NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — Kabar yang Mengejutkan

Suara lonceng kecil di atas pintu Sweet Morning Bakery berbunyi ketika Alisha Amanda memasuki tempat kerjanya.

Aroma roti hangat langsung menyambutnya. Beberapa pelanggan sudah duduk di dekat jendela, sementara para pegawai sibuk menyiapkan pesanan yang terus berdatangan.

Alisha menghela napas lega.

Setelah dua hari disibukkan dengan persiapan pernikahan, akhirnya dia kembali ke tempat yang sudah cukup akrab baginya.

Dia merapikan tas di ruang pegawai, mengganti pakaiannya dengan seragam kerja, lalu mengikat rambutnya seperti biasa.

Belum sempat dia keluar dari ruangan, suara seseorang terdengar dari arah pintu.

"ALISHA!"

Alisha menoleh.

Mira, salah seorang teman kerjanya, berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya menunjukkan campuran rasa lega dan penasaran.

Di belakangnya, Rani sedang membawa beberapa kotak kue.

Alisha mengerutkan kening.

"Kenapa?"

Mira berjalan mendekat.

"Kamu ke mana saja selama dua hari ini?"

"Ada urusan yang harus kuselesaikan."

"Urusan apa sampai dua hari nggak masuk kerja?"

Alisha tersenyum kecil sambil merapikan celemeknya.

"Urusan pribadi."

Mira langsung menyipitkan mata.

"Urusan pribadi?"

"Iya."

"Kamu tahu nggak, selama kamu nggak masuk, aku yang harus membantu menyelesaikan beberapa pekerjaanmu?"

Alisha menatapnya dengan rasa bersalah.

"Maaf, Mir. Aku sudah meminta izin sebelumnya, kan?"

"Iya, aku tahu kamu sudah izin. Aku bukan marah karena itu." Mira mendekatkan wajahnya sedikit. "Aku cuma penasaran. Kamu biasanya selalu datang kerja. Tiba-tiba dua hari menghilang, sekarang datang dengan wajah yang kelihatan berbeda."

Alisha spontan menyentuh pipinya.

"Wajahku kenapa?"

"Bukan kenapa-kenapa." Mira menyilangkan tangan. "Kamu kelihatan seperti sedang menyimpan rahasia."

Rani yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut berbicara.

"Jangan-jangan kamu punya pacar?"

Alisha langsung menggeleng.

"Nggak."

"Terus?"

"Nggak ada apa-apa."

Mira dan Rani saling pandang.

Jawaban Alisha justru membuat mereka semakin penasaran.

"Baiklah," kata Mira sambil menunjuknya. "Nanti kita lanjutkan. Sekarang bantu aku dulu. Pesanan pelanggan sudah menumpuk."

Alisha tertawa kecil.

"Iya, Bos."

Mereka akhirnya kembali bekerja.

Alisha membantu menyiapkan pesanan, memeriksa kotak-kotak kue, dan memastikan semuanya tersusun dengan benar sebelum diserahkan kepada pelanggan.

Untuk beberapa saat, dia berhasil melupakan kegugupan yang dirasakannya sejak bangun tidur.

Namun, dia tahu pertanyaan teman-temannya belum benar-benar berakhir.

Dan benar saja, ketika keadaan toko mulai lebih tenang, Mira kembali menghampirinya.

Kali ini, Rani ikut duduk di kursi dekat meja kerja.

"Alisha, sekarang jawab dengan jujur," ujar Mira.

Alisha menoleh.

"Jawab apa?"

"Kenapa kamu mengambil izin dua hari?"

Alisha menghela napas pelan.

Dia sebenarnya tidak berniat menyembunyikan kabar pernikahannya selamanya. Hanya saja, semuanya berlangsung begitu cepat sehingga dia belum menemukan waktu yang tepat untuk bercerita.

Namun, sekarang dia merasa sudah waktunya memberi tahu mereka.

"Aku mengambil izin karena sedang mempersiapkan pernikahan."

Mira terdiam.

Rani berhenti merapikan kotak kue.

Keduanya menatap Alisha tanpa berkedip, seolah sedang memastikan bahwa mereka tidak salah mendengar.

Beberapa detik kemudian, Mira berseru keras.

"HAH?!"

Alisha langsung terkejut.

"Mir, pelan-pelan!"

"KAMU MAU MENIKAH?!"

Rani bahkan sampai meletakkan kotak kue yang dipegangnya ke atas meja.

"Tunggu dulu!" Rani mencondongkan tubuh ke depan. "Kamu serius, Alisha?"

Alisha mengangguk pelan.

"Iya."

Mira menatapnya dengan wajah tidak percaya.

"Sejak kapan?"

"Sudah beberapa waktu lalu."

"Beberapa waktu lalu?" Mira mengulang perkataannya. "Maksudmu, selama ini kamu sudah punya rencana menikah dan nggak pernah cerita kepada kami?"

Alisha menunduk sedikit.

"Maaf. Semuanya terjadi cukup cepat."

Rani masih terlihat terkejut.

"Ya ampun, Alisha! Kita kerja bersama hampir setiap hari. Kamu nggak pernah cerita kalau punya rencana menikah!"

"Aku tahu."

"Terus, kapan hari pernikahanmu?"

Alisha terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Besok."

Kali ini, Mira dan Rani benar-benar kehilangan kata-kata.

Mira membuka mulutnya, kemudian menutupnya lagi. Dia menoleh kepada Rani, seolah berharap temannya itu bisa menjelaskan apa yang baru saja mereka dengar.

Rani hanya menggeleng pelan.

"Besok?" ulangnya.

Alisha mengangguk.

"Iya."

Mira menepuk dahinya sendiri.

"Alisha Amanda, kamu benar-benar membuatku terkejut!"

Alisha tertawa kecil karena tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku minta maaf karena baru cerita sekarang."

Rani akhirnya menarik kursinya lebih dekat.

"Baiklah. Sekarang aku mau tahu satu hal."

"Apa?"

"Siapa calon suamimu?"

Pertanyaan itu membuat senyum Alisha perlahan memudar.

Dia tahu pertanyaan tersebut pasti akan muncul.

Dan dia juga sudah menyiapkan jawaban yang paling sederhana.

"Namanya Adrian."

Mira langsung menyambung, "Adrian siapa?"

"Adrian Mahendra."

Mira mengernyit.

"Adrian Mahendra?"

Alisha mengangguk.

"Iya."

Rani terlihat berpikir sejenak, tetapi dia tidak langsung mengenali nama itu.

"Kalian kenal dari mana?" tanyanya.

Alisha terdiam sebentar.

Ada banyak hal yang tidak bisa dia ceritakan kepada mereka. Tentang keadaan ibunya, kesepakatan yang dibuatnya dengan Adrian, dan alasan sebenarnya di balik pernikahan tersebut.

Dia juga tidak bisa menjelaskan bahwa pernikahan mereka akan berlangsung berdasarkan kontrak satu tahun.

Rahasia itu harus tetap dijaga.

"Kami dikenalkan melalui keluarga," jawab Alisha akhirnya.

Mira memperhatikan wajahnya.

"Jadi, kalian memang sudah saling mengenal?"

Alisha tidak langsung menjawab.

"Kami sudah bertemu beberapa kali."

Jawaban itu benar, meskipun tidak menjelaskan seluruh keadaan.

Rani tersenyum lebar.

"Yang penting, kamu bahagia, kan?"

Alisha terdiam sesaat.

Dia ingin menjawab dengan mudah, tetapi kata-kata itu justru membuatnya berpikir.

Bahagia.

Apakah dia benar-benar bahagia?

Dia tidak tahu.

Namun, dia juga tidak ingin membuat teman-temannya khawatir.

"Aku berharap semuanya berjalan dengan baik," jawabnya pelan.

Mira memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi Alisha.

Kali ini, dia tidak langsung melontarkan pertanyaan lain.

"Kalau begitu, kami doakan semuanya lancar," katanya. "Tapi setelah menikah, jangan sampai kamu lupa sama kami."

Alisha tersenyum.

"Tentu saja tidak."

Rani mengangguk bersemangat.

"Dan kalau suatu hari kamu punya waktu, ceritakan lebih banyak tentang suamimu nanti."

Alisha hanya tertawa kecil.

Dia tidak bisa menjanjikan bahwa dirinya akan menceritakan semuanya.

Namun, dia bisa berjanji bahwa persahabatan mereka tidak akan sengaja dia tinggalkan.

"Baiklah," jawabnya.

Mira tiba-tiba menepuk lengannya.

"Tunggu! Kamu sudah punya foto calon suamimu?"

Alisha menggeleng.

"Belum."

Mira menatapnya seolah baru mendengar hal yang lebih mengejutkan daripada kabar pernikahan itu sendiri.

"Kamu mau menikah besok, tapi kami bahkan belum melihat wajah calon suamimu?"

Alisha tertawa canggung.

"Memangnya kalian mau menikah dengannya?"

Rani langsung tertawa mendengar jawaban itu.

Mira berpura-pura memasang wajah kesal.

"Bukan begitu! Kami cuma penasaran!"

Alisha ikut tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, dia merasa sedikit lebih ringan.

Meskipun tidak bisa menceritakan rahasia sebenarnya, setidaknya dia sudah memberi tahu teman-temannya tentang perubahan besar dalam hidupnya.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

---

Menjelang siang, suasana Sweet Morning Bakery kembali sibuk.

Mira dan Rani harus melayani pelanggan, sedangkan Alisha kembali membantu menyiapkan pesanan.

Namun, sesekali Mira masih meliriknya dengan ekspresi penuh rasa penasaran.

Ketika mereka berpapasan di dekat etalase, Mira berbisik.

"Alisha."

"Hm?"

"Aku masih nggak percaya kamu mau menikah besok."

Alisha menggeleng sambil tersenyum.

"Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali."

"Karena memang mengejutkan!"

Rani yang sedang membawa nampan ikut menyela.

"Sudahlah, Mir. Biarkan Alisha bekerja. Nanti pelanggan menunggu."

Mira menghela napas dramatis.

"Baiklah. Tapi aku belum selesai bertanya."

Alisha tertawa kecil sebelum kembali mengerjakan tugasnya.

Dia bersyukur memiliki teman-teman yang bisa membuat suasana terasa lebih ringan.

Namun, ketika kembali sendirian di ruang belakang, senyumnya perlahan memudar.

Dia melihat ponselnya.

Ada pesan dari Daniel yang mengingatkannya bahwa seluruh persiapan untuk esok hari sudah dikonfirmasi.

Alisha membalas pesan tersebut dengan singkat.

Setelah itu, dia memandangi layar ponsel beberapa saat.

Besok, dia akan menikah.

Dan setelah itu, tidak ada lagi kesempatan untuk menunda keputusan yang telah diambilnya.

Dia menghela napas, memasukkan ponsel ke dalam saku, lalu kembali bekerja.

Apa pun yang menantinya, dia harus menjalaninya.

---

Di kantor Mahendra Group, Adrian sedang menyelesaikan sebuah pembahasan bersama Daniel ketika ponselnya bergetar.

Pesan dari ibunya muncul di layar.

Ratna Mahendra: Adrian, jangan lupa pulang tepat waktu hari ini. Besok adalah hari pernikahanmu.

Adrian membaca pesan tersebut, lalu membalas singkat.

Adrian: Baik, Ma.

Daniel yang berdiri di hadapannya melihat Adrian meletakkan ponsel.

"Semua dokumen sudah selesai diperiksa, Pak?"

"Sudah."

"Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu Anda tanda tangani hari ini."

Adrian mengangguk.

"Baik. Kirimkan laporan yang tersisa ke email saya. Saya akan memeriksanya nanti."

Daniel tampak sedikit ragu sebelum bertanya, "Apakah Anda akan pulang setelah ini?"

Adrian menutup laptopnya.

"Iya. Masih ada beberapa hal yang harus saya persiapkan untuk besok."

"Baik, Pak."

Daniel tidak menanyakan lebih jauh.

Dia tahu Adrian tidak membutuhkan banyak bantuan untuk mempersiapkan dirinya sendiri. Semua yang berkaitan dengan acara telah dikoordinasikan sebelumnya.

Setelah Daniel meninggalkan ruangan, Adrian berdiri dan mengambil jasnya.

Dia berjalan menuju pintu tanpa menunjukkan kegugupan yang berarti.

Besok, dia akan menikahi Alisha Amanda.

Namun, bahkan pada hari terakhir sebelum pernikahan, pikirannya masih dipenuhi tanggung jawab perusahaan.

Adrian tidak berniat mengubah kebiasaannya hanya karena sebuah acara.

Dia hanya akan menjalani semuanya sesuai jadwal.

Setelah itu, dia akan kembali bekerja.

---

Alisha menyelesaikan pekerjaannya menjelang sore.

Sebelum pulang, dia menghampiri Mira dan Rani yang sedang merapikan area kerja.

"Aku pulang dulu, ya."

Mira segera menoleh.

"Besok benar-benar menikah?"

Alisha tertawa kecil.

"Iya, Mir."

"Baiklah. Semoga semuanya lancar."

Rani tersenyum hangat.

"Jangan lupa kabari kami setelah acaranya."

Alisha mengangguk.

"Pasti."

Mira kemudian mendekat dan memeluk Alisha sebentar.

"Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang baik, ya."

Alisha sempat terdiam sebelum membalas pelukan itu.

"Terima kasih, Mir."

Setelah berpamitan, dia mengambil tasnya dan meninggalkan toko.

Udara sore terasa cukup sejuk ketika dia berjalan menuju kendaraan yang akan membawanya pulang.

Di sepanjang perjalanan, pikirannya kembali tertuju kepada ibunya.

Dia ingin mengunjungi Ratih sebelum hari pernikahan tiba.

Dia juga ingin memastikan bahwa semua barang yang diperlukan sudah siap.

Besok akan menjadi hari yang panjang.

Dan malam ini adalah kesempatan terakhir baginya untuk beristirahat sebelum memulai kehidupan baru.

---

Ketika tiba di rumah sakit, Alisha mendapati ibunya sedang beristirahat.

Dia masuk dengan langkah pelan agar tidak mengganggu.

Namun, Ratih segera membuka mata ketika mendengar suara pintu.

"Alisha?"

"Iya, Bu. Aku datang."

Alisha mendekat, lalu duduk di samping ranjang.

"Kamu sudah selesai bekerja?" tanya Ratih.

"Sudah."

"Bagaimana semuanya?"

Alisha tersenyum kecil.

"Baik, Bu. Aku juga sudah memberi tahu teman-teman di tempat kerja bahwa aku akan menikah besok."

Ratih tampak sedikit terkejut.

"Baru sekarang kamu memberi tahu mereka?"

Alisha mengangguk.

"Iya. Mereka sangat terkejut."

Ratih tertawa pelan.

"Tentu saja. Kamu memang jarang bercerita tentang kehidupan pribadimu."

Alisha ikut tersenyum.

"Aku juga tidak tahu harus mulai dari mana."

Ratih menggenggam tangannya.

"Yang penting, jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain. Jalani semuanya dengan tenang."

Alisha mengangguk.

"Iya, Bu."

Mereka berbincang cukup lama sebelum Alisha berpamitan.

Ketika meninggalkan rumah sakit, Alisha merasa sedikit lebih tenang.

Teman-temannya sudah mengetahui kabar pernikahannya.

Ibunya juga sudah mengetahui bahwa hari besar itu tinggal menghitung waktu.

Kini, dia hanya perlu mempersiapkan dirinya untuk esok hari.

---

Malam mulai menyelimuti kota ketika Alisha kembali ke kamarnya.

Dia meletakkan tas di atas meja, lalu memeriksa barang-barang yang akan dibawanya besok.

Semuanya sudah tersusun rapi.

Tidak ada lagi urusan besar yang harus diselesaikan malam itu.

Alisha duduk di tepi tempat tidur, menatap gaun yang tergantung di dekat lemari.

Besok, dia akan mengenakannya.

Besok, dia akan berdiri di samping Adrian sebagai pengantin perempuan.

Dan setelah semua acara selesai, dia akan mulai menjalani kehidupan bersama seorang laki-laki yang masih terasa asing baginya.

Alisha menarik napas panjang.

Dia tidak tahu apakah pernikahan ini akan membawa kebahagiaan atau justru menghadirkan tantangan baru.

Namun, dia tidak ingin memikirkan hal-hal yang belum terjadi.

Untuk malam ini, dia hanya ingin beristirahat.

Di tempat lain, Adrian juga telah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya dan bersiap tidur.

Tidak ada pesan khusus yang dia kirimkan kepada Alisha.

Tidak ada percakapan panjang di antara mereka.

Keduanya kembali menjalani malam masing-masing, tanpa mengetahui apa yang sedang dipikirkan satu sama lain.

Besok, mereka akan berdiri di hadapan keluarga dan tamu undangan sebagai pasangan pengantin.

Namun, di balik pernikahan itu, masih ada rahasia yang tidak diketahui siapa pun selain mereka bertiga.

Adrian.

Alisha.

Dan Daniel.

Rahasia yang akan tetap mereka jaga, bahkan setelah semua orang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!