Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Celah di Bawah Batu Hitam
Hari kedua puluh sembilan bulan ketiga, Jian Chen tidak ikut latihan subuh bersama Shen Yu. Ia berpamitan semalam dengan alasan lutut, dan Shen Yu hanya mengangguk sambil berkata, "Istirahatlah. Besok kita ulang." Alasan itu setengah benar. Lututnya memang masih nyeri, tetapi yang membuatnya tidak tidur adalah sesuatu yang lain.
Besok malam akar itu masak.
Ia menghabiskan siang dengan pekerjaan biasa. Pagi mengangkat peti di pondok pengobatan, sore memutar roda penghembus untuk Dao yang kini membayarnya dengan daging asin dan dua poin kontribusi. Dao tidak banyak bicara hari itu. Ia hanya sesekali melirik Jian Chen yang terus menatap kosong ke arah bukit di utara kampung.
"Kau seperti orang yang menunggu seseorang," kata Dao sambil mengetuk sebatang besi.
"Menunggu sesuatu."
"Sesuatu itu boleh dibantu?"
"Belum," jawab Jian Chen. "Kalau waktunya tiba, aku bilang."
Dao mengangguk dan tidak bertanya lagi, dan Jian Chen bersyukur untuk itu.
Pada malam hari ketiga puluh, setelah lonceng malam berbunyi dan lampu-lampu pondok murid luar dipadamkan satu per satu, Jian Chen turun dari dipannya tanpa suara. Qiu Bo mengorok di sebelah, dan murid di dipan ujung menggumam dalam tidur. Ia mengenakan jubah luarnya, mengambil sebuah pisau kecil dan kain bersih, lalu menyelinap keluar.
Kebun herbal sekte berada di lereng utara kampung, dipagari bilah bambu setinggi pinggang. Pintu gerbangnya sempit, dengan sebuah gubuk kecil di sampingnya tempat penjaga kebun tinggal. Dari jendela gubuk itu, sebatang lampu minyak masih menyala.
Jian Chen berhenti di bayang pohon, menghitung napas. Lalu ia melangkah ke depan pintu gubuk dan mengetuk tiga kali.
Pintu terbuka sedikit. Seorang lelaki tua berambut putih dengan kumis tipis menatapnya dari celah. "Kau mau apa, Nak? Sudah malam."
"Aku Jian Chen dari pondok tujuh, Pak. Tabib Lin Xue menyuruhku mengambil rumput pengurang demam. Katanya besok pagi dibutuhkan."
"Rumput pengurang demam di malam hari?" Lelaki tua itu menyipitkan mata. "Tabib itu biasanya mengirim orang di siang hari."
"Dua murid yang selamat dari tambang demamnya naik lagi, Pak."
"Ah." Ekspresi lelaki itu melunak. Ia membuka pintu lebih lebar. "Aku sudah dengar soal itu. Kasihan. Masuk, tapi jangan bertingkah macam-macam. Namaku Pak Lei. Tidak ada yang menginjak bedeng tanpa izinku."
"Terima kasih, Pak Lei."
Pak Lei mengambil lentera dan berjalan di depan, membuka gerbang bambu dengan kunci tembaga. Bau tanah lembap dan daun basah menyambut mereka. Bedeng-bedeng herbal berjajar rapi, tiap petak dipisahkan parit kecil berisi air. Jian Chen mengikuti dengan langkah pelan.
"Rumput demam ada di sisi barat," kata Pak Lei. "Kau mau ke sudut utara dulu? Tadi kau melirik ke sana."
"Tidak, aku..."
"Ada batu hitam besar di sana. Dulu seorang murid dalam pernah menggali di bawahnya mencari harta karun, tapi tidak ada apa-apa." Pak Lei terkekeh. "Cuma rumput liar, putih tipis seperti rambut orang tua. Kadang aku cabut kalau ada waktu. Eh, tapi kemarin ada yang aneh."
Jian Chen berhenti. Napasnya tertahan. "Apa yang aneh, Pak?"
"Kemarin malam, jam yang kira-kira sama seperti sekarang, ada murid yang datang membawa surat izin aula kontribusi." Pak Lei menggaruk kumisnya. "Murid luar berseragam kurir. Dia bilang diperintahkan mengambil akar putih di bawah batu hitam, katanya untuk keperluan tetua."
"Siapa namanya?"
"Dia tidak bilang. Kepalanya tertutup caping dan wajahnya tertunduk. Tapi surat izinnya berstempel, jadi aku biarkan." Pak Lei mengangkat bahu. "Yang bikin aku heran, dia tahu persis di mana tempatnya. Tidak mencari sana-sini seperti orang baru. Langsung ke batu hitam, berjongkok, mengambil sesuatu, lalu pergi. Tidak sampai sepuluh tarikan napas."
Tubuh Jian Chen terasa dingin. "Bapak masih menyimpan surat izinnya?"
"Aku simpan di gubuk, untuk laporan bulanan. Mau lihat?"
"Kalau boleh."
Pak Lei kembali ke gubuk, membongkar sebuah kotak bambu di bawah dipan, dan mengeluarkan selembar kertas kuning yang dilipat dua. Jian Chen membukanya di bawah lampu. Tulisan di atasnya rapi dan datar, tidak ada yang istimewa. Tetapi di sudut bawah ada stempel merah berbentuk lingkaran, lambang aula kontribusi.
Ia mendekatkan kertas itu ke cahaya. Stempel itu hampir sempurna, kecuali satu hal: sebuah garis tipis membelah lingkaran dari ujung ke ujung, seperti cermin yang retak di tengah.
"Garis ini," kata Jian Chen. "Ada di stempel aula yang asli?"
"Setahuku tidak. Aku pernah melihat stempel aula yang asli, bersih saja." Pak Lei mengangkat alis. "Aku kira cuma tinta yang pecah waktu dicap."
"Mungkin," jawab Jian Chen. Ia melipat kertas itu dan mengembalikannya. "Terima kasih, Pak. Boleh aku lihat sudut utara sekarang?"
"Tentu. Hati-hati, tanahnya licin."
Mereka berjalan ke sudut utara. Pak Lei mengangkat lentera dan cahaya kuning menyinari batu hitam itu. Di bawahnya, sebuah celah selebar telapak tangan membuka ke dalam tanah. Jian Chen berlutut, memasukkan tangan, dan merabanya.
Kosong.
Tanah di dalam celah itu lembap dan baru dibongkar. Ia merasakan bekas lubang kecil seukuran jari, dan di sekelilingnya tanah sudah diratakan kembali dengan hati-hati, seperti oleh orang yang tidak mau meninggalkan jejak. Akar yang seharusnya masak malam ini. Akar yang sudah ia tunggu selama tiga puluh hari. Akar yang selama dua puluh tahun hanya dikenal oleh dirinya dan seorang tabib tua yang sudah lama meninggal.
Ia menarik tangannya perlahan.
"Ada yang hilang, Nak?" tanya Pak Lei.
"Tidak," jawab Jian Chen. Suaranya terdengar datar. "Aku salah ingat tempat. Rumput demam di bedeng barat, ya?"
"Kau pelupa juga rupanya." Pak Lei tertawa. "Ya, sisi barat. Aku antar."
"Tidak usah, Pak. Aku bisa sendiri."
Ia mengambil seikat rumput demam di bedeng barat, mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berjalan keluar kebun dengan langkah teratur, seperti orang yang tidak sedang menahan gemuruh. Di luar pagar, ia berhenti di bawah pohon tua dan bersandar pada batangnya.
Hanya dua kemungkinan yang masuk akal. Pertama, kebetulan yang terlalu rapi: seseorang menemukan akar itu satu hari sebelum masak, tepat di tempat yang ia ingat. Kedua, seseorang tahu letaknya dengan cara yang sama seperti dirinya.
Ia menolak kemungkinan kedua sebelum sempat memikirkannya lebih jauh. Terlalu cepat untuk menyimpulkan. Terlalu banyak yang belum ia ketahui. Tetapi satu hal sudah pasti: kurir berseragam dengan wajah tertunduk dan stempel yang retak di tengah itu adalah orang yang sama atau berasal dari orang yang sama dengan yang memajukan jadwal tambang.
'Cermin yang retak,' pikir Jian Chen. Ia tidak tahu kenapa frasa itu terasa begitu dingin. 'Siapa kau?'
Di atas kampung murid luar, bulan bersinar pucat tanpa menjawab.