Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patahkan Kedua Tangannya!
Yoselin berdiri di pelataran gedung bertingkat milik V. Corp, menatap arsitektur megah yang menjulang tinggi di depannya. Hari ini ia harus menghadiri pertemuan penting untuk membahas sisa proyek yang kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Yoselin menghela napas panjang. Sejujurnya, ia masih sedikit bingung dengan keputusan mendadak sang CEO yang menetapkan syarat bahwa V. Corp hanya mau menandatangani kelanjutan kontrak asal Yoselin yang bertanggung jawab penuh atas seluruh jalannya proyek.
Resepsionis yang sudah mengenali Yoselin tersenyum ramah begitu melihat kehadirannya. "Selamat pagi, Bu Yoselin. Ruang rapat di lantai atas sudah disiapkan," sapanya sopan.
"Selamat pagi. Terima kasih banyak," balas Yoselin mengulas senyum tipis.
Rapat kali ini digelar di ruang rapat utama. Suasana terasa sangat formal, dihadiri oleh Javier, Sergio, dua orang perwakilan dari divisi pemasaran V. Corp, serta Yoselin. Dengan tenang dan profesional, Yoselin mempresentasikan detail proyek Beauty Habits yang akan segera diluncurkan dalam waktu dekat.
Namun, sepanjang presentasi berlangsung, Javier terus mengerutkan keningnya. Sepasang mata abu-abu milik sang CEO menatap Yoselin tanpa kedip. Javier menyadari ada sesuatu yang sangat berbeda dari wanita itu hari ini. Yoselin terlihat begitu pucat, lelah, dan jelas-jelas sedang tidak baik-baik saja meski tutur katanya tetap tenang.
"Demikian pemaparan mengenai strategi peluncuran Beauty Habits. Apakah ada poin yang perlu kita tinjau kembali, Pak Vernand?" tanya Yoselin mengakhiri presentasinya.
Javier bersedekap dada, lalu menatap seluruh orang di ruangan itu. "Rapat selesai. Kalian semua boleh keluar, kecuali Yoselin. Masih ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Baik, Pak," sahut Sergio dan dua staf lainnya serempak seraya merapikan berkas dan melangkah keluar dari ruang rapat.
Pintu kaca tebal terkunci otomatis, menyisakan Yoselin dan Javier dalam keheningan yang intens. Yoselin terlihat bingung, namun berusaha tetap bersikap profesional sebagai mitra bisnis yang baik.
"Ada hal lain yang perlu direvisi mengenai dokumennya, Pak Vernand?" tanya Yoselin ramah.
Javier tidak menjawab. Pria bertubuh jangkung itu bangkit dari kursinya dan melangkah mendekat. Ia mengikis jarak di antara mereka hingga posisi wajah keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
Dari jarak sedekat ini, mata tajam Javier menangkap detail yang disembunyikan Yoselin. Ia melihat memar samar dan luka kecil di sudut bibir bawah Yoselin, serta pipinya yang sedikit bengkak meski sudah ditutupi lapisan makeup tebal.
Jemari Javier terangkat, berniat menyentuh sudut bibir Yoselin yang terluka dengan lembut. Namun, Yoselin dengan refleks melangkah mundur, menghindari sentuhan itu.
"Maaf, Pak Vernand. Apa sebenarnya yang ingin kita bahas?" tanya Yoselin dengan nada suara sopan namun membentengi diri.
Tatapan mata abu-abu Javier seketika mengeras. "Siapa yang melakukan ini padamu, Yoselin?" tanyanya dengan suara berat dan tajam.
Yoselin terdiam sejenak, memalingkan pandangannya ke samping. "Maaf, Pak. Saya rasa saya tidak berhak menjawab pertanyaan pribadi seperti itu. Kita di sini hanya untuk membahas urusan bisnis."
Javier mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah mulai membakar dadanya. Ia sangat benci melihat Yoselin yang terus berpura-pura kuat dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di depannya.
Tanpa peringatan, Javier melangkah cepat mengikis jarak dan langsung merangkul pinggang Yoselin, menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya secara posesif.
"Ehh! Pak Vernand!" Yoselin menjerit kecil, kaget dan gugup luar biasa atas tindakan mendadak tersebut. Tangannya tertahan di dada bidang Javier, berusaha mendorongnya.
"Lepaskan saya!"
"Katakan padaku, Yoselin!" bentak Javier menuntut, menundukkan wajahnya tepat di atas Yoselin.
"Siapa yang berani menyentuh dan melukaimu seperti ini?!"
Yoselin mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tetap bungkam dan menolak bersuara.
"Apakah ini perbuatan suamimu?" bisik Javier dengan nada suara yang kian mendingin.
Mendengar kata suamimu, tubuh Yoselin seketika bergetar pelan. Ia membuang mukanya ke samping, enggan menatap mata Javier, sebuah reaksi spontan yang menjadi jawaban mengonfirmasi segalanya bagi Javier.
Saat Yoselin memalingkan wajahnya, kerah baju turtleneck berwarna butter yellow yang dikenakannya sedikit tertarik. Saat itulah, mata Javier menangkap bayangan kemerahan di balik kain tebal tersebut.
Dengan gerakan cepat dan tanpa permisi, Javier menurunkan kerah baju tinggi itu.
Deg.
Javier membeku seketika. Sepasang matanya membelalak lebar menyaksikan bekas cengkeraman dan memar kebiruan yang melingkar sempurna mengelilingi leher mulus Yoselin, bekas cekikan yang sangat jelas dan mengerikan.
Darah Javier seketika mendidih. Amarah yang sangat dahsyat dan tak terkendalikan membakar seluruh kesadarannya. Napas sang CEO memburu kasar, matanya menyipit penuh tajuk dendam.
"Sialan..." desis Javier dengan suara yang sangat menyeramkan.
Sadar rahasia lukanya terbongkar, Yoselin langsung mengumpulkan seluruh tenaganya dan mendorong dada Javier hingga pegangan pria itu terlepas.
"Pak Vernand! Anda sungguh tidak sopan!" tegur Yoselin dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca menahan rasa malu dan trauma yang mendadak bangkit kembali.
Yoselin dengan cepat menarik kembali kerah bajunya ke atas, merapikan penampilannya yang berantakan. Ia mengambil tas kerjanya di atas meja dengan jemari yang gemetar hebat.
"Saya permisi dulu. Pembahasan proyek ini bisa kita lanjutkan via email," ucap Yoselin cepat, lalu berbalik dan berlari keluar dari ruang rapat tanpa menoleh lagi.
Javier berdiri mematung di tengah ruangan, menatap pintu yang tertutup rapat. Tangannya mengepal begitu keras hingga lengannya gemetar hebat akibat menahan amarah yang berada di puncak batas.
"Edward Galvano bajingan!" seru Javier tajam, suaranya menggema penuh kemurkaan di dalam ruang rapat yang sepi.
"Beraninya kamu... Beraninya kamu menyentuhnya sampai seperti itu!"
Javier merogoh saku jasnya dengan kasar dan mengeluarkan ponselnya. Ia langsung mendial nomor pribadi Sergio.
Panggilan disambut pada ketukan pertama. "Ya, Tuan Javier?"
"Sergio!" panggil Javier dengan suara berat yang dipenuhi ancaman pembunuhan.
"Beri balasan setimpal untuk Edward Galvano sekarang juga!"
Di seberang telepon, Sergio tertegun mendengar nada suara atasannya yang tidak pernah semarah ini.
"Maaf, Tuan... Beri balasan? Atas alasan apa kita harus menyerang perusahaan atau individu Edward Galvano secara langsung?"
"Jangan banyak tanya, Sergio!" amuk Javier histeris, menyapu beberapa dokumen di meja hingga berserakan ke lantai.
"Lakukan saja perintahku! Cari bajingan itu malam ini, hancurkan bisnis tekstilnya, dan patahkan kedua tangannya!"
"T-Tuan Javier? Anda serius?!" seru Sergio terperanjat di balik telepon.
"Aku tidak pernah sebercanda ini!" tegak Javier penuh penekanan yang mendinginkan bulu kuduk.
"Pria brengsek itu sudah berani menyiksa Yoselin! Buat dia merasakan penderitaan yang sepuluh kali lipat lebih menyakitkan! Lakukan sekarang!"
Javier mematikan sambungan telepon secara sepihak dan melempar ponselnya ke atas meja. Ia menyandarkan kedua tangannya di tepi meja, menundukkan kepala dengan napas yang masih memburu kasar. Bayangan bekas cekikan di leher Yoselin terus berputar di kepalanya, mematangkan tekadnya untuk menghancurkan hidup Edward Galvano tanpa belas kasihan.
Bersambung...