"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Jebakan yang Mulai Terpasang
Di sebuah kafe privat yang terletak di kawasan elite Jakarta Selatan, denting sendok perak yang beradu dengan cangkir porselen terdengar ritmis. Clarissa Maheswari duduk di sudut ruangan yang tersembunyi, terlindung oleh sekat tanaman hias yang rimbun. Kacamata hitam besar yang bertengger di hidung mancungnya baru saja dilepas, menampilkan sepasang mata yang memancarkan ambisi dingin.
Di hadapannya, seorang pria paruh baya dengan jaket kulit hitam kumal meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja.
"Ini semua informasi yang bisa saya kumpulkan dalam tiga hari ini, Ibu Clarissa," ucap pria itu dengan suara rendah, hampir berbisik.
Clarissa membuka map tersebut dengan jemarinya yang dihiasi kuteks merah menyala. Sepasang matanya bergerak cepat membaca baris demi baris laporan mengenai masa lalu Nayara. Senyuman sinis perlahan terukir di bibirnya yang penuh.
"Sederhana sekali," desis Clarissa meremehkan. "Gadis kampung, anak mendiang PNS rendahan, ibunya sakit sakitan di bangsal kelas tiga, dan adiknya hampir putus sekolah karena terlilit utang ayahnya. Bagaimana mungkin wanita seperti ini bisa memikat Arkananta Dewangga dalam semalam? Ini benar-benar tidak masuk akal."
"Ada satu hal lagi, Bu," sela pria berjaket kulit itu, memajukan tubuhnya. "Pernikahan mereka terjadi hanya tiga hari setelah ibu dari Nayara dijadwalkan operasi besar. Seluruh biaya rumah sakit yang mencapai ratusan juta rupiah dilunasi oleh rekening pribadi Tuan Arka pada hari yang sama."
Clarissa menutup map cokelat itu dengan hentakan pelan namun tegas. Sepasang matanya berkilat tajam. "Transaksi. Sudah kuduga, pernikahan ini tidak lebih dari sebuah transaksi bisnis. Arka tidak mungkin jatuh cinta pada wanita kelas bawah seperti dia."
Clarissa bersandar pada sofa beludru, melipat kedua tangannya di dada. "Tapi aku butuh bukti yang nyata. Sesuatu yang tertulis. Sesuatu yang bisa kuhantamkan langsung di depan wajah Tante Ambar dan Om Baskoro agar mereka sadar telah ditipu."
"Mencari bukti tertulis di dalam kediaman Tuan Arka sangat sulit, Bu. Pengamanannya sangat ketat," ujar pria itu ragu.
"Maka cari celah dari dalam," potong Clarissa cepat, suaranya sedingin es. "Aku tahu salah satu pelayan baru di rumah Arka, Mirna, adalah keponakan dari mantan pembantu di rumahku. Dekati dia. Berikan dia uang yang cukup agar dia mau membuka mata dan telinganya di dalam rumah itu. Cari tahu di mana Arka menyimpan dokumen-dokumen pribadinya, dan cari tahu bagaimana hubungan asli mereka di balik pintu kamar."
Clarissa mengambil selembar cek dari dalam tasnya, menuliskan angka yang fantastis, lalu menggesernya ke hadapan pria itu. "Pastikan jebakan ini terpasang dengan rapi. Aku ingin melihat seberapa lama Nyonya Dewangga palsu itu bisa bertahan di atas takhtanya."
***
Sementara itu, di kediaman mewah Dewangga, sore hari berjalan dengan ketenangan yang biasa. Naya baru saja kembali dari sekolah Kenzie. Seperti biasa, ia menuntun anak sambungnya itu masuk dengan senyuman lembut yang menenangkan.
Namun, sifat Naya yang tenang menghanyutkan membuatnya selalu peka terhadap perubahan sekecil apa pun di sekitarnya. Sejak melangkah melewati pintu utama, Naya menyadari ada sepasang mata yang terus mengamatinya dengan pandangan yang tidak biasa.
Mirna, pelayan muda yang bertugas merapikan lantai dua, kedapatan beberapa kali mencuri pandang ke arah Naya dengan raut wajah gugup. Setiap kali Naya menoleh, Mirna akan langsung menundukkan kepala dan berpura-pura sibuk dengan kemocengnya.
Naya tidak menegur. Ia memilih untuk tetap bersikap biasa, menuntun Kenzie ke ruang bermain dan menemaninya hingga sore hari. Baginya, menghadapi kecurigaan adalah tentang bagaimana tetap terlihat tidak bersalah.
Malam pun tiba, membawa kembali kesunyian yang megah di dalam rumah besar itu. Arka belum pulang karena ada urusan luar kota yang mendesak, membuat Naya harus mengurus rumah sendirian malam ini. Setelah memastikan Kenzie tertidur lelap, Naya kembali ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri.
Di saat yang sama, Mirna berjalan mengendap-endap di lorong lantai dua yang sepi. Jantung pelayan muda itu berdegup liar. Bayangan uang puluhan juta dari orang suruhan Clarissa terus terngiang di kepalanya, mengalahkan rasa takutnya akan pemecatan.
Mirna tahu, tugasnya malam ini adalah mencari tahu letak berkas-berkas penting Arka atau menemukan bukti bahwa pernikahan majikannya tidak senormal kelihatannya. Dengan tangan bergetar, ia memutar knop pintu kamar utama Arka yang tidak terkunci sepenuhnya.
*Krieeek...*
Pintu terbuka sedikit. Mirna menyelinap masuk ke dalam kamar Arka yang bernuansa gelap dan maskulin. Keadaan kamar itu sangat rapi. Namun, mata Mirna tertuju pada sebuah pintu kayu putih yang terletak di sudut ruangan—pintu penghubung yang menuju ke arah kamar sebelah.
Mirna melangkah mendekati pintu itu. Ia mencoba memutar knopnya, dan mengejutkan, pintu itu terkunci rapat dari sisi dalam. Mirna mengerutkan keningnya. *Kenapa pintu penghubung antara kamar suami dan istri terkunci rapat di malam hari?*
Rasa penasaran Mirna makin memuncak. Ia beralih menuju meja rias dan nakas di samping tempat tidur besar milik Arka. Ia mulai membuka laci satu per satu dengan hati-hati, mencari map hitam atau dokumen yang mencurigakan. Namun, ia tidak menemukan apa pun selain buku-buku bisnis dan jam tangan mewah.
Saat Mirna bersiap untuk memeriksa lemari pakaian, sebuah suara datar dan sedingin es mendadak terdengar dari arah pintu masuk kamar.
"Apa yang sedang kamu cari di kamar suami saya, Mirna?"
Mirna tersentak hebat, hampir saja menjatuhkan vas bunga kecil di dekatnya. Ia berbalik dengan wajah pucat pasi dan lutut yang gemetar lemas.
Nayara berdiri di ambang pintu kamar. Wanita itu mengenakan jubah tidur panjang berwarna putih, rambutnya yang basah terurai di bahu. Wajah Naya sama sekali tidak menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada teriakan atau makian. Namun, sorot sepasang mata bulatnya yang jernih malam ini terlihat begitu tajam, menusuk langsung ke dalam ketakutan terbesar Mirna. Ketenangan Naya yang menghanyutkan justru terasa jauh lebih mengintimidasi daripada bentakan seorang pria.
"N-Nyonya ...." Mirna terbata-bata, menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung. "Saya ... saya hanya ingin mengganti seprai tempat tidur Tuan Arka."
Naya melangkah masuk ke dalam kamar dengan gerakan yang sangat lambat, namun setiap ketukan langkah kakinya terdengar seperti detak bom waktu di telinga Mirna. Naya berhenti tepat tiga langkah di depan pelayan itu, bersedekap sambil menatap lurus ke dalam mata Mirna yang bergerak gelisah.
"Mengganti seprai di jam sebelas malam? Di dalam kamar seorang pria yang sedang tidak ada di rumah?" Naya menaikkan sebelah alisnya, bibirnya mengukir senyuman tipis yang sangat dingin. "Dan sejak kapan pelayan lantai dua berhak membuka laci-laci pribadi milik Tuan Arka untuk mengganti seprai?"
Bersambung...