"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Jangan Mengganggu
"Enak banget," kata Lily yang menyukai rasa masakan Lucas.
Lily menikmati sarapan paginya dengan senang namun kurang lengkap karena ponselnya tidak ada, jadi Lily tidak bisa makan sambil nonton.
Selesai sarapan Lily kembali ke kamar dan tertegun melihat Lucas yang duduk di tepi ranjang hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya habis mandi.
"Kak, anterin Lily ke hotel dong?" pinta Lily menghampiri Lucas yang duduk menatap ponselnya.
"Ngapain ke hotel bocil?" tanya Lucas dengan wajah curigaan.
"Dihhhh, Lily mau ambil ponsel, kayaknya pas ganti pakaian ponsel Lily ketinggalan semalam," ucap Lily menjelaskan tujuannya.
"Barusan pihak hotel menelepon ponsel kamu akan diantar sore nanti," kata Lucas kembali fokus ke ponselnya.
"Haaaa, sore kan masih lama, kita jemput aja ke sana Kak," rengek Lily yang mana bisa tidak main ponsel seharian.
"Suruh saja bodyguard jemput, kamu buka pintu apartemen di luar ada bodyguard," kata Lucas yang sedang sibuk membaca email pekerjaan di ponselnya.
"Oke Kak," kata Lily langsung pergi.
Lucas sedikit heran melihat Lily yang malah masuk ke ruang ganti bukan langsung menyuruh bodyguard, tapi sudahlah pekerjaan Lucas terlalu banyak hingga dia tidak sempat memikirkan itu.
20 menit kemudian Lily keluar ruang ganti dengan style modisnya, rok mini dengan atasan crop hitam polos lengkap dengan tas selempang kecil di pundaknya.
"Pakai baju Kak, nanti masuk angin," kata Lily memberikan baju kaos polos yang dibawanya pada Lucas yang masih duduk dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Lucas menatap Lily dari ujung kaki sampai ujung rambut setelah menerima baju yang Lily berikan.
"Ya, jemput ponsel," kata Lily yang terus memperhatikan tubuh kekar Lucas yang sangat berotot sebelum pria itu selesai pakai baju.
"Ulangi apa yang aku katakan tadi?" tanya Lucas begitu selesai pakai baju menatap Lily yang berdiri di hadapannya.
"Suruh bodyguard jemput ponsel," kata Lily mengambil sebelah tangan Lucas lalu bersalaman.
"Jika sudah menyuruh bodyguard ngapain kamu ikut?" kata Lucas memegang tangan Lily yang bersalaman padanya.
"Haaaa, tapi kan Lily pengin ikut Kak," suara kecil Lily yang tadinya berpikir Lucas menyuruhnya menjemput bersama bodyguard karena Lucas sibuk.
"Tidak," tegas Lucas.
"Mmmmh, mau ikut pokoknya," kata Lily langsung lari keluar kamar.
"Bandel ya kamu," ucap Lucas yang baru beberapa langkah Lily keluar kamar sudah mendapatkannya.
"Masuk," kata Lucas memegang tangan Lily dan membawanya kembali ke dalam kamar.
"Tunggu 30 menit lagi, setelah pekerjaanku selesai kita berangkat," kata Lucas pada Lily yang duduk di tepi ranjang.
Lucas masuk ke ruang ganti untuk berpakaian dan mengeluarkan laptopnya dari laci.
"Kalau Kak Lucas sibuk, Lily jemput ponselnya sama bodyguard aja," kata Lily pada Lucas yang duduk bersandar di tepi ranjang menyalakan laptop di pangkuannya.
Jangankan jawaban bahkan mendapat respons sama tidak dari Lucas, Lily benar-benar dikacangin.
"Ihhhhh," geram Lily mengepalkan tangannya, rasanya ingin menjitak kepala Lucas yang arogan itu.
"Ya udah pinjamkan Lily ponsel Kak Lucas untuk scroll video," pinta Lily yang tentunya akan bosan jika duduk saja tanpa melakukan apa pun.
"Ayo Kak," rengek Lily menggoyangkan tangan Lucas yang sedang mengetik.
"Lily, kamu itu selalu saja mengganggu aku yang sedang sibuk," kesal Lucas menatap Lily tajam, sejak kecil sampai sekarang Lily selalu saja mengganggu jika Lucas sedang fokus.
"Apa, mau dorong Lily lagi," kata Lily terbayang tatapan Lucas 14 tahun yang lalu.
Lucas bernapas kasar, segera membuka PIN ponselnya lalu memberikan pada Lily, agar tidak mengganggunya lagi.
Lily langsung duduk anteng di sebelah Lucas begitu diberikan ponsel, Lily terbawa alur oleh apa yang dia tonton.
.....
40 menit berlalu Lucas sudah menyelesaikan pekerjaannya dan segera menyimpan laptop.
"Tunggu di sini, aku ganti baju sebentar," kata Lucas yang diangguki Lily.
Setelah Lucas siap mereka berangkat menuju hotel tempat mereka mengadakan pesta pernikahan semalam.
"Kak Lucas, nanti kita belanja ya, Lily mau beli snack," kata Lily pada Lucas yang sedang menyetir itu.
"Nanti akan ada pelayan yang belanja kebutuhan untuk 5 hari ini di apartemen, minta saja pada mereka," kata Lucas.
"Emang mereka tahu apa produk yang kita inginkan?" tanya Lily yang biasanya juga membeli kebutuhan pribadinya sendiri walaupun banyak pelayan.
"Yang namanya pelayan tentu saja tahu apa kebutuhan rumah tangga," kata Lucas.
"Kebutuhan rumah tangga mereka emang tahu Kak, tapi keperluan pribadi dan apa yang kita sukai kan mereka tidak tahu," kata Lily.
"Ya makanya kamu bilang," kata Lucas.
"Dihhh, susah ngomong sama orang dungu," kesal Lily memangku kedua tangannya, merasa Lucas sama sekali tidak paham apa yang dia maksud.
"Lily, aku ini seorang pria, bisa-bisanya kamu ajak belanja, mau ditaruh di mana harga diriku," kata Lucas dengan angkuhnya.
"Lily ngajakin Kakak belanja bukan mencuri, kenapa harus malu?" bingung Lily dengan pernyataan Lucas.
"Ya, kan yang biasa beli kebutuhan rumah itu perempuan," kata Lucas yang memang tidak pernah melakukannya selama ini.
"Kak Lucas benar-benar patriarki dan diskriminasi gender ya, seperti orang yang hidup di zaman kuno," ketus Lily.
"Atas dasar apa kamu mengatakan seperti itu, sebagai seorang pria aku bekerja dan punya penghasilan yang cukup dalam keluarga," tegas Lucas.
"Bahkan memasak untuk istriku," sambung Lucas mematahkan argumentasi Lily yang mengatakan dia pria patriarki apalagi diskriminasi gender.
"Jika memasak saja mau lalu kenapa belanja tidak?" tanya Lily.
"Karena tugasku bekerja dan menghasilkan uang, bukan belanja seperti wanita," kata Lucas.
"Ya sudah, Lily yang belanja Kak Lucas yang bayar," kata Lily mengambil jalan tengah.
Sesampai di hotel Lucas dan Lily berjalan melewati lorong hotel menuju gedung acara semalam.
Di sepanjang perjalanan ekspresi dingin wajah Lucas semakin tidak terkendali saat banyak sekali orang menyapa Lily.
"Kenapa Kak?" kata Lily yang berjalan di sebelah Lucas mendadak merinding ketika aura dingin Lucas serasa membekukan sekitar mereka.
"Sejak kecil sudah aku katakan Lily, jangan genit," kata Lucas tiba-tiba menarik telinga Lily dengan geram.
"Akkkkh, sakit Kak," rintih Lily memegang tangan Lucas yang menarik telinganya.
"Awas kamu centil lagi pada pria lain," ketus Lucas yang sangat tidak menyukai hal itu dari Lily.
"Lily nggak centil Kak, mereka menyapa jadi ya dijawab," kata Lily yang sungkan mengabaikan orang lain.
Dia tidak pandai arogan seperti Lucas, yang jangankan tersenyum pada orang lain disapa saja tidak merespons.
Pria arogan, yang begitu dingin tak tersentuh!
"Ya tidak usah kamu jawab," ucap Lucas dengan tegas sampai Lily kaget mendengarnya.
"Astaga," Lily mengelus dadanya dan mengikuti Lucas yang berjalan memegang sebelah tangannya.