Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GODAAN
“Letakkan disana sayurnya, awas panas jangan sampai disenggol!”
“Air mineralnya masih kurang dua dus lagi, pergi ke warung pak Supri sekalian ambil beberapa slop rokok pesanan pak kades”
“Gelar lagi tikar nya, diujung sana. Ya, diujung sebelah kanan, gelar lagi dua tikar besar”
Teriakan dan instruksi menggema di pendopo balai desa, Semua warga saling bantu membawa semua makanan dan perlengkapan yang akan dibuat dalam acara barikan yaitu malam tasyakuran dan doa bersama yang diselenggarakan warga pada malam menjelang hari kemerdekaan yang dilaksanakan dipendopo ba'da isya nanti.
Setelah ba’da isya, satu persatu warga mulai berdatangan, disambut oleh panitia agustusan dan ibu-ibu majelis dengan ramah dan dipersilahkan untuk duduk memutar diatas tikar yang telah digelar.
Begitu semua warga sudah berkumpul, acarapun dimulai. Diawali dengan sambutan dari Bapak kepala desa kemudian kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu kemerdekaan dan lagu nasionalis lainnya. Selanjutnya ketua panitia acara Agustusan memberikan sambutan sekaligus memaparkan semua kegiatan yang telah dan akan dilangsungkan nanti, terutama mengenai acara puncak, diakhir bulan dimana pagi hari akan diisi oleh jalan sehat yang diikuti oleh seluruh warga desa dan di malam harinya akan ada pertunjukkan seni yang akan menampilkan kreativitas warga Desa Maju Bersama.
Dalam kesempatan malam ini hasil lomba hias desa juga telah diumumkan dan Desa Maju Bersama mendapatkan juara pertama, membuat acara barikan malam ini terasa lebih spesial dari tahun-tahun sebelumnya.
Diakhir acara, sebagai rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dilakukan doa bersama dan dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng dan makan bersama agar masyarakat Desa Maju Bersama semakin rukun dan guyub.
Setelah acara makan-makan berakhir, beberapa warga yang memiliki bayi atau balita dan juga para lansia memilih untuk pulang sementara ibu-ibu dan bapak-bapak serta para pemuda pemuda desa memilih untuk tetap tinggal sambil bercengkerama ringan dengan sesama warga, termasuk Vallery yang kini sudah sangat akrab dengan semua warga dan tengah duduk menikmati gosip yang tengah dibahas semua orang.
“Wah, apa ini pak kades?”, seru yu Hindun melihat Dirga membawa cooler box ke tengah-tengah perjamuan.
“Ice cream Bu. Monggo silahkan mengambil bagi yang berkenan”, Dirga berkata sambil membuka cooler box yang dibawanya dan mempersilahkan semua orang untuk mengambil.
Mendengar ada ice cream, para bocah pun segera berlari menyerbu. Para pemuda dan pemudi juga tak kalah bersemangat, termasuk Vallery yang langsung ikut mengantri bersama para bocah yang dengan penuh semangat mengambil satu persatu ice cream yang diinginkan.
Begitu tiba gilirannya, Vallery pun mengambil ice cream bentuk cone dengan lapisan atas coklat yang tebal dan segera melipir ke tepi untuk menikmati ice cream yang baru diambilnya.
“Sudah lama juga aku gak makan ice cream seperti ini semenjak tinggal desa”, batin Vallery bersemangat membuka kertas yang membungkus ice cream dan mulai memakan bagian ujungnya yang penuh dengan potongan coklat yang sangat dirindukannya.
Sambil menikmati ice cream yang ada ditangannya, Vallery sekali cekikikan ketika ada ucapan warga yang dianggapnya lucu, kemudian iapun lanjut makan ice cream sambil menikmati percakapan semua orang.
Karena sangat menikmati ice cream ditangannya Vallery tak sadar jika dari tadi mata Dirga terus memperhatikan dirinya dari samping.
Vallery tak sadar karena ia asik menikmati aneka gosip yang warga bahas sambil lidahnya terus menjilati ice cream yang ada ditangannya.
Tak ikut makan es, tapi tenggorokan Dirga seakan menelan sesuatu, ludahnya sendiri. Jakunnya sampai naik turun dengan gerak pelan. Itu semua terjadi gara-gara pemandangan di sampingnya yang tanpa sadar membuat tubuhnya menjadi panas dingin.
Vallery yang tak tahu jika akibat ulahnya membuat tubuh seseorang panas dingin, tetap makan dengan khidmat.
Lidah tipisnya terjulur, menjilati ice cream. Saat tak sengaja sudut bibirnya tertempel es, lidah itu akan bergerak ke samping untuk
menjilat, dan kembali bergerak pelan menjilati ice cream yang ada ditangannya, naik turun dengan penuh kenikmatan.
Batin Dirga menggeram kesal. Karena otaknya malah memikirkan yang tidak-tidak, membayangkan jika yang dijilati gadis itu adalah sesuatu yang lain, membuat anacondanya perlahan terbangun dan meronta ingin keluar.
Lebih sialnya lagi dia tidak bisa menyuruh matanya untuk beralih. Seolah Vallery memiliki magnet sendiri yang membuatnya terpaku.
Dirga merasa seperti tengah melalukan uji nyali didalam ruangan sempit yang penuh dengan binatang buas yang mematikan, sampai nafasnya sedikit berat dengan suhu tubuh panas dingin. Merindingnya sampai ke dalam-dalam.
Iapun memaksa matanya untuk terpejam, berharap pemandangan tadi terganti oleh bayangan hitam dari kelopaknya yang tertutup.
Tapi sia-sia karena isi kepalanya masih terus terbayang aksi Vallery menjilati ice creamnya.
Saat kembali membuka mata, dia temukan lagi pemandangan yang sama dan lebih nyata lidah itu bergerak semakin liar tak terkendali karena ice cream ditangan Vallery sudah menipis, Vallery pun memasukkan lidahnya kedalam cone yang didalamnya masih ada sisa ice cream nya, lagi-lagi dengan ekspresi penuh kenikmatan, membuat Dirga kembali memejamkan mata sambil mengertakkan gigi menahan gejolak yang semakin besar dalam dirinya.
“Ya Allah, Gusti!!”, batin Dirga meraung frustasi.
Sebelum pikiran di dalam kepalanya semakin liar dan membuatnya tak terkendali, tangan Dirga bergerak cepat. Dia rampas apa yang Vallery pegang sampai membuat gadis itu menoleh kearahnya dengan cepat..
Belum sampai mulut Vallery melayangkan protes, cone yang masih berisi sisa ice cream dan lelehan coklat dibawahnya yang memang sengaja ia sisakan untuk dinikmati di akhir, kini sudah dimasukkan ke dalam mulut Dirga dengan sangat cepat.
Hanya dalam satu kali lahap, sisa ice cream tersebut langsung habis. Pipi Dirga menggembung karena menggigit terlalu banyak, hampir semua dia telan dalam mulutnya. Dan dia mengunyah sambil menatap tajam Vallery yang melongo.
Vallery sampai membuka mulutnya tak percaya. Sisa ice cream yang tengah dinikmatinya secara perlahan diambil oleh Dirga dan dimakan begitu saja dengan cara yang tidak ada bagus- bagusnya.
"Mas! Itu kan ice cream ku!!", protes Vallery setelah keterkejutannya habis.
Dirga diam saja. Masih terus mengunyah sampai bunyi kraus-kraus karena cone-nya gena gilas gigi.
Setelah menelan semuanya, Dirga menjawab. "Lama kamu makannya…".
Mendengar jawaban Dirga, wajah Vallery mengernyit aneh. "Ya tapi ndak bisa diambil gitu aja dong?!Terus aku makan apa coba?" sungutnya tanpa sadar.
Seolah teringat sesuatu, wajah sungut-sungut Vallery langsung berubah. Mata gadis itu membola dengan mulut yang terbuka lebar, tapi cepat-cepat dia tutupi pakai dua tangan, takut ada lalat nyelonong masuk kedalam mulutnya.
"Mas," panggil Vallery pelan.
Dirga masih menoleh, perlahan merespon dengan satu alis yang terangkat naik. “Ada apa?”, tanyanya.
"Ice cream nya kan udah tak jilati tadi…", ucap Vallery dengan wajah polos, membuat Dirga langsung tersedak ludahnya sendiri.
Uhukkk…
Pak kades keselek. Batuknya cuma dua kali, tapi malunya berkali-kali mendengar ucapan spontan Vallery yang polos.
Dirga berdiri dengan gusar, “Ambil lagi sana…”,perintahnya dingin.
Vallery mecucu, tapi dia langsung berdiri dan siap mengantri lagi bersama beberapa temannya yang masih belum kebagian.
"Vallery", panggil Dirga.
Vallery yang sudah akan mengambil ice cream di cooler box, menoleh.
"Jangan ambil yang seperti tadi. Ambil yang pakai cup saja", perintah Dirga lagi.
Vallery mengernyit bingung. Kenapa dia malah disuruh ambil ice cream yang ada didalam cup yang biasanya di sukai oleh anak kecil.
"Kenapa? Orang aku maunya yang kayak tadi kok", Vallery tetap ngeyel dan mengambil lagi ice cream bentuk cone seperti tadi, tapi sebelum tangan yang mengambil ice cream keluar dari cooler box, tangannya sudah ditampol oleh Dirga yang langsung mengambilkan ice cream dalam cup rasa coklat, membuat Vallery kembali melongo dengan tatapan tak percaya.
"Ngeyelan. Sudah sana. Awas kalau kamu ganti yang seperti tadi!", ancam Dirga.
Vallery melotot melihat Dirga yang balik badan dan langsung masuk kedalam balai desa setelah mengganti ice cream ditangannya.
Melihat punggung Dirga menghilang di balik pilar pendopo, Vallery yang ingin mengganti ice cream nya hanya bisa pasrah ketika melihat jika ice cream dalam wadah cone yang diinginkannya telah habis, membuatnya terpaksa memakan ice cream pemberian Dirga tadi dengan wajah ditekuk karena kesal.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA