Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 - Kau Rendahkan, Nanti Kubuktikan
Cukup memikirkannya saja membuat dada Intan terasa panas.
Ujian masuk SMA tinggal seminggu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Intan berdiri di ambang sebuah titik yang tak bisa ia lewati begitu saja.
Kali ini ia harus berusaha sekuat tenaga agar orang tuanya bangga kepadanya.
Waktu pulang belum lewat pukul enam sore.
Hari-hari masa panas membuat sore terasa panjang. Pada jam itu matahari masih terang, dan kampung tempat mereka tinggal belum lepas dari sinarnya.
Intan sampai di depan pintu rumah sambil berkeringat, hendak membukanya.
Besi pintu rumah seberang tiba-tiba terbuka. Intan terkejut sampai hampir melemparkan kuncinya, lalu terdengar suara keras Bu Irma membentak anaknya.
"Kalau berani keluar rumah, jangan kembali! Biar kamu mati kelaparan di luar!"
Anak laki-laki Bu Irma yang berumur delapan belas atau sembilan belas tahun itu mengerutkan dahi mendengar suaranya.
Dia membanting pintu keras-keras seakan ingin melepaskan kemarahannya, lalu melirik Intan sekilas dan berlari pergi.
Bu Irma membuka pintu, tidak melihat siapa pun kecuali Intan yang berdiri di sana.
Dia bertanya dengan nada yang tidak ramah.
"Yohan di mana?"
Wajah Intan berkerut. Ia tidak tega menjawabnya, lalu langsung menunjuk ke arah tangga.
Bu Irma segera melangkah naik ke lantai atas.
Begitu keluar, dia menunjuk kening Intan sambil mencaci.
"Ibumu tidak pernah mengajari kamu menjawab pertanyaan orang yang lebih senior? Dasar tidak tahu sopan santun, tidak berpendidikan!"
Wajah Intan semakin muram.
Ia sama sekali mengabaikannya. Setelah pintu terbuka, Intan masuk; sebelum menutupnya, ia berkata dengan dingin.
"Bu Irma, apa ada yang mengajari ibu untuk berlaku sopan sebelum bertanya pada orang lain? Lagi pula aku bukan saudara ibu. Jadi, ibu kelewat jauh ikut campur urusan!"
Setelah itu, Intan membanting pintu.
Bu Irma spontan membanting pintu rumah Intan sambil berteriak sekeras-kerasnya.
"Maksudmu apa? Aku memang tidak punya guru! Nanti ibumu pulang, akan kubilang padanya bagaimana cara mendidikmu!"
Dengan teriakannya, Bu Irma langsung memanggil nenek-nenek dan ibu-ibu di lantai atas dan bawah untuk keluar.
Sebagian keluar dengan sepatu jepit, sebagian membawa ember cucian. Perhatian mereka semua terkunci pada pintu yang baru saja dibanting Intan.
Melihat semakin banyak orang berkumpul, Bu Irma semakin bersemangat. Keras suaranya bahkan naik satu tingkat, seakan keramaian itu adalah panggungnya.
Di dalam kamar, Intan marah sampai mukanya merah. Api di dadanya nyaris menerobak keluar, tetapi ia tahu lebih baik menahannya sebentar dan menunggu Ibu.
Tidak sampai setengah jam kemudian, suara Ibu terdengar dari luar pintu.
Intan bangkit dan berjalan ke arah pintu.
Rupanya kali ini ia mendengar dengan jelas Bu Irma sedang mengadukan dirinya kepada Ibu.
Selama Bu Irma mencela itu, tidak terdengar suara Ibu.
Nenek tua itu menasihati.
"Sudah, sudah, anak kecil tidak mengerti. Mengapa orang dewasa harus membesar-besarkan masalah anak? Lihat, sudah jam berapa ini, bukankah Ibu harus masak?"
Nenek itu berdiri dengan bertumpu pada tongkat. Matanya beberapa kali melirik ke arah pintu rumah mereka, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa diucapkan di tengah keramaian itu.
Bu Irma langsung membalas.
"Nek, maksud saya lain. Anak kalau tidak didik bakal tumbuh bengkok! Termasuk anak perempuan seusia itu, sudah tibanya masa remah. Nek tidak akan paham!"
Setelah berkata begitu, Bu Irma menatap Ibu lagi dan melanjutkan keluhannya.
"Ibu juga tahu bagaimana galaknya anak Ibu tadi. Saya dekati saja, dia bahkan tidak mau menjawab pertanyaanku."
"Mukaku taruh di mana? Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!"
Intan tidak tahan mendengar lagi.
Ia langsung membuka pintu dan berjalan ke arah Bu Irma sebelum sempat ada yang bereaksi, lalu berkata lantang dan jelas.
"Bu Irma, selama ini aku menghormati Ibu sebagai orang yang lebih tua. Karena itu pula aku sudah sabar dibiarkan Ibu mencela-melela aku sejak tadi di depan pintu rumahku. Ibu kira aku benar-benar tidak berani ribut dengan Ibu?"
"Bu Irma berkata aku tidak tahu sopan santun? Siapa Ibu sampai berani-berani demikian? Orang yang bahkan tidak bisa mengucapkan 'permisi' ketika bertanya adalah Ibu sendiri!"
"Lihat dahulu cermin, lihat bagaimana Ibu mendidik anak Ibu sendiri. Berhak apa Ibu mengurusi aku? Ibu sering sekali ikut campur urusan keluarga kami dan tidak merasa malu ikut campur!"
"Aku diamkan sampai hari ini saja. Aku Intan ini bukan orang yang sabar. Jangan mencari masalah dengan aku mulai sekarang! Aku tidak takut berkelahi!"
"Lihat saja siapa yang menang, siapa yang kalah! Jangan sekali-kali mau menekan aku dengan kata sesepuh, karena di keluarga kami tidak ada kerabat macam itu!"
Kata-katanya meluncur deras seperti air yang membanjir menembus tanggul yang bocor. Tiga tahun pendiam yang dikunci rapat-rapat di dadanya itu akhirnya berani memuntahkan isinya, dan untuk pertama kalinya Intan merasa beban di dadanya terlepas satu demi satu.
Selesai bicara, Intan langsung menarik Ibu yang masih tercengang untuk masuk ke rumah.
Saat lewat di dekat nenek tua itu, ia berkata dengan sopan.
"Nek, kaki Nenek kurang sehat. Nanti kalau dengar suara Bu Irma, tidak usah repot-repot naik ke atas lagi."
"Dia memang sengaja mencari keributan."
Begitu kata-kata itu keluar, semua orang semakin bingung.
Bu Irma marah merah padam. Kedua tangan bertolak pinggang, ia berteriak keras.
"Ibu Ratmi, Ibu benar-benar tidak becus mendidik anakmu! Coba pikirkan sendiri! Kalau Ibu tidak bisa mendidik, biar saya yang menggantikan Ibu mendidik dia!"
Ibu berhenti sejenak, menoleh ke belakang sambil melotot ke arah Bu Irma, lalu berkata dengan nada tegas.
"Bukan urusanmu mengajari anakku! Urus saja keluargamu sendiri!"
Bu Irma marah karena sikap keras Ibu itu sampai-sampai sakit hatinya.
Semua orang melihat, kalau pertengkaran ini diteruskan, dua keluarga ini akan benar-benar berselisih.
Nenek tua itu cepat-cepat mendorong Intan dan Ibu masuk rumah, lalu menutup pintu.
Orang-orang lain juga mendorong Bu Irma agar segera pulang. Mereka bertebaran: ada yang naik ke atas, ada yang turun ke bawah.
Melihat tak seorang pun lagi yang membelanya, Bu Irma teringat sikap keluarga Intan tadi. Dia merasa seperti orang yang ditinggalkan khalayak di tengah panggung.
Dia menjulurkan lehernya seraya berteriak.
"Niat baik dianggap angin! Pantas melarat seumur hidup!"
Selesai berkata begitu, dia membanting keras pintu depannya sendiri, sampai gantungan pintunya memantul dua kali dan berderak.
Setelah kembali ke rumah, wajah Ibu pucat keabu-abuan. Tanpa banyak kata, ia membawa belanjaan sayur masuk ke dapur.
Memang, sejak tahu harga sayur lebih murah di sore hari, Ibu sudah terbiasa belanja sedikit pada pagi hari dan sedikit pada sore hari. Itu cara lama yang diajarkannya kepada Intan untuk menabung lewat hal-hal sepele.
Intan mengikutinya dengan cemas sampai ke pintu dapur, tempat wajan lama yang sudah hampir habis berkarat tergantung di dinding.
Intan bertanya pelan.
"Bu, Ibu marah?"
"Tidak," Ibu menjawab tanpa mengangkat kepala.
Intan cemberut.
"Ibu bilang tidak marah, mengapa malah tidak ada senyum? Padahal yang ribut tadi bukan aku. Semuanya karena Bu Irma; dia bertengkar dengan Yohan sampai putus, dan hari ini aku justru pulang tanpa memilih hari yang baik sehingga tepat kena muka marahnya."
"Ih." Rupanya dia mengira aku masih mau ditelanjangi habis-habisan dengan mulutnya seperti dulu! "Bu, dengarkan aku. Untuk orang yang tidak tahu malu seperti dia, kita harus lebih keras daripada dia."
"Hanya dengan memberitahunya bahwa keluarga kita tidak gampang dipermainkan, dia tidak akan lagi mencari-cari salah kita setiap waktu!"
"Aku tidak marah kepadamu!" Ibu mencuci beras dengan wajah tanpa ekspresi. "Aku marah karena Bapak dan aku ini tak becus. Kalau keluarga kita tidak begini miskinnya, mana mungkin Bu Irma berani ribut seperti ini?"
"Bukankah karena kita ini orang empuk yang gampang diperas?" Celaka! "Dulu aku terlalu banyak berpikir. Tidak kusangka dia makin keterlaluan."
"Kalau nanti bertemu orang yang seperti itu lagi, jangan banyak bicara, biar Ibu yang selesaikan! Kamu masih muda. Besok Bu Irma akan keliling kampung berkata kamu tempramental dan tidak menghormati orang tua."
"Kamu yang akan dicap jelek!"
Suara Ibu naik sedikit, tetapi tangannya terus meremas beras tanpa henti, seolah ada muatan berat yang ingin dihancurkan di sela jarinya.
Ibu berusaha membujuk Intan, tetapi Intan sama sekali tidak mau mendengar.
"Ah, Ibu!" Ibu dan Bapak tidak ada hubungan apa pun dengan Bu Irma; siapa dia sampai pantas disebut sesepuhku?
"Lagi pula dia menganggap semua orang buta! Aku ini siapa orang, kalau hanya sepatah kata dari mulutnya saja sudah bisa merendahkan orang?"
Intan menyahut dengan kepala tegak. Mulut yang selama ini tidak bisa dibungkamnya itu, untuk pertama kalinya merasa memiliki pihak yang benar.
Melihat Intan tidak bisa dinasihati, Ibu merasa tak berdaya dan mendesak.
"Sudah, cepat cuci tangan, kita makan. Ujian masuk SMA tinggal seminggu, jangan pikirkan urusan macam ini."
Intan menyeringai lalu pergi mencuci tangan. Sementara itu, suara langkah Bu Irma yang menjauh masih terdengar dari luar pintu, seolah membawa dendam yang mengendap di sepanjang tangga.
Ketika Bapak pulang malam, Ibu mengajaknya ke kamar, lalu berbisik.
"Anakmu pintar sekali! Hari ini dia benar-benar bertengkar dengan Bu Irma di depan tetangga sampai Bu Irma marah tak bisa berkata-kata."
"Kupikir-pikir, lumayan melegakan!" Ada nada bangga yang tidak bisa disembunyikan dalam bisikannya. Selama ini Ibu terbiasa menelan perlakuan kasar dari orang seberang, dan hari ini untuk pertama kalinya rumah ini berdiri tegak di hadapan mereka.
"Eh?" Bapak tertegun. Dia menebak awal bicara tetapi gagal menebak akhirnya.
"Mustahil, mustahil! Bukankah kamu ceritakan ini biar aku mengomeli Intan?"
Ibu tidak senang mendengar itu.
"Memarahi apa? Dia yang membuat semuanya bagus! Aku lega bukan main! Sudah bertahun-tahun aku menahan, baru hari ini rasanya paling puas!"
"Aku ceritakan ini biar kamu tahu saja, ke depannya tidak perlu wajah manis-manis kepada orang seberang itu. Lagi pula, kita harus bekerja keras. Sekolah menengah atas ini tidak seperti SMP; biayanya setahun jauh lebih mahal!"
"Dan kakakmu setahun lagi masuk kuliah. Kalau tidak punya uang, mau apa? Hari ini perempuan itu menunjuk-nunjuk wajah kita sambil berkata kita miskin."
"Celaka! Pak, aku makin cemas saja!"
Bapak terdiam. Seolah ia merasa istrinya akan merajuk sepanjang malam hanya karena kata-kata itu.
Tetapi ketika sudah disinggung soal uang, Bapak ikut bermuram durja. Dia duduk di tepi ranjang, mengusap pelipis sejenak, lalu menyalakan sebatang rokok.
Asapnya mengepul pelan di bawah lampu gantung. Dia menghembuskan napas panjang sejenak, lalu bicara perlahan.
"Kamu tidak usah khawatir soal uang. Kalau tahun ini kita bekerja lebih giat, cepat atau lambat pasti lunas."
"Dulu aku tidak punya sisa uang karena harus menghabiskan penghasilan untuk membayar utang; sekarang sudah lain!"
Ibu mengangguk. Pikirannya sama dengan Bapak. Tanpa beban utang yang menekan, hidup masih ada harapan, dan yang terjadi hari ini bukan lagi sesuatu yang mustahil.
Di kamar sebelah, Intan sedang membaca buku.
Meskipun tidak tahu apa yang dibicarakan Bapak dan Ibu berdua di dalam kamar, ia bisa membayangkan: pasti tidak ada yang lain selain pertengkaran hari ini dan soal uang.
Halaman buku di pangkuannya terasa makin berat. Bukan karena dia tidak mengerti, melainkan karena setiap kalimat yang dibacanya membangkitkan kembali ingatan tentang Bu Irma yang berteriak "miskin" dan "melarat seumur hidup".
Gedor! Terdengar pintu kamar orang tua terbuka, dan langkah Bapak yang berat perlahan menuju dapur untuk menemui periuk air.
Intan menutup buku sebentar, menegakkan punggung, lalu berpaling pada jendela di mana bintang-bintang mulai kelihatan.
Di kehidupan ini, ia tidak akan pernah lagi membiarkan orang tuanya terjebak di dalam lumpur dan lumut.