NovelToon NovelToon
Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zikri Cahyandi

Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.

Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.

Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.

Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak Pertama

Lembar terakhir buku catatan kecil bersampul kulit biru itu seolah membakar jemari Devan. Tulisan tangan Alyssa yang tegas Kaki Nadine tidak pernah lumpuh, Devan terus terbayang di ruang matanya. Gerimis pagi yang membasahi kemejanya tidak lagi ia rasakan, kalah oleh riak gelisah yang mendadak menguasai pikirannya.

Devan menutup buku itu rapat-rapat dan menyelipkannya ke balik kemejanya yang basah, tepat di atas dadanya yang berdegup keras. Ia tidak boleh memperlihatkan benda ini kepada siapa pun di rumah, terutama kepada ibunya atau Nadine. Kalau tuduhan Alyssa benar, berarti selama lima tahun ia hidup di dalam penipuan yang disusun begitu rapi.

Ia melangkah kembali ke dalam rumah lewat pintu samping, membawa tiga kantong plastik berisi pakaian dan barang pribadi Alyssa yang berhasil ia selamatkan dari tempat pembakaran. Mbok Sum yang berdiri cemas di koridor servis ia panggil dengan isyarat tangan.

"Bawa semua ini ke ruang kerja pribadiku di lantai atas," kata Devan pelan namun tegas. "Simpan di lemari arsip yang terkunci. Jangan biarkan Ibu atau siapa pun menyentuhnya. Kalau ada satu benang saja yang hilang, Mbok tahu akibatnya."

"B—baik, Tuan Devan," bisik Mbok Sum, mengangguk dan segera memeluk kantong-kantong itu seolah isinya barang pecah belah.

Devan menyusuri koridor menuju ruang kerjanya. Sepatu kulitnya yang berlumpur meninggalkan jejak basah di atas marmer yang mengilap. Begitu pintu terkunci dari dalam, ia meraih ponsel khususnya—ponsel berjalur terenkripsi yang biasa ia pakai untuk urusan intelijen bisnis tingkat tinggi.

Ia memutar satu nomor yang jarang ia hubungi. Pada dering ketiga, panggilan tersambung.

"Tuan Devan?" suara berat dan serak menyambut. Vito, penyelidik swasta senior yang biasa menangani kasus-kasus sensitif konglomerasi tanpa pernah meninggalkan jejak.

"Vito," kata Devan tanpa basa-basi. Suaranya amat rendah, nyaris berbisik. "Aku punya tugas rahasia untukmu. Tidak boleh ada yang tahu, termasuk sekretaris pribadiku dan keluarga Narendra."

"Saya mendengarkan," sahut Vito. Nadanya langsung berubah profesional.

"Selidiki seluruh rekam medis Nadine Vanya selama lima tahun terakhir," perintah Devan. "Dari rumah sakit tempat ia pertama kali dirawat setelah kecelakaan, klinik fisioterapi yang ia kunjungi tiap minggu, sampai semua dokter saraf yang pernah menanganinya. Aku mau rekam medis mentah, dan analisis independen dari ahli bedah ortopedi yang tidak terafiliasi dengan keluarga kami."

Hening sejenak di seberang telepon. "Nona Nadine Vanya? Bukankah beliau korban kecelakaan lima tahun lalu yang melibatkan istri Anda?"

"Lakukan saja yang kuperintahkan," potong Devan dingin. "Cari tahu ada atau tidak manipulasi diagnosis, pemalsuan dokumen medis, atau aliran dana tidak wajar dari rekening pribadi ibuku ke rumah sakit atau tim medis itu. Aku butuh hasilnya secepat mungkin."

"Mengerti, Tuan. Saya mulai dari rumah sakit rujukan pertama hari ini," jawab Vito mantap, lalu mengakhiri panggilan.

Devan menurunkan ponselnya. Ia berdiri di dekat meja kerja dan menatap cincin perak murah milik Alyssa yang masih tergeletak di atas map cokelat. Keraguan yang selama ini tidak pernah ada dalam kepalanya mulai merembes, meretakkan fondasi kepercayaan yang bertahun-tahun ia bangun untuk Nadine.

***

Dua jam kemudian, lorong utama kediaman Narendra dipenuhi kesibukan kecil. Nadine Vanya sudah bersiap di kursi rodanya, mengenakan gaun rajut merah muda lembut dan riasan tipis di wajah. Di sampingnya, Siska Narendra memeriksa tas tangan bermereknya.

Hari ini jadwal fisioterapi mingguan Nadine di Pusat Rehabilitasi Medis St. Jude—agenda rutin yang selama tiga tahun ini hampir selalu diantar dan didampingi Devan, kecuali ia sedang di luar negeri.

Langkah berat Devan terdengar dari tangga utama. Ia sudah berganti setelan jas abu-abu gelap. Penampilannya rapi, tetapi matanya menyimpan letih dan ketegangan yang tidak bisa ditutupi.

Nadine tersenyum lembut saat melihatnya mendekat. Tangannya terangkat, siap meraih jemari Devan seperti yang selalu ia lakukan setiap kali mereka berangkat bersama.

"Devan," panggilnya dengan suara halus yang memelas. "Mobil sudah siap di depan. Terima kasih ya, kamu masih mau mengantarku meski suasana rumah sedang tidak enak."

Devan berhenti tepat dua meter di depan kursi roda itu. Ia tidak mengulurkan tangan. Matanya hanya menatap datar ke arah dua kaki Nadine yang tertutup selimut tipis.

"Aku tidak bisa mengantarmu hari ini," katanya singkat. Suaranya datar tanpa riak.

Senyum Nadine membeku. Tangannya yang mengambang di udara perlahan turun kembali ke pangkuan.

"Kenapa, Devan?" Mata Nadine mulai berkaca-kaca dengan cepat. "Apakah karena perdebatan tadi pagi? Aku minta maaf kalau kata-kataku membuatmu tersinggung. Aku hanya peduli padamu—"

"Aku ada rapat penting di kantor," potong Devan dingin, sama sekali tidak tergerak oleh raut sedih di hadapannya. "Pakai sopir rumah untuk mengantar kamu dan Ibu."

Siska langsung membelalak. "Devan! Apa-apaan kamu ini?! Kamu tahu sendiri terapi Nadine perlu pendampinganmu! Selama ini kamu selalu menyempatkan waktu!"

"Itu dulu, Ibu," sahut Devan tanpa melirik ibunya. Pandangannya tetap terkunci pada wajah Nadine, mengamati setiap perubahan kecil. "Mulai hari ini aku tidak akan mendampingi sesi terapinya. Jadwal kerjaku padat."

Nadine meremas pinggiran selimutnya. Isakan kecil keluar dari tenggorokannya, disusul air mata yang membasahi pipi mulusnya. Skenario yang biasanya meluluhkan Devan dalam hitungan detik.

"Devan... kenapa kamu jadi sedingin ini padaku?" tangis Nadine pecah, suaranya histeris dan memilukan. "Apakah kamu menyalahkanku atas hilangnya Alyssa? Apakah kamu membenciku hanya karena perempuan itu pergi dari rumah ini? Aku ini korban, Devan! Aku yang kehilangan masa depanku karena kecelakaan itu!"

Nadine menangis makin kencang, menutup wajah dengan kedua tangan, bahunya terguncang di atas kursi roda. Siska berlutut di sampingnya dan merangkul bahunya, menatap Devan dengan amarah yang memuncak.

"Lihat apa yang kamu lakukan, Devan!" bentak Siska, suaranya melengking di lorong. "Kamu membuat kondisi emosional Nadine makin parah! Kamu jahat sekali, membela wanita yang sudah kabur dan mengabaikan Nadine yang menderita di sini!"

Devan berdiri mematung. Tidak ada rasa iba yang biasanya bergejolak di dadanya. Sebaliknya, ia merasakan keganjilan yang mencolok.

Matanya turun, pelan, ke arah kaki Nadine.

Saat Siska memeluk Nadine dari samping, kursi roda itu bergeser sedikit, dan selimut tipisnya tersingkap di ujung. Sepatu flat putih di bawahnya tampak menekan pijakan kursi. Tumitnya mengeras, ujung sepatunya mengetat, sebuah refleks kecil seperti kaki yang menahan tubuh agar tidak terdorong.

Hanya sedetik. Selimut itu jatuh lagi menutupinya.

Devan tidak bisa memastikan apa yang baru ia lihat. Tetapi dalam lima tahun, ia tidak pernah sekali pun memperhatikan kaki itu. Ia selalu hanya menatap wajahnya.

Mengapa ia baru menyadari ketidakserasian ini sekarang? Karena selama lima tahun, matanya dibutakan rasa bersalah yang ditanamkan ibunya dan Nadine sendiri.

"Sopir sudah menunggu di depan," kata Devan tanpa mengubah nada dinginnya. "Jangan membuat janji dokter terlambat."

Tanpa memedulikan tangis Nadine yang makin menjadi atau makian ibunya, ia berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar, meninggalkan mereka dalam drama yang tak lagi sanggup menyentuh hatinya.

***

Dua hari kemudian, pesan singkat dari Vito masuk: berkasnya sudah siap, ia menunggu petang nanti. Dua hari itu Devan nyaris tidak tidur, terbagi antara kabar tim SAR di sungai dan ponsel yang tak kunjung memberi kabar apa pun tentang Alyssa. Sebelum menemui Vito, ia memutuskan mampir ke kantor pusat Narendra Group. Gedung pencakar langit tujuh puluh lantai di kawasan bisnis utama Jakarta itu berdiri megah, tetapi lantai dua puluh delapan, tempat ruang kerja pribadinya, terasa amat sepi.

Ia menyusuri koridor itu. Di samping ruang kerjanya terdapat sebuah ruang arsip kecil dan sudut kerja sekretariat yang biasanya kosong di luar jam kerja resmi.

Devan mendorong pintu ruang arsip itu. Lampunya temaram. Di sudut ruangan ada satu set meja kayu sederhana dan kursi kantor tanpa roda.

Selama tiga tahun terakhir, ia sering melihat lampu ruangan kecil ini masih menyala saat ia keluar dari ruang kerjanya pukul satu atau dua pagi. Dulu ia selalu berasumsi itu staf lembur yang lupa mematikan lampu. Ia tidak pernah mengintip untuk melihat siapa yang ada di dalam.

Ia mendekati meja kayu di sudut itu. Di permukaannya ada bekas gesekan kecil dan stiker garansi adaptor laptop yang sudah mengelupas. Di samping meja, tempat sampah kecil sudah dikosongkan petugas kebersihan. Di sandaran kursi, tersampir bantalan duduk rajut berwarna krem yang sudah kempis di tengah, bekas tubuh yang duduk terlalu lama di sana.

Devan menyentuhnya. Krem. Sama dengan sweater yang ia peluk di halaman belakang dua hari lalu.

Bayangan Alyssa di ruangan sepi ini tengah malam, meneliti data keuangan di tengah dokumen tebal tanpa ada yang menemani, mendadak berputar di kepalanya. Sementara hanya satu dinding dari sini, Devan bersikap acuh tak acuh dan menganggap wanita itu benalu dalam hidupnya.

"Kamu di sini setiap malam, Alyssa?" bisiknya serak, menyapu debu tipis di atas meja dengan telapak tangan.

Ia pernah melewati pintu ini puluhan kali, dan setiap kali hanya berpikir: ada yang lupa mematikan lampu.

Ponsel di saku jasnya bergetar. Pesan singkat dari Vito: 'Tuan Devan, saya sudah di ruang VIP kafe yang dijanjikan.'

Devan merapikan jasnya, berbalik, dan melangkah keluar menuju lift pribadi gedung.

***

Petang menjelang. Ruang VIP di sebuah kafe tersembunyi di kawasan Jakarta Selatan itu remang. Devan duduk di sudut, menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. Di depannya, Vito duduk dengan sebuah laptop hitam yang menyala dan satu stopmap kuning yang tebal.

"Bagaimana?" tanya Devan singkat.

Vito membuka stopmap itu dan meletakkannya di tengah meja kayu. "Dua hari ini tim saya nyaris tidak tidur, Tuan. Sebagian arsipnya sudah saya simpan sejak almarhum Kakek Anda dulu meminta saya memeriksa keamanan rumah. Dari situ saya menemukan dua hal yang sangat janggal."

Devan menegakkan duduk. "Katakan."

"Pertama, soal rekam medis Nona Nadine di Rumah Sakit Medika Utama, tempat beliau dirawat lima tahun lalu." Vito menunjuk dokumen berstempel merah. "Dokter spesialis saraf yang menangani kasusnya waktu itu bernama Dokter Hendra Suputra. Tiga bulan setelah kecelakaan Nadine, dokter itu mendadak mengundurkan diri, menerima dana hibah riset dua miliar rupiah, dan pindah menetap ke Jerman."

Rahang Devan mengetat. "Siapa yang mengirim dana hibah itu?"

"Ditransfer lewat rekening cangkang milik sebuah yayasan sosial yang saham utamanya dipegang Nyonya Siska Narendra," jawab Vito tenang.

Napas Devan tercekat. Kenyataan itu menghantam dadanya seperti pukulan telak. Ibunya sendiri yang membiayai kepindahan dokter yang menangani Nadine lima tahun lalu.

"Lalu hal kedua?" Suara Devan terdengar makin berat dan berbahaya.

Vito mengetik sesuatu, lalu memutar layar laptop menghadap Devan. "Hal kedua soal sistem keamanan kediaman Narendra. Saya meminta seorang peretas independen memeriksa cadangan server CCTV rumah Anda dari lima tahun lalu, tepat pada hari kecelakaan Nadine."

Devan menatap layar yang menampilkan barisan log berkas CCTV berdasarkan tanggal dan jam.

"Lihat bagian ini." Vito menunjuk satu baris. "Rekaman dari delapan kamera yang mengawasi area garasi dan pintu gerbang utama, pukul empat sore sampai pukul enam sore, hilang permanen. Berkasnya dihapus manual langsung dari server pusat di rumah Anda pada malam yang sama."

Devan mengepalkan jemarinya di atas meja sampai buku-buku jarinya memutih. Rekaman pada jam kejadian kecelakaan itu dihapus dengan sengaja, dari dalam rumahnya sendiri.

"Siapa yang punya akses ke server pusat hari itu?" tanyanya, matanya memancarkan amarah yang menakutkan.

"Hanya tiga orang yang memegang kata sandi administrator saat itu," jawab Vito lirih. "Almarhum Kakek Anda, Anda sendiri, dan Nyonya Siska Narendra."

Devan menyandarkan punggung ke kursi dan memejamkan mata. Kepingan kebohongan yang dirangkai bertahun-tahun mulai terkuak satu per satu. Alyssa tidak pernah bersalah. Istrinya dijebak dan dijadikan kambing hitam atas rekayasa kejam yang dirancang di dalam rumahnya sendiri.

"Tuan Devan, masih ada satu hal lagi," kata Vito, memecah keheningan. "Ini soal Nona Alyssa dan catatan sumbangan ke Panti Asuhan Kasih Bunda, yang Anda minta saya lacak jejak digitalnya."

Devan membuka mata. "Apa yang kamu temukan?"

Vito menggeser dokumen lain di atas meja. "Nona Alyssa memang rutin menyumbang dengan uang pribadinya dari hasil analisis data lepas. Tapi yang menarik, portal donasi online panti asuhan itu mencatat setiap kali Nona Alyssa login dan mengirim data keuangan."

"Lalu?"

"Setiap kali ada transaksi atau analisis data untuk panti itu selama tiga tahun terakhir," Vito menunjuk deretan angka alamat IP di layarnya, "alamat IP yang dipakai selalu sama. Terhubung langsung ke jaringan internal Lantai 28 Gedung Narendra Group. Lantai Anda, Tuan."

Devan tertegun. Tubuhnya membeku di kursi.

"Maksudmu... Alyssa mengerjakan semua itu dari kantor pusatku?" bisiknya, suaranya bergetar hebat.

"Benar, Tuan," sahut Vito. "Setiap kali Anda lembur sampai larut, Nona Alyssa sebenarnya berada di ruang sekretariat atau ruang arsip di lantai yang sama, bekerja sampai subuh lewat jaringan terenkripsi kantor Anda, untuk menopang hidup puluhan anak panti. Beliau melakukan semua itu tepat di bawah hidung Anda selama tiga tahun."

"Menurut catatan akses lift, kartu atas nama almarhum Kakek Anda dipakai hampir setiap malam," tambah Vito. "Beliau sendiri yang memberikannya kepada Nona Alyssa. Satpam malam diminta tutup mulut."

Devan tidak menjawab. Kopi hitam di depannya sudah benar-benar dingin, dan ia tidak menyadari tangannya sendiri gemetar di atas meja. Kakek tahu. Selama tiga tahun, hanya Devan yang tidak tahu.

"Aku akan bicara dengan Ibu malam ini," katanya akhirnya, nyaris pada dirinya sendiri.

"Jangan dulu, Tuan." Vito menggeleng. "Kalau Nyonya Siska tahu Anda sudah menyentuh server itu, sisa buktinya akan lenyap sebelum fajar."

Devan memejamkan mata sebentar, lalu membukanya dengan tatapan yang berbeda, dingin dan sabar.

"Kalau begitu aku tidak akan menyentuh Ibu. Belum. Aku akan membuatnya gelisah, lalu menunggu siapa yang lebih dulu bergerak."

.....

.....

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!