NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengejar Bus

Jam di dinding koridor RSUD menunjukkan pukul 21:32.

Bus terakhir Waingapu - Kupang berangkat jam 22:00. Dari RSUD ke terminal, butuh 20 menit naik ojek. Artinya Sari hanya punya 28 menit.

Sari menatap pintu Ruang Operasi 1, tempat Johan masih dioperasi. Menatap pintu Ruang Operasi 2, tempat Bintang harus segera dioperasi malam ini. Menatap pintu keluar RSUD yang gelap menuju terminal.

Tidak ada waktu untuk nangis lagi.

Sari berdiri. Tubuhnya masih gemetar karena donor darah dan pendarahan nifas, tapi matanya menyala tegas.

Ia menatap Dokter Anya yang masih memegang Bintang.

"Dokter Anya," kata Sari, suaranya serak tapi tegas, tidak seperti perempuan Kolorai yang biasa menunduk. "Tolong jaga Bintang. Masukkan dia ke operasi kaki malam ini. Pakai kertas cap jempol darah Johan itu. Saya titip anak saya."

Dokter Anya kaget. "Sari, kamu mau kemana? Kamu baru donor! Kamu masih pendarahan!"

Sari mengencangkan kain gendongan Bintang, memindahkan Bintang dari pelukannya ke pelukan Dokter Anya dengan hati-hati, meskipun hatinya robek.

"Anak saya butuh kaki. Suami saya butuh otak. Tapi saya dan anak saya butuh tanah untuk hidup. Kalau tanah itu hilang dibawa Lina malam ini, besok saya dan Bintang jadi gelandangan. Bintang sembuh kakinya pun mau tinggal di mana? Di selokan?"

Mama Leni yang baru datang dari mushola RSUD langsung memeluk Sari. "Sari, jangan! Kamu masih sakit!"

Sari memegang tangan Mama Leni dengan erat.

"Ma, tolong. Kalau saya tidak kembali dalam 1 jam, tolong bilang ke Bintang, Ibunya pergi bukan karena tidak sayang dia. Ibunya pergi karena sayang dia. Supaya dia punya rumah."

Sari lalu berbalik, berlari. Berlari dengan kaki telanjang yang masih berdarah dan bengkak habis melahirkan, keluar dari RSUD Waingapu, menuju jalan raya yang gelap.

Di depan RSUD, ada tukang ojek yang sedang nongkrong.

"Bang Ojek! Terminal! Cepat! 100 ribu!" teriak Sari.

Tukang ojek itu melihat perempuan pucat dengan daster penuh darah berlari, kaget, tapi langsung menyalakan motornya.

Motor melaju membelah malam Waingapu yang sepi. Angin malam menusuk luka-luka Sari. Darah nifasnya kembali keluar karena guncangan motor. Tapi Sari tidak peduli. Matanya hanya menatap jam di HP tukang ojek: 21:45.

Terminal Waingapu malam itu ramai. Bus besar Damri jurusan Kupang sudah menyalakan mesinnya. Asap hitam keluar dari knalpotnya. Penumpang terakhir sedang naik.

Sari turun dari ojek, tidak bayar dulu, langsung berlari ke arah bus.

"LINA! LINA! KELUAR KAU!" teriak Sari sekuat tenaga di tengah terminal yang bising.

Orang-orang terminal menoleh. Melihat perempuan dengan daster berdarah berteriak seperti orang gila.

Dari dalam bus, dari jendela baris paling belakang, Sari melihat wajah yang ia cari.

Lina. Sedang duduk dengan Kevin di pangkuannya, dan sebuah tas ransel hitam di pangkuannya juga. Tas yang berisi sertifikat tanah Sari.

Lina melihat Sari, wajahnya langsung pucat, lalu panik. Ia berteriak pada sopir bus, "PAK SOPIR! JALAN! JALAN SEKARANG! ADA ORANG GILA!"

Sopir bus yang tidak tahu apa-apa, langsung menutup pintu bus otomatis dan menginjak gas.

Bus besar itu mulai bergerak.

"TIDAK! JANGAN! TANAH SAYA!" Sari berlari mengejar bus yang mulai berjalan. Kakinya yang bengkak hampir tersandung.

Tukang ojek yang tadi mengantar Sari melihat itu, langsung teriak, "Woy! Bus! Berhenti! Ada yang ketinggalan!"

Tapi bus tidak berhenti. Bus semakin kencang.

Sari terus berlari. Air mata, darah, dan keringat bercampur. Di tengah pelariannya, ia terjatuh, lututnya menghantam aspal terminal yang kasar. Darah segar keluar lagi dari lututnya.

Orang terminal hanya menonton. Tidak ada yang membantu.

Saat bus hampir keluar dari terminal, sebuah mobil polisi Hilux yang tadi mengejar ambulans, masuk ke terminal dengan sirine meraung keras.

*WIIUUU... WIIUUU... BERHENTI! BUS DAMRI KUPANG BERHENTI!*

Mobil polisi itu memalang jalan keluar terminal, menghentikan bus Damri secara paksa.

Pintu bus terbuka. Polisi tua dan polisi muda yang tadi di Puskesmas turun dengan senjata.

"Semua penumpang turun! Ada laporan pencurian sertifikat tanah!"

Lina yang ada di dalam bus, panik setengah mati. Ia mencoba sembunyikan tas ransel hitam itu di bawah kursi.

Tapi Sari sudah naik ke dalam bus dengan napas terengah-engah, darah mengalir dari lutut dan dasternya, berdiri di depan Lina.

Dialog tegas yang ditunggu pembaca akhirnya terjadi.

Sari menatap Lina, bukan dengan tangis, tapi dengan tatapan seorang ibu yang sudah tidak punya rasa takut lagi.

"Ambil Kevin. Turun," kata Sari pelan, tapi tegas.

Lina memeluk Kevin erat. "Tidak! Ini tanah Johan! Johan kasih ke aku!"

"Johan tidak punya hak kasih tanahku ke kamu!" bentak Sari, suaranya menggelegar di dalam bus yang sunyi, membuat semua penumpang diam. "Tanah itu dari bapakku! Bapakku mati-matian kerja garam 30 tahun untuk beli tanah itu! Bukan untuk kau jual buat bengkel lakimu!"

Sari mengulurkan tangan.

"Kasih sertifikat itu, Lina. Atau saya teriak di sini, kamu yang lapor palsu percobaan pembunuhan, kamu yang mencuri, kamu yang mau bunuh suami orang dan anak cacat orang. Pilih."

Lina masih keras kepala. "Tidak! Aku tidak mencuri! Aku... aku pinjam!"

Polisi tua sudah naik ke dalam bus. "Bu Lina, kami sudah cek, sertifikat atas nama Sari ada di tas Anda. Serahkan, atau kami borgol Anda di depan anak Anda sendiri."

Mendengar kata borgol di depan anaknya, Lina akhirnya gemetar. Dengan tangan gemetar, ia membuka tas ransel hitamnya dan mengeluarkan map plastik biru.

Sertifikat tanah asli Sari. Masih ada cap jempol bapak Sari di belakangnya.

Sari merebutnya. Memeluknya erat-erat di dadanya yang berdarah.

"Terima kasih, Pak Polisi," kata Sari pada polisi, lalu menatap Lina untuk terakhir kalinya.

"Lina, dengar saya baik-baik," kata Sari, dengan suara tegas yang membuat seluruh bus merinding. "Kau boleh ambil suami saya. Kau boleh hina anak saya cacat. Tapi kau tidak akan pernah bisa ambil rumah anak saya. Karena rumah anak saya bukan dari tanah, tapi dari cinta ibunya. Dan cinta saya tidak bisa kau curi."

Sari turun dari bus, membawa sertifikat tanahnya. Bus Damri itu akhirnya dibiarkan pergi ke Kupang, membawa Lina dan Kevin yang menangis karena malu, tanpa tanah curian.

Di terminal, Sari jatuh terduduk di aspal, memeluk sertifikat tanahnya dan menangis. Bukan menangis sedih. Menangis lega.

Tapi kelegaan itu hanya 10 detik.

HP tukang ojek yang tadi ia pinjam berdering. Telepon dari Dokter Anya dari RSUD.

Suara Dokter Anya panik dan menangis di telepon.

"SARI! CEPAT BALIK KE RSUD! BINTANG! BINTANG KEJANG DI RUANG OPERASI! JOHAN JUGA! JOHAN PENDARAHAN LAGI! DUA-DUANYA KRITIS BERSAMAAN! DOKTER BILANG HARUS PILIH SALAH SATU YANG DITOLONG DULU! TIDAK BISA DUA-DUANYA!"

Sari yang baru saja berhasil merebut tanahnya, kini harus kembali berlari ke RSUD, dan harus memilih lagi, untuk kesekian kalinya dalam 24 jam:

Selamatkan Bintang yang kejang di ruang operasi kaki, atau selamatkan Johan yang pendarahan lagi di ruang operasi otak?

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!