NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Janji di Bawah Langit Sore dan Langkah Baru

Pintu ruang rapat tertutup rapat, menyisakan keheningan yang pelan-pelan terasa hangat. Semua pemegang saham sudah pulang, ruangan luas itu sekarang cuma berisi Dika dan Vanesha — berdiri berhadapan, tangan mereka masih saling menggenggam erat seakan takut kalau dilepas, kekuatan yang baru tumbuh ini akan ikut hilang.

Vanesha melepaskan genggamannya pelan, lalu menarik kursi di meja rapat dan duduk. Dia menatap jendela kaca besar yang menghadap ke arah kota — matahari mulai turun, menyebarkan warna jingga keemasan di atas gedung-gedung tinggi. Napasnya keluar panjang sekali, seakan beban berat yang dipikulnya bertahun-tahun baru saja sedikit berkurang.

"Duduklah, Dika," ucap Vanesha pelan sambil menepuk kursi di sebelahnya.

Dika duduk hati-hati, punggung tegak tapi wajahnya santai. "Nggak apa-apa, Nona Bos? Tadi Raka... dia kelihatan nggak akan diam saja," ucap Dika pelan.

Vanesha menoleh, menatap Dika dengan senyum lembut. "Aku tahu. Tapi untuk pertama kalinya, aku nggak merasa takut menghadapinya. Karena ada kamu," ucap Vanesha.

"Itu karena Nona Bos sebenarnya kuat dari dulu. Cuma belum sadar saja," ucap Dika sambil senyum tulus. "Saya cuma orang yang bantu ingatkan saja."

Vanesha tertawa kecil, lalu menunduk sejenak. "Kamu selalu merendah. Padahal tadi di ruangan ini, kamulah yang membuat mereka percaya. Kamulah yang membuatku berani berdiri tegak," ucap Vanesha. Dia mengangkat wajah lagi, menatap Dika lekat-lekat. "Dika... terima kasih. Bukan cuma soal Raka. Tapi karena kamu selalu ada saat aku paling butuh."

Dika menggaruk kepala yang nggak gatal, pipinya sedikit memerah. "Sama-sama. Itu janji saya kan? Janji itu hutang, nggak boleh diingkari. Dan saya nggak pernah main-main sama janji," ucap Dika mantap.

"Janji ya?" tanya Vanesha pelan, tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Dika di atas meja.

"Janji," ucap Dika tegas, menatap mata Vanesha dalam-dalam. "Selama saya masih berdiri, masih bernapas — Nona Bos aman. Perusahaan ini aman. Dan nggak ada siapa pun yang boleh maksa Nona Bos melakukan hal yang nggak diinginkan. Mau itu Raka, keluarga, atau siapa pun."

Vanesha diam sejenak, lalu perlahan tersenyum — senyum paling indah yang pernah Dika lihat. Matanya berbinar lembut, dan untuk sesaat, bos cantik yang selalu galak dan tegas itu terlihat begitu lembut dan dekat.

"Kalau begitu... aku juga berjanji," ucap Vanesha pelan. "Aku nggak akan lari dari masalah. Aku akan pertahankan perusahaan ini, dan aku nggak akan biarkan siapa pun menentukan masa depanku — termasuk Raka."

"Nah, itu baru Nona Bos yang saya kenal!" ucap Dika semangat sambil menepuk meja pelan. "Kuat, tegas, dan nggak mudah menyerah!"

Vanesha berdiri, lalu berjalan mengelilingi meja dan berhenti tepat di samping kursi Dika. Dia menatap ke luar jendela, ke arah langit sore yang makin indah warnanya. "Besok akan sulit. Raka pasti berusaha sesuatu. Mungkin menyebarkan berita buruk, mungkin menarik klien seperti ancamannya," ucap Vanesha pelan.

"Biarkan dia lakukan yang dia bisa. Kita lakukan yang kita bisa — kerja keras, jaga kualitas, dan tetap bersatu," ucap Dika sambil berdiri di samping Vanesha. Dia menatap ke arah yang sama — ke arah kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. "Dan orang yang benar pasti menang. Percaya saja."

Vanesha menoleh, wajahnya begitu dekat sampai Dika bisa merasakan napas hangatnya. "Kamu yakin?" tanya Vanesha lembut.

"Saya yakin," ucap Dika tulus. "Karena kebenaran itu nggak pernah kalah lama-lama."

Vanesha tersenyum, lalu perlahan menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Dika — ringan, lembut, dan penuh percaya. "Terima kasih, Dika. Kamu aneh, kamu sederhana, tapi kamu... rumah bagiku," ucap Vanesha berbisik.

Jantung Dika berdebar kencang sekali, tapi dia nggak bergerak. Hanya berdiri tegak, membiarkan Vanesha merasa aman. "Rumah selalu terbuka buat Nona Bos. Kapan saja," ucap Dika pelan.

Sore itu berlalu dengan damai. Mereka berdua berjalan keluar kantor bersama — bukan sebagai bos dan penjaga saja, tapi sebagai dua orang yang saling menguatkan. Langkah mereka tegak, pandangan lurus ke depan, siap menghadapi apa pun yang Raka bawa besok.

Dan di langit jingga sore itu, satu hal terlihat jelas — perjuangan baru saja dimulai, tapi mereka nggak akan menghadapinya sendirian.

Mereka berjalan beriringan menuju gerbang depan. Angin sore berhembus lembut, menerbangkan rambut Vanesha sedikit. Dika berjalan di sebelahnya, sedikit di luar — seakan tanpa sadar menempatkan dirinya di sisi yang lebih berisiko, melindunginya dari arah jalan raya. Vanesha menyadarinya, dan senyum tipis terukir di bibirnya.

"Mau antar sampai depan pintu?" tanya Vanesha pelan saat mereka mendekati mobilnya.

"Kalau diizinkan," ucap Dika sambil senyum miring. "Biar pastikan Nona Bos masuk dengan aman, pintu terkunci, dan mobilnya nyala. Nggak ada salahnya waspada."

Vanesha tertawa kecil. "Kamu ini... seperti bayangan yang nggak pernah lepas," ucap Vanesha lembut. "Tapi aku suka. Rasanya tenang."

Sesampainya di mobil, Dika membukakan pintu untuknya. Vanesha masuk, lalu sebelum pintu tertutup, dia menatap Dika sebentar — matanya berbinar lembut di bawah cahaya lampu lobi.

"Hati-hati pulang, Dika. Dan istirahat yang cukup. Besok mungkin hari yang berat," ucap Vanesha pelan.

"Siap! Nanti sampai kontrakan langsung kabari, janji!" ucap Dika mantap sambil memberi hormat kecil.

Pintu tertutup pelan. Mobil melaju perlahan keluar dari halaman kantor. Dika berdiri di sana sampai mobil itu benar-benar hilang di tikungan jalan, baru kemudian berbalik masuk kembali ke kantor — hati terasa ringan walau beban di depan mata masih berat.

Keesokan paginya, suasana kantor langsung terasa berbeda. Dika baru saja berdiri di pos jaga depan pintu, melihat karyawan datang satu per satu — tapi wajah mereka nggak cerah seperti biasanya. Ada yang berbisik-bisik sambil menatap ponsel, ada yang wajahnya cemas.

Seorang gadis staf berjalan mendekat, wajahnya pucat. "Dika... sudah lihat berita pagi ini?" tanya gadis itu pelan dan cemas.

"Berita apa?" tanya Dika sambil langsung merasakan ada yang nggak beres.

"Ada di media sosial dan portal berita. Katanya perusahaan kita bermasalah keuangan. Katanya Nona Vanesha nggak kompeten, perusahaan bakal bangkrut sebentar lagi," ucap gadis itu suaranya gemetar. "Banyak klien telepon tanya-tanya, ada yang bilang mau batalkan kerja sama."

Tangan Dika mengepal erat. "Itu bohong! Jangan percaya begitu saja!" ucap Dika tegas. "Siapa yang sebarkan pasti tahu — ini cara licik untuk bikin kita takut dan bubar. Tapi jangan kasih kendor, ya? Nona Bos kuat, perusahaan ini kuat, dan kita semua satu tim!"

Gadis itu mengangguk pelan, sedikit tenang. "Iya... terima kasih, Dika. Kamu selalu bisa bikin hati lebih tenang," ucapnya lalu berjalan masuk.

Belum lama itu, pintu lift terbuka. Vanesha keluar — pakaian rapi, tegak, cantik dan tegas seperti biasa. Tapi Dika cukup kenal untuk melihat ada lelah di matanya. Dia berjalan mendekat, dan sebelum Vanesha sempat bicara, Dika sudah berdiri di depannya.

"Nona Bos sudah lihat?" tanya Dika pelan tapi tegas.

Vanesha mengangguk pelan. "Sudah. Ini pekerjaan Raka," ucap Vanesha dingin. "Dia mulai menjalankan ancamannya. Menyebarkan berita bohong untuk merusak nama baik perusahaan."

"Kita lapor polisi?" tanya Dika cepat.

Vanesha menggeleng pelan. "Belum cukup bukti langsung. Dia lakukan dengan cara yang licik — pakai akun anonim, lewat orang lain. Kalau kita berantem sekarang, malah makin banyak yang percaya berita itu," ucap Vanesha pelan. Dia menarik napas panjang, lalu menatap Dika dengan mata yang berusaha tetap kuat. "Aku harus hadapi ini sendirian dulu."

"Sendirian?" ucap Dika langsung, lalu melangkah selangkah lebih dekat. "Nggak! Kita hadapi bareng-bareng. Tadi sore janji ingat? Nggak ada kata sendirian!"

Vanesha terdiam. Matanya berkaca sedikit, lalu dia tersenyum lembut dan penuh rasa. "Kamu benar. Kita hadapi bersama," ucap Vanesha pelan. Dia mengulurkan tangan — menggenggam tangan Dika di lobi kantor yang mulai ramai itu. "Terima kasih, Dika. Saat semua orang mulai ragu, kamu justru makin teguh."

"Itu karena saya tahu kebenarannya," ucap Dika tulus sambil menggenggam balik erat. "Dan selama kita pegang tangan bareng-bareng, badai sebesar apa pun nggak akan bisa robohkan kita."

Vanesha mengangguk mantap, lalu melepaskan genggamannya pelan. Dia berdiri tegak, menatap seluruh lobi, dan suaranya terdengar jelas dan tegas — cukup keras didengar semua orang yang lewat.

"Jangan percaya berita yang nggak jelas sumbernya. Kita tetap kerja seperti biasa. Yang benar akan terbukti," ucap Vanesha tegas dan tenang.

Satu per satu karyawan yang mendengar mengangguk. Kepercayaan perlahan kembali tumbuh. Vanesha menatap Dika sekali lagi — senyum kecil tapi penuh kekuatan — lalu berjalan menuju lift untuk memulai hari yang berat itu.

Dika berdiri di posnya, dada tegak, mata awas. Raka boleh sebarkan berita, boleh coba buat keributan — tapi satu hal yang dia nggak bisa hancurkan: kebersamaan dan kepercayaan yang tumbuh di antara mereka. Dan Dika berjanji dalam hati — selama dia berdiri di sini, dia akan jadi benteng yang nggak bisa diruntuhkan siapa pun.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!