[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Bersiap Berangkat Ke Kota Vespera
"Ada kejadian apa sebenarnya di tempat ini? Dan kenapa kalian semua mendadak sudah berkumpul di halaman sepagi ini?!" tanya Lucas.
Nada suaranya terdengar berat, dipenuhi oleh keheranan yang besar menyaksikan ketiga pria asing tamunya sudah berdiri berkumpul di halaman luar bersama anak putrinya.
"Ah, sama sekali tidak ada kejadian apa-apa yang penting, Paman Lucas! Sebaiknya kita bergegas segera pergi saja dari sini sekarang!"
White Emerson langsung memotong kalimat pembicaraan dengan ritme cepat sebelum sempat Ethan membuka mulutnya untuk bersuara.
Dengan satu gerakan tangan yang teramat sigap dan tak terduga, White menyambar permukaan lengan kekar ayahnya dan menarik paksa tubuh pria paruh baya itu untuk berjalan menuju ke arah bangku kendali kereta.
Lucas hanya bisa melongo kaku dilingkupi kebingungan yang besar. Ia memikirkan alasan kenapa putrinya mendadak mengubah panggilan namanya menjadi sebutan 'Paman' dan menunjukkan gestur tubuh yang terkesan teramat diburu oleh waktu.
Begitu mereka berdua sudah duduk di atas bangku kendali kereta kuda barang tersebut, White secara instan langsung mencondongkan tubuhnya ke arah posisi duduk Lucas. Ia membisikkan barisan kalimat menggunakan nada suara yang mendesak penuh rahasia.
"Maafkan kecerobohanku, Ayah. Di depan mereka aku terpaksa harus memanggilmu dengan sebutan Paman. Aku sama sekali tidak mau ketiga pria asing misterius itu sampai berhasil mengetahui identitas asliku sebagai anak perempuan pemilik rumah ini," bisik White panik.
"Jika nanti salah satu dari mereka ada yang melayangkan pertanyaan mengenai siapa identitas diriku, Ayah tinggal bilang saja jika aku ini hanyalah seorang anak tetangga desa yang sengaja menyewa jasa kereta kuda barang milikmu untuk keperluan pindahan akademi luar kota. Dan... jika boleh tahu, sebenarnya siapa ketiga orang asing bertubuh tegap itu, Ayah?" tanya White, sepasang manik mata ungunya bergerak waspada melirik ke belakang, memantau wujud Ethan yang masih setia berdiri mematung sekaku patung di tengah halaman rumput.
Lucas menghela napas panjang yang sarat akan beban pikiran, lalu memberikan anggukan kepala tanda memahami skenario putrinya.
"Baiklah, Ayah akan mengikuti sandiwaramu. Sebenarnya... ketiga pria di luar itu adalah tamu asing yang tadi malam mengetuk pintu rumah kita untuk menumpang bermalam, White. Ayah sendiri jujur sama sekali tidak tahu dari mana asal wilayah mereka. Ayah hanya merasa kasihan dan tidak tega membiarkan pria-pria tegap itu terlantar kedinginan di luar saat waktu sudah memasuki tengah malam buta. Mereka sedang dalam misi mencari tempat persinggahan terdekat, tapi kamu sendiri kan tahu bagaimana kondisi geografis desa kita? Di sekitar wilayah perbukitan ini hanya ada hamparan ladang pertanian yang luas nan gelap dan rumah kayu kita. Pemukiman warga lokal terdekat saja hanyalah rumah milik Bibi Calipso, itu pun rasio jaraknya hampir mencapai satu kilometer penuh dari sini," jelas Lucas.
White mencebikkan bibirnya masam. Raut wajah cantiknya yang bersembunyi di balik wig maskulin pendek tampak terlihat teramat masygul dan kesal.
"Tapi jujur saja aku merasa sangat tidak suka dengan perangai dan sikap arogan dari pria asing yang memiliki warna rambut biru itu, Ayah! Karena ulah kasarnya tadi, aku terpaksa harus refleks mengeluarkan kuantitas kekuatan fisikku di depan mereka. Dan... aku juga ingin meminta maaf kepadamu, Ayah. Pagar besi pembatas halaman rumah kita berakhir rusak berantakan karena tadi aku melayangkan tendangan pertahanan diri yang terlalu kencang ke perutnya," aku White dengan suara cicitan kecil.
Mendengar pengakuan berani itu, tubuh Lucas sontak tersentak hebat. Inti jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa milidetik disergap rasa syok yang masif.
"Kenapa... kenapa kamu bisa bertindak seceroboh dan segegabah itu, White?! Bagaimana jika tindakan fisik abnormalmu itu memicu kecurigaan mereka untuk mengasumsikan dirimu sebagai seorang penyihir atau monster?!" bisik Lucas dengan nada suara panik yang tertahan kuat di tenggorokan.
"Ayah tenang saja, tidak perlu membuang energi untuk panik berlebih. Lebih baik sekarang kita langsung memacu kereta ini untuk berangkat menuju ke Kota Vespera. Aku sama sekali tidak mau hari pertama masuk ke akademi baruku berakhir dengan catatan terlambat," sahut White dengan nada suara santai, mencoba mengalihkan topik pembicaraan dari bahasan pagar besi.
Lucas mengusap permukaan wajah kuyunya dengan kasar menggunakan telapak tangan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sempat bergejolak hebat akibat dorongan adrenalin panik.
"Iya, baiklah... Ayah setuju kita harus pergi. Tapi realitasnya kita tidak akan mungkin bisa berangkat detik ini juga, White. Lihatlah ke arah halaman luar, semua barang-barang bawaan dan koper pakaian milikmu masih tergeletak pasrah di atas hamparan rumput, belum sempat dinaikkan ke atas bak belakang kereta."
White seketika menepuk kening kepalanya dengan telapak tangan dengan cukup keras, meratapi kelalaian logikanya sendiri. "Ck! Aku benar-benar lupa memikirkan hal itu, Ayah!"
Menyaksikan kepolosan dan kecerobohan yang ditunjukkan oleh anak angkatnya, sisa rasa panik di wajah Lucas menguap, digantikan oleh kekeh tawa renyah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bersiap turun kembali dari bangku kendali ke atas tanah halaman. White hanya bisa pasrah memerhatikan pergerakan ayahnya dari atas kereta dengan pancaran tatapan mata yang terkesan teramat memelas.
"Apakah... apakah aku juga wajib hukumnya untuk ikut turun ke bawah demi membantu menaikkan semua koper besar yang bermuatan berat itu lagi ke atas bak kereta, Ayah?" tanyanya sembari melongokkan kepala kecilnya dari atas kereta, menunjukkan ekspresi wajah letih yang sengaja dibuat-buat demi mencari simpati sang ayah.
Lucas menghela napas panjang yang sarat akan kasih sayang seorang ayah yang mendalam. Ia tahu betul dan sangat memaklumi bahwa White pasti sudah menghabiskan banyak energi fisik sejak subuh buta untuk mengangkut koper-koper besar itu sendirian dari dalam kamar lantai atas.
"Ya sudah, kamu tidak perlu turun, biar Ayah saja yang mengurus semuanya. Ayah tahu betul kalau tubuh rampingmu pasti sudah merasa teramat lelah. Tugasmu sekarang hanya perlu duduk manis dan beristirahat di atas kereta," sahut Lucas lembut.
White menyunggingkan seulas senyuman lebar penuh kemenangan dan memberikan anggukan kepala patuh. Sebenarnya jika ditinjau berdasarkan kuantitas energi, ia masih memiliki simpanan tenaga yang lebih dari cukup untuk sekadar mengangkat koper. Namun, lubuk hatinya benar-benar sudah berada di titik tidak sudi dan enggan untuk berpapasan atau melakukan kontak mata lagi dengan si pria asing berambut biru terang yang menyebalkan itu.
Tepat pada saat Lucas baru saja hendak membungkukkan posisi punggungnya untuk mengangkat koper kanvas pertama, sebaris siluet bayangan tubuh tegap mendadak melangkah mendekat memotong jarak.
"Biar saya saja yang membantu Anda untuk menaikkan barang-barang ini, Tuan Lucas!" Alan menghampiri posisi koper dengan langkah kaki yang teramat ringan disertai ulasan senyuman ramah yang tulus.
"Oh, tidak usah repot-repot, Tuan Alan. Biar saya sendiri saja yang—"
Belum sempat bibir Lucas menyelesaikan kalimat penolakannya secara utuh, dengan kecekatan instan, Alan sudah menyambar dua buah koper besar sekaligus menggunakan kedua belah tangannya dengan tenaga fisik yang tampak teramat ringan layaknya mengangkat selembar kapas.
Tepat di posisi belakang punggungnya, Ethan dan Damian Dexter yang mengenakan jubah katun merah muda kelinci ikut melangkah maju membantu proses pemindahan barang tanpa banyak membuang pasokan bicara.
Dengan serangkaian pergerakan fisik yang teramat cepat, gesit, dan memiliki tingkat presisi tinggi—sebuah kecepatan abnormal yang tidak akan pernah masuk akal jika diukur menggunakan standar kemampuan manusia biasa—seluruh tumpukan koper pakaian dan kardus-cardus berat itu telah berpindah tempat ke atas bak terbuka kereta kuda barang hanya dalam hitungan detik saja.
Lucas berdiri terpaku mati di atas tanah, mulutnya sempat sedikit terbuka dilingkupi rasa syok menyaksikan betapa efisien dan kuatnya ketiga pria asing tersebut dalam bekerja.
"Terima kasih banyak... saya benar-benar teramat berterima kasih atas bantuan tenaga yang luar biasa dari Anda semua, Tuan-tuan. Maafkan saya karena harus bergegas segera berangkat sekarang, karena saya dituntut waktu untuk mengantarkan anak tetangga desa saya ini yang akan pindahan akademi menuju luar kota," ujar Lucas sembari memberikan seulas senyuman canggung yang dipaksakan.
Pria itu mencoba sekeras mungkin menutupi kebohongan sandiwara putrinya agar terlihat natural di depan para tamunya.
"Kami bertiga juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang teramat besar, Tuan Lucas, karena Anda sudah sudi memberikan izin bagi kami untuk menumpang menginap malam tadi," balas Alan dengan nada suara sopan khas seorang bangsawan.
"Apakah... apakah memang merupakan sebuah kebenaran jika rute berkendara Anda pagi ini adalah pergi menuju ke Kota Vespera, Tuan Lucas?" tanya Damian Dexter secara tiba-tiba memotong pembicaraan.
Sepasang manik mata hitam pekatnya yang indah tampak menatap tajam tanpa berkedip ke arah area bak terbuka kereta.
"Iya, hal itu seratus persen benar sekali," jawab Lucas jujur.
"Kebetulan sekali rute tujuan perjalananku juga sama-sama mengarah menuju ke kota itu. Jika diperbolehkan... apa boleh aku ikut menumpang di keretamu sampai ke Kota Vespera?"