah senyap layaknya kuburan.
Sisa-sisa tawa ejekan di bibir para manajer membeku seketika, berganti seringai kaku yang mengerikan.
Pak Herman terbelalak lebar, menatap tajam ke arah Bayu dengan manik mata bergetar hebat.
"Pemilik... baru?" cicit Pak Herman, suaranya melengking kecil penuh ketidakpercayaan.
"Tepat sekali. Pemilik baru yang hari ini akan membongkar seluruh borok dan kebusukan kalian di hotel ini," sambung Kirana dengan tatapan mematikan.
Berusaha menepis gelombang panik yang mendadak menghantam dadanya, Pak Herman memaksakan diri tertawa terbahak-bahak secara kaku.
"Ha-ha-ha!"
"Jangan membuat lelucon bodoh di ruangan ini!" bentak Pak Herman, mati-matian menutupi kepanikannya yang mulai menggila.
"Jadwal kedatangan pemilik baru itu baru minggu depan!"
Tanpa banyak bicara, Kirana melemparkan setumpuk lembar laporan audit investigatif tepat di hadapan Pak Herman.
Brak!
Kertas-kertas berharga itu berserakan kacau di atas permukaan marmer yang dingin.
"Coba baca sendiri pakai matamu yang jeli itu," sindir Kirana dengan nada setajam silet.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Pak Herman menunduk dan melirik tumpukan kertas tersebut.
Begitu ekor matanya menangkap deretan angka kerugian fantastis dan rekam jejak aliran dana gelap, rona wajah Pak Herman seketika memutih bagai selembar kertas HVS.
"I-ini... ini semua fitnah!" teriak Pak Herman histeris, peluh dingin langsung membanjiri pelipisnya.
"Fitnah, katamu?" Kirana mengangkat sebelah alisnya dengan senyum sinis.
"Aliran dana gelap sebesar lima puluh miliar rupiah yang mengalir deras ke rekening pribadi keluargamu selama dua tahun terakhir ini... mau kau sebut fitnah juga?"
Deg!
Jantung Pak Herman serasa copot dari rongganya mendengar ucapan telak itu.
Padahal, data rahasia itu telah ia pastikan terhapus bersih tanpa sisa dari sistem server pusat.
Bagaimana mungkin wanita di hadapannya bisa memegang bukti seakurat dan selengkap itu?
Di sisi lain, para manajer di sekitarnya mulai diserang kepanikan akut, saling melempar pandangan penuh teror.
Glek!
Pak Herman meneguk ludahnya dengan susah payah, kerongkongannya terasa sangat kering.
Sepasang bibirnya bergetar hebat, kehilangan kemampuan untuk merangkai alasan pembelaan diri.
"Kalian rupanya benar-benar profesional dalam hal mencuri uang perusahaan," suara tenang Bayu memecah kesunyian mencekam di ruangan itu.
Bayu menyandarkan punggungnya santai, menyorot tajam sosok Pak Herman yang kini gemetar ketakutan setengah mati.
"T-Tuan Bayu... mohon beri saya kesempatan untuk menjelaskan..." rintih Pak Herman parau, memohon belas kasihan dengan suara bergetar.
"Penjelasan apa lagi yang harus kudengar dari seorang maling?" tanya Bayu dingin tanpa ampun.
"Mulai detik ini, kau dan seluruh komplotan busukmu di ruangan ini resmi dipecat!" tegas Bayu mutlak.
"Bukan hanya dipecat," timpal Kirana dengan suara lantang menggelegar.
"Seluruh aset pribadi kalian juga akan disita untuk menutupi kerugian perusahaan!"
Kakinya lemas, Pak Herman langsung ambruk berlutut di atas lantai marmer ruang rapat.
Wajah pria paruh baya itu basah oleh air mata kepanikan yang menjijikkan.
"Jangan lakukan ini, Tuan! Saya mohon ampun!" rintihnya histeris sambil merangkak mendekati sepatu Bayu.
Bayu hanya melambaikan tangan kecilnya, memberi isyarat dingin ke arah pintu utama.
Seketika itu pula, dua petugas keamanan yang berjaga di luar mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.
Di belakang mereka, tiga orang aparat kepolisian berseragam lengkap melangkah tegas memasuki ruangan dengan selembar surat penangkapan resmi di tangan.
"Tangkap mereka semua atas kasus penggelapan dana korporat," perintah Bayu mutlak tanpa secercah belas kasih.
"Siap, laksanakan, Tuan!" jawab para polisi serempak.
Pak Herman menjerit histeris manakala kedua pergelangan tangannya dikunci rapat oleh borgol besi kepolisian.
Para manajer lain yang berniat kabur terkunci mati langkahnya setelah disergap sigap oleh satpam di dekat pintu.
Deru ratapan, isak tangis, dan makian frustrasi seketika memenuhi ruang rapat mewah tersebut.
Satu per satu dari mereka diseret paksa keluar, meninggalkan ruangan dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Di tengah kekacauan itu, Kirana dengan tenang merapikan kembali tumpukan berkas di atas meja.
"Keputusan yang sangat telak, Tuan," puji Kirana sambil melirik Bayu lewat sorot mata penuh kekaguman.
"Pembersihan sampah harus dilakukan sampai ke akar-akarnya," balas Bayu datar sambil beranjak bangkit dari kursinya.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Berhasil membersihkan manajemen korup di Hotel Grand Horizon.]
[Mendapatkan bonus poin pengaruh korporat +30.]
Bayu merapikan kerah jasnya dengan tenang, lalu melangkah keluar meninggalkan ruang rapat untuk turun ke lantai bawah.
Kekuasaan penuh atas kerajaan perhotelan itu kini telah sepenuhnya terkunci di dalam genggamannya.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰