Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Misi Sistem
Risa menggeleng pelan. “Sekarang aku merasa... aku belum kenal kamu sama sekali.”
Yuda terdiam beberapa saat, lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, mari berkenalan lagi. Anggap saja ini pertemuan pertama kita. Sekarang kau sudah tahu aku pebisnis yang gemar menjadi kurir, sisanya... bisa kau pelajari pelan-pelan.”
Risa menopang dagunya sambil memperhatikannya. “Kedengarannya seperti aku sedang mengenal orang baru.”
“Memang begitu. Yuda yang kamu kenal selama dua tahun mungkin sudah banyak berubah.”
Risa tersenyum tipis. “Kalau begitu, selain soal pekerjaan dan uang, apa lagi yang harus aku ketahui tentangmu?”
“Mungkin... soal rencana masa depan?” Yuda menatapnya sambil mengangkat sudut bibirnya. “Misalnya, fakta bahwa saat ini aku sedang mencari seorang permaisuri.”
Risa terdiam beberapa detik.
Matanya melebar tak percaya sebelum ia menghela napas dan mendengus pelan, menahan senyum.
“Setelah membuatku penasaran setengah mati tentang identitasmu, kau malah bicara omong kosong soal permaisuri?”
Yuda tertawa kecil. “Aku cuma sedang memberitahumu salah satu tujuan hidupku yang baru.”
“Dan kenapa aku yang diberi tahu?”
Yuda menatapnya santai.
“Karena kebetulan, Mbak Risa adalah salah satu wanita yang masuk kualifikasi. Jadi, kalau lowongan itu sedang kubuka, kau sudah tahu lebih dulu.”
Risa kembali terdiam.
Namun kali ini bukan karena bingung.
Pipinya perlahan memerah.
Ia buru-buru mengambil gelas dan meneguk minumannya, seolah berharap hal itu bisa menyembunyikan perubahan ekspresinya.
“Dasar Yuda... apakah ini sifat aslimu?”
Yuda hanya tersenyum puas. “Berarti kamu tidak langsung menolak.”
Risa menurunkan gelasnya dan menatap tajam. “Jangan terlalu percaya diri.”
“Baiklah. Aku tunggu sampai kamu berubah pikiran.”
Risa mendengus pelan.
Namun sudut bibirnya justru terangkat tanpa bisa ia tahan.
Sementara itu, Yuda diam-diam mengingat alasan lain mengapa ia mulai berani mendekati wanita seperti Risa.
Bukan hanya karena Risa cantik.
Beberapa saat sebelumnya, sistem tiba-tiba memberinya sebuah tugas.
[Ding! Sebagai calon Tycoon dunia, bagaimana mungkin Tuan Rumah tidak memiliki beberapa permaisuri dan selir?]
[Misi: Taklukkan wanita cantik dengan minimal skor penampilan 85.]
[Hadiah: Semakin banyak wanita cantik, semakin bagus hadiahnya.]
[Tiap kali Tuan Rumah menaklukkan satu wanita dengan skor penampilan 85 ke atas, Tuan Rumah akan mendapatkan hadiah misteri.]
[Untuk membantu Tuan Rumah memilih wanita cantik, sistem akan memberikan fitur pindai status wanita.]
[Batas waktu: Tidak ada.]
Tugas itu benar-benar mengubah arah hidupnya.
Yuda sebelumnya tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang playboy.
Bahkan sampai sekarang pun ia tidak ingin menjadi pria yang mempermainkan perasaan wanita.
Namun kalau ia benar-benar mendekati seseorang, ia akan memperlakukannya dengan serius dan menyayanginya.
Lagipula, dengan bantuan sistem seperti ini, masa depannya jelas tidak akan biasa-biasa saja.
Jika benar-benar mencapai puncak dunia, mungkin saja akan ada semakin banyak wanita yang datang kepadanya.
Dan sekarang, Risa adalah salah satu target yang menarik perhatiannya.
Sebelumnya, Yuda sempat menggunakan fitur pindai pada wanita itu.
[Target: Risa Aprilia]
[Jenis Kelamin: Wanita]
[Umur: 30]
[Penampilan: 91]
[Isi Daya: 0]
[Favorability: 78 — Teman dekat/Ketertarikan]
[Emosi saat ini: Penasaran, terkejut, malu, berharap.]
Melihat angka Favorability yang mencapai 78, Yuda sedikit terkejut.
Ternyata perasaan Risa terhadapnya sudah sejauh itu.
Namun yang paling menarik perhatiannya justru satu bagian lain.
Isi daya: 0.
Yuda langsung memahami maksudnya.
Dan ketika membaca kata terakhir pada daftar emosi itu—
Berharap.
Pikirannya pun mulai melayang ke tempat yang tidak seharusnya.
'Hm... jangan-jangan wajah tampanku ini memang sudah membuatnya terpesona.' Yuda tersenyum kecil.
Kalau Risa bisa mendengar isi pikiran dia, mungkin sepatu hak tingginya sudah melayang ke wajahnya.
Ia buru-buru mengalihkan pikirannya kembali ke situasi di depannya.
...----------------...
Setelah makan di restoran dan menghabiskan sekitar Rp1 juta, Yuda kembali mendapatkan cashback sebesar Rp100 juta.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di area parkir mall.
Yuda sebenarnya masih ingin mengajak Risa menemaninya membeli motor.
Namun wanita itu mengatakan bahwa ada pesanan mendadak yang harus ia urus.
Sayang sekali.
Yuda sebenarnya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya.
Omong-omong, toko online milik Risa jualannya pakaian, mulai dari pakaian anak-anak hingga pakaian dewasa.
Kalau ada kesempatan, mungkin ia bisa membeli beberapa pakaian untuk oleh-oleh saat pulang kampung.
Baru saja Yuda hendak mengaitkan tas belanja Armani dan Huawei ke motornya, gerakannya terhenti.
Ia mengernyitkan dahi. “Entah kenapa seperti ada yang terlupakan...”
Ia mencoba mengingat kembali semua barang yang tadi ingin dibelinya.
Beberapa detik kemudian, matanya membesar.
Yuda menepuk dahinya. “Sialan! Aku lupa beli jam tangan.”
Tanpa membuang waktu, ia kembali menenteng tas belanjaannya dan berbalik masuk ke dalam mal.
Tujuannya kini adalah lantai tiga.
Setelah menghabiskan ratusan juta untuk pakaian dan gadget, pergelangan tangannya terasa terlalu kosong untuk seorang miliarder.
Tak berselang lama, ia melihat butik Patek Philippe.
Berbeda dengan hiruk-pikuk toko lain di lantai tersebut, butik ini memancarkan aura ketenangan yang eksklusif.
Fasadnya didominasi kaca bening dengan pencahayaan hangat.
Di balik etalase, jam-jam tangan mewah terpajang berjauhan satu sama lain—sebuah penegasan bahwa mahakarya tidak membutuhkan keramaian untuk memamerkan nilainya.
Ia menatap logo di atas pintu, lalu melihat jam-jam yang terpajang di balik kaca.
Begitu melangkah ke dalam, suasananya terasa jauh berbeda dari toko-toko yang baru saja ia datangi.
Seorang staf wanita yang berdiri di dekat area pelayanan segera mengangkat wajah.
Wanita itu tampak berusia sekitar 23 tahun.
Rambut hitamnya ditata rapi sebahu, dengan beberapa helai rambut membingkai wajahnya.
Ia mengenakan setelan pegawai toko berwarna gelap yang sederhana namun sangat rapi dan menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah, dipadukan dengan sepatu hak rendah.
Riasannya tidak berlebihan, hanya cukup untuk membuat wajahnya terlihat profesional dan segar.
Tatapannya langsung tertuju kepada Yuda.
Hal pertama yang muncul di benaknya justru sedikit kebingungan.
Pakaian pria itu rapi, tetapi sama sekali tidak terlihat seperti pakaian mahal.
Namun kemudian pandangannya turun pada barang bawaan Yuda.
Sebuah tas Armani.
Di tangan lainnya ada tas Huawei.
Wanita itu sedikit mengernyit. 'Bukankah itu Armani?'
Ia tidak terlalu mempermasalahkan penampilan pelanggan.
Bagaimanapun, orang kaya tidak selalu berpakaian mencolok.
Dan dia punya prinsip, semua pelanggan adalah ladang komisinya, meski membeli jam paling murah, komisinya tetap lumayan untuk sekelas Toko Patek Philippe.
Tetapi tetap saja, perpaduan antara pakaian sederhana dengan barang-barang mahal itu membuatnya penasaran. 'Apa dia tipe pria kaya rendah hati seperti di film-film pendek?'
Ia segera memasang kembali senyum profesional dan melangkah menghampiri.
“Selamat datang di Patek Philippe, Pak. Apakah ada model tertentu yang ingin dilihat?”
Yuda menggeleng. “Belum. Saya sedang mencari jam yang cocok dipakai sehari-hari. Kalau bisa yang terlihat elegan, tidak terlalu mencolok, dengan casing warna putih dan strap kulit.”
Wanita itu mengangguk sambil memperhatikan Yuda sedikit lebih saksama.
Entah kenapa...
Wajah pria itu terasa familiar.
Ia mencoba mengingat-ingat, tetapi tidak menemukan jawabannya.
“Apakah Bapak sudah memiliki kisaran harga tertentu?” tanyanya kemudian dengan nada profesional. “Saya bisa menyesuaikan pilihan yang akan saya tunjukkan.”
Pertanyaan itu sebenarnya cukup wajar.
Namun Yuda justru mengangkat alis.
“Tidak ada batasan khusus. Selama modelnya cocok dan saya suka.”
Bab Berakhir.