NovelToon NovelToon
NATIONAL PROTECTION

NATIONAL PROTECTION

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:412
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBANGKITAN SANG ADIK

​Dua bulan telah berlalu sejak Andre dan Bastian menyapu bersih Lorong Ratapan dalam waktu kurang dari satu jam. Keberhasilan yang tidak masuk akal itu, dilakukan hanya oleh dua orang pemula tanpa regu penyembuh, telah mengguncang pondasi Asosiasi dan merusak peta kekuatan guild menengah di Sektor Pusat. Rumor tentang Tanker tak tertembus dari Keluarga Valerius dan pembunuh berdarah dingin yang bergerak lebih cepat dari bayangan telah menyebar seperti wabah.

​Meskipun Asosiasi berusaha keras menutupi data statistik mereka, guild-guild besar mulai mengirim agen intelijen untuk melacak jejak pemuda bernama Andre. Namun, semua usaha itu menemui jalan buntu. Marvin, titik lemah satu-satunya milik Andre, kini telah dipindahkan ke salah satu penthouse mewah berkeamanan maksimal milik Keluarga Valerius di Sektor 1. Di sana, dikelilingi formasi sihir pelindung tingkat tinggi dan penjagaan ketat para kesatria bayaran, Marvin bebas menikmati fasilitas hidup yang belum pernah ia impikan sebelumnya.

​Di sanalah Marvin berdiri saat ini, di tengah ruang simulasi latihan pribadi penthouse tersebut. Ruangan itu bernuansa putih bersih, dikelilingi kaca kedap suara dan panel-panel hologram yang menampilkan data biometrik.

​Marvin memejamkan mata, keringat dingin membasahi pelipisnya. Hari ini adalah hari pendaftaran dan tes Awakening untuk Akademi Asosiasi. Di usianya yang menginjak 16 tahun, ia akhirnya mencapai batas umur legal untuk membangkitkan kelas mananya. Selama berminggu-minggu, Bastian telah menyewa instruktur privat terbaik untuk mempersiapkan fisik dan mental remaja itu.

​Andre bersandar di dinding kaca, mengamati adiknya dengan lengan bersilang. Ekspresinya tenang, namun di balik ketenangan itu, insting pelindungnya bersiaga penuh. Di kehidupan lampaunya, proses kebangkitan kelas bisa memicu anomali mana yang fatal bagi tubuh yang belum siap.

​"Santai, Vin. Jangan ditahan. Biarkan mananya mengalir mencari jalannya sendiri," suara bariton Bastian menggema di ruangan itu. Ia berdiri di dekat panel kontrol, mengawasi grafik energi yang mulai berfluktuasi.

​"Aku... aku merasa seperti ada yang terbakar di dadaku, Kak," rintih Marvin, napasnya terputus-putus. Tangannya mencengkeram erat pakaian di dada kirinya.

​Andre melangkah maju secara naluriah, namun menahan dirinya. Ini adalah pertarungan yang harus dimenangkan Marvin sendirian. Sistem tidak akan memberikan belas kasihan.

​Tiba-tiba, gelombang energi berwarna perak meledak dari tubuh Marvin, menyapu ruangan seperti angin kencang. Layar hologram berkedip merah sebelum kembali stabil. Cahaya perak itu tak lama kemudian meredup, digantikan oleh pendar hijau zamrud yang sangat lembut, lalu disusul oleh kabut ungu pekat yang merayap di lantai di sekitar kaki Marvin.

​Bastian mengerutkan kening, menatap layar monitor dengan tatapan tak percaya. "Apa-apaan ini... Hijau adalah spektrum elemen kehidupan, tapi ungu pekat itu..."

​[Proses Awakening Selesai.]

[Individu: Marvin.]

[Kelas Utama Ditetapkan: Healer (Penyembuh).]

[Anomali Terdeteksi. Kelas Sekunder Ditetapkan: Venomancer (Pengendali Racun/DoT).]

​Mata Andre sedikit melebar saat membaca teks biru yang melayang di atas kepala adiknya. Kelas ganda. Sama sepertinya. Namun kombinasi milik Marvin jauh lebih paradoks. Healer adalah nyawa dari sebuah regu, bertugas menyelamatkan kehidupan. Sedangkan Venomancer adalah spesialis Damage over Time (DoT), kelas penyiksa yang menggerogoti nyawa musuh secara perlahan melalui racun, kutukan, dan pembusukan. Menggabungkan keduanya dalam satu wadah adalah sesuatu yang belum pernah terdengar di era ini.

​Marvin membuka matanya perlahan. Napasnya sudah kembali teratur. Ia menatap telapak tangan kanannya yang memancarkan cahaya hijau hangat, lalu menatap telapak tangan kirinya yang meneteskan aura ungu mematikan yang mendesis saat menyentuh udara.

​"Kak..." Marvin menelan ludah, menatap Andre dengan bingung. "Aku bisa merasakan luka goresan di jarimu dari sini... dan di saat yang sama, aku tahu persis bagaimana cara membuat darah di tubuh Kak Bastian mendidih."

​Bastian mundur selangkah, berpura-pura ngeri meski senyum lebar perlahan muncul di wajahnya. "Oke, ingatkan aku untuk tidak pernah membuatmu marah saat membagi porsi makanan nanti."

​Andre tersenyum, sebuah senyuman bangga yang langka. Ia mendekati adiknya dan menepuk bahu Marvin. "Ini kombinasi yang sempurna, Vin. Mereka yang hanya bisa menyembuhkan akan selalu bergantung pada pelindung. Tapi kamu? Kamu bisa menyembuhkan sekutumu sambil memastikan musuh mati perlahan dalam keputusasaan."

​"Rishing Guild kini punya Healer," Bastian tertawa lepas, menyandarkan tubuhnya ke meja kontrol. "Satu Tanker mutlak, satu eksekutor bayangan, dan satu penyembuh yang merangkap sebagai penabur wabah. Jika Asosiasi tahu apa yang sedang kita kembangkan di ruangan ini, mereka mungkin akan mendeklarasikan status siaga."

​"Biarkan mereka bergosip," Andre mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca raksasa yang menatap langsung ke pusat kota. "Besok, kau masuk akademi, Marvin. Gunakan hanya kelas Healer-mu di depan publik. Jadilah murid yang baik dan tidak mencolok. Sembunyikan Venomancer-mu untuk keadaan darurat. Biar aku dan Bastian yang menjadi target perhatian utama."

​Marvin mengangguk mantap, menatap kedua tangannya dengan tekad baru. Ia bukan lagi beban. Ia kini memiliki kekuatan untuk berdiri di medan perang yang sama dengan kakaknya.

​Keesokan paginya, langit Sektor Pusat dipenuhi lalu lalang kendaraan udara militer Asosiasi. Suasana kota sedikit lebih tegang dari biasanya.

​Di sebuah kafe elit di lantai 50, tiga petinggi dari tiga guild terbesar di Sektor Pusat duduk mengelilingi meja bundar. Asap cerutu beraroma mana mengepul memenuhi ruangan VIP yang kedap suara itu.

​"Asosiasi terlalu ikut campur," gerutu seorang pria kekar bersorot mata tajam. Ia adalah Ketua Guild Titan, seorang Third Job kelas Berserker. "Mereka menyita seluruh hak eksplorasi dungeon tingkat Nightmare di Sektor 3 dengan alasan investigasi anomali. Padahal jelas-jelas ada artefak legendaris di dalamnya."

​"Jangan bodoh, Titan," balas seorang wanita anggun berambut merah menyala dari seberang meja. Ia adalah Wakil Ketua Guild Phoenix, seorang penyihir elemen tingkat atas. "Kau tahu persis mengapa Asosiasi bergerak paranoid belakangan ini. Ini bukan soal artefak. Ini soal rumor bahwa Tuan Muda Valerius dan kuli panggul tak bernama itu telah menaklukkan tiga dungeon tingkat Hard dalam dua minggu terakhir, hanya berdua."

​"Pemuda kuli itu anomali yang berbahaya," pria ketiga, seorang pria berkacamata dari Guild Shadowhand, menimpali dengan nada dingin. "Informanku mengatakan Keluarga Valerius telah menyembunyikan adiknya di Sektor 1. Tuan Muda Bastian mencoba membangun fraksinya sendiri di luar kendali kita. Jika kita membiarkan dua rookie itu terus mencetak rekor tak masuk akal, harga saham dan monopoli kita di Asosiasi akan hancur."

​"Lalu, apa rencanamu? Membunuh pewaris Keluarga Valerius? Ayahnya akan mengirim pasukan tentara bayaran elit untuk meratakan markas kita," ancam ketua Titan.

​"Bukan pewarisnya," pria berkacamata itu tersenyum licik, menyesap kopinya perlahan. "Kita patahkan pedangnya. Pemuda bernama Andre itu. Kudengar malam ini, dia dan Bastian mendaftarkan diri untuk menembus Dungeon 'Lembah Siksa' di Sektor 4. Tingkat Hard, tapi tingkat kematiannya sangat tinggi karena medan racun dan jebakan. Bagaimana kalau kita mengirim regu assassin elit kita menyusul ke dalam? Asosiasi tidak akan mengawasi apa yang terjadi di dalam dungeon. Jika Andre mati tertusuk di sana, kita tinggal bilang dia mati karena jebakan. Tuan Muda Valerius yang kehilangan pelindungnya akan trauma dan kembali menjadi anak manja konglomerat."

​Wanita berambut merah itu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Ide yang kotor. Tapi efisien. Phoenix akan mengirim dua pembunuh kelas Second Job tingkat atas."

​"Titan akan mengirim tiga."

​"Shadowhand akan mengirim lima. Sepuluh pembunuh bayaran profesional melawan satu kuli panggul," pria berkacamata itu menyeringai. "Malam ini, legenda kecil mereka akan berakhir."

​Malam harinya, di depan portal merah darah Lembah Siksa.

​Angin malam berhembus membawa bau busuk rawa beracun dari balik portal dimensi. Andre berdiri santai, mengenakan pakaian hitam ringan yang memudahkan pergerakan. Di punggungnya, sebuah pedang perak berkualitas High Grade—hadiah dari Bastian—terpasang dengan rapi.

​Bastian, mengenakan zirah penuh yang memancarkan energi pertahanan, berdiri di sampingnya sambil meregangkan otot bahu.

​"Menurut informan rahasia keluargaku, ada sepasang mata-mata dari guild besar yang membayangi kita sejak kita keluar dari perumahan elit Sektor 1," gumam Bastian tanpa menggerakkan bibirnya, menatap lurus ke arah portal agar tidak mengundang kecurigaan.

​"Sepuluh orang," koreksi Andre datar, insting pembunuhnya sudah memetakan hawa keberadaan musuh yang bersembunyi di balik reruntuhan gedung di belakang mereka. "Campuran dari kelas Assassin dan Rogue. Level mereka rata-rata 35 ke atas."

​"Jadi, umpan kita berhasil dimakan," Bastian tersenyum di balik helm zirahnya.

​Andre menoleh pelan ke arah kegelapan di belakang mereka, matanya memancarkan kilatan es yang membuat suhu udara di sekitarnya anjlok.

​Mereka memang sengaja memilih dungeon mematikan ini dan mendaftarkannya secara publik tanpa menyembunyikan jadwal. Mereka membutuhkan batu loncatan yang kuat untuk meresmikan Rishing Guild, dan darah agen elit dari guild-guild raksasa adalah pesan deklarasi perang yang paling sempurna. Mereka ingin menunjukkan bahwa tatanan lama di kota ini sudah usai.

​"Ayo masuk, Bastian," ucap Andre dingin, mencabut pedang peraknya yang seketika diselimuti aura bayangan yang mencekam. "Kita akan biarkan tamu-tamu kita menyusul ke dalam. Mereka tidak tahu bahwa mereka bukan sedang mengejar mangsa."

​Andre menembus membran portal, disusul oleh Bastian yang tertawa pelan.

​Di dalam sana, sang Kaisar Kilat tidak akan berburu monster. Ia akan berburu manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!