NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Persekutuan di Bangku taman

Laras tidak menyebutnya persekutuan. Ia menyebutnya "konsultasi".

"Kamu pasien, aku dokter," katanya sambil menyodorkan secangkir teh di ruang kerjanya, setelah memastikan pintu terkunci dan perawat Rini diminta menjaga lorong. "Dalam konsultasi, pasien bicara jujur, dokter mendengar. Apa pun yang terucap di ruangan ini tidak keluar."

"Saya bukan pasien, Bu."

"Hari ini kamu pasien. Besok kamu mungkin saksi. Lusa..." Laras tidak menyelesaikan kalimatnya. "Ceritakan semuanya dari awal. Jangan lewati bagian yang memalukan."

Andien bercerita selama hampir satu jam. Tentang malam badai dan erangan di antara deru sungai, tentang gubuk bambu dan luka yang rapi dan dalam, tentang bubur dan pelita dan kebun kangkung. Tentang lamaran di selasar rumah sakit dengan syarat rahasia yang terdengar begitu masuk akal. Laras mendengarkan dengan siku di meja dan dagu di atas jari yang bertaut, sesekali mengetik catatan singkat di tabletnya.

Hanya satu kali ia menyela. Ketika Andien menyebut bahwa Carlo tidak membawa dompet atau ponsel saat ditemukan, Laras mengangkat tangan.

"Tidak ada dompet? Tidak ada ponsel? Cincin kawinnya?"

"Cincin..." Andien mengingat-ingat. "Tidak ada, Bu. Tapi ada garis pucat di jarinya. Saya baru sadar saat akad."

"Garis pucat." Laras mengetik satu kata. "Artinya cincinnya baru dilepas, atau dilepas paksa. Orang yang menusuknya mengambil semua yang bisa mengidentifikasi dia." Ia mengangkat mata. "Atau dia sendiri yang melepasnya sebelum malam itu."

"Maksud Ibu?"

"Aku belum tahu." Laras menggeleng. "Aku hanya mencatat gejala."

---

Pukul empat sore, mereka berpisah di pintu belakang rumah sakit seperti dua orang asing. Laras memberi Andien selembar kertas kecil dengan nomor yang dihafalnya, lalu membakarnya di wastafel toilet staf. Janji berikutnya ditetapkan: bangku taman di belakang gedung rawat inap, pukul enam sore keesokan harinya, saat pergantian shift dan lorong penuh orang.

"Jangan telepon dari ponsel pemberian Carlo," pesan Laras. "Gunakan telepon umum kalau perlu. Dan jangan menceritakan apa pun pada Bu Wati."

"Bu Wati orang baik, Bu."

"Aku yakin. Justru karena itu." Laras menatapnya serius. "Orang baik yang tahu terlalu banyak sering dipaksa memilih. Jangan beri dia pilihan yang menyakitkan."

Andien mengangguk. Ia pulang dengan taksi, menatap kota dari jendela, merasa seperti orang yang baru saja menandatangani kontrak tanpa membaca isinya. Takut, tetapi anehnya, tidak menyesal.

---

Malam itu Carlo pulang ke rumah megah di sisi lain kota dan menemukan istrinya sedang memasak.

Laras jarang memasak. Dalam dua tahun pernikahan mereka, dapur adalah wilayah Bik Narti, yang sejak maghrib sudah dibebastugaskan. Tetapi malam ini ada bau bawang putih tumis dan kaldu ayam yang mengepul dari balik sekat kaca, dan Laras berdiri di depan kompor dengan celemek kelabu, rambut diikat tinggi.

"Kamu masak?"

"Sup ayam. Resep ibuku." Laras tidak menoleh. "Duduklah, Mas. Sebentar lagi matang."

Carlo duduk. Ia mengamati punggung istrinya dengan waspada yang berusaha ia sembunyikan, membaca setiap gerakan seperti membaca laporan keuangan yang terlalu rapi. Tadi pagi perempuan ini membongkar kebohongannya dengan map cokelat. Sekarang ia memasak sup.

"Maaf soal tadi pagi," kata Laras tiba-tiba, meletakkan mangkuk di depannya. "Aku terlalu emosional. Mungkin kurang tidur, atau terlalu banyak membaca laporan lab."

Carlo mengerjap. "Kamu... minta maaf?"

"Aku seorang dokter, Mas. Aku tahu bahwa kecurigaan tanpa bukti adalah penyakit. Aku sudah terlalu lama membiarkan diri sakit." Ia tersenyum, hangat dan lelah. "Aku mau kita mulai lagi. Tanpa saling menginterogasi."

Seharusnya itu melegakan. Tetapi Carlo, yang selama bertahun-tahun bertahan hidup di ruang rapat dengan membaca jeda dan perubahan nada lawan bicara, merasakan sesuatu yang halus berdenyut di tengkuknya. Laras tidak pernah minta maaf tanpa syarat.

Namun ia mengangguk dan menyendok sup. Rasanya enak, hangat, dan sedikit asin oleh sesuatu yang bukan garam.

Ia tidak tahu bahwa tiga jam sebelumnya, istrinya yang sama sedang menulis nama *Hendra Subroto* di tengah halaman kosong dan menarik delapan garis dari sana ke berbagai arah.

---

Laras tidur di kamar tamu malam itu, dengan dalih tidak ingin mengganggu pemulihan Carlo. Tengah malam, ketika yakin napas suaminya sudah teratur dari balik pintu, ia membuka laptop dan mengetik kata sandi yang hanya diketahui seorang perawat senior bernama Tuti, teman kuliah lamanya yang kini bekerja di bagian rekam medis sebuah klinik swasta.

Pesan masuk kurang dari sepuluh menit setelah ia mengirim permintaan.

*Aku cek catatan klinik tempat Bu Hendra dirawat tahun lalu. Anehnya, Bu Hendra baru meninggal setahun lalu, tapi pembayaran perawatan terakhirnya dilakukan oleh rekening perusahaan. Prasetia Group. Bukan Pak Hendra pribadi.*

Laras memandangi layar lama sekali. Istri Hendra meninggal setelah sakit panjang, dan semua orang menganggap Hendra setia mengurusnya. Tetapi biaya perawatan itu sebenarnya dibayar perusahaan. Itu bukan pelanggaran besar. Hanya satu kejanggalan kecil, seperti noda tak jelas di hasil rontgen.

Ia mencatatnya di halaman yang sama, lalu menarik satu garis lagi.

Pagi harinya ia menelepon ayahnya.

"Ayah. Kalau Ayah bisa mengingat, siapa saja yang pernah menyarankan Carlo untuk naik jabatan lebih cepat dua tahun lalu?"

Hartono Prameswari terdiam di ujung sana, suara napasnya berat. "Kenapa kamu bertanya?"

"Hanya rasa ingin tahu, Yah."

"Kamu tidak pernah bertanya hanya karena ingin tahu." Hartono mendengus. "Hendra. Dia yang meyakinkan almarhum ayah Carlo. Katanya Carlo siap, katanya perusahaan butuh darah muda."

"Dan setelah ayah Carlo meninggal?"

"Hendra yang mengurus pemindahan wasiat. Kenapa?"

Laras memejamkan mata. "Tidak apa-apa, Yah. Nanti kuceritakan."

Ia menutup telepon sebelum ayahnya sempat mendesak.

---

Pukul enam sore, taman belakang gedung rawat inap hampir kosong. Lampu-lampu jalan baru menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning ke permukaan kolam ikan kecil yang dikelilingi bangku-bangku besi.

Andien datang lebih awal. Ia duduk di bangku paling ujung dengan tas kain di pangkuan, memandang ikan koi yang berenang malas. Ketika Laras duduk di sampingnya tanpa menyapa, seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi bangku, ia hampir melompat.

"Santai," kata Laras pelan tanpa menoleh. "Pura-pura kita sedang menikmati ikan."

"Baik, Bu."

"Pertama, aku punya sesuatu untukmu."

Sebuah benda kecil jatuh ke tas kain Andien tanpa suara. Andien meraba dan menemukan sesuatu sebesar kancing baju, dingin dan halus.

"Perekam suara. Tekan sekali untuk mulai, sekali lagi untuk berhenti. Baterainya tahan dua belas jam." Laras menatap kolam. "Jangan menyalakannya kalau kamu tidak yakin ada yang penting. Dan Andien, kalau ada bahaya, lupakan semuanya dan pergi."

"Apa yang harus saya rekam, Bu?"

"Siapa pun yang datang ke paviliun. Terutama kalau itu Hendra." Laras akhirnya menoleh, matanya tajam di bawah cahaya lampu. "Aku menemukan beberapa hal. Bukan bukti, hanya pola. Tapi pola cukup untuk membuatku tidak tidur."

Ia menceritakan pada Andien, secara ringkas, tentang tagihan klinik, tentang kenaikan jabatan Carlo yang terlalu cepat, tentang pemindahan wasiat yang sepenuhnya dikendalikan satu orang. Andien mendengarkan sambil memegang perekam kecil di dalam tas, jantungnya berdetak pelan dan berat.

"Bu Laras yakin Pak Hendra yang..."

"Aku tidak yakin. Aku curiga." Laras mengoreksi dengan lembut. "Perbedaannya penting. Dalam kedokteran, kita tidak mengobati kecurigaan. Kita mencari bukti."

"Dan kalau ternyata bukan dia?"

"Maka aku salah menuduh seseorang yang sudah menyayangi suamiku selama dua puluh tahun, dan aku akan minta maaf pada Hendra dengan tulus." Laras tersenyum tipis. "Tapi aku tidak berpikir itu yang akan terjadi."

Hening beberapa saat. Seekor koi melompat kecil, menciptakan riak yang menyebar perlahan.

"Andien."

"Iya, Bu?"

"Aku belum bilang terima kasih." Suara Laras sangat rendah. "Kebanyakan orang di posisimu akan lari, atau memeras, atau menghancurkan. Kamu datang dengan tangan kosong dan mengaku bersalah atas sesuatu yang bukan salahmu."

"Saya hanya tidak tahan menyimpannya sendiri, Bu."

"Itu alasan terbaik untuk berbuat jujur." Laras berdiri, merapikan sweternya. "Pulanglah. Bersikap seperti biasa. Kalau Carlo datang, jangan menanyakan apa pun. Kalau Hendra datang, dengarkan dan rekam."

"Bagaimana Ibu tahu dia akan datang?"

Laras berhenti sejenak, lalu tersenyum samar. "Karena orang yang merasa terancam selalu ingin melihat musuhnya dari dekat. Dan sekarang, di mata Hendra, kamu adalah ancaman. Dia hanya belum tahu seberapa besar."

Ia berjalan pergi tanpa menoleh.

---

Di paviliun, Bu Wati menunggu dengan secangkir wedang jahe di meja dapur. Ia tidak bertanya ke mana Andien pergi. Hanya menyodorkan cangkir itu dan berkata pelan, sambil menatap lubang angin kecil di dinding dekat kompor:

"Mbak, kalau suatu hari Mbak butuh mendengar sesuatu dari ruang tamu tanpa terlihat, di situ suaranya paling jelas."

Andien menatapnya. Bu Wati buru-buru memalingkan wajah dan mulai mengelap meja yang sudah bersih.

"Saya cuma bilang saja, Mbak. Orang tua suka bicara tidak jelas."

"Terima kasih, Bu."

Malam itu Andien berbaring di ranjang besar berseprai putih, perekam kecil tergenggam di telapak tangannya. Di luar jendela, lampu taman menerangi bayangan pohon palem yang bergoyang. Di nakas, telepon dari Carlo diam, tidak berdering.

Ia menatap langit-langit lama. Tiga bulan lalu ia hanya gadis desa yang memikirkan harga beras. Sekarang ia berbaring di rumah orang lain dengan alat penyadap di tangan, bersekutu dengan istri sah suaminya untuk membongkar seseorang yang bahkan belum ia temui.

Anehnya, ia tidak takut. Rasanya seperti berdiri di tepi sungai pada malam badai: air yang gelap, deras, dan tak terduga. Tetapi ia sudah pernah melompat ke dalamnya sekali, dan ia pernah menyelamatkan seseorang dari sana.

Ia memejamkan mata. Besok, atau lusa, seseorang akan melangkah ke ruang tamu itu. Dan ia akan siap mendengarkan.

---

*Bersambung ke Bab 8*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!